Pustaka
Bahasa Indonesia

Dinikahi Om-Om

62.0K · Tamat
Iank maryam
54
Bab
334
View
9.0
Rating

Ringkasan

Pernikahan beda usia yang di awali degan perjodohan dari kedua orang tua mereka. Winda dan Raka yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, begitu sulit menerima perjodohan tersebut.Raka yang dingin sangat terganggu dengan sikap Winda yang kekanakan. Seiring waktu berjalan perlahan cinta tumbuh diantara mereka walau masing-masing tidak mau mengakuinya. Meninggalnya Papa Winda semakin mengeratkan hubungan mereka, mereka mulai merajut rumah tangga yang normal seperti rumah tangga pada umumnya. Keadaan kembali keruh ketika Winda menemukan satu kenyataan yang justeru membuatnyq kemudian begitu membenci Raka. Kenyataan bahwa Raka adalah penyebab meninggalnya Papa Winda. Dia sangat kecewa dan sangat marah mengetahui kenyataan tersebut. Apalagi Raka dan papanya terkesan menutupi kenyataan menyedihkan itu. Raka berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya, namun Winda terlanjur sakit hati dan berpersangka buruk terhadap Raka dan papa mertuanya. Raka bingung bagaimana menghadapi kerasnya hati Winda yang menuntut Raka untuk menceraikannya. Masalah lain juga muncul, hadirnya orang ketiga yang mencoba mengacaukan pernikahan mereka, membuat Winda semakin tidak mempercayai Raka. Raka berusaha keras untuk mendapatkan kepercayaan Winda. Sementara usaha orang ketiga tersebut semakin gencar untuk memisahkan mereka. Bahkan Elena sebagai orang ketiga tersebut menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan tujuannya, yaitu memisahkan Wihda dan Raka. Elena ingin menyingkirkan Winda dan menikah dengan Raka. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Mampukah mereka mempertahankan pernikahan tersebut? Apakah Winda akan meninggalkan Raka? Bagaimana Raka meyakinkan Winda bahwa semua itu di luar kuasanya?

RomansaSweetPernikahanKeluargaIstriLove after MarriageBaper

Bab 1 ( Perjodohan)

Mataku memerah mendengar perkataan papa. 

"Papa tak menerima alasan apapun! Kamu harus menikah dengannya." 

Gelegar suara papa kembali menyambar telingaku. Aku benar-benar tak berdaya.

"Ini artinya papa menjualku?" Kuberanikan diri menatap matanya melontarkan pertanyaan itu.

Suara jemarinya beradu dengan pipiku membuatku tersentak. Posisiku yang berdiri di depannya terpental beberapa sentimeter ke belakang.

"Tega kamu berkata begitu, Nak! Kamu tidak tahu kalau ini demi kebaikan kamu?" ucapnya melunak seakan menyesal atas apa yang baru saja ia perbuat padaku.

"Kebaikanku?"  

Kembali aku membantah ucapannya. Rasa takutku seakan menghilang berganti dengan perasaan benci dan kecewa. 

Bagaimana hatiku mampu menerima perlakuannya kali ini padaku? sejak kecil dibentaknya pun aku tak pernah.

Kulirik ia terduduk di kursi sambil menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya, laki-laki yang selalu memanjakan ku itu memarahiku dengan sangat keras bahkan sampai memukulku. 

Aku tahu ia sedang menangis. Aku mengenalnya dengan baik. Ia papaku, tak akan pernah tega untuk menyakitiku.

"Winda, sini, Nak." 

Dengan suara berat ia melambaikan tangannya mengisyaratkan agar aku mendekat padanya. Langkahku sedikit ragu untuk menghampirinya.

"Win, kali ini, Papa mohon padamu, menikahlah dengan anak Pak Handoko, dia pemuda yang baik, Papa jamin."

Ucapannya terdengar lirih dan memohon. Aku tak sanggup menahan jatuhnya kristal bening di mataku.

Aku memeluk laki-laki tua itu dengan perasaan bersalah karena telah menyakiti perasaannya.

"Pa, ini bukan karena hutang Papa, kan?" ucapku mencoba memastikan niatnya menikahkanku dengan pemuda yang samasekali tidak aku kenal.

"Win, tak ada satu orang Ayah pun yang mau melihat anaknya jatuh ke tangan orang yang salah, Percayalah kata-kata Papa! Tak mungkin Papa menyerahkanmu pada orang yang salah," ucapnya meraih daguku kemudian mengelus pipiku. 

Pak Handoko adalah majikan papa. Sudah bertahun-tahun papa bekerja sebagai tukang kebunnya.

