Bab 5 (Ikut Suami)
Aku terdiam mendengar permohonan maafnya berulang kali. Tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Kucoba menata hatiku agar air mataku tidak jatuh di depan pria itu.
Harusnya ini adalah momen yang membahagiakan bagi sepasang pengantin baru seperti yang biasa aku baca di novel-novel romantis kesukaanku, tapi bagiku ini adalah hal yang paling menyesakkan dalam hidupku.
Pernikahan ini terlalu dini bagiku. Andai dia tahu, betapa inginkan aku keluar dari kamar ini sekarang. Aku tak mau melihatnya lagi, tapi aku tak ingin menciptakan kekacauan baru.
Adzan subuh menggema dari spiker mesjid dekat rumahku. Aku bangkit dari ranjang untuk keluar mengambil air wudhu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya keadaan sedang berpihak padaku.
Saat mengambil air wudhu di luar rumah aku merasakan sepasang mata mengawasiku dari belakang. Aku tahu ia mengekor di belakang karena hari masih sangat gelap, tentu saja pria cengeng itu takut keluar rumah sendirian.
Usai berwudhu aku sengaja memperlambat langkahku, bagaimanapun aku tidak ingin hanya karena keegoisanku akhirnya ia tidak shalat subuh.
Walaupun masih tersisa kedongkolan dalam hatiku. Aku akhirnya menjadi makmun di belakangnya. Kami berjamaah di mushallah kecil rumahku.
Hatiku sempat terpana mendengar merdunya bacaan sholatnya subuhnya. Ternyata ia pandai juga melantunkan ayat suci al quran. Irama jiharka dengan tajwid yang cukup baik membuatku hampir meleleh.
Suaranya sebelas duabelaslah dengan Al muzzammil salah satu hafidz favoritku. Apa dia sedang carper yah? Astaghfirullah, astaghfirullah! kuucapkan istighfar berulang kali karena khusyukkku buyar gara-gara mengoceh dalam hati.
Hatiku berdenyut beberapa kali saat ia menyodorkan tangannya usai sholat berjamaah bersamanya. Aku sempat ragu, akhirnya kuraih juga tangan yang tadi mencengkram lenganku kuat, kucium punggung tangannya dengan perasaan terluka.
“Maafkan aku yah,” ucapnya lirih. Aku mengangguk perlahan agar tak berlama-lama di tempat itu berdua. Bisa-bisa kena sleding dia. Biasanya jiwa bar-barku muncul saat merasa terintimidasi.
Pagi itu pria berambut rapi itu hanya berdiam dalam kamar. Aku menyiapkan sarapan pagi untuk Papa dan juga pria yang baru kemarin jadi suamiku itu.
“Selamat pagi win, bagaimana kabarmu nak? Raka mana?” papa memberondongku dengan pertanyaan saat melihatku sibuk menyiapkan sarapannya.
“Alhamdulillah baik, Pa, Kak Raka ada di kamar,” jawabku tersenyum berusaha menutupi kekesalanku pada pria yang selalu nampak culun di mataku.
Usai sarapan, dengan wajah serius papa memanggil kami berdua ke ruang tengah. Sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan cinta pertamaku itu.
“Win anakku,” ucapnya perlahan meraih tanganku kemudian menatapku sendu.
“Papa apaan sih? Masih pagi, Pa, jangan bikin drama ah” sahutku tertawa menyembunyikan rasa kikukku diperlakukan seperti itu.
“Loh, siapa yang drama? Papa mau bicara serius sama kamu, Win” ucap Papa mencubit hidungku gemas. Papa, ia selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil. Mungkin karena aku anak tunggal,
“iya Pa, iya! Winda dengerin,” ucapku sambil mencium Pipi tua papa.
Sementara di sebelahku lelaki yang sejak tadi aku cueki diam mematung. Sikapanya dingin seperti salju di kutub utara, ups!
“Win, bagaimanapun keadaannya, Raka itu suamimu. Papa harap kamu bisa bersikap layaknya sebagai seorang isteri,” ucap papa kembali serius.
