Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Menunggu Ganti Status

”Sarapan dulu Nak, mommy udah buatkan bubur pesananmu,” seru Hasna begitu melihat Fatir menuruni anak tangga.

”Dikit aja ya Mom, Fatir buru-buru nih!”

”Loh, masih pagi ini baru jam tujuh biasanya kamu jam setengah delapan baru bersiap,” ucap Hasna geleng-geleng kepala dengan sikap Fatir yang tidak biasa.

Fatir tersenyum kecil melihat reaksi Hasna.

”Biasa saja kali, mommy masak gak tahu kalau Bang Fatir lagi jatuh cinta,” celetuk Aisha.

’’Benar yang dikatakan Aisha, Bang?” Hasna melirik ke arah Fatir dan Aisha bergantian keduanya tengah ribut dengan bahasa isyarat.

”Hei, kalian ya main rahasia-rahasiaan sekarang ya,” tegur Hasna.

”Tidak Mom, itu kan hanya pemikiran mommy saja,” bantah Fatir tidak bisa dipungkiri sejak semalam dirinya tidak bisa memejamkan mata hanya mengingat Ghaida.

Fatir buru-buru menggamit lengan Hasna dan segera berpamitan.

”Eh, ini Aisha gak ditunggu dia mau numpang bareng kamu katanya,” seru Hasna.

”Nebeng saja sama daddy, Fatir benar-benar sibuk Mom, Assalamualaikum.”

”Kan ... Aisha bilang juga apa, kalau mommy gak percaya datang saja ke kantornya bang Fatir itu sekretarisnya bercadar loh Mom, kalau diperhatikan sih mbaknya cantik gitu namanya Ghaida,” cerocos Aisha.

”Aisha, memangnya daddy ajarin kamu buat kepo dengan urusan orang lain,” seru Farhan.

”Aisha hanya pengin daddy sama mommy tahu itu aja kok, masa dibilang kepo, maaf kalau gitu.”

”Udah jangan dibahas lagi orangnya gak ada juga kok malah jadi omongin orang di belakangnya gak baik.”

”Jadi ikut daddy kan? Kita berangkat sekarang!” Farhan segera merapikan kemeja kerjanya menyambar jas dan tasnya.

*

”Ghaida tunggu!” teriak Galuh begitu melihat Ghaida keluar dari pintu gerbang tangannya menarik lengan Ghaida membuat Ghaida memekik kecil menahan cengkraman tangan Galuh.

”Apalagi yang harus aku dengar? Lepas!”

”Kenapa kamu masih nekat pergi bekerja, dimana kamu kerja biar aku bicara pada bosmu! Bukankah semalam aku sudah melarang kamu untuk bekerja. Aku masih bisa memberi nafkah padamu.”

”Oh iya? Jika memang iya kenapa selalu kurang dan kurang setiap bulannya apakah uang itu kamu berikan padanya? Aku selalu mengerti dengan keadaanmu tapi ini yang kamu berikan padaku, kejam!”

Galuh mengusap wajahnya kasar, jika saja Esti tidak hamil tidak mungkin dia nekat berbuat seperti ini pada Ghaida karena dirinya masih mencintai istrinya apapun keadaannya.

”Ayo kita bercerai!”

”Dengarkan baik-baik Ghaida, aku takkan pernah menceraikan dirimu karena aku mencintaimu.”

Ghaida melengos haruskah dia percaya kenyataannya suaminya telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan olehnya. ”Aku kerja dan tolong jangan halangi langkahku!”

Ghaida melangkah pergi setelah taxi yang dihentikannya berhenti tepat di sampingnya. Kecewa itulah yang sedang dirasakannya haruskah dia menyerah padahal dia sudah berusaha keras untuk menahan semua lara akibat hinaan yang diberikan oleh mertuanya sekarang suaminya Galuh menambah lara hatinya.

Begitu sampai di kantor, wanita itu langsung masuk ke ruangannya dan menundukkan kepalanya di meja. Tangisnya pecah!

**

Fatir melihat kejadian pagi ini di depan rumah Ghaida bagaimana pertengkaran suami istri itu terjadi dan dia pun menyimpulkan jika suaminya Ghaida memang bermasalah.

