Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 ( di Rumah Mertua)

Aku bersiap untuk berangkat, meskipun jujur aku belum siap untuk pergi. Berat rasanya meninggalkan semua ini. Ikut bersama pria yang kakunya minta ampun.

“Tuhaaaannn, ingin kuteriak! Aku meranaaaa! ups, kok malah nyanyi sih!

“sabarr! sabarrr! aku mengelus dadaku guna menenangkan hatiku. 

Kutatap wajah Papa yang  tampak suram. Aku yakin bahwa sebenarnya Papa sangat sulit untuk melepasku ikut bersama suamiku. 

Namun ia telah menyerahkan tanggung jawabnya pada Raka si pria dingin itu. Entah kelebihan apa yang papa lihat darinya sehingga dengan yakinnya papa menyerahkan tanggung jawab besarnya pada pria itu. 

Aku mencoba berfikir positif saat ini, bahwa pasti ada alasan dari tindakan papa kali ini. Keyakinanku akan cintanya padaku, menguatkan hatiku untuk mengikuti kemauannya.

Kupeluk tubuh Papa yang semakin tua. Kekhawatiranku meninggalkannya di rumah ini semakin membuatku sedih. Namun apa boleh buat, Papa justru terus meyakinkan aku bahwa dia baik-baik saja. 

Air mataku terus mengalir membasahi jilbab hijau yang aku kenakan. Raka menatapku datar. Tak ada samasekali gurat sedih di wajahnya. Sebenarnya hatinya terbuat dari apa sih? Apa terbuat dari batu? Nggak ada pekanya samasekali.

Raka mengangkat koperku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Sebuah mobil mewah berwarna putih miliknya siap membawaku ke kehidupan baru yang akan aku jalani di rumahnya.

Sepanjang jalan kami tak saling menegur. Aku terpekur memikirkan nasib pernikahan tanpa cinta ini, memikirkan alasan Tuhan menakdirkan kami bertemu dan menikah. 

“Bahkan selembar daunpun takkan jatuh tanpa ijin dari-Nya, apatah lagi sebuah pernikahan, tentulah ini sudah tercatat di lauhul mahfudz jauh sebelum aku lahir” kata-kata guruku ketika duduk di bangku Aliyah kembali terngiang di telingaku.

Kalimat itulah yang selalu jadi peganganku saat aku dalam keaadaan terpuruk. Sikapku memang kadang bar-bar tapi jiwaku islami, uweeek! aku menertawai kata-kataku sendiri.

Raka masih fokus menyetir. Wajahnya datar tanpa ekspresi. 

"Hellooo, apakah aku sedang bersama patung saat ini?” bisikku lirih karena kesal melihatnya samasekali tidak memperdulikan hatiku yang sedang melow. 

Ia melirikku sebentar, mungkin mendengar bisikanku barusan, tapi kembali ia bersikap seolah-olah tak ada apa-apa. 

Andaikan ia temanku sudah kutowel kupingnya "Isssh kessal aku,” rutukku lagi.

Sampai di rumahnya, pak Handoko yang kini jadi mertuaku. Sudah berada di taman depan rumah menyambutku dengan senyum lebarnya.

“Alhamdulillah , Nak, akhirnya kamu sudah datang, ayo masuk!” ucapnya memeluk pundakku dan membimbingku masuk dalam rumahnya tanpa memperdulikan anaknya sendiri. 

Untungnya mertuaku baik, tak seperti anaknya, manusia kutub itu tak ada bagus-bagusnya.

Sementara Raka masuk dalam kamarnya membawa koperku, tanpa mengucapkan satu katapun. Jauh di lubuk hatiku sebenarnya sakit. Kalau ia sangat membenciku, kenapa ia setuju menikahiku? tangisku hampir saja pecah, namun aku berusaha baik-baik saja di depan Papa.

“Nak, Papa harap kamu bisa brsabar atas sikap Raka, ia itu sebenarnya anak yang baik, hanya saja pembawaannya memang seperti itu, ucap Papa mertua seakan mengetahui apa yang kupikirkan. Aku mengangguk tanda mengerti, walau sebenarnya aku sendiri tidak tahu, apakah aku mampu bertahan dengan sikapnya yang seperti itu.

“Sebenarnya Raka dulu anak yang ceria, tapi semenjak ibunya meninggal, ia jadi sangat pendiam dan menutup diri” sambung papa dengan wajah sedih. 

Pria tua itu seakan ingin melepaskan beban yang kian lama mengganjal dalam hatinya.

“Artinya aku lebih kuat dong pa. Ibuku juga baru meninggal, tapi aku tidak seperti itu” ucapku mengangkat tanganku memperlihatkan otot lenganku yang tertutup hijab sambil tersenyum ke arah pria tua itu. 

Aku mencoba mencairkan suasana. Rasanya sudah cukup drama sedih hari ini, aku capek dan ingin istirahat. Pak Handoko tersenyum melihatku bertingkah sok wonder women di hadapannya.

“Berarti, tidak salah dong Papa pilih kamu jadi mantu,” ucapnya sambil tertawa. 

Aku tertawa getir menyambut wajah cerianya mengucapkan kata-kata itu.

"Salah, Pa, sangat salah!” jeritku dalam hati.

“Yah sudah, sekarang kamu istirahat gih, tuh kamarmu!” ucapnya menunjuk kamar yang berada di sudut jauh dari tempat kami duduk.

Aku pamit masuk kamar, setelah drama sedih mulai dari tadi pagi hingga saat ini, aku merasa gerah dan tidak sabar untuk mandi. Apalagi kudengar suara adzan zduhur terdengar sayup-sayup dari pembesar suara masjid yang aku tidak tahu dimana letaknya.

