Pustaka
Bahasa Indonesia

Dinasti Mahkota Tian: Antara Pedang, Takhta dan Rakyat

20.0K · Ongoing
Moccha888
16
Bab
183
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Adikku membunuhku demi takhta, lalu aku terbangun tepat di hari kematiannya." Terlahir kembali dengan ingatan utuh tentang pengkhianatan berdarah yang merenggut nyawanya, Putra Mahkota Li Wei kini memegang satu senjata mematikan: masa depan. Ia tahu Pangeran Zhao Ming adalah serigala berbulu domba yang akan merebut tahtanya, Jenderal Chen Hao adalah pedang setia yang dulu ia sia-siakan, dan Lian Feng si pemberontak adalah kunci keselamatan rakyat yang terabaikan. Dia bukan lagi pangeran naif yang mudah dimanipulasi, Li Wei bangkit sebagai dalang permainan politik paling kejam. Kali ini, ia tidak akan menunggu kudeta; ia akan menjebaknya, menghancurkannya, dan mengubah tiga pria paling berbahaya di kerajaan—sang pengkhianat, sang pelindung, dan sang pemberontak—menjadi bidak dalam skenario balas dendamnya. Permainan catur dinasti telah dimulai ulang, dan Li Wei bertekad: kali ini, hanya ada satu naga yang berdiri di puncak takhta, dan itu adalah dirinya.

FantasiSweetZaman KunoBalas Dendam

Darah di Atas Takhta dan Fajar Kedua

Rasa sakit itu masih membekas di memori sel-selnya. Dinginnya bilah belati yang merobek dada, bau amis darah yang menyumbat tenggorokan, dan tatapan dingin pria yang ia panggil Saudara—Zhao Ming—yang tersenyum tipis saat nyawanya melayang.

"Maafkan aku, Kakanda Li Wei! Takhta hanya cukup untuk satu naga. Dan kau terlalu lunak untuk memakainya." bisik Zhao Ming dalam ingatannya, suaranya bergema seperti hantu di ruang takhta yang sepi.

Kegelapan menelan segalanya. Li Wei menunggu neraka. Namun, yang ia rasakan justru hangatnya lilin dan aroma dupa cendana yang familiar. Aroma yang ia kenal terlalu baik.

"Yang Mulia? Putra Mahkota?"

Suara parau itu menyentak kesadarannya. Li Wei membuka mata dengan terkejut, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja keluar dari dasar laut. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar meraih dada—tidak ada luka, tidak ada darah. Hanya sutra hitam pekat jubah kerajaan dengan sulaman naga emas lima cakar.

Ia mendongak. Aula Keharmonisan Agung. Ratusan lilin menyala redup. Para menteri dan dayang berlutut dengan kepala tertunduk. Dan di hadapannya, takhta naga itu kosong. Ayahnya, Kaisar, baru saja menghembuskan napas terakhir satu jam lalu.

Ini hari kematian Kaisar. Hari di mana hidupnya mulai hancur. Hari di mana ia, sebagai Putra Mahkota yang sah, dibunuh oleh ambisi saudaranya sendiri.

Li Wei menatap tangannya sendiri. Kulitnya halus, tanpa bekas luka penyiksaan atau rantai besi yang ia dapatkan di tahun-tahun terakhir kehidupannya sebagai tahanan di menara utara. Ia terlahir kembali. Kembali ke titik nol. Kembali ke saat sebelum ia membuat kesalahan fatal percaya pada air mata buaya Zhao Ming.

“Yang Mulia Putra Mahkota!” panggil Menteri Utama Zhang memecah lamunannya, persis seperti dalam ingatan masa lalunya. Wajah keriput itu menatapnya dengan ekspektasi lapar yang kini bisa Li Wei baca dengan jelas: keinginan untuk mengontrol boneka. “Dewan Tinggi telah berkumpul. Hukum Dinasti Tian jelas: Dengan wafatnya Kaisar, Putra Mahkota harus segera dinobatkan. Namun, situasi negara genting. Beberapa pihak menyarankan penundaan hingga ... stabilitas terjaga.” lanjutnya.

