7. Bukan Pebinor
”Begitulah yang terjadi Pak Fatir, jujur untuk saat ini saya tidak mau menemuinya karena belum siap jika dia mengetahui saya bekerja sebagai sekretaris di kantor orang lain,” jelas Ghaida mau tak mau dia ceritakan semua masalahnya pada atasannya.
Ada sesal di hati Fatir karena telah memaksa Ghaida untuk bercerita semuanya namun secara tidak langsung dia menjadi tahu inti dari masalah yang sedang dihadapi oleh sekretarisnya itu.
”Maaf jika saya terlihat begitu memaksamu untuk bercerita karena setiap sesuatunya pasti ada alasannya kan dan saya mau alasan yang jelas, terima kasih sudah menjelaskan semuanya.”
”Jadi saya boleh ya Pak, tidak ikut meeting besok pagi?” ucap Ghaida.
”Baiklah tapi tetap kamu harus memantaunya di balik layar.”
”Terima kasih banyak Pak, kalau begitu saya permisi dulu.” Ghaida nampak tergesa-gesa ingin keluar dari ruangan Fatir tentu saja hal ini membuat pria itu penasaran hal apa yang membuatnya begitu terburu-buru.
”Tunggu!”
”Ya, ada lagi pak?”
”Mm ... Kenapa kamu terburu-buru sekali? Bukankah ini waktunya istirahat?”
”Maaf pak Fatir saya belum melaksanakan salat dhuhur jadi terburu-buru sekali apa pak Fatir butuh makan? Nanti setelah dari mushola saya akan bawakan ke sini? Atau bapak mau ikut sekalian ke mushola kita salat berjamaah? Eh? Aduh maaf pak, saya jadi gugup jika berurusan dengan pemilik nafas ini.”
Fatir tersenyum kecil mendengar rentetan kalimat panjang dari Ghaida dan ini adalah pertama kalinya dia mendengarnya. ”Kamu mau saya jadi imam kamu?”
Ghaida mengedikkan bahunya, ”Ya jika pak Fatir bisa kenapa gak?”
”Oke baiklah, ayo kita salat bersama-sama.” Fatir gegas ambil dompet dan ponselnya lalu mengikuti langkah Ghaida yang sudah lebih dulu di depan.
”Silakan pak, saya sudah ambil wudhu,” ucap Ghaida mempersilakan atasannya.
Keduanya pun salat dengan khusu sungguh hati Fatir merasakan adem bisa salat berjamaah dengan wanita pujaannya andai saja dia bisa melakukannya setiap hari setiap saat mungkin dia adalah pria yang paling bahagia di dunia ini.
”Apa kamu mau ke kantin?” tanya Fatir setelah seraya memakai sepatunya.
”Maaf saya sedang shaum pak Fatir,” balas Ghaida.
”Oh.”
’Benar-benar istri solehah ini kenapa Galuh malah menyia-nyiakan berlian dan menggantinya dengan lumpur yang kotor,’ lirih Fatir.
”Ayo kita kembali saja.”
”Loh pak Fatir tidak makan dulu, kalau sakit bagaimana?”
”Tidak akan, saya kuat percayalah.”
”Jangan memaksakan diri loh Pak, dzolim sama tubuh sendiri kasihan perutnya sakit.”
”Oke.”
Keduanya berpisah di persimpangan jalan, Fatir hendak menemui Farhan sedangkan Ghaida harus kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
”Dad, kok gak bilang mau ke sini?”
”Lah namanya juga kejutan ya gak bilang-bilang. Darimana saja kamu, tadi daddy sempat ke atas tapi kamu gak ada.”
”Fatir habis dari mushola, Dad.”
Farhan ber o ria mendengar jawaban dari putranya apakah ini karena sekretaris barunya yang terlihat begitu religius.
”Kenapa ekspresi daddy seperti itu, kaya gak pernah dengar Fatir salat saja.”
”Yang ini beda, Boy. Apa ini karena sekretaris kamu yang baru itu?”
”Ya ampun, jadi daddy termakan omongannya Aisha? Ish, gadis itu memang benar-benar tukang ngadu!” kesal Fatir.
”Jangan begitu bagaimanapun dia adalah adikmu dan sudah seharusnya daddy sebagai orang tua mengingatkan jika memang putranya salah ya udah diluruskan bukan malah mendukung hal yang gak bener.
Katakan pada daddy, apa dia masih single?” Farhan memicingkan mata menunggu jawaban putranya.
”Dia itu istri orang Dad!”
”Astaghfirullah, lalu jika suaminya tahu bagaimana? Ini namanya kamu jadi ’pebinor’ ngerti gak kamu, Nak? Kenapa gak cari yang single saja yang gadis banyak loh!”
”Yang gadis belum tentu dia itu masih perawan ya, Dad, lagipula Fatir cari yang nyaman bukan cari yang segel.”
Farhan menggelengkan kepalanya mendengar ocehan putra sulungnya. ”Semakin pintar kamu bicara, Nak!”
”Siapa dulu yang ngajarin? Daddy kan?”
”Astaghfirullah, daddy dibawa-bawa lagi jika tahu mommy bakalan marah sama daddy.”
”Biarin saja memang faktanya begitu kok, daddy yang ajarin Fatir kan selama ini?”
”Dasar anak gak ada akhlak!”
”Udah buruan daddy ke sini mau ngapain?” Fatir tak ingin berlama-lama di lobi apalagi banyak pasang mata yang melihatnya salahkan Farhan yang sesuka hatinya memilih tempat membuat keduanya jadi pusat perhatian para karyawan.
”Tidak jadi, niatan daddy mau kenalin kamu sama Olivia tapi berhubung hatimu sedang berbunga-bunga dengan sekretaris barumu daddy gak jadi aja deh, khawatir nanti malah membuat masalah baru buatmu.”
”Bagus jika daddy berfikir sejauh itu, Fatir sendiri gak yakin mau sama Olivia.”
”Jangan kepedean kamu ini bisa jadi malah sebaliknya Olivia belum tentu dia mau sama kamu.”
”Berarti daddy meragukan pesonaku?”
”Kamu memang perlu di ruqyah biar jin yang ada di tubuhmu pada minggat!”
”Astaghfirullah tega banget ya daddy itu dengan anak sendiri.”
”Sudah daddy balik saja ke kantor gak ada untungnya juga lama-lama di sini yang ada malah kesal sendiri sama kamu. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Farhan pergi meninggalkan kantor putranya Fatir hanya mampu memandangi daddy-nya, pria itu memang benar-benar membuatnya jadi teladan buat Fatir karena Farhan humble pada keluarganya.
”Pak Faris.”
”Eh? Kamu ada apa?”
Ghaida menyodorkan map biru di tangannya. ”Mau minta tanda tangan, maaf tadi saya ke ruangan pak Fatir tapi gak ada saya dikasih tahu pak Ehsan jika Anda masih di sini.”
Fatir pun mencari tempat duduk dan menandatangani berkas dari Ghaida, beberapa karyawan nampak berbisik-bisik dan hal ini membuat Ghaida merasa kurang nyaman mungkin juga karena penampilannya yang berbeda dari yang lainnya.
”Pak Fatir saya kembali ke atas,” pamit Ghaida.
”Tunggu!”
Ghaida berbalik dilihatnya Fatir sedang merapikan pakaiannya.
”Kita barengan!”
”Eh? Bagaimana jika karyawan yang lain pada ...?”
”Jangan pedulikan, biarkan saja mereka sesuka hatinya berasumsi yang jelas tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan. Ghaida, jika kita menanggapi omongan orang maka jujur takkan pernah ada habisnya jadi jangan pedulikan mengerti!”
Ghaida merasa ada yang berbeda dari sikap atasannya setelah dirinya menceritakan masalahnya tadi pagi. ”Terima kasih.”
Keduanya berjalan melewati beberapa karyawan, Ghaida menunduk hal yang selalu dilakukannya dan Fatir faham akan hal itu dirinya tahu batasan-batasan yang dilakukan oleh wanita yang ada di sampingnya berbeda dengannya yang justru melirik pada beberapa karyawan yang tidak suka dengan Ghaida hal biasa yang kerap terjadi dalam lingkungan kerja saling sikut dan mencari muka itu yang sering dilihatnya.
”Fatir!”
”Ish, ada apaan sih teriak-teriak?”
”Itu pak Galuh Wisesa ada di ruanganku sekarang?”
”Apa?”
Ghaida terkejut mendengar nama suaminya disebut. ”Kenapa dia datang lebih cepat?”
