Sang Pengelana dan Api Pemberontakan
Hujan gerimis membasahi jalanan lumpur di perbatasan Provinsi Selatan. Di tengah kegelapan malam, seorang pria muda berpakaian compang-camping—jubah abu-abu lusuh yang sobek di beberapa bagian—berjalan tertatih-tatih menuju gerbang belakang Kota Jiang Nan. Wajahnya tertutup topeng kayu sederhana dan tudung kepala, menyembunyikan fitur aristokratnya yang terlalu halus untuk seorang gelandangan biasa. Ini adalah Li Wei.
Ia meninggalkan istana semalam, menyusup keluar melalui saluran pembuangan rahasia yang hanya diketahui oleh almarhum ayahnya dan dirinya sendiri. Chen Hao, sang Jenderal setia, diperintahkan untuk menunggu di hutan lima kilometer dari kota dengan dua puluh prajurit terbaiknya—pasukan "bayangan" yang sumpah setianya telah diuji darah. Li Wei tidak berani membawa mereka masuk; satu kesalahan kecil, dan Zhao Ming akan tahu bahwa Putra Mahkota hilang. Tujuannya hanya satu: Markas besar pemberontakan yang dipimpin Lian Feng.
Mendekati gudang beras tua yang kini dijadikan benteng darurat, Li Wei dihadang oleh tiga penjaga bersenjata cangkul dan pedang berkarat. Mata mereka waspada, penuh kebencian terhadap siapa saja yang berbau "istana".
"Berhenti! Siapa kau? Mata-mata Zhao Ming?" bentak salah satu penjaga, ujung cangkulnya mengarah ke leher Li Wei.
Li Wei mengangkat tangan perlahan, menunjukkan telapak tangan kosong. "Bukan mata-mata. Aku membawa berita yang akan menyelamatkan nyawa ribuan orang di dalam sana. Bawa aku kepada Lian Feng. Sekarang!"
Suara Li Wei tenang, terlalu berwibawa untuk seorang pengemis. Para penjaga saling bertatapan ragu, namun salah satu dari mereka mendorong Li Wei kasar. "Jika kau bohong, kami akan mengulitimu hidup-hidup."
Mereka menyeret Li Wei masuk ke dalam gudang yang pengap. Ribuan rakyat kelaparan duduk bersandar pada karung-karung beras yang baru saja dirampok. Di atas tumpukan peti kayu, berdiri seorang pria gagah dengan luka bakar di pipinya—Lian Feng. Matanya tajam, memancarkan kecerdasan strategis yang jarang dimiliki pemimpin gerombolan biasa.
"Siapa ini? Tahanan baru?" tanya Lian Feng dengan suara berat dan mengintimidasi.
"Dia mengaku punya berita penting, Tuan!" lapor penjaga.
Li Wei menatap lurus ke mata Lian Feng, mengabaikan ancaman di sekelilingnya. "Zhao Ming akan menyerang fajar nanti. Bukan dengan pasukan utama, tapi dengan unit pembunuh elit 'Serigala Ungu' yang ia sembunyikan di kuil sebelah utara. Mereka akan membakar gudang ini bersama isinya, lalu menyalahkan kalian atas kebakaran itu. Rakyat akan mati terbakar, dan Zhao Ming akan tampil sebagai pahlawan yang 'terlambat datang'."
Suasana hening seketika. Lian Feng melompat turun dari petinya, mendekati Li Wei hingga jarak mereka hanya sejengkal. "Dari mana kau tahu tentang Serigala Ungu? Itu informasi rahasia tingkat tinggi. Bahkan mata-mata kami di istana tidak mengetahuinya."
"Karena aku pernah melihat mereka dilatih. Dan karena aku tahu pola pikir Zhao Ming. Dia tidak akan mengambil risiko pertarungan terbuka saat opininya belum aman. Dia butuh martir." jawab Li Wei setengah benar. Dalam kehidupan lampau, Zhao Ming memang menggunakan unit itu untuk membersihkan sisa-sisa pendukung Li Wei.
Lian Feng menyipitkan mata, tangannya bergerak perlahan ke arah belati di pinggangnya. "Kau bicara seperti bangsawan. Siapa kau sebenarnya? Jika kau berbohong, aku akan menusuk jantungmu sebelum ayam berkokok."
Ini adalah momen penentuan. Jika Li Wei mengungkapkan identitasnya sekarang, Lian Feng mungkin akan membunuhnya karena dendam masa lalu terhadap keluarga kerajaan, atau justru menculiknya untuk sandera. Li Wei harus bermain tipis.
"Aku hanyalah seseorang yang kehilangan segalanya karena ambisi Zhao Ming. Keluargaku dibunuh olehnya. Namaku tidak penting. Yang penting adalah apakah kau ingin rakyatmu hidup, atau menjadi abu besok pagi?" jawab Li Wei, suaranya bergetar sedikit, memainkan peran korban yang sempurna.
