Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 ( Malam Pertama)

Usai acara pernikahan, aku ke kamar melepas gaun pengantinku. Rasanya sangat gerah mengenakan gaun itu seharian. Sementara Raka masih di luar bercakap dengan keluarga dan teman-teman dekatnya.

Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, aku masih dalam kamar. Ruangan yang berukuran 2x3 meter itu terasa sumpek, aku termangu merenungi nasib pernikahanku. Akan sampai di mana perjalanannya? bagaimana akhirnya? aku tak tahu.

 Akhirnya kuputuskan untuk sholat isya dulu sebelum tidur. Usai sholat aku berusaha memejamkan mataku, namun pikiranku melayang kemana-mana.

Suara daun pintu membuyarkan aku dari lamunan. Mataku beradu dengan mata sosok laki-laki yang sejak tadi jadi bahan lamunanku. 

Ruangan kamar sempit membuatnya langsung duduk di tepi ranjang. Tak mungkin berdiri terus di depan pintu kayak patung pahlawan.

“Maaf jadi gimana nih! kamarmu sempit sekali?” ucapnya sambil melepas kopiahnya. Ia kelihatan kegerahan karena masih memakai pakaian pengantin tadi siang.

“Yah, bagaimana lagi? keadaannya memang seperti ini” sahutku ketus. 

"Ini bukan rumahmu yan lengkap dengan AC!” sahutku lagi. Ia terlihat kesal dengan ucapanku.

“Aku mau ganti baju dulu, gerah” ucapnya setelah berpikir  beberapa saat.

"Di kamar mandi sana, kalau mau ganti baju,” telunjukku mengarah ke belakang.

“Maksud kamu, kamar mandinya ada di luar rumah?” matanya melotot seolah tak percaya.

“iya!  di mana lagi, emangnya kamu liat ada kamar mandi di sini?” tanyaku sambil menarik selimut merah jambu milikku kemudian berbaring. 

Aku benar-benar lelah. Aku ingin tidur dengan nyenyak kemudian esok bangun dan berharap semua ini hanya mimpi.

Tak ada pergerakan yang aku rasakan, ia  masih duduk di tempatnya semula. Karena hanya tersisa ruangan sekitar limapuluh sentimeter di depan ranjang jadi ia hanya duduk termangu di tepi ranjang.

“Kok belum keluar, ganti baju sana!” sahutku lagi karena merasa risih kalau dia duduk mematung di situ.

“Emmm, bisa tolong antar aku?” pintanya kayak bocah lima tahun minta permen.

“Ha-ha-ha, kamu takut?” sahutku tak bisa menahan tawa.

“Tidak!” jawabnya cepat.

“Terus, apa namanya coba?” tanyaku tergelitik melihat tingkahnya yang pura-pura berani.

“Tak tahu letak kamar mandinya di mana!” ucapnya terlihat bersungguh-sungguh.

“Pekarangan belakang itu sempit Om, hanya ada kamar mandi di sana, tidak akan tersesat kok. Palingan juga ketemu nenek lampir yang nemplok di tembok kamar mandi, hi-hi-hi-hi” ucapku menggodanya. Karena aku yakin ia pasti takut.

“Ih, kamu, awas yah!” sahutnya sambil melompat ke arahku.

“Ingat perjanjian kita, tak boleh saling menyentuh!” ucapku sambil menunjuk hidungnya yang hampir saja sampai ke wajahku.

“Iya, maaf, habisnya kamu sih, dasar bocah!” ucapnya kesal kemudian kembali ke posisi semula.

“Saya bukan bocah om!” sahutku membalasnya.

“Iya maaf, tolongin deh, temani aku yah ke kamar mandi, please!” ucapnya memelas. 

Karena lelah betengkar dengannya, akhirnya aku mengalah juga. 

Aku menemaninya menuju kamar mandi. Ia mengekor di belakangku seperti anak kecil. 

"Sebenarnya yang bocah itu siapa? Aku atau dia? minta ditemani segala!” ocehku sambil berbisik, kalau kedengaran, bisa panjang urusannya.

Aku mengantarkannya hingga pintu kamar mandi. Keadaan memang cukup gelap, apalagi ini sudah lewat dari jam sepuluh malam, aku sendiri begidik berdiri sendirian di luar.

Usai ganti baju, kami menuju kamar. Kali ini kami berjalan beriringan karena aku juga ikut takut karena suasana yang mulai sepi dan legang.

Sampai di kamar ia kembali bingung 

“Aku tidur di mana?” tanyanya menatapaku yang siap tidur dengan selimut menutupi tubuhku. 

“Oh, iya ya, hahaha, mau tidur juga rupanya,” jawabku tertawa, baru ingat, kalau ada penghuni baru di kamarku. 

“Mmm, di sana yah!” aku mengambil guling dan membatasi jarak antara kami. 

Ranjangku memang cukup luas. Ayah sengaja membuatkan ranjang besar untukku, karena dari kecil aku sering jatuh dari ranjang akibat menjelajah kemana- mana saat tidur.

Aku terlelap lebih dulu walau kurasakan berulang kali ia membolak-balikkan badannya gelisah. Mungkin karena kegerahan. Bodo amat!

“Aduuuh!” 

Aku terbangun mendengar suara gaduh dari  bawah ranjang. Aku melirik weker yang tertengger di rak dinding kamarku. Jarum jam menunjukkan pukul empat dini hari.

“Astaghfirullah, Kak! Kok ada di bawah sih?” teriakku kaget melihat Raka tergeletak di depan ranjang dengan wajah meringis.

“Auh agh gelap!” jawabnya ngambang.

“Ngapain, Kak! cari kecoak?” tanyaku menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang lucu.

“Bocah sialan! sudah bersalah nanya lagi!” rutuknya  meraih lenganku kemudian mencengkrammnya erat, dia kelihatan sangat kesal.

Aku tersentak kaget atas sikapnya.

“Aduh, aduh sakiiit!” aku meringis menahan sakit akibat cengkraman kuatnya. Air mataku menetes karena sakit yang kurasakan pada lenganku.

“Maaf, habis kamu sih, tidur sambil menjelajah, menendang, memangnya aku bola apa?” jawabnya masih meringis memegang kepalanya yang mungkin terbentur akibat tendanganku.

Ia kemudian meraih lenganku yang memerah “Maaf, aku tak sengaja,” ucapnya dengan nada menyesal.

Aku diam tak menjawab. Entah kenapa hatiku terasa sakit mendapatkan perlakuan seperti itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel