Fajar Yang Terkurung & Kebangkitan Sang Hantu
Langit ibukota Tian Yang tampak tertekan, seolah awan kelabu itu menahan beban kebohongan yang akan segera dilahirkan. Di Alun-Alun Kerajaan, ribuan rakyat dipadatkan hingga sesak napas. Aroma dupa yang berlebihan menusuk hidung, bercampur dengan bau ketakutan yang nyata. Di pusat alun-alun, sebuah peti mati dari kayu cendana hitam.
Zhao Ming muncul dengan jubah hitam mewah. Langkahnya tegap, matanya menyala dengan kemenangan yang sulit disembunyikan. "Warga Tian Yang! Hari ini, langit runtuh. Saudaraku, Putra Mahkota Li Wei, telah gugur di perbatasan utara. Tubuhnya hancur tak dikenali oleh pedang barbar." teriak Zhao Ming dengan suara bergema, penuh getaran palsu.
Kerumunan gempar. Bisik-bisik panik menyebar seperti api. Namun, di barisan depan, seorang wanita muda dengan gaun hitam—Putri Chen Xi, tunangan Li Wei—menerobos maju. Wajahnya cantik namun basah oleh air mata, matanya menyala dengan kemarahan yang membara, seolah menolak untuk padam meski badai datang.
"Bohong! Li Wei tidak mungkin mati! Aku merasakan denyut hidupnya! Kami baru saja bertukar surat seminggu lalu! Dia berjanji akan kembali untuk pernikahan kita saat fajar tiba!" teriak Chen Xi, suaranya jernih dan tajam, membelah keheningan mencekam.
Zhao Ming menatap Chen Xi, senyum tipis yang dingin terbentuk di bibirnya. "Putri Chen Xi, kesedihan telah membuatmu kehilangan akal. Fakta sudah jelas. Cincin ini adalah satu-satunya yang tersisa." Ia mengangkat cincin itu tinggi-tinggi.
"Aku tidak percaya! Buka petinya! Tunjukkan wajahnya! Jika dia benar mati, biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali!" ujar Chen Xi berlari menuju peti mati, berusaha membukanya dengan tangan gemetar.
"Tahan dia!" perintah Zhao Ming dingin, tanpa sedikitpun ragu.
Dua pengawal raksasa menyeret Chen Xi mundur. Ia melawan dengan segenap tenaga, kuku-kukunya mencakar lengan para pengawal, meninggalkan bekas luka berdarah. "Lepaskan! Li Wei masih hidup! Zhao Ming, kau pembunuh! Kau pasti yang telah membunuhnya!"
Zhao Ming turun dari podium, mendekati Chen Xi yang sedang diseret. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Chen Xi dan beberapa pejabat dekat, suaranya rendah dan beracun: "Dia memang belum mati saat aku mengirim pembunuh... tapi sekarang? Mungkin sudah. Dan jika kau terus berteriak begitu, kau akan menyusulnya ke alam baka lebih cepat. Kau ingin menjadi 'Fajar' yang tidak akan pernah terbit?"
Chen Xi terdiam sejenak, menyadari kekejaman Zhao Ming, namun kemudian ia mengumpulkan sisa keberaniannya. Matanya menatap lurus ke jiwa Zhao Ming. "Plak! Aku tidak peduli seberapa banyak orang kau bunuh. Aku tahu dia masih hidup. Dan aku akan menunggunya kembali untuk menghancurkanmu, bahkan jika aku harus menunggu seribu tahun dalam kegelapan!"
"Kau tidak akan punya kesempatan menunggu! Putri Chen Xi sudah gila akibat duka cita. Demi kebaikannya sendiri, dan demi ketertiban istana, dia akan dikarantina di Penjara Bawah Tanah sampai waras kembali. Siapa pun yang mencoba mendekat atau menyebarkan berita bohong tentang Putra Mahkota akan dianggap pengkhianat negara!" sahut Zhao Ming dengan keras agar semua mendengar.
Sebelum diseret paksa ke arah pintu gerbang samping yang gelap dan mengerikan, Chen Xi menoleh ke arah kerumunan, matanya bertemu dengan sorot mata kosong rakyat yang takut. "Hei! Kalian dengarkan aku! Putra mahkota Li Wei masih hidup! Jangan percaya pada Zhao Ming! Dia masih hidup! LI WEI MASIH HIDUP!" teriaknya dengan suara parau namun tetap lantang.
Teriakan "Hidup" itu menggema di alun-alun, sebelum pintu besi berat tertutup dengan dentuman keras, menelan suara Chen Xi ke dalam kegelapan abadi. Rakyat menunduk, takut untuk memandang. Zhao Ming kembali ke podium, tersenyum puas. "Upacara berlanjut. Tian Yang kini di bawah pimpinan saya."
Berita itu tiba di Jiang Nan dibawa oleh agen rahasia Chen Hao yang lolos dari pengepungan ibukota. Wajah Chen Hao kusut, bajunya robek, dan napasnya tersengal-sengal. Ia melemparkan gulungan berita ke meja, tangannya gemetar hebat.
"Tuan Muda! Zhao Ming menyatakan Anda tewas. Dia mengeksekusi Menteri Wang yang mempertanyakannya. Dan Putri Chen Xi ... Putri Chen Xi berteriak menolak percaya di alun-alun. Dia diseret dan dikurung di Penjara Bawah Tanah Istana. Zhao Ming menyiksanya dengan isolasi total, tanpa cahaya, tanpa suara, hanya agar dia berhenti menyebut nama Anda. Dia mengurungnya di dalam gua kematian." lapor Chen Hao.
Dunia Li Wei seakan berhenti berputar. Ia yang sedari tadi duduk diam membersihkan pedangnya, tiba-tiba remuk. Topeng abu-abunya jatuh ke lantai, revealing wajah pucat yang dipenuhi keringat dingin. Matanya membelalak, bukan karena takut, tapi karena rasa sakit yang luar biasa tajam di dada.
"Chen Xi! Dia sendirian di dalam gelap karena mempertahankan keyakinan bahwa aku hidup? Dia yang selalu membawa cahaya bagi kita, kini dipaksa hidup dalam kegelapan total?" bisik Li Wei, suaranya parau seperti orang tercekat.
Lian Feng, yang berdiri di sampingnya, menangis. "Dia sangat mencintaimu, Tuan. Dia rela mengorbankan nyawanya demi namamu. Sementara kita di sini, aman di gudang beras, sementara dia disiksa di bawah tanah!"
Li Wei tiba-tiba berdiri, tendangan keras melenyapkan meja kayu di depannya hingga hancur berkeping-keping. "AAAAARGH! Zhao Ming, kau tidak hanya mencuri takhtaku. Kau juga memadamkan cahayaku. Kau menyiksa wanita yang paling aku cintai hanya untuk membungkam kebenaran!" teriak Li Wei frustrasi dan kemarahan meledak dari tenggorokannya, membuat burung-burung di atap gudang terbang panik.
Chen Hao menarik pedangnya. "Tuan, izinkan aku menyerbu malam ini! Kita harus mengeluarkannya!"
"Tidak! Jika kita menyerbu sekarang, mereka akan membunuh Chen Xi sebagai tameng. Zhao Ming menginginkan kita datang menyelamatkan dia, supaya dia bisa menjebak kita semua! Dia ingin aku ceroboh!" bentak Li Wei, tapi kali ini bukan karena strategi dingin, melainkan karena amarah yang mendidih.
Li Wei mengambil topengnya, memasangnya kembali dengan gerakan lambat dan sengaja. Saat topeng itu terkunci di wajahnya, ekspresi sakitnya hilang, digantikan oleh kegelapan total yang menakutkan.
"Dia ingin aku menjadi hantu? Baiklah. Maka aku akan menjadi hantu yang paling ia takuti. Chen Xi menahan siksaan di kegelapan karena percaya aku hidup. Aku tidak boleh mengecewakannya. Aku harus mengubah kepercayaannya menjadi senjata. Jika dia adalah Fajar yang terkurung, maka aku akan menjadi Malam yang menghantui mimpi buruk Zhao Ming sampai Fajar itu bebas." gumam Li Wei dengan suaranya yang berubah menjadi rendah, mengerikan, dan penuh determinasi besi.
Malam itu, suasana di markas berubah menjadi suram namun mematikan. Li Wei merancang rencana yang tidak hanya menyerang fisik, tapi juga psikis Zhao Ming, memanfaatkan nama dan simbolisme Chen Xi.
"Chen Hao! Kita tidak bisa menyelamatkan Chen Xi malam ini. Tapi kita bisa membuat Zhao Ming merasa bahwa Chen Xi tidak sendirian. Sebarkan rumor di seluruh istana: bahwasanya di sel bawah tanah tempat Chen Xi dikurung, terdengar suara bisikan Li Wei yang menghiburnya setiap tengah malam. Katakan bahwa penjaga penjara melihat cahaya samar di sudut sel Chen Xi, seolah-olah 'Fajar' itu tetap bersinar meski di dalam tanah, dilindungi oleh roh Li Wei." pinta Li Wei,
Lian Feng mengusap air matanya, memahami maksud Li Wei. "Kita buat Zhao Ming paranoid. Kita buat dia takut bahwa 'roh' Li Wei sudah masuk ke dalam istana, melindungi Chen Xi dari dalam sel."
"Benar!" sahut Li Wei. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke campuran tinta merah dan darah ayam. Di selembar kain putih, ia menulis pesan yang ditujukan khusus untuk Zhao Ming, namun akan ditemukan di tempat umum.
"Zhao Ming, kau bisa mengurung tubuhnya, tapi kau tidak bisa mengurung jiwa kami. Chen Xi tahu aku hidup. Dan aku tahu dia menderita. Untuk setiap tetes air matanya di kegelapan, akan ada satu nyawa prajuritmu yang melayang. Tunggu tanda-tandaku."
"Besok malam! Kita serbu Pos Logistik Lembah Kabut. Tapi kali ini, kita tinggalkan jejak khusus. Kita akan menyusun mayat musuh membentuk pola 'Matahari Terbit', simbol Chen Xi yang akan segera bangkit. Dan di dinding, kita tulis: 'Untuk Chen Xi, dari Li Wei yang Hidup'." ucap Li Wei.
Malam penyerbuan itu, kabut tebal menyelimuti lembah. Li Wei bergerak seperti bayangan, pedangnya menari dalam keheningan, memutus nyawa penjaga satu per satu tanpa suara. Tidak ada teriakan, hanya desing logam dan tubuh yang roboh.
Setelah pos tersebut lumpuh, Li Wei berdiri di depan dinding batu besar. Dengan tangan stabil, ia melukis pesan merahnya. Bulan intip-intip dari balik awan, menerangi tulisan darah yang seolah berdenyut.
Keesokan paginya, ketika pasukan bantuan Zhao Ming tiba, mereka menemukan pemandangan yang membuat mereka ketakutan. Mayat-mayat rekan mereka disusun rapi membentuk pola matahari terbit yang aneh, dan pesan darah itu terpampang jelas.
Komandan pasukan itu gemetar hebat. "Dia ... dia menulis nama Putri Chen Xi? Tapi Putri Chen Xi dikurung di bawah tanah! Bagaimana dia tahu? Apakah roh Li Wei benar-benar menembus tembok istana untuk berbicara padanya? Apakah 'Fajar' itu benar-benar bersinar di dalam selnya?"
Ketakutan itu menyebar lebih cepat daripada api. Prajurit-prajurit Zhao Ming mulai percaya bahwa Li Wei memang sudah menjadi entitas supranatural yang tidak bisa dibendung. Moral mereka hancur.
Di kedalaman Penjara Bawah Tanah, Chen Xi duduk meringkuk di sudut sel yang dingin dan lembap. Gelap total. Lapar dan haus membuatnya lemah. Namun, tiba-tiba, dari celah ventilasi udara di atas, terjatuh sehelai kain kecil yang digulung rapi.
Chen Xi membukanya dengan tangan gemetar. Di sana, tertulis dengan tinta merah samar: "Bertahanlah, Chen Xi. Aku datang. Fajar akan segera terbit.
— L"
Air mata Chen Xi mengalir deras, tapi kali ini bukan air mata keputusasaan. Ia tersenyum di tengah kegelapan, memeluk kain itu erat-erat. "Aku tahu! Aku tahu kau hidup, Li Wei. Aku tahu kau akan datang. Cahayaku belum padam." bisiknya pada kegelapan, suaranya penuh harap.
Di kejauhan, di atas bukit, Li Wei menatap arah istana. Angin malam membelai jubahnya. "Tahan sebentar lagi, Chen Xi. Segera, aku akan meruntuhkan istana ini batu demi batu untuk membebaskanmu. Dan saat itu terjadi, Zhao Ming akan menyesal pernah mencoba memadamkan Fajar."
Layar menggelap dengan suara rantai besi yang berdenting, diikuti oleh deru angin yang seolah menjawab sumpah sang pangeran, menantikan fajar yang sesungguhnya.
