Bab 3 (Pernikahan)
Semua persiapan pernikahanku dengan Raka di urus oleh keluarganya.
Aku hanya tinggal bawa badan saja. Mulai dari baju pengantin serta semua pernak-pernik yang berhubungan dengan pernikahanku, aku tak tahu apa-apa.
Kenyataannya aku sendiri tak bersemangat untuk melakukan persiapan itu. Hatiku tak bahagia menyambut pernikahan yang bukan keinginanku. Apalagi Raka tak pernah menghubungiku setelah mengirimkan perjanjian pranikah itu.
Pagi ini, keluarga berkumpul di ruang tengah, ruangan yang luasnya cuma lima meter persegi, tak ada kursi di sana. Hanya hamparan karpet tempat mereka duduk dan bercakap.
Binar bahagia terpancar jelas di wajah-wajah mereka. Sementara aku di dalam kamar yang cuma berdiding tripleks usang merenung seorang diri. Aku menatap wajahku yang telah dirias oleh perias kiriman keluarga Raka.
Entah kenapa hatiku pilu menatap pantulan wajahku di cermin. Aku teringat ibuku yang telah pergi.
Aku harus menikah muda dengan orang yang tidak aku cintai dan tidak mencintaiku. Kemana harus kuceritakan pilu hatiku ini? Seandainya beliau masih hidup, tentu keadaannya akan berbeda.
“Winda, ayo kita keluar, pengantin lelaki sudah datang,” seorang wanita muda muncul dibalik pintu kamar membuyarkan lamunanku.
“Iya tante,” aku berusaha untuk menahan jatuh air mataku. Kuikuti langkah tante Mira adik dari ayahku. Ia satu-satunya keluarga terdekatku, namun karena kesibukannya berdagang di pasar sehingga aku jarang bertemu dengannya.
Di luar terlihat sangat ramai menyambut sang pengantin pria datang. Aku mengedarkan pandanganku mencari-cari sosok laki-laki yang akan jadi suamiku itu.
Mataku terhenti pada sosok pria yang mengenakan pakaian pengantin putih dengan kopiah putih senada dengan baju pengantinku yang terlihat sangat mewah.
Aku heran, wajahnya kok tak seculun saat aku bertemu di rumahnya yah?” gumamku.
Hari ini ia terlihat berbeda. Kulit putihnya lebih bersinar dan dia terlihat sangat tampan. Tidak-tidak, ada apa dengan pikiranku? aku kesal dengan pikiranku yang tiba-tiba memujinya. Ah, dia masih pria yang sama, angkuh!
Tante menggandeng tanganku ke arah pria itu duduk. Namun tak sekalipun ia mendongakkan kepalanya memandangku, padahal hari ini aku cantik banget loh, ups! aku terus menggumam dalam hati.
Aku kesal padanya. Tidak bisakah ia sedikit membuang keangkuhannya, untuk hari ini saja? kesal aku!
“Sudah siap nak? kita mulai yah,” ucap ayahku kembali mengalihkan hatiku yang mengutuk pria yang sebentar lagi akan jadi suamiku itu.
Proses ijab qabul berlangsung lancar, ia mengucapkannya dengan satu tarikan nafas dan, ah, akhirnya aku resmi jadi istrinya.
Kudengar kata sah dari para tamu undangan diiringi dengan ucapan hamdalah dari mereka semua.
Raka memasangkan cincin di jari manisku, aku melakukan hal yang sama padanya. Tapi kami tak saling memandang satu sama lain, bahkan saat kuraih tangannya untuk kucium, aku tak berani mengangkat wajahku, aku takut kecewa karena tak dapat respon darinya.
Pesta berlangsung meriah. Aku bersanding dengannya di pelaminan yang di buat di luar rumahku.
Kondisi rumahku yang sempit tidak memungkinkan untuk menerima banyak tamu.
Aku tak mengundang teman-temanku, aku malu. Apalagi kalaun Edo tahu, lelaki yang sebulan ini aku taksir. Laki-laki yang jauh lebih keren darinya. Pasti aku akan sangat malu. Lagipula aku tak berpikir bahwa pernikahan ini akan bertahan lama.
Aku berusaha tersenyum menyambut para tamu, walau hatiku sangat kesal aku tidak mungkin bersikap seperti dia. Dingin dan tak tersenyum samasekali.
Menjelang sore, pesta akan berakhir. Seorang wanita cantik melenggang masuk ke acara kami. Wanita itu memakai stelan brukat berwarna gold dengan rambut pirang terurai panjang. Postur tubuhnya tinggi semampai dengan memakai sepatu tinggi yang seperti kaca.
Semua mata terfokus padanya. Wanita berkulit putih bersih itu tersenyum manis ke arah Raka yang dibalas dengan senyuman pula.
“Hai Raka, selamat yah,” itu yang diucapkannya, lama mereka saling berjabat tangan dan berpandangan seolah ada sesuatu antara mereka. Aku pura-pura tak perduli.
“Hei anak kecil, Raka itu milikku yah, ingat itu!” ucapnya berbisik berpura -pura memelukku.
Andaikan ini bukan pesta pernikahan, sudah kupastikan dia akan dapat tendangan dariku.
“Dasar genit,” bisikku padanya membuat wajahnya memerah menahan marah. Aku pura-pura tersenyum untuk menutupi kekesalanku. Aku yakin itu pasti pacarnya Raka.
