Bab 2 (Perjanjian Pranikah)
Raka terlihat kesal melihat tingkahku yang selalu saja menantangnya.
Emangnya dia pikir siapa dia? Jangan mentang-mentang lebih tua dariku, aku akan takut, sorry yah! Aku pikir sepertinya ia ingin mengintimidasiku, tapi melihatku tidak takut, nyalinya sedikit ciut.
"Oke, akan berikan nomer ponselmu, nanti aku fotokan setelah aku mengetiknya," ucapnya setengah berbisik.
"Eh, enak saja! Aku harus ikut buat dong perjanjiannya, jangan sampai enak di kamu nggak enak di aku!" jawabku dengan mata melotot ke arahnya.
Lelaki dengan stelan kemeja biru kotak-kotak berpadu dengan celana hitam berbahan kain itu tersenyum sinis.
"Eh, bocah! Pintar juga kau rupanya!" sahutnya sambil tertawa mengejekku. Jengkel aku melihat sikap songongnya.
"Berhenti menyebutku bocah! Kalau tidak!"
"Kalau tidak, kenapa?" jawabnya memotong ucapanku.
"Kalau tidak!" Aku tersenyum jenaka menatap rambut rapi belah samping yang terlihat lucu bagiku. Aku langsung berdiri dan mengacak rambutnya kemudian mengambil langkah seribu meninggalkannya.
Puas rasanya mengacak rambut lelaki angkuh itu.
"Eh bocah! Kurang ajar!" Ia berlari mengejarku sambil merapikan rambut klimiksnya.
Hampir saja menjangkau tubuhku, tapi malang, kaki panjangnya tersandung batu taman yang cukup besar, tubuh jangkungnya terjerembab di antara rumput-rumput taman.
"Hahahaha! Rasain!" sahutku girang. Aku puas berhasil mengerjai pria menjengkelkan itu.
"Aduuh! Sakit sekali!" erangnya sambil memegang kepalanya. Padahal yang aku lihat kepalanya tak tersentuh tanah sedikitpun.
Kutunggu beberapa detik, ia belum berdiri, malah ia terkulai lemas tak bergerak sama sekali.
Ia pasti mengerjaiku! tapi hingga beberapa menit ia tak juga bergerak, aku mulai ragu.
"Jangan-jangan ia pingsan, waduh gawat!" Perlahan kudekati tubuhnya yang masih terbaring sambil memegang kepalanya. Aku semakin khawatir karena kulihat tak ada respon saat kupanggil namanya.
Langkahku semakin mendekat kemudian berjongkok di sampingnya. Aku meletakkan telunjukku di hidungnya.
"Syukurlah masih bernafas,"ucapku sedikit gugup, tapi kini kekhawatiran meliputi hatiku. Jika terjadi sesuatu padanya, pasti aku yang di salahkan.
"Duarrrrr!" suaranya menggelegar mengagetkanku. Aku jatuh terduduk saking kagetnya.
"Kenna kau!" Dia tertawa terpingkal memamerkan deretan gigi putihnya saat melihatku sangat terkejut akibat ulahnya. Ia kemudian menarik tas selempang yang kugunakan.
"Nah! sekarang kamu mau kemana?" ucapnya mendekat ke arahku yang masih shock.
"Sedang apa kalian?" Sebuah teriakan membuat kami berdua berbalik ke arah datangnya suara. Dua lelaki tua dengan senyum bahagia menatap ke arah kami.
Aku langsung berlari mendekati Papa. "Itu Pa, tadi kak Raka jatuh," ucapku terbata, rasa terkejutku belum juga hilang.
"Itu karena bocah itu, Pa!" sahut laki-laki itu setengah merengek. Dasar cengeng!
"Raka! Jaga ucapanmu! Dia itu calon istrimu, sebut namanya dengan baik!" Bentak Pak Handoko padanya.
Aku sedikit memonyongkan bibirku ke arahnya. Emang enak? ia bertambah kesal. Kulihat gigi gerahamnya menonjol kesamping, jelas sekali kalau ia menahan amarahnya.
Semenjak pertemuan itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Papa memberiku nomer ponselnya tapi aku tak mau menghubunginya duluan. Gengsi dong!
Sebulan berlalu, sejak pertemuanku dengannya. Aku merenung di kamarku. Kutatapi dinding kamar yang penuh degan pernak-pernik merah muda kesukaanku.
Aku masih merasa bingung dengan rencana pernikahan dadakan kami. Pikiran-pikiran buruk terus menari di kepalaku. Bagaimana aku menjalani pernikahan tanpa cinta. Diusiaku yang terbilang masih muda.
Sebuah notifikasi masuk di aplikasi hijau milikku. Keningku mengerut menatap nomer baru yang tak ku kenal, tapi karena penasaran akhirnya kubuka pesan itu.
[Perjanjian pranikah] Aku langsung mengenal siapa pengirimnya. Kulanjutkan membaca pesannya.
[1. Tak boleh saling mencampuri urusan masing-masing
2. Tak boleh saling menyentuh
3. Tidur di tempat berbeda
4. Masalah keuangan pihak laki-laki yang menanggung agar ortu tidak curiga
5. Tak ada cemburu-cemburuan
6. Tetap harus kelihatan mesra di depan ortu]
Mataku membulat membaca poin ke enam. Wah, aku tidak bisa dong, mesra di depan ortu, enak saja!
[Keberatan dengan poin 6] jawabku ringkas.
[ Harus, menghindari kecurigaan ] jawabnya lagi.
Aku menghela nafas berat. Yah mau tak mau aku harus menurutinya.
[Oke] segera kubalas kemudian kulemparkan ponselku jauh dariku, aku tertidur setelah itu.