Kepercayaannya begitu besar pada Papa, sehingga ia berani memberikan pinjaman  kepada Papa untuk biaya operasi mama beberapa bulan yang lalu. 

Walaupun akhirnya mama harus tetap menjemput ajalnya beberapa saat setelah operasi.

Anak Pak Handoko jauh lebih tua dariku. Saat ini ia menempuh pendidikan pasca sarjananya di salah satu universitas di kota. 

Aku masih di tahun ketiga sekolah menengah atas. Sebenarnya kalau kuliahnya lancar usiaku hanya beda enam tahunan, tapi karena ia pernah beberapa kali cuti kuliah, yah perbedaan usia kami sekitar 10 tahunan. Sungguh pertautan usia yang sangat jauh.

Pak Handoko sepakat untuk menganggap hutang papa lunas jika aku bersedia menikah dengan anaknya. Entah pertimbangan apa sehingga ia mengambil keputusan seperti itu. Padahal andaikan ia mau, pasti ia bisa mendapatkan menantu yang cantik dan kaya.

"Pa, Winda akan menuruti papa jika ini bukan karena hutang Papa semata-mata" ucapku sambil menunduk, ada rasa sedih yang tak mampu aku gambarkan. 

Setelah baru-baru ini aku kehilangan ibuku, sekarang aku harus menikah dengan orang yang tak aku cintai. Bahkan melihat wajahnyapun tak pernah.

"Win, kamu percaya, kan sama Papa?"  Pertanyaan itu terdengar seperti pernyataan untuk meyakinkanku. 

Aku mencoba menelisik tentang tujuan papa yang sesungguhnya. Apakah dia lelaki yang baik? sehingga papa begitu yakinnya bersedia menikahkan aku dengannya.

"Pa, boleh aku bertemu dengannya?" tanyaku ragu.

Aku ingin menemuinya, walaupun tak ada pilihan lain bagiku, tapi setidaknya hatiku tidak penasaran tentang siapa yang akan aku nikahi, bagaimana wajahnya, dan bagiamana reaksinya jika dia melihatku?

"Tentu saja, Win! Minggu depan acara wisudanya, setelah itu ia akan pulang ke sini." 

Papa terlihat sedikit lega mendengar pertanyaanku. Ada binar bahagia di wajahnya, sebahagiakah itu Papa? Padahal dia akan menikahkan putri satu-satunya yang sangat ia sayangi.

Apakah ia tidak sayang padaku lagi? Ah, tidak mungkin sih! Tapi kenapa? Aku tak berani menanyakan itu langsung ke Papa, aku tidak ingin melihat mendung di matanya lagi.

Seminggu berlalu, tibalah saatnya kami untuk bertemu. Papa mengantarku ke rumah majikannya. Walau sudah bertahun-tahun papa bekerja di sini, tapi baru kali ini aku menginjakkan kaki di rumah ini.

Rumah mewah berlantai tiga, sangat luas menurutku, karena seandainya rumahku dikali sepuluh sekalipun belum sebanding dengan luas rumah calon suamiku itu.

Aku melangkah masuk dalam pekarangannya yang luas, dengan berbagai macam merk mobil di garasinya.

Masya Allah kekayaannya luar biasa! Aku baru menyaksikan rumah semewah itu. 

Bahkan grendel pintunya sepertinya berlapis emas menurutku sih.

Sosok lelaki seumuran papa keluar menyambut kami dengan senyum hangat. Lelaki yang sering berkunjung ke rumah sakit saat ibu di rawat. 

Pak Handoko, lelaki paruh baya yang selalu tersenyum. Wajah tuanya tak kehilangan pesona, karena hiasan senyum tak pernah absen dari bibirnya.

"Masuk, Nak, Raka ada di dalam menunggumu," ucap lelaki ramah itu meraih pundakku. Dia bersikap seolah aku ini adalah anaknya.

Mataku tertuju pada sosok laki-laki putih bersih yang duduk tertunduk di atas sofa cokelat mewah berukuran besar. 

Wajahnya terbilang biasa saja, tapi dari penampilannya terbaca kalau dia sangat perfeksionis dalam memilih pakaian. Terlihat jelas lipatan baju dan celana yang dikenakannya  mengkilat bekas strikaan. Ia tak melirikku sedikitpun. Apakah ia juga sama denganku? Terpaksa mengikuti kemauan orang tua?

"Nah, ini dia, Raka, calon istrimu."  

Ucapan pak Handoko membuat darahku berdesir. Aku gugup, apalagi Raka belum mengangkat wajahnya sedikitpun.

"Raka! Sapa dong calonnya," sahut Pak Handoko terlihat sedikit kesal.

"Hai," hanya itu yang keluar dari mulutnya, kemudian tatapnnya kembali menunduk. 

"Pria angkuh! Emang dia pikir aku tertarik padanya apa?" gumamku kesal. 

Andaikan aku bukan di sini dan bukan dalam situasi semacam ini, pasti sudah aku tarik  bibirnya yang tak pernah menyunggingkan senyum sedikitpun.

Hampir satu jam lamanya aku duduk dengan bosan. Hanya Papa dan Pak Handoko sibuk bicara tentang rencana pernikahan kami. Sementara pria di sana hanya duduk diam seolah tak mendengar apa-apa. 

Aku pasrah melihat semangat kedua laki-laki tua itu. Mereka menetapkan tanggal tanpa bertanya apa-apa pada kami. Sebenarnya yang mau menikah itu aku atau mereka.

Mereka sepakat untuk melaksanakan pernikahan setelah ujianku selesai. Berarti tinggal satu bulan lagi

"Pa, apa ini tidak terlalu terburu-buru?" tanya lelaki itu terlihat panik, sepertinya ia memang belum siap.

"Raka, kebaikan itu harus disegerakan" ucap pak Handoko sambil menatap tajam ke arah anaknya yang hanya bisa manut menuruti perkataan Papanya. 

"Raka, bawalah Winda berjalan-jalan ke taman belakang, kalian berkenalan dulu." 

Sontak kami langsung menatap lelaki tua itu. What? Tuhaannn,l! aku tidak mau, lelaki sombong itu pasti akan mengabaikanku. Sekilas aku merasakan ia menatapku dengan pandangan aneh. Ih serem deh!

"Ayo!" 

tiba-tiba ia sudah berada di sampingku, aku mendongakkan kepalaku ke arahnya. Tinggi badannya jauh di atasku. Ya Tuhan! dia lebih cocok jadi abang atau omku, hiks.

"Ayo, mau nggak?"

Aku terkejut mendengar bentakannya, spontan aku berdiri dan mengikuti langkahnya. Kulirik Papa dan Pak Handoko tersenyum menyaksikan kami menuruti kemauan mereka.

Aku terkagum-kagum menyaksikan indahnya taman belakang rumah mereka, seperti di surga rasanya.

Berbagai macam bunga-bunga beraneka warna yang menyejukkan mata, di taman itu juga berjejer kursi taman yang indah di bawah rimbunan pohon. 

"Kenapa?  Baru liat yang seperti ini?"  Pertanyaan itu bagai pisau tajam menusuk jantungku, kekagumanku pada taman itu sirna. 

"Maksud Kakak apa?" Ucapku sedikit membentak. Aku kesal dengan pertanyaannya yang terkesan merendahkan aku, walapun hati kecilku mengakui kalau aku memang baru menyaksikan taman seindah ini.

"Aku benar, kan?" tanyanya sambil tersenyum mengejekku.

Aku melangkah meninggalkannya, tapi ia malah menarik tanganku.

"Hei, bocah! mau mengadu sama Papa? dasar bocah!"

Aku menatapnya tajam, ingin sekali aku mengacak-acak rambutnya yang tersisir rapi itu. Aku membayangkan dia pasti sangat marah kalau itu aku lakukan. Ehm, aku tersenyum kecil membayangkannya.

"Eh, lho kok malah senyum, benar kan, kamu mau mengadu?" ucapnya terlihat kesal.

"Sory  yah, aku bukan orang seperti itu!" sahutku memonyongkan bibir ke arahnya. 

"Ih, andaikan bukan karena papa, sudah kujewel kupingmu itu," ucapnya mulai gregetan dengan sikapku.

"Sama! andaikan bukan karena Papa, sudah ku acak-acak rambut Kakak, ha-ha-ha-ha." Aku tertawa sekali lagi membayangkan itu.

"Dasar bocah!" Umpatan itu keluar lagi dari mulutnya sehingga memancing emosiku.

"Dasar om -om!" sahutku membalas umpatannya.

Dia menarik jilbab yang aku kenakan dan mendekatkan wajahnya pas di hadapanku. Aku sedikit ketakutan, tapi aku berusaha pura-pura menantang. 

"Eh om, ini namanya pelecehan, menarik jilbab orang itu pelecehan," ucapku sedikit terbata-bata. Ia menjauhkan wajahnya dariku, aku menarik nafas lega.

"Baiklah, tapi sebelum menikah, aku ingin kita membuat perjanjian," ucapnya kemudian dengan wajah serius.

"Perjanjian?, Perjanjian apa, Kak?" tanyaku penasaran.

"Perjanjian pra nikah." Ucapnya santai 

"Kayak artis saja" rutukku

"Keberatan?" Tanyanya seakan mengancam ku.

"Oke, aku tidak keberatan," timpalku menantang