Mataku membulat penuh menyaksikan seisi kamar yang luas dan di hias dengan sangat indah. Karpet bludru menutupi hampir di semua lantainya. Gorden transparan warna merah muda menutupi jendela berbingkai besar yang menghadap taman indah belakang rumah. Taburan bunga mawar memenuhi ranjang , persis seperti di film–film romatis korea yang sering aku tonton.

Ada musallah kecil, cukup untuk berjamaah dua orag di sudut kamar. Cantik sangat cantik. Aku terkagum-kagum dengan kemewahan kamar ini. Aku berjalan masuk perlahan, takut kalau manusia kutub itu menghinaku lagi karena melihat kekagumanku pada hiasan kamarnya.

Kudengar suara air dari keran kamar, wah, bahkan kamar mandipun tersedia di kamar ini, pantas saja ia tidak percaya saat kukatakan kamar mandiku ada di luar rumah, aku tersenyum mengingat kejadian malam kemarin.

“Hei, ambil wudhu sana! jangan bengong di situ dan jangan GR , bukan aku yang siapakan semua ini, tapi Papa!” sahutnya tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi. Ia hanya memakai kaos oblong  hitam dan celana pedek di bawah lutut, jauh berbeda dari penampilannya yang aku lihat sebelumnya.

Aku terkejut mendengar kata-katanya, kekagumanku akan keindahan kamar ini perlahan sirna. Aku melangkah masuk kamar mandi. Kembali mataku disuguhi kemewahan yang jauh dari keadaan rumahku, kamar mandi yang luas lengkap dengan bathtub untuk berendam, terpisah dengan shower yang di halangi dinding kaca. 

“Wah,wah, suamiku kaya juga, hihihi, jiwa matreku muncul, Tuhaan!!” aku berjingkrak-jingkrak menuju buthtub mulai ingin berendam melepas lelah.

“Woi cepat, mau jamaah nggak?” suara pria kutub itu memutuskan kebahagiaan yang baru saja kurasakan.

 “Uhhh, Ya Allah” kusebut nama agung itu saking kesalnya  sebelum tersadar ternyata aku ada dalam kamar mandi yang ada wc nya. 

“ckckck, dia benar-benar perusak kebahagiaanku” rutukku lagi. 

Kutunda acara mandiku, aku segera berwudhu dan keluar dari sana dengan persasaan kesal.

Raka sudah berdiri di atas sajadahya. Di belakangnya terhampar sajadah lengkap dengan mukenah di atasnya. Artinya aku harus berjamah lagi dengannya. Mungkin ini akan jadi pemandangan yang menyejukkan andaikan kami berdamai dan menginginkan pernikahan ini. Kucium punggung tangannya usai berdoa, aku tak berani menatapnya karena takut ia mengacuhkanku lagi.

“Win!” tiba-tiba ia memanggil namaku, spontan tatapanku mengarah padanya.

“Iya” jawabku singkat.

“Bagaimanapun aku ini suamimu, jadi aku punya kewajiban membimbing dan bertanggung jawab atas semua tentangmu, aku sudah berjanji pada papamu dan aku akan menepatinya,” kata-kata itu seperti busur yang langsung menancap di hatiku.

“Maksud kak, Raka?” jawabku masih tak mengerti ke mana arah pembicaraannya. Apalagi ini untuk pertama kalinya ia berbicara agak banyak padaku.

“Win, kita menikah secara sah, artinya tanggung jawab besar papamu berpindah padaku. Aku bertanggung jawab atas dunia dan akhiratmu sekarang,” ucapnya serius.

“Idiih, serius amat om, aku kan jadi keki,” celetukku tiba-tiba.

“Win!” matanya melotot ke arahku membuatku menutup mulutku dengan ke dua tanganku.

“Maaf....” jawabku memelas.

“Tapi perjanjian kita masih berlaku, maaf aku sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ada alasan sehingga ini harus terjadi,” ucapnya lagi dengan tegas.

“Tak perlu di perjelas, Om, aku tahu meski Om tidak memberitahuku,” ucapku kesal. 

“Memangnya, Om kira aku senang dengan pernikahan ini?” sahutku kesal.

“Win, berhenti memanggilku om!” ucapnya masih melotot padaku.

“Iya, Kak” jawabku cuek. Aku gondok mendengar kejujurannya, ingin rasanya aku memberinya bogem mentah biar tahu rasa.

Aku melipat sajadahku kemudian melepas mukenah yang  kukenakan, kulirik sekilas dia yang kembali duduk terpekur di atas sajadahnya. Koko abu-abu serasi dengan sarung hitam yang dikenakannya, entah kenapa aku merasa penampilannya itu jauh dari sikapnya yang kasar dan menyakitkan.

“Win, aku akan melakukan semua kewajibanku padamu, kecuali menyentuhmu,” ucapnya pelan

“Aku mengerti, sekarang aku mau tidur ya, aku capek,” ucapku sambil ngeloyor menuju kasur.

“Hei, itu tempat tidurku!” teriaknya seperti anak kecil.

“Terus aku tidur di mana?” jawabku masih melanjutkan langkahku naik ke atas kasur. 

Aku menutupi tubuhku dengan selimut. Pura-pura tidur, padahal aku tak mampu lagi membendung air mataku. 

Ada luka yang mulai tercipta di sudut hatiku, terasa sakit mendengar penuturannya yang seolah-olah sangat terpaksa menikahiku, hiks!

 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel