Bab 3 Uang Belanja
Jam 5 sore hari ini Purnama sudah pulang. Ia tidak perlu lembur lagi. Kali ini Bintang menjemputnya ke kantor.
Bintang menunggu di pelataran kantor sambil merokok. Kaos oblong warna hitam dan jeans belel adalah pakaian favoritnya. Ia berdiri di samping Avanza hitam miliknya.
Purnama keluar dari kantor bersama beberapa karyawan lain. Ia sudah tahu bahwa Bintang telah menunggunya di pelataran kantor.
"Gue udah dijemput nih." Kata Purnama pada Dewi rekan kerjanya.
"Mana yang jemput lu?" tanya Dewi dan Purnama menjawab dengan menunjuk ke arah Bintang.
"Taksi online?"
Purnama menggeleng, "Itu laki gue."
"Owh, kucel amat." ucap Dewi jujur, Purnama merasa sedikit tersinggung.
"Dah ah, gue balik. Bye!"
Bintang membuang puntung rokoknya begitu memasuki mobil, tidak mungkin ia merokok karena mobil itu berpendingin. Purnama duduk di sebelah Bintang, ia merasa senang sang suami bisa menjemputnya.
Selama perjalanan tidak ada kata yang terucap diantara mereka, keduanya asik dengan pikiran masing-masing. Sampai di belokan tidak jauh dari rumah mereka, Purnama meminta Bintang untuk menepi.
"Beli sate dulu ya, Mas. Buat makan malam."
"Iya."
Purnama keluar dari mobil dan memesan 2 porsi sate ayam untuk makan malam mereka. Bintang tetap menunggu di dalam mobil sambil merokok, jendela mobil dibukanya. Purnama membayar sate itu begitu pesanannya matang.
Mobil langsung dimasukkan ke dalam garasi begitu mereka sampai. Rumah mertuanya sepertinya ramai. Ibu mertua dan adik iparnya sedang bercengkrama di teras. Purnama masuk dan menaruh satenya di atas meja makan.
Tubuh lelah dan lengket membuat Purnama ingin segera mandi. Diambilnya handuk dan melesat ke kamar mandi.
Setelah mandi, tubuh terasa segar Purnama memakai pakaian rumahannya. Daster berwarna marun dengan corak bunga-bunga kecil favoritnya. Setelah menyisir, Purnama keluar kamar untuk makan perutnya terasa keroncongan.
Di meja makan, kedua mertuanya, sang suami dan adik iparnya sedang menyantap sate yang dibelinya. Purnama hanya terdiam melihat itu semua.
"Kak, satenya enak. Kakak belinya cuma dua porsi jadi kita satu berdua deh." Awan adik Bintang berkata sambil menyuapkan tusukan sate terakhirnya.
"Lain kali beli sesuai jumlah orang dong biar gak satu berdua gini." keluh sang ibu mertua.
"Iya." jawab Purnama sambil menunduk. Satenya telah habis dan tak satu tusuk pun disisakan untuknya.
Purnama pergi ke dapur dan menggoreng sebuah telor untuk menu makan malamnya. Untunglah masih ada nasi tersisa di magic jarnya.
Di saat perut lapar apapun terasa nikmat. Secentong nasi dengan satu ceplok telor amat disyukuri Purnama sebagai menu makan malamnya.
"Ini buat belanja!" Bintang menghampiri Purnama yang sedang makan sambil memberikan selembar uang berwarna merah padanya.
"Makasih, Mas." Purnama menerima uang itu, terakhir tiga minggu lalu ia menerima uang dengan jumlah yang sama.
"Aku ke rumah si Jono dulu."
"Iya."
Bintang pergi dengan motornya menuju ke rumah sahabatnya.
Malam sudah larut, Purnama berniat tidur. Namun sebelumnya ia harus menutup gorden dan mengunci pintu terlebih dahulu. Saat ia akan menutup pagar, Noni sang ibu mertua menghampiri.
"Purnama, hand phone yang tiga jutaan tapi bagus merk apa ya?"
"Banyak, Mi. Dengan harga segitu banyak handphone bagus kok. Ke tokonya aja, Mami bisa pilih."
"Bintang nih, Mami bilang beliin hand phone aja kalo proyeknya gol eh malah ngasih uang."
"Proyek?"
"Mobil yang dia modif kan laku 2 kali lipat dari harga modalnya. Kamu gak tahu?"
"Nggak tahu, Mi."
"Kamu dikasi duit’kan sama Bintang?"
"Dikasi, Mi."
"Yaudah deh, kamu tidur gih Mami juga mau tidur."
"Iya, Mi."
Ada rasa sesak di hati Purnama mendengar cerita ibu mertuanya. Begitu besar uang yang diperoleh sang suami namun hanya selembar uang berwarna merah yang diberikan padanya.