Lian Feng menatapnya lama, mencari kebohongan di mata tertutup topeng itu. Akhirnya, ia memberi isyarat pada penjaganya. "Ikuti aku. Kita akan cek kuil utara. Jika kau bohong..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi ancamannya jelas.
Sepanjang perjalanan diam-diam menuju kuil utara di bawah hujan, Li Wei mengamati Lian Feng. Pria ini berbeda dari para pemberontak biasa. Ia mengatur patroli dengan disiplin militer, membagikan jatah makanan secara adil, dan mendengarkan keluhan setiap orang. Inilah pemimpin yang diabaikan Li Wei di kehidupan lalu. Rasa bersalah menyelinap di dada Li Wei, namun ia menekannya. Fokus sekarang adalah bertahan hidup dan memenangkan kepercayaan ini.
Sesampainya di dekat kuil, Li Wei memberi isyarat berhenti. Dari balik semak, mereka melihat siluet berbaju zirah ungu gelap bergerak lincah, membawa jerigen minyak. Persis seperti prediksi Li Wei.
Wajah Lian Feng berubah pucat, lalu merah padam karena amarah. "Dia benar! Mereka benar-benar akan membakar kita." bisiknya.
Li Wei meletakkan tangan di bahu Lian Feng. "Kita punya kesempatan. Pasukanmu bisa menyergap mereka dari belakang saat mereka sibuk memasang minyak. Tapi kau butuh seseorang yang tahu formasi serangan mereka. Biarkan aku yang memimpin penyergapan itu."
Lian Feng menoleh, tatapannya kini berubah. Kebencian mulai berganti menjadi rasa hormat yang hati-hati. "Kau berani mati demi orang-orang yang bahkan tidak kau kenal?"
"Aku tahu rasanya kehilangan harapan. Aku tidak akan membiarkan orang lain merasakannya juga." jawab Li Wei lirih.
Pertempuran itu singkat namun brutal. Dengan panduan Li Wei yang mengetahui titik lemah formasi Serigala Ungu, pasukan pemberontak Lian Feng berhasil menyergap musuh dalam kebingungan. Unit elit Zhao Ming yang selama ini tak terkalahkan, dipermalukan oleh sekumpulan petani dan pedagang yang dipimpin oleh seorang pengelana misterius.
Fajar menyingsing ketika asap hitam membumbung dari kuil yang justru dibakar balik oleh para pemberontak. Lian Feng berdiri di samping Li Wei, keduanya berlumuran lumpur dan darah musuh.
"Kau menyelamatkan kami! Siapapun kau, kau berutang nyawa pada rakyat Jiang Nan sekarang. Dan kami berutang nyawa padamu." kata Lian Feng, suaranya serak.
Li Wei menarik napas lega. Langkah pertama berhasil. Ia tidak lagi dianggap sebagai musuh atau mata-mata, melainkan sekutu. Namun, ia tahu ini baru permulaan. Zhao Ming pasti akan murka ketika mendengar kabar kegagalan unit elitnya. Dan ketika Zhao Ming marah, ia akan menjadi semakin ceroboh.
"Aku tidak butuh utang nyawa! Aku hanya butuh tempat berteduh sementara, dan telinga yang mau mendengar. Dinasti ini sakit, Lian Feng. Dan obatnya bukan hanya beras, tapi keadilan. Aku bisa membantumu meraciknya." jawab Li Wei, membalikkan badan untuk menyembunyikan senyum tipisnya.
Di kejauhan, dari balik bukit, Chen Hao mengamati melalui teropong. Ia melihat Li Wei berdiri setara dengan pemimpin pemberontak. Sang Jenderal menghela napas, tangan menggenggam gagang pedangnya erat. "Yang Mulia, apa yang sedang Anda lakukan? Anda bermain api tanpa pelindung." Namun, Chen Hao tahu tugasnya: tetap sembunyi, siap menerjang jika situasi memburuk, dan membiarkan Rajanya menenun jaringnya sendiri.
Kembali di istana, Zhao Ming menerima laporan kekalahan dengan wajah yang dingin mematikan. Gelas anggur di tangannya remuk, pecahan kaca melukai telapak tangannya hingga berdarah.
"Seorang pengelana bertopeng? Siapapun dia, cari dia. Potong kepalanya dan bawa padaku. Aku ingin melihat matanya saat nyawanya putus. Tidak ada yang boleh menghalangi jalanku menuju takhta. Tidak ada!" geram Zhao Ming.
Zhao Ming tidak menyadari bahwa pengelana itu adalah kakaknya sendiri, dan bahwa dengan setiap langkah kejam yang ia ambil, ia justru menggali kuburnya sendiri. Li Wei telah masuk ke dalam sistem kekebalan tubuh pemberontakan, dan virus yang ia bawa bernama: Kebenaran.
Permainan catur semakin panas. Sang Raja telah menjadi Kuda yang bergerak tak terduga, siap melompati pagar pertahanan musuh dari arah yang paling tidak disangka.