Aku merasa tersudut dengan ucapan Papa. Bagaimana aku bisa bersikap seperi seorang istri, sementara aku tak pernah siap untuk pernikahan ini, terlalu dini bagiku untuk menikah. Aku menunduk tidak menanggapi nasehat Papa. Apa harus kukatakan pada Papa.
“Perkawinan kami tidak normal, Pa!” teriakku dalam hati.
“Win, kamu dengar kata-kata Papa, kan?” tanya papa menghentikan pikiran-pikiran burukku.
“Eh, iya Pa,” ucapku tersenyum menggelayut manja di pangkuan Papa.
“Win, kamu tuh jangan kayak anak kecil! sudah punya suami tapi kelakuan seperti bocah,” ucap Papa di iringi senyum sinis dari pria jangkung di sebelahku.
Rasanya pengen kuplintir bibir seksinya itu, uhh! mataku menatap tajam ke arahnya membuatnya salah tingkah.
“Raka!”
Sahut papa kemudian. Pria putih bersih itu menatap papa dengan pandangan serius.
“Aku serahkan Winda padamu, tolong jaga dia, didik dia, Papa tahu kamu anak yang baik, Papa percaya padamu” ucap Papa dengan yakinnya.
“Isyaa Allah pa, Raka janji,” balasnya ringkas.
“Oh, noooo, anak baik? papa tidak tahu apa yang dia lakukan tadi subuh padaku! ingin keteriakkan di telinga papa kata-kata itu, tapi aku urungkan karena takut darah tinggi Papa kumat lagi.
“Hari ini, winda harus ikut ke rumah suami winda yah, papa menyerahkan kamu pada suamimu,” ucapan papa seolah tercekat di kerongkongannnya.
Air mataku menetes. Aku tak dapat menahan gejolak perasaanku. Meninggalkan Papa sendirian, meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan. Sungguh aku tidak rela.
“Pa, apa boleh Winda tinggal di sini saja? temani Papa” ucapku dengan mata berkaca.
“Win, kamu sudah menikah. Sudah kewajiban kamu ikut suamimu ke rumahnya. Lagipula papa kerja di sana kan? Jadi kita akan bertemu setiap hari,” nasehat papa tersenyum. Walau kutahu senyuman itu berisi banyak tangis di dalamnya.
Usai bicara dengan Papa. Raka masuk dalam kamar membereskan pakaianku tanpa menunggu perintah dariku. Ia memasukkan semuanya dalam koper seolah aku tak akan kembali lagi ke rumah ini.
Aku hanya bisa menatap punggungnya dari belakang. Tak ada kata-kata, tak ada komentar. Mulutku seakan beku, hatiku sedih harus pergi meninggalkan kamar yang telah sekian tahun jadi tempat menumpahkan segala keresahanku.
Aku membaringkan tubuhku di ranjang. Aku ingin tidur saja untuk melupakan kesedihanku. Seluruh tubuhku kututupi dengan selimut. Aku tak peduli meski Raka telah mengosongkan isi lemariku. Aku tak mengerti jalan pikiran pria membosankan itu.
“Win, Win!” kurasakan goncangan di pundakku memutuskan mimpi indah yang ku alami.
“Ada apa sih?ganggu orang lagi tidur saja!” ucapku kesal.
Padahal tadi aku mimpi ketemu pangeran tampan naik kuda putih datang menjemputku. Aku tersungut melihat pria mengesalkan itu berdiri di depanku sambil berkacak pinggang.
“Mau ikut tidak?” tanyanya ketus. Aku menghembuskan nafas kasar.
“Kak Raka memang pemutus semua mimpi-mimpiku!” sahutku tak menanggapi pertanyaannya.
“Mimpi apa, hah? Mimpi di jemput panngeran tampan?” ucapnya asal. Tapi kok, dia bisa benar yah, atau jangan -jangan dukun, ha-ha-ha.
“Mau tidak?” tanyanya lagi.
“Iya, iya, tunggu!” teriakku kesal bangun dari pembaringanku.
