Bab 5 Siapa Yang Mandul?
Purnama tidak banyak bicara sampai acara berakhir. Pernikahannya memang belum dikaruniai keturunan dan Purnama tidak tahu siapa yang bermasalah, dia atau suaminya karena memang keduanya belum pernah melakukan pengecekan. Selama ini Purnama selalu beranggapan bahwa Allah memang belum memberi mereka kepercayaan bukan masalah siapa yang bermasalah.
Selama perjalanan pulang, Purnama berfikir untuk mempertimbangkan usul tante Wisman agar memeriksakan diri ke dokter.
Purnama ingin membicarakan hal ini dengan suaminya setelah mereka tiba di rumah. Ia memikirkan waktu yang tepat untuk bicara dengan suaminya.
Sesampainya di rumah makan malam Purnama siapkan. Ia tidak memasak hanya menghangatkan makanan yang diberikan oleh tante Wisman.
Bintang menikmati hidangan dengan lahap bersama istrinya. Selesai makan, Bintang duduk di sofa sambil menonton TV. Purnama yang sejak tadi duduk di sampingnya mencari kesempatan untuk bicara.
"Mas!" panggil Purnama lembut.
"Hm." Bintang hanya berdehem ia sedang asik menyaksikan laga sepak bola liga Inggris.
"Aku mau bicara, penting!"
"Tunggu babak pertama selesai."
Purnama menurut, ia menunggu babak pertama laga pertandingan Arsenal melawan Manchester United selesai.
"Akh sial!" umpat Bintang saat 2 menit sebelum babak pertama berakhir tim jagoannya kebobolan.
Peluit tanda babak pertama usai telah dibunyikan. Purnama bersiap untuk bicara.
"Mas, aku mau ngomong." Purnama menatap suaminya dengan mimic serius.
"Apa?" sahut Bintang sambil menatap ke layar televisi.
"Kita sudah menikah setahun lebih tapi belum ada keturunan."
"Terus?"
"Gimana kalo kita cek ke dokter?"
"Belum dikasih aja sama Yang Maha Kuasa."
"Siapa tahu ada masalah, makanya aku belum hamil."
"Masalah?" Bintang menoleh ke arah istrinya dengan tatapan menyelidik.
"Iya masalah kesuburan."
"Maksud kamu?"
"Nanti ‘kan sperma Mas dicek, aku juga diperiksa."
"Untuk buktiin aku mandul?" Nada Bintang mulai meninggi.
"Maksud Purnama bukan Mas mandul tapi ... "
"Udah deh, aku ngerti kok kamu pengen bukti kan kalo aku gak mampu kasih kamu keturunan?!"
"Loh kok Mas bilang gitu?"
"Kalo kamu udah bosen jadi istri aku, bilang aja nanti aku ceraikan kamu!"
"Purnama gak ada maksud nuduh, Mas, cuma pengen berusaha supaya kita cepet dapet keturunan."
"Hampir tiap malem kita ML apa kurang?"
"Bukan begitu, Mas!"
"Kalo ngerasa jatah kamu kurang tinggal bilang, atau kamu mau kita ngelakuinnya berkali-kali tiap malam?"
"Bukan itu maksud aku!"
Bintang memegang bahu Purnama lalu menciumnya dengan kasar.
"Hmpt..."
"Malam ini aku buktiin keperkasaan aku!"
Purnama tak kuasa menolak, maksud hati hanya ingin bicara tapi Bintang justru membawanya ke ranjang. Purnama mengalah dan berusaha tidak merasa terpaksa saat melayani suaminya.
Bagi sebagian laki-laki berbicara mengenai pemeriksaan sperma adalah hal sulit, mereka beranggapan itu melukai harga diri. Banyak pasangan yang sulit memiliki keturunan dan tidak memeriksakan kondisi mereka karena kekhawatiran sang suami akan kejantanannya.
______
Purnama menatap suaminya yang tertidur lelap setelah aktivitas suami istri mereka. Setahun mereka menikah, Purnama masih ingat betul masa-masa pacaran mereka.
Setelah lulus SMA Purnama melanjutkan pendidikan selama 3 tahun di sebuah lembaga pendidikan politeknik ternama. Kemudian diterima bekerja di perusahaan developer perumahan.
Awal bekerja di perusahaan developer perumahan, Purnama ditempatkan di sebuah proyek perumahan kelas menengah disitulah ia bertemu Bintang.
Bintang datang bersama kedua orang tuanya mencari hunian untuk mereka. Rumah lama mereka terkena proyek jalan tol. Setelah melalui negosiasi, orang tua Bintang mengambil 2 unit sekaligus dan akan dilunasi setelah rumah lama mereka dibayar lunas.
Seringnya Bintang datang ke tempat Purnama bekerja menumbuhkan benih-benih cinta. Purnama gadis sederhana berkulit kuning langsat dengan tubuh mungil, Bintang sangat menyukai apapun yang ada dalam diri Purnama.
Sebulan berkenalan, Bintang mengajak Purnama berpacaran. Purnama mengiyakan setelah melihat sosok Bintang yang terlihat dewasa dan perhatian.
Purnama mengenalkan Bintang pada ayah dan ibunya. Tidak ada kata back street dalam hal pacaran menurut Purnama. Tiap kali ia dekat dengan lelaki pastilah dikenalkan pada orang tuanya.
6 bulan berpacaran dan Bintang selalu mengantar jemput Purnama. Kedua orang tua Purnama merasa khawatir, walau anaknya tidak pernah terlihat pacaran secara berlebihan dengan Bintang namun rasa khawatir itu tetap ada.
Suatu malam saat Bintang mengunjungi Purnama di malam minggu, sang ayah mengajak Bintang bicara.
"Kamu serius sama anak saya?"
"Serius, Pak."
"Mau sampai kapan kalian pacaran? "
"Eng... "
"Kalau kamu serius dengan Purnama, bawa orang tua kamu ke sini. Tidak baik kalian pacaran terlalu lama!"
"Baik, Pak."
"Kalau kamu gak sanggup bawa orang tua kamu, lebih baik kalian putus!"
Ayah Purnama adalah pria tegas yang sangat menyayangi kedua putrinya. Ia tidak ingin anak-anaknya terjerumus dalam kehidupan bebas tanpa aturan agama.
2 minggu kemudian, Bintang datang bersama kedua orang tuanya. Dan disusul 4 bulan berikutnya mereka menikah.
Pacaran selama lebih dari 6 bulan, tidak menjadikan Purnama mengenal suaminya dengan baik. Ternyata ada banyak kebiasaan buruk Bintang yang diketahuinya setelah mereka menikah termasuk kebiasaan Bintang mengkonsumsi minuman beralkohol dan amarahnya yang cepat terpancing.
Purnama menurut saja saat Bintang meminta untuk tinggal di rumah milik mertua dan ternyata tidaklah mudah apalagi jika sang mertua ternyata tidak rela putranya menikah dengan Purnama.
