Bab 4 Mertua Ingin Cucu
Untuk urusan nafkah berupa uang belanja Bintang memang selalu memberi tetapi tidak lebih dari 200 ribu rupiah tiap bulannya.
Dari awal mereka menikah, Purnama berusaha bersabar menghadapi semua. Ia pun tidak mengeluh manakala uang gajinya habis untuk keperluan sehari-hari. Namun malam ini ada rasa sesak saat tahu dari ibu mertuanya begitu besar uang yang diperoleh suaminya.
"Mungkin mas Bintang butuh uang untuk modal." gumam Purnama meyakinkan hatinya.
Malam sudah sangat larut saat Bintang kembali ke rumah.
Tok! Tok! Tok!
"Purnama!"
Purnama yang sedang lelap terbangun. Sejenak ia lihat jam di dinding, pukul 2.30 dini hari. Masih dalam keadaan mengantuk, ia berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya. Bintang berdiri di depannya, mulutnya bau alkohol.
"Mas mabuk?"
"Suami pulang bukannya dilayani malah diinterogasi!"
"Maaf, Mas."
Bintang masuk ke dalam kamar lalu merebahkan dirinya di ranjang, hanya dalam hitungan menit ia sudah terlelap sementara Purnama masuk ke kamar mandi. Karena telah terbangun saat dini hari, Purnama memutuskan untuk melakukan shalat tahajud. Ia berdoa cukup lama setelah sholat, untuk dirinya, suaminya, dan orang-orang yang dicintainya didoakan.
Jam menunjukkan pukul 3.15 setelah Purnama selesai dengan ibadahnya. Dengkuran halus Bintang terdengar jelas, Purnama menatap suaminya. Ia berinisiatif mengganti baju suaminya agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Perlahan Purnama melepaskan baju suaminya, tanpa disadarinya Bintang terbangun.
"Kamu ngapain?" Tangan Bintang menahan tangan Purnama yang hendak memakaikannya baju.
"Gantiin baju kamu."
"Kamu bangunin yang lain."
"Maksud, Mas?"
"Aku mau kamu." Suara serak penuh hasrat terucap dari bibir Bintang.
Purnama tahu maksud suaminya, ia mengangguk memberi izin Bintang melakukan tugasnya sebagai suami. Kali ini Bintang melakukan dengan lembut tidak seperti terakhir kali. Purnama menikmati kegiatannya kali ini, ini seperti ketika awal mereka menikah. Setelah keduanya mencapai klimaks, Bintang lalu tertidur sementara Purnama bergegas ke kamar mandi karena adzan subuh telah berkumandang.
Selesai mandi, Purnama melaksanakan shalat Subuh lalu menuju ke dapur. Hari libur berarti masak lebih banyak karena kedua mertua beserta adik ipar Purnama dapat dipastikan akan sarapan bersama di rumah Purnama.
Purnama membuat nasi uduk beserta telur dadar dan bihun goreng untuk sarapan. Begitu semua selesai dimasak, kedua mertua Purnama datang. Mereka seakan memiliki radar yang bisa mendeteksi bahwa sarapan telah siap.
Purnama membangunkan Bintang untuk sarapan bersama, "Mas, bangun! Ayo sarapan, mami sama papi udah di meja makan tuh."
"Hoam... bentar aku cuci muka dulu!"
"Ditunggu di ruang makan ya, Mas!"
"Hm."
Purnama menunggu Bintang di meja makan. Nasi uduk dan lauk jatah Bintang telah disiapkan. Kedua mertuanya telah mulai makan lebih dulu. Purnama berusaha menghormati suaminya hingga akan makan jika suaminya telah mulai makan.
Bintang datang dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Ia duduk di samping Purnama lalu menikmati sarapannya.
"Nanti jam 10 kita berangkat ke rumah Om Wisman ya?" Mami berkata sambil mengunyah nasi uduknya.
"Ada acara apa, Mi?" Purnama bertanya.
"Aqiqahan cucunya."
"Udah lahiran toh mantunya Mas Wisman?" Papi ikut nimbrung. Mereka semua sedang sarapan bersama di ruang makan Bintang.
"Udah sebulan lalu." ucap Mami sambil terus mengunyah.
"Beruntung banget ya mas Wisman, belum setahun anaknya nikah udah dapet cucu. "
"Kita kapan ya, Pi, dapet cucu?"
"Menurut kamu kapan Purnama?" Papi melempar pertanyaan pada Purnama.
"Gak tau, Mi. Anak kan anugerah Allah, entah kapan dikasihnya kita gak tahu."
"Usaha dong biar cepet dapet."
"Usaha sih terus, Mi tapi mungkin belum rejeki kami." Purnama menjawab, dilihatnya sang suami asyik makan tanpa membantunya menjawab.
Purnama merasa tidak nyaman dengan ucapan mertuanya. Ia juga amat menginginkan buah hati tapi Tuhan belum juga memberinya kepercayaan.
Tepat jam 10 mereka berangkat menuju rumah om Wisman. Menggunakan Avanza milik Bintang membelah kota Jakarta. Rumah om Wisman tidak jauh dari perumahan mewah yang sangat ternama.
Rumah-rumah besar bergaya Mediterania dan Eropa klasik mereka lewati. Purnama duduk di samping ibu mertuanya yang asyik mengamati rumah-rumah mewah itu.
"Enak ya kalo punya menantu yang rumahnya segede gitu." ucap ibu mertuanya.
"Enaknya apa, Mi?" Papi yang duduk di samping Bintang bertanya tanpa menengok ke belakang.
"Rumah sebelah bisa kita kontrakin, jadi nambah pemasukan ‘kan." jawab Mami tanpa beban.
Deg!
Purnama merasa tersindir. Ia berasal dari keluarga sederhana hingga setelah menikah ia rela tinggal di samping rumah mertuanya.
Rumah Om Wisman sudah ramai dengan anggota keluarga yang berdatangan. Pengajian untuk aqiqah akan segera dimulai. Purnama duduk di halaman belakang rumah bersama anggota keluarga lain.
"Kapan nyusul?" tanya istri omWisman.
"Nyusul apa, Tan?" Purnama yang sedang melihat ke arah lain segera menoleh.
"Punya anak lah kayak menantu tante."
"Belum dikasi kayaknya, Tan."
"Jangan-jangan kamu ada masalah?"
"Kalo Bintang sih pasti subur." ucap mami yang duduk di sebelah Purnama.
"Ke dokter deh, dicek terus ikut program biar cepet hamil."
Purnama mengambil nafas berat, ia tidak menyukai tema pembicaraan ini namun ia berusaha menimpali dengan cara yang paling wajar.
