5. Curhat
”Kenapa tadi menangis saat kerja?”
”Eh?”
”Apa kamu sedang punya masalah di rumah?”
”Pak Fatir, Anda ... ?”
”Kita tidak sedang di kantor jadi jangan terlalu formal dan saya lihat usiamu dua tahun lebih muda dariku,” ucap Fatir lagi.
”Maaf,” lirih Ghaida. Wanita itu kembali tertunduk. ”Ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata tapi sekiranya dengan air mata bisa sedikit melegakan hati.”
”Tolong jika sedang ada masalah di rumah jangan campur adukkan dengan pekerjaan di kantor.”
”Saya tahu pak, sekali lagi saya meminta maaf karena membuat pak Fatir tidak nyaman.” Suara Ghaida terdengar pelan bahkan hampir tak terdengar.
Fatir jadi merasa bersalah karena merasa sudah terlalu jauh masuk dalam kehidupan pribadi pegawainya yang baru saja dikenalnya kemarin. ”Saya minta maaf jika ucapan saya membuatmu tidak nyaman, saya hanya ingin Anda bekerja dengan baik jika kinerjanya sesuai dengan apa yang saya harapkan pasti saya akan memberikan bonus yang besar pada Anda.”
Duh bicara apa Fatir, di samping wanita ini konsentrasinya mendadak buyar dan malah membahas soal pekerjaan padahal sebelumnya dia telah menata kata-kata di benaknya dan ingin mempertanyakannya secara langsung, perihal kehidupan pribadinya. Apakah ini sopan?
”Makasih ya Pak,” ucap Ghaida seraya membuka pintu namun Fatir mencegahnya.
”Maaf, gunakan payung ini.” Fatir menyerahkan payung hitam pada Ghaida.
Ghaida menatap sekilas pada Fatir sebelum akhirnya kembali menunduk. ”Terima kasih.”
Fatir sengaja menunggu hingga Ghaida masuk ke rumah karena ada sesosok pria seusianya ada di teras rumah menatap tajam pada Ghaida, ”Apa itu suaminya?” lirih Fatir.
Fatir kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu karena fokusnya justru pada pria yang tadi berada di teras rumah Ghaida.
”Malam Mom, kenapa sepi sekali?” Fatir merebahkan tubuhnya di sofa duduk di samping Hasna.
”Bagaimana