'Stabilitas. Kode untuk memberi waktu Zhao Ming mengumpulkan pasukan.' batin Li Wei

Dalam kehidupan sebelumnya, Li Wei yang muda dan naif mengangguk, berpikir bahwa menunda penobatan adalah bentuk kebijaksanaan untuk menghindari konflik. Itu adalah keputusan yang membunuhnya. Tapi kali ini, bibir Li Wei terkunci rapat, bukan karena ketakutan, melainkan karena amarah yang membara. Matanya yang dulu penuh keraguan, kini tajam bagai pedang yang baru diasah.

“Ayahanda baru saja meninggal, Menteri Zhang! Apakah pantas kita membahas stabilitas saat duka belum kering? Ataukah ada yang takut tahta ini jatuh ke tangan yang sah?” jawab Li Wei. Suaranya berat, berwibawa, terlalu tenang untuk seorang pangeran yang baru kehilangan ayah.

Suasana aula membeku. Beberapa menteri saling bertatapan dengan gugup.

“Duka tidak akan menghentikan invasi barbar, Yang Mulia!" sahut suara berat dari balik pilar. Jenderal Chen Hao melangkah maju, baju zirahnya bernoda debu perang. Dalam kehidupan lalu, Li Wei menganggap Chen Hao terlalu kasar dan berpotensi kudeta, sehingga ia mencabut komando pria itu. Kini, melihat mata elang itu, Li Wei menyadari sesuatu yang dulu ia abaikan: Tatapan Chen Hao bukan pemberontakan, melainkan kekhawatiran murni. Pria ini adalah satu-satunya yang benar-benar mencoba melindunginya hingga detik-detik terakhir, bahkan rela mati di gerbang istana demi memberi Li Wei waktu untuk lari—waktu yang sia-sia karena Li Wei sudah terlanjur percaya pada Zhao Ming.

“Pasukan perbatasan utara bergerak!” pinta Chen Hao singkat, matanya terkunci pada Li Wei. “Suku barbar menunggu kabar kematian Kaisar. Kita butuh pemimpin di takhta sekarang juga, bukan diskusi yang berlarut-larut.” lanjutnya

Lalu dari arah luar muncul dia. Pangeran Zhao Ming.

Pria itu melangkah dengan jubah ungu mewahnya, senyum tipis yang dulu membuat Li Wei terpesona kini terlihat seperti topeng iblis di mata Li Wei. “Kakanda!” sapa Zhao Ming dengan suara halusnya yang beracun. “Jenderal Chen benar soal perang. Tapi penobatan terburu-buru tanpa dukungan penuh dewan bisa memicu perang saudara. Bagaimana jika kita membentuk Dewan Regensi sementara? Aku dan Menteri Zhang bisa membantu Kakanda mengelola negara hingga situasi aman.”

Dewan Regensi. Jebakan yang sama. Di kehidupan lalu, Li Wei menerima tawaran itu, hanya untuk menemukan dirinya dilucuti kekuasaannya perlahan-lahan hingga akhirnya dibunuh.

“Perang saudara? Ataukah kau yang menginginkan perang saudara, Adikku? Kau yang menginginkan takhta ini di atas tumpukan mayat rakyat dan keluargamu sendiri?” potong Li Wei tiba-tiba, suaranya menusuk keheningan seperti petir. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, postur tubuhnya menjulang, memancarkan aura otoritas yang membuat Zhao Ming selangkah mundur secara tidak sadar.

Zhao Ming tersenyum kaku, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. “Apa maksud Kakanda? Saya hanya ingin membantu.”

Sebelum Li Wei bisa menghancurkan topeng itu lebih lanjut, gerbang aula terbuka lebar. Seorang pengawal berlari masuk, wajahnya pucat pasi, lututnya hampir lemas.

“Berita buruk dari Provinsi Selatan! Pemberontakan besar-besaran! Rakyat kelaparan menyerbu gudang beras pemerintah. Pemimpinnya... seorang pedagang bernama Lian Feng!”

Nama itu. Lian Feng.

Dalam kehidupan sebelumnya, Li Wei pernah mendengar nama ini sesaat sebelum kematiannya. Lian Feng adalah satu-satunya yang berhasil menembus barisan pengepungan istana saat Zhao Ming melakukan kudeta, mencoba menyelamatkan Li Wei, namun terlambat. Li Wei tidak pernah benar-benar mengenal pria itu, hanya tahu bahwa ia dicap sebagai "pemberontak gila" oleh kaum bangsawan.

Namun, mengingat bagaimana Zhao Ming panik saat mendengar nama itu di masa lalu, Li Wei sadar: Lian Feng adalah ancaman terbesar bagi ambisi Zhao Ming. Dan mungkin... harapan terbesar bagi Dinasti ini. Lian Feng bukan sekadar perusuh; dia adalah suara rakyat yang selama ini diabaikan oleh istana, termasuk oleh Li Wei sendiri di kehidupan lampau.

“Aku ingin bertemu dengannya!” ucap Li Wei tegas.

Chen Hao mengerutkan kening, tangannya refleks menyentuh gagang pedangnya. “Yang Mulia, dia pemberontak. Menghadapinya secara langsung adalah bunuh diri. Izinkan hamba yang membawa pasukannya.”

Zhao Ming langsung bereaksi, wajahnya berubah masam, topeng sopan santunnya retak. “Tidak mungkin! Dia musuh negara! Kakanda tidak bisa menegosiasikan dengan kriminal. Biarkan aku yang menangani masalah ini dengan caraku sendiri. aku jamin dia akan lenyap dalam tiga hari.”

Tiga hari, pikir Li Wei sinis. Tiga hari untuk kau membungkam kebenaran dan memperkuat posisimu.

Li Wei melangkah turun dari anak tangga takhta, mendekati mereka. Gaun hitamnya berkibar pelan, seolah naga di atas kain itu siap terbang. Ia menatap ketiga pria itu satu per satu dengan pandangan baru yang dingin dan kalkulatif.

Jenderal Chen Hao, pedang setia yang akan ia percayai sepenuhnya kali ini.

Pangeran Zhao Ming, ular berbisa yang akan ia hancurkan sebelum sempat menggigit.

Dan Lian Feng, api liar yang mungkin bisa ia arahkan untuk membakar habis korupsi di kerajaannya.

“Aku tahu risikonya! Jika dia bisa menggerakkan ribuan rakyat dengan janji pangan, maka dia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki pedangmu, Jenderal, maupun tipu muslihatmu, Pangeran Zhao. Rakyat adalah fondasi takhta. Jika fondasinya runtuh, kita semua akan terkubur.” kata Li Wei dengan suara bergetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin kekuasaan yang baru ia sadari sepenuhnya.

Li Wei berhenti tepat di depan Zhao Ming, menatap lurus ke mata saudaranya itu hingga pria itu merasa telanjang di bawah sorotan tersebut.

“Ayahanda meninggal karena gagal memahami rakyatnya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Siapkan kuda terbaikku. Aku akan pergi ke Selatan menemui Lian Feng. Sendirian, jika perlu. Atau lebih baik lagi, ikutlah bersamaku, Zhao Ming. Lihat bagaimana seorang Putra Mahkota sejati menangani masalahnya, bukan dengan racun, tapi dengan keberanian.”

Malam itu, angin musim dingin masih menusuk tulang, namun hati Li Wei terbakar oleh api pembalasan dan tekad baja. Ia telah diberikan kesempatan kedua oleh langit. Kali ini, ia tidak akan menjadi Putra Mahkota boneka yang dikorbankan. Ia akan menjadi Naga sejati yang menguasai langit dan bumi.

Di sudut ruangan gelap, mata-mata Zhao Ming yang sama tersenyum tipis, tidak menyadari bahwa target mereka bukan lagi pangeran muda yang mudah dimanipulasi, melainkan predator alpha yang baru saja terbangun dari mimpi buruk kematian.

Permainan catur baru saja dimulai ulang. Dan kali ini, Li Wei memegang buah catur pertama, dan ia tidak akan memberikan ampun.