
Ringkasan
Ghaida harus menelan pil pahit dalam berumah tangga, mertua julid sedangkan suami yang dia kira baik ternyata dia ... Keputusan apa yang akan dipilih olehnya saat suaminya itu ...
1. Kepergok Selingkuh
”Bagaimana dengan calon sekretaris baru apakah sudah ada yang cocok?” tanya Fatir melangkah dengan penuh wibawa masuk ke ruangannya.
”Maaf Bang, sejauh ini sudah banyak yang melamar sih tapi belum ada yang sesuai kriteria,” sahut Ehsan terkekeh.
”Aku serius loh kok kamu begitu?”
”Iya, jangan marah-marah begitu nanti cepat tua loh, gak kasihan apa sama istrimu nanti dia masih muda kamu udah kayak kakek-kakek karena kebanyakan marah-marah. Ada satu namanya Ghaida Khairunnisa tapi aku tidak yakin bang Fatir mau menerimanya. Ini _resume-nya_ aku sudah baca cocok sih.”
”Jadi dia datang hari ini?” Fatir membuka berkas mengecek data milik Ghaida. ”Dia udah nikah,” ucap Fatir mengerutkan keningnya.
Suara ketukan pintu mengalihkan keduanya.
”Masuk!” seru Fatir.
Seorang wanita bercadar masuk ke ruangan tersebut. Keduanya menatap pada sosok yang berjalan mendekati meja milik Emil. Keduanya saling pandang.
”Assalamu’alaikum,” sapanya.
”Waalaikumussalam," jawab keduanya bersamaan.
”Maaf, saya ke sini karena panggilan kerja dan pihak HRD meminta saya menemui Pak Adillah Fatir langsung.”
”Silakan duduk!” titah Fatir masih dengan tatapan tajam pada wanita yang ada di depannya. Matanya yang teduh membuat Fatir sangat yakin jika di balik cadar yang dikenakan olehnya itu ada wajah yang sangat cantik.
”Maaf pak, apakah Pak Fatir sudah baca resume saya?”
Pertanyaan dari Ghaida membuyarkan lamunan Fatir membuatnya gugup. ”Eh, i-iya. Saya sudah membacanya, Anda Ghaida kan?”
Ehsan yang berada di sana pun ikut terkekeh mendengarnya, baru kali ini atasannya terlihat gugup.
”Jadi apa Anda siap mengikuti saya kemanapun saya pergi?” tanya Fatir.
”Maksud bapak apa ya?” balas Ghaida.
”Saya mencari sekretaris yang bisa saya andalkan di luar karena pekerjaan saya mengharuskan saya keluar kota setiap waktu.”
”Apa? Bukankah bapak mencari seorang sekretaris? Apa tugasnya sampai harus mengikuti atasannya keluar kota juga?” Ghaida kebingungan mana mungkin dia ikut keluar kota sedangkan antara dia dan atasannya bukanlah mahram dan statusnya adalah seorang istri.
”Jika memang tidak bisa maka saya akan melempar kesempatan ini pada orang lain,” ucap Fatir membuyarkan lamunan Ghaida.
Bukan tanpa alasan Fatir sengaja membuat peraturan seperti itu, dia sangat faham tipe seperti apa wanita seperti Ghaida yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa dia bekerja di luar bukankah dia memiliki suami.
”Apa?”
”Pekerjaan ini sebenarnya tidaklah sulit, saya benar-benar butuh seseorang buat menemani saya bekerja di luar dan saya membutuhkan orang yang kompeten.”
Ghaida tertunduk begitu mendengar penjelasan dari Fatir, haruskah dia menerima pekerjaan ini. Jika dia tolak maka tidak akan ada kesempatan kedua untuknya. ”Apa saya diwajibkan ikut?"
”Tentu saja, saya bayar mahal untuk pekerjaan ini,” ujar Fatir.
”Bisakah saya minta waktu untuk memikirkannya?”
”Silakan satu hari, saya hanya kasih waktu sehari jika tidak ada jawaban saya lempar pada kandidat yang lain.”
”Baik, saya setuju."
”Kamu yakin akan menerimanya?” tanya Ehsan begitu Ghaida meninggalkan ruangan tersebut.
”Kamu pikir? Penampilannya seperti itu membuatku justru semakin tertantang dengannya. Kamu pikirkan saja sendiri mana ada sih wanita tertutup begitu malah keluyuran kerja di luar. Pria bodoh yang membiarkannya bekerja, padahal aku lihat dia itu cantik loh.”
Ehsan membulatkan matanya mendengar penuturan atasannya. ”Ingat bos, dia itu istri orang!”
”Astaghfirullah, jika ternyata dia wanita yang tidak bahagia bagaimana?”
***
”Ini uang bulanannya." Galuh meletakkan uang tersebut di meja rias.
”Kok cuma segini aja bulan kemarin saja uangnya kurang Mas dan aku harus mengocek tabunganku sendiri.”
”Pakai ini aja dulu nanti jika kurang aku tambahin,” ucap Galuh merapikan pakaiannya lalu keluar kamar. Perusahaan milik Galuh sedang tidak stabil belakangan ini dan itu berpengaruh pada jatah bulanan yang diberikan oleh Galuh pada Ghaida.
Ghaida memandangi uang yang tergeletak di meja riasnya dengan cepat dia menyimpannya di laci, dan berniat turun mengikuti suaminya yang hendak berangkat ke kantor.
”Ajari istrimu buat hemat, biar uang yang kamu kasih bisa cukup hingga akhir bulan.”
”Ma, mama jangan bicara begitu faktanya uang tersebut juga masih kurang dan dia harus mengocek tabungannya sendiri.”
Galuh segera berpamitan dengan Ghaida menuju kantornya.
Ghaida sendiri berniat ke pasar membeli bahan makanan yang telah habis di lemari.
”Dasar mandul, menantu pemalas! Kerja sana, jangan menggantungkan hidup hanya dengan menengadahkan tangannya pada suami doang!” cerocos Yunita tiba-tiba masuk ke kamar Ghaida. ”Kalau kamu punya penghasilan setidaknya tidak menambah beban buat Galuh!”
Empat tahun menikah, keduanya memang belum dikaruniai momongan dan itu cukup membuat Ghaida tertekan karena desakan dari ibu mertuanya dan juga perkataan tetangga yang kadang pedasnya melebihi cabe level lima puluh.
”Ma, Ghaida akan kerja jadi nanti kita bagi tugas ya. Mama bantu beres-beres rumah dan juga masak!” ujar Ghaida mencoba berani setelah sekian lama lebih banyak diam.
”Mama gak peduli pokoknya kamu itu kerja saja punya uang sendiri dan jangan lagi meminta sama anakku, biar semua uangnya masuk ke rekeningku. Kamu tidak tahu gara-gara uangnya diberikan padamu, jatah uang mama jadi berkurang banyak.”
”Astaghfirullah, Ma, kenapa mama seperti itu jika semua diambil mama bagaimana dengan laju rumah tangga kami nantinya?”
Ghaida tak henti-hentinya mengiba pada Yunita untuk tidak mengambil haknya namun tetap saja mertuanya itu tak peduli. Dengan cepat menyambar uang yang ada di tangannya. ”Ma, jika Mas Galuh mempertanyakannya bagaimana?”
”Mama tidak peduli, itu urusan kamu.”
”Ya Allah, kenapa semua semakin rumit.”
Ghaida melamun sepanjang jalan sepulang dari pasar, pikirannya kembali teringat pada lamaran pekerjaannya kemarin siang dan hingga saat ini dia belum memberikan jawabannya.
”Bismillah, aku akan mengambil job tersebut semoga dimudahkan semuanya,” lirih Ghaida.
Ghaida mempercepat langkah kakinya begitu sampai di depan kantor Galuh, kebiasaan tersebut dilakukannya setelah tahu perusahaan suaminya nyaris bangkrut bahkan saat ini pun masih belum stabil.
”Tenang saja, istriku tidak akan tahu soal hubungan kita berdua kita aman jika kamu juga tidak menceritakan apapun di luar sana.”
”Yakin Bang, tapi jika tetap saja aku kurang nyaman karena selama ini dia satu rumah denganmu! Ceraikan dia!"
Ghaida menjatuhkan box makan siang milik Galuh setelah mendengar semuanya, niat hati ingin masuk tertahan karena suara desahan dari dalam ruangan tersebut. Ghaida menahan tangisnya menutup mulutnya manakala melihat dari balik pintu suaminya tengah bermain api dengan wanita lain.