”Ehm, ada yang sedang melamun sepagi ini,” cibir Ehsan.

”Ish, apaan sih!”

”Masih pagi bro, jangan melamun terus waktunya kerja buat masa depan.”

”Eh, bagaimana keadaan Ghaida?”

”Maksudmu?”

”Dia terlihat baik-baik saja kan?”

”Ya sepertinya begitu, memangnya ada apa dengannya? Eh iya aku lupa jika kamu itu menyimpan rasa padanya, ingat bro dia itu sudah bersuami,” jelas Ehsan mengingatkan sahabatnya itu.

”Tidak masalah aku mau menunggu jandanya kok,” balas Fatir enteng.

”Astaghfirullah, masih banyak yang single loh dan cantik-cantik kenapa kamu malah memilih istri orang.”

”Dia itu gak bahagia dan aku sangat yakin jika sebentar lagi mereka akan bercerai.”

”Ya ampun semakin konslet aja kepalamu dan bicaramu ngelantur kemana-mana, kamu gak kasihan apa dengan dia, kok malah mengharap dia bercerai. Bro, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan cerai bukanlah jalan terakhir bisa saja kan dia itu bertahan selama suaminya memenuhi kebutuhannya.

Wanita jaman sekarang itu yang penting kebutuhannya dipenuhi, jatah bulanannya banyak dan diperhatikan seperti itu yakin deh wanita bakalan gak mau berpaling.”

”Itu kan menurutmu tapi jika suami udah selingkuh itu beda lagi,” ujar Fatir. ”Satu hal yang pasti namanya selingkuh itu gak ada obatnya dan akan terus berulang itu yang aku tahu sih.”

”Udah jangan bahas itu lebih baik fokus kerja!”

Fatir tidak tahan jika harus berdebat dengan Ehsan karena pria itu pasti akan terus mencercanya sesuka hatinya. Begitu juga sebaliknya Ehsan pun keluar tanpa berniat membalas perkataan atasannya.

”Ghaida tolong ke ruangan saya sebentar!”

Fatir ingin melihat Ghaida karena sejak pagi dia tak melihatnya masuk ke ruangannya.

”Ada apa ya pak? Apa ada kerjaan yang harus saya selesaikan?”

”Ini tolong dicek ulang!” ucap Fatir memberikan tumpukan berkas pada Ghaida namun netranya tak lepas menatap ke arah wanita itu.

”Baik, ada lagi?”

”Tidak cukup itu saja.”

”Baik, saya permisi.”

”Ghaida tunggu!”

Ghaida berbalik, ”Ada apa ya pak Fatir?”

Fatir ragu untuk mengatakannya namun akhirnya keluar juga kalimat yang dipendamnya. ”Jika butuh teman untuk bicara saya siap mendengarkannya.”

”Terima kasih.” Ghaida segera berlalu meninggalkan ruangan Fatir dirinya tak ingin melibatkan urusan hati dengan pekerjaan bukankah itu yang kemarin diucapkan oleh atasannya kenapa sekarang justru atasannya yang kepo ingin tahu urusan pribadinya.

”Pak Fatir, ada yang mau saya tanyakan pada Anda?” Ghaida tiba-tiba masuk menemui atasannya.

Fatir mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Ghaida. ”Ada apa?”

”Soal pertemuan besok pagi, apakah benar pak Fatir ada janji dengan pak Galuh Wisesa?” Ghaida menyodorkan tab yang baru saja dicek olehnya. ”Ini data yang masuk dua minggu yang lalu sebelum saya bekerja di sini.”

Fatir pun mengangguk membenarkan perkataan Ghaida. ”Kamu kenal dengannya?”

”Dia suami saya, bisakah saya tidak ikut untuk acara besok?”

”Alasannya?”

Ghaida melengos haruskah di jujur? ”Pak Fatir ini masalah pribadi, sungguh kali ini saya belum siap bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, bisakah pak Fatir memahami saya kali ini saja.”

”Saya mau bantu asalkan kamu ceritakan semua detailnya pada saya, bagaimana?”

”Harus ya?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel