Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Badai Fitnah dan Penyelamatan dari Kegelapan

Udara di Kota Jiang Nan terasa lebih berat dari timah. Dua hari setelah kemenangan kecil melawan unit Serigala Ungu, suasana di markas pemberontak berubah menjadi neraka psikologis. Zhao Ming tidak mengirim pasukan besar-besaran; ia mengirimkan racun yang lebih mematikan: Fitnah.

Desas-desus menyebar seperti api kering di antara rakyat yang kelaparan. "Lian Feng adalah boneka bangsawan! Pengelana bertopeng itu adalah algojo istana yang dikirim untuk membunuh kita dari dalam!" teriak provokator bayaran di sudut-sudut jalan. Wajah-wajah yang kemarin penuh harap, kini menyipit curiga. Cangkul yang tadi siang diarahkan ke pasukan kerajaan, sekarang bergetar mengarah ke dada Lian Feng dan Li Wei.

Di dalam gudang beras yang pengap, ratusan massa mengepung mereka. Seorang wanita tua, yang dulunya paling vokal mendukung Lian Feng, kini menangis histeris sambil menunjuk. "Kau menjual kami! Kau dan si Topeng Iblis itu!"

"Bapak, Ibu, dengarkan aku! Ini akal-akalan Zhao Ming! Kita baru saja mengalahkan pasukan elitnya!" seru Lian Feng, suaranya serak mencoba menembus kebisingan.

"Itu sandiwara!" balas seorang pria bertubuh besar, wakil Lian Feng yang tiba-tiba berperilaku aneh. Matanya merah darah, urat lehernya menonjol hitam pekat. Racun Darah Iblis. Li Wei segera menyadari ini. Zhao Ming telah menyusupkan agen yang diracuni untuk memicu kekacauan internal.

Pria itu menerjang Lian Feng dengan kecepatan tidak wajar. Bersamaan dengan itu, dari atap gudang, hujan panah melesat turun. Pasukan bayaran Zhao Ming mulai menyerang dari segala arah. Ini adalah jebakan sempurna: membunuh dua burung dengan satu batu—menghancurkan pemberontak dari dalam dan luar sekaligus.

"Lian, awas!" teriak Li Wei sambil mendorong Lian Feng hingga terjatuh untuk menghindari tebasan pedang sang wakil yang sudah gila.

Li Wei menghunus pedang pendeknya. Gerakannya cepat, presisi, dan mematikan. Ia menangkis tiga serangan sekaligus, melindungi punggung Lian Feng. Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Pasukan Kematian berbaju zirah hitam mulai mendobrak pintu utama, dipimpin oleh seorang Kapten dengan aura membunuh yang dingin.

"Serahkan kepala pengkhianat dan si topeng! Atau bakar semuanya bersama isi gudang." geram Kapten itu.

Li Wei terpojok. Napasnya memburu. Luka di perutnya mengucurkan darah. Jika ia membuka topeng sekarang dan mengaku sebagai Putra Mahkota, mungkin sebagian rakyat akan ragu. Tapi risikonya terlalu besar: Zhao Ming bisa langsung menyatakan perang suci terhadap Pangeran Pengkhianat, dan rakyat yang sedang dimanipulasi fitnah mungkin justru akan melempari mereka dengan batu. Identitasnya belum saatnya terungkap. Ia butuh waktu. Ia butuh keajaiban.

Tepat pada saat pedang Kapten itu hampir menyentuh leher Lian Feng...

BUM!

Dinding sisi gudang meledak ke dalam. Debu dan kayu beterbangan. Dari balik asap tebal, muncul siluet-siluet prajurit berbaju zirah perak dengan lambang naga tersembunyi di bahu kiri—pasukan khusus Jenderal Chen Hao. Mereka bergerak seperti air bah, membanjiri ruangan dengan disiplin besi.

"Formasi Perisai! Lindungi warga sipil!" teriak suara lantang yang familiar bagi Li Wei, namun asing bagi orang lain.

Chen Hao melompat masuk, pedang besarnya menebas dua prajurit musuh dalam satu ayunan. Kehadirannya mengubah arus pertempuran seketika. Pasukan Zhao Ming yang tadinya dominan, kini terdesak balik oleh keganasan terorganisir dari pasukan elit yang baru datang ini.

"Siapa... siapa mereka?" tanya Lian Feng tertegun, masih terduduk di lantai.

Li Wei, yang masih berdiri melindungi Lian Feng, menjawab dengan suara rendah, "Sekutu. Teman lama yang kutunggu."

Pertempuran berlangsung singkat namun dahsyat. Dengan kombinasi strategi Li Wei di dalam dan serangan kejutan Chen Hao dari luar, pasukan Zhao Ming hancur berantakan. Kapten musuh, melihat situasi tidak menguntungkan, memberi isyarat mundur. Mereka lari meninggalkan mayat-mayat rekan mereka.

Saat debu mereda, Chen Hao berjalan mendekati Li Wei dan Lian Feng. Tatapannya tajam, namun ia segera berlutut satu kaki di depan Lian Feng, bukan di depan Li Wei. Sebuah gerakan cerdik untuk menyembunyikan hierarki sebenarnya.

"Tuan Lian Feng! Aku Jenderal Chen Hao, mantan komandan Divisi Utara. Aku mendengar fitnah keji terhadap pergerakan Anda dan datang untuk meluruskan keadaan. Rakyat Jiang Nan tidak sendiri." ucap Chen Hao dengan suara berat yang diproyeksikan agar terdengar oleh semua orang.

Rakyat terdiam. Nama "Chen Hao" legendaris; seorang jenderal jujur yang dulu diasingkan karena menolak untuk korup. Kehadirannya mematahkan fitnah bahwa Lian Feng adalah penjahat biasa. Jika seorang Jenderal terhormat membela mereka, maka pastilah mereka di pihak yang benar.

Chen Hao kemudian menoleh ke arah Li Wei yang masih bertopeng. Matanya berkedip halus, sebuah kode rahasia antara tuan dan pelayan. "Dan Anda, Tuan Bertopeng. Strategi Anda menahan posisi sampai bantuan datang sangat brilian. Tuan Lian Feng beruntung memiliki penasihat sehebat Anda."

Li Wei membungkuk sedikit, menyembunyikan senyum dan rasa sakitnya. "Kita semua beruntung, Jenderal. Rakyatlah yang menyelamatkan diri mereka sendiri dengan keberanian mereka."

Chen Hao memerintahkan pasukannya untuk membagikan perbekalan makanan dan obat-obatan yang mereka bawa. Suasana berubah drastis dari kecurigaan menjadi kelegaan dan euforia. Rakyat mulai bersorak nama Lian Feng dan Chen Hao. Namun, mata mereka sesekali melirik sosok bertopeng abu-abu itu dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Siapa dia hingga dihormati oleh Jenderal Chen Hao?

Malam harinya, di tenda komando darurat, Li Wei, Lian Feng, dan Chen Hao duduk. Chen Hao melaporkan situasinya. "Aku terpaksa menerobos blokade. Zhao Ming menutup gerbang kota dengan alasan karantina wabah. Tapi aku tahu Anda dalam bahaya."

"Kamu datang tepat waktu, Chen Hao! Tapi jangan pernah berlutut padaku di depan umum lagi. Untuk saat ini, aku tetap 'Li'. Biarkan mereka percaya bahwa kita adalah aliansi setara antara pemberontak, pengelana misterius, dan jenderal pembangkang. Itu lebih menakutkan bagi Zhao Ming daripada sekadar mengetahui aku ada di sini." ujar Li Wei, akhirnya melepas topengnya hanya di dalam tenda tertutup. Wajahnya lelah namun puas.

Lian Feng menatap Li Wei, matanya penuh pertanyaan yang belum terjawab. "Jadi, Anda dan Jenderal Chen... seberapa dekat hubungan kalian? Anda berbicara seolah kalian satu jiwa."

Li Wei tersenyum tipis, menuangkan teh untuk Lian Feng. "Kami pernah berbagi mimpi yang sama tentang Tian yang adil, Lian. Itu saja. Jangan tanya masa lalu. Fokuslah pada besok. Zhao Ming pasti murka. Dia akan menganggap kedatangan Chen Hao sebagai deklarasi perang terbuka. Besok, seluruh angkatan daratnya akan mengepung kota ini."

"Maka kita akan siap. Dengan Jenderal Chen dan strategi 'Li', kita bisa menghadapi apa pun." sahut Lian Feng dengan semangatnya yang menyala kembali.

Chen Hao mengangguk hormat pada Li Wei, menyembunyikan fakta bahwa ia sebenarnya menerima perintah langsung dari pria bertopeng di depannya. "Pasukanku akan menjaga perimeter. Tapi strategi inti harus datang dari Anda berdua."

Di kejauhan, di istana mewah, Zhao Ming meremukkan gelas anggur di tangannya hingga pecah. Darah menetes bercampur dengan anggur putih. Laporan tentang kedatangan Chen Hao dan kegagalan pembunuhan membuatnya gemetar karena marah.

"Chen Hao! Dan seorang pengelana bertopeng misterius? Siapa pria bertopeng itu? Mengapa Chen Hao sepertinya mendengarkan nasihatnya? Apakah ada bangsawan lain yang terlibat? Atau jangan-jangan ..." geram Zhao Ming.

Sebuah pikiran gila melintas di benak Zhao Ming, namun ia segera membuangnya. Tidak mungkin Li Wei ada di sana. Dia pasti sudah mati atau bersembunyi ketakutan di suatu lubang tikus.

"Tidak masalah siapa dia! Besok, aku akan menghancurkan kota itu beserta isinya. Tidak ada saksi yang boleh hidup. Bakar semuanya. Jika ada pengelana misterius, aku akan mengulitinya perlahan untuk mengetahui siapa dia." lanjut Zhao Ming dingin.

Badai sesungguhnya akan segera tiba. Li Wei, sang Putra Mahkota yang tak terlihat, kini berdiri di garis depan bersama sekutu-sekutu barunya. Identitasnya masih menjadi rahasia terbesar yang terlindungi, senjata pamungkas yang akan ia gunakan di saat yang paling kritis. Untuk saat ini, ia adalah "Li", bayangan yang memimpin cahaya menuju fajar baru.

Permainan catur semakin rumit. Sang Raja bersembunyi di balik bidak Kuda dan Benteng, menggerakkan mereka dengan presisi, menunggu momen tepat untuk muncul dan memberikan skakmat yang tak terduga.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel