Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bayangan di Lorong Terlarang

Seminggu telah berlalu sejak penyergapan di Lembah Kabut. Kabar tentang "Hantu Li Wei" yang meninggalkan pesan darah telah melumpuhkan moral separuh garnisun ibukota. Namun, bagi Li Wei, itu belum cukup. Laporan dari Chen Hao menyebutkan bahwa kondisi Chen Xi memburuk; dia menolak makan dan hanya duduk diam menatap kegelapan, seolah menunggu cahaya yang tak kunjung datang.

"Aku harus masuk! Aku tidak bisa mengirim pesan lagi. Chen Xi butuh bukti. Dia harus tahu kalau aku nyata, bukan sekadar bisikan angin." ucap Li Wei tiba-tiba saat berada di markas Jiang Nan, memecah keheningan ruang peta.

Lian Feng menggeleng keras, wajahnya pucat. "Tuan, itu bunuh diri! Istana sekarang dijaga tiga kali lipat lebih ketat. Setiap sudut ada perangkap, setiap bayangan diawasi. Zhao Ming yang paranoid setengah mati karena rumor hantu. Jika Anda tertangkap, semua usaha kita akan sia-sia!"

"Aku tidak akan tertangkap. Aku tidak akan pergi sebagai Li Wei. Aku akan pergi sebagai apa yang mereka takuti: sebagai Bayangan itu sendiri. Aku hanya perlu masuk, melihat sel Chen Xi dari ventilasi atas, dan meninggalkan tanda yang tak bisa dibantah oleh Zhao Ming. Itu akan membuatnya gila karena ketakutan dan memberi kita waktu untuk rencana penyelamatan sesungguhnya." jawab Li Wei tenang, namun matanya menyala dengan tekad baja.

Chen Hao menghela napas panjang, menyadari ia tidak bisa mengubah pikiran putra mahkotanya. "Jika Tuan nekat, aku akan menyiapkan rute. Ada saluran pembuangan lama di sektor barat yang menuju ke taman belakang istana. Saluran itu sudah ditutup, tapi struktur batunya agak rapuh. Itu satu-satunya titik buta yg tidak ada penjaganya."

"Siapkan itu! Malam ini, Hantu akan berjalan di antara manusia." pinta Li Wei sambil mengenakan pakaian hitam pekat tanpa lambang apapun.

Malam itu, langit Tian Yang gelap gulita tanpa bulan, seolah alam semesta ikut berkonspirasi membantu penyusupan ini. Li Wei merayap keluar dari mulut saluran pembuangan yang tersumbat lumpur dan akar pohon tua. Bau busuk menusuk hidung, tapi ia mengabaikannya. Dengan gerakan kucing, ia melebur ke dalam kegelapan taman belakang istana.

Istana yang biasanya megah kini terasa seperti kuburan raksasa. Obor-obor menyala redup, dan setiap lima langkah berdiri seorang penjaga dengan wajah tegang, tangan terus-menerus memeriksa gagang pedang. Mereka tidak takut pada musuh asing; mereka takut pada sesuatu yang tidak terlihat.

Li Wei bergerak dengan teknik Bu Ying (Jejak Tanpa Bayangan). Ia memanfaatkan setiap detik ketika penjaga mengalihkan pandangan, setiap hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan untuk menutupi suara napasnya. Ia memanjat pilar kayu, merayap di bawah atap genteng, dan bergelantungan di balik tirai jendela, menjadi satu dengan struktur bangunan itu sendiri.

Tujuannya hanya 1, Menara Bawah Tanah.

Setelah dua puluh menit yang terasa seperti dua jam, Li Wei sampai di area belakang menara penjara. Di sana, ada lubang ventilasi kecil setinggi tiga meter dari tanah, tertutup jeruji besi berkarat. Dari sanalah, suara tangisan Chen Xi terdengar.

Dengan pisau kecilnya, Li Wei bekerja cepat memotong karat pada engsel jeruji yang sudah lapuk. Dalam hitungan detik, celah terbuka cukup lebar untuk tubuhnya yang ramping menyusup masuk. Ia jatuh mendarat di lorong sempit di atas sel tahanan.

Dari celah lantai kayu yang bolong, Li Wei mengintip ke bawah. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di sel paling ujung, terbaring sosok kurus mengenakan gaun putih yang kini kusam dan robek. Itu Chen Xi. Rambutnya yang dulu hitam berkilau kini kusut menutupi wajahnya. Lantai sel basah dan dingin. Chen Xi tidak bergerak, matanya terpejam, napasnya dangkal. Di tangannya, ia masih menggenggam erat kain kecil berisi pesan Li Wei minggu lalu, seolah itu adalah satu-satunya sumber kehangatan di dunia yang membekukan ini.

Rasa sakit yang luar biasa menusuk dada Li Wei lebih tajam daripada pedang manapun. Air mata panas menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya. Belum waktunya, batinnya. Menangis sekarang akan membunuh kita berdua.

Perlahan, Li Wei mengambil seutas tali tipis dari pinggangnya, mengikatkan sebuah benda kecil di ujungnya: sebuah liontin giok berbentuk bunga plum, hadiah pertunangan mereka yang selalu ia bawa. Dengan hati-hati, ia menurunkan liontin itu melalui celah lantai, tepat di depan wajah Chen Xi, hingga benda itu menyentuh pipinya.

Chen Xi tersentak bangun. Matanya yang sayu terbuka lebar. Ia menatap liontin yang bergoyang pelan di depannya, bingung. Perlahan, tangannya yang gemetar meraih liontin itu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan giok yang dingin, ia mengenali ukiran khas di dalamnya: naga dan burung api.

Bibir Chen Xi bergetar. "Li ... Wei? Kau ... kau benar-benar di sana?" bisiknya lirih, suaranya serak karena lama tidak bicara. Ia menatap ke atas, ke arah gelapnya loteng, mencari sumbernya.

Li Wei menahan napas, tidak berani bersuara agar penjaga di bawah tidak mendengar. Ia hanya mengetuk dinding kayu tiga kali: pola kode rahasia mereka dulu. Tok. Tok. Tok.

Chen Xi menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis yang hampir meledak. Air mata mengalir deras di wajahnya yang kotor, tapi kali ini, ada senyum tipis yang merekah. Senyum pertama dalam seminggu. "Aku tahu! Aku tahu kau hidup. Terima kasih! Terima kasih sudah datang." bisiknya lagi, lebih kuat.

Li Wei menarik kembali talinya, hatinya sedikit lebih ringan. Dia sudah melihatnya. Dia sudah memberinya harapan nyata. Sekarang, giliran Zhao Ming.

Li Wei bergerak lagi, kali ini menuju sayap timur, tempat kamar tidur mewah Zhao Ming. Penjaga di sini lebih banyak, tapi Li Wei menggunakan taktik berbeda. Ia melempar kerikil kecil ke arah lain, menciptakan suara gaduh palsu. Saat para penjaga bereaksi dan meninggalkan pos mereka selama beberapa detik, Li Wei melesat masuk melalui jendela balkon yang terbuka sedikit.

Kamar itu penuh dengan kemewahan yang mencolok, tapi udaranya pengap oleh paranoia. Zhao Ming sedang tidur gelisah di atas ranjang besarnya, bermimpi buruk. Di meja, terdapat surat-surat laporan tentang hilangnya prajurit dan desas-desus hantu.

Li Wei tidak membuang waktu. Ia mengambil kuas calligraphy Zhao Ming, mencelupkannya ke tinta, dan menulis di cermin besar di hadapan ranjang: "Aku melihatmu tidur, Zhao Ming. Aku juga melihat Chen Xi. Giliranmu berikutnya."

Di samping tulisan itu, ia meletakkan sebuah bunga liar berwarna merah darah yang dipetiknya dari taman luar—bunga yang hanya tumbuh di daerah tempat peti mati Li Wei. Bunga itu segar, seolah baru dipetik malam itu juga.

Sebelum pergi, Li Wei membisikkan sesuatu tepat di telinga Zhao Ming yang sedang tidur, menggunakan teknik suara perut sehingga terdengar seperti bisikan roh: "Fajar akan segera terbit dan kau akan terbakar."

Zhao Ming terbangun dengan teriak tertahan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menoleh dan melihat tulisan di cermin serta bunga merah itu. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot ketakutan. "Tidak! Tidak mungkin! Dia hantu! Dia benar-benar hantu!" tukas Zhao Ming mundur hingga jatuh dari tempat tidur, merangkak ketakutan ke sudut kamar. "Penjaga! Penjaga! Bunuh hantunya! Bakar istana ini jika perlu!" lanjutnya dengan ketakutan.

Tapi tentu saja, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya angin malam yang berhembus masuk, membawa tawa samar yang seolah mengejek.

Li Wei sudah berada di atap istana saat kepanikan pecah di dalam. Sorak sorai penjaga, bunyi lonceng alarm, dan teriakan Zhao Ming terdengar jelas. Ia berdiri di puncak atap, menatap bulan yang mulai muncul dari balik awan.

Misi berhasil. Chen Xi tahu dia nyata. Zhao Ming sudah di ambang kegilaan.

"Aku akan kembali, Chen Xi! Sekarang aku tahu jalannya. Lain kali, aku tidak akan datang sendirian. Aku akan membawa pasukan, dan kita akan meruntuhkan tembok ini bersama-sama." janji Li Wei pada angin malam, menatap arah menara bawah tanah.

Li Wei melompat dari atap, menghilang ke dalam kegelapan kota, meninggalkan istana yang gempar dalam kekacauan total. Malam itu, legenda "Hantu Li Wei" bukan lagi sekadar rumor; itu adalah kenyataan yang menghantui setiap sudut istana Tian Yang. Dan bagi Chen Xi di sel bawah tanah, genggaman pada liontin giok itu menjadi sumber kekuatan baru. Fajar memang belum terbit, tapi ia tahu, matahari pasti akan segera muncul.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel