Bayangan di Balik Tirai Sutra
Tiga malam telah berlalu sejak Li Wei berhasil menyusup ke dalam sel Chen Xi dan meninggalkan liontin giok sebagai bukti kehidupannya. Kabar tentang "Hantu Li Wei" kini bukan lagi sekadar desas-desus; ia telah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap sudut Istana Tian Yang. Zhao Ming, yang semakin paranoid, memerintahkan penjagaan ganda di setiap gerbang dan menyita semua surat keluar masuk. Namun, bagi Li Wei di markas persembunyiannya, kemenangan kecil itu belum cukup. Aksi sebagai hantu mungkin bisa menakuti, tapi tidak bisa membebaskan.
Di ruang peta yang remang, Li Wei menatap titik merah yang menandai Menara Bawah Tanah. "Kita tidak punya waktu untuk permainan kucing-kucingan lagi. Zhao Ming akan segera memindahkan Chen Xi ke lokasi eksekusi rahasia begitu dia merasa terancam. Kita butuh akses resmi, atau setidaknya, kunci yang bisa membuka gerbang besi tanpa memicu alarm seluruh istana." ucapnya dingin, memecah keheningan.
Chen Hao, sang penasihat setia, menghela napas sambil menunjuk sebuah paviliun terisolasi di peta, jauh di sudut timur laut yang jarang dijaga. "Ada satu orang yang mungkin masih memegang kunci itu, Tuan. Ibu Suri Liu."
Li Wei menoleh tajam. "Selir kesayangan Ayah? Wanita yang dianggap lumpuh dan tidak berbahaya oleh Zhao Ming?"
"Tepat sekali. Dia adalah satu-satunya orang yang dipercaya Mendiang Kaisar hingga detik terakhir. Rumor mengatakan, sebelum wafat, Kaisar menyelipkan sesuatu padanya. Sesuatu yang bahkan Zhao Ming tidak pernah menemukan lokasinya meski telah menggeledah istana berkali-kali. Jika ada yang memiliki Segel Naga—segel otoritas tertinggi yang bisa memerintahkan pembukaan gerbang rahasia—itu pasti dia." jawab Chen Hao.
Risiko pertemuan ini sangat besar. Jika ketahuan, nyawa Ibu Suri Liu akan melayang seketika. Namun, Li Wei tahu ini satu-satunya jalan. "Siapkan penyamaran kasim tua untukku. Malam ini, aku akan mengunjungi Paviliun Angin Musim Semi."
Hujan gerimis mulai turun saat Li Wei, dengan postur dibungkukkan dan wajah tertutup topeng kain kasar, mendekati pagar paviliun. Ia menyamar sebagai pengantar kayu bakar, memanfaatkan cuaca buruk yang membuat penjaga malas bergerak. Setelah lolos dari pemeriksaan sekilas di gerbang depan, Li Wei membuang tumpukan kayunya dan melebur ke dalam kegelapan taman, menggunakan teknik Bu Ying untuk menghindari patroli internal.
Paviliun Angin Musim Seni terasa seperti waktu yang terhenti. Aroma dupa khas yang dulu sering dibakar ayahnya masih tercium samar, membangkitkan kenangan masa kecil Li Wei yang bahagia. Dengan hati berdebar, ia sampai di depan kamar utama Ibu Suri Liu. Cahaya lilin remang tembus dari celah jendela kertas.
Li Wei mengetuk pintu dengan pola rahasia keluarga kekaisaran: dua kali cepat, satu kali lambat.
"Siapa di sana?" terdengar suara lemah dan serak dari dalam. "Apakah itu kau, Suamiku? Apakah rohmu akhirnya kembali?"
Li Wei mendorong pintu, masuk, dan menutupnya rapat. Ia melepas topengnya, menampilkan wajah aslinya yang kini lebih keras namun penuh emosi. "Bukan Ayah, Bu. Tapi putranya, Li Wei."
Ibu Suri Liu, wanita paruh baya dengan rambut beruban dan wajah pucat pasi, tersentak bangun dari dipannya. Matanya membelalak, tangan gemetar menutup mulutnya menahan jeritan. "Wei... Wei'er? Kau hidup? Mereka bilang kau sudah mati... jasadmu dihanyutkan sungai!"
Air mata langsung tumpah deras. Liu turun dari dipan dengan susah payah, hampir terjatuh jika saja Li Wei tidak sigap menangkapnya. Mereka berpelukan erat, tangis pecah di ruangan sempit itu. Tubuh ringkih Liu gemetar hebat di pelukan Li Wei yang kekar, melepaskan tahun-tahun kesepian dan ketakutan yang ia pendam.
"Aku hidup, Bu. Aku hidup untuk menyelamatkan Chen Xi dan merebut kembali takhta Ayah," bisik Li Wei di telinga ibu tirinya itu.
Mendengar nama Chen Xi, Liu menangis semakin menjadi. "Anak malang itu ... Aku mendengar jeritannya dari kejauhan. Zhao Ming ... dia iblis! Dia yang meracuni Ayahmu, Wei. Aku yakin itu! Tapi aku terlalu lemah, terlalu takut untuk berbuat apa-apa..."
"Sudah lewat, Bu. Sekarang aku di sini," kata Li Wei menenangkan. "Ayah meninggalkan sesuatu untukku, bukan? Kata Chen Hao, ada Segel Naga." lanjutnya.
Wajah Liu berubah serius. Ia melepaskan pelukan dan berjalan tertatih menuju altar leluhur di sudut kamar. Dengan gerakan hati-hati, ia menggeser patung Buddha kayu kecil, menyingkap lubang tersembunyi di dinding batu. Dari sana, ia mengeluarkan bungkusan kain sutra berwarna kuning emas—warna eksklusif kekaisaran.
Dengan tangan gemetar, Liu membuka bungkusan itu. Di dalamnya, berkilau di bawah cahaya lilin, terbaring sebuah Segel Giok berbentuk Naga. Ukirannya begitu hidup; seekor naga bercakar lima melingkar melindungi mutiara api, sisik-sisiknya seolah bergerak saat cahaya menimpanya. Ini adalah Mandala Langit, segel pribadi Kaisar yang memberikan otoritas absolut atas seluruh pasukan dan gerbang rahasia istana.
"Ini! Ayahmu menyembunyikannya sehari sebelum dia 'sakit'. Dia berkata, 'Simpan ini untuk Wei'er saat badai datang. Hanya pemegang Segel Naga yang bisa membangunkan loyalitas sejati dan membuka gerbang barat daya.'" bisik Liu, menyerahkan segel itu pada Li Wei.
Li Wei menerima segel itu dengan hormat. Saat jari-jarinya menyentuh giok dingin tersebut, ia merasakan aliran energi hangat, seolah semangat ayahnya ikut menyatu dengannya. "Terima kasih, Bu. Dengan ini, aku bukan lagi pemberontak. Aku adalah penguasa sah yang kembali."
Liu kemudian menyerahkan gulungan peta kuno. "Ini peta saluran udara rahasia yang menghubungkan dapur umum langsung ke lorong sel bawah tanah. Dengarkan baik-baik, Wei'er. Zhao Ming berencana memindahkan Chen Xi tiga hari lagi, saat bulan baru, ke 'Lembah Sunyi' untuk dieksekusi diam-diam. Jika itu terjadi, kau tidak akan pernah bisa menyelamatkannya lagi."
"Tiga hari? Maka aku harus cepat bergerak." gumam Li Wei, matanya menyala dengan tekad baja.
Sebelum Li Wei pergi, Liu meraih lengannya erat. "Janji satu hal. Jangan biarkan hatimu hancur oleh kebencian. Selamatlah kalian, lalu bangunlah dinasti ini dengan cahaya, bukan hanya darah."
"Aku janji, Bu," ucap Li Wei tulus.
Li Wei mengenakan kembali topeng kasimnya dan meluncur keluar melalui jendela belakang, menghilang ke dalam hujan. Namun, saat ia melewati taman belakang untuk menuju tembok istana, insting pembunuhnya tiba-tiba berteriak. Di balik pilar batu besar dekat gerbang samping, ada kilatan cahaya sangat samar—pantulan logam dari seseorang yang mengintai.
Li Wei membeku sejenak, lalu pura-pura terbatuk-batuk seperti kasim sakit sambil menyeret kakinya keluar gerbang. Penjaga mengusirnya kasar, tak menyadari bahaya yang mengintai. Begitu berada cukup jauh di dalam hutan kota, Li Wei melepas topengnya dan menoleh ke belakang. Siluet seseorang terlihat berlari cepat menuju sayap timur istana—langsung ke arah kamar Zhao Ming.
"Mata-mata! Mereka tahu aku ke sini." desis Li Wei dingin.
Rencana mereka telah bocor. Waktu tiga hari yang diberikan Liu mungkin sudah berkurang menjadi beberapa jam saja. Li Wei mengepalkan tangan, menggenggam Segel Naga erat-erat di dadanya.
"Kalau begitu, tidak ada waktu untuk menunggu. Kita akan menyerbu Gerbang Barat Daya malam ini juga. Badai akan segera pecah." tekadnya bulat.
Di belakangnya, Paviliun Angin Musim Semi kembali sunyi, namun Ibu Suri Liu tahu, roda takdir telah mulai berputar kencang. Sang Naga telah bangkit dari tidur panjangnya, dan fajar berdarah akan segera menyingsing di atas Tian Yang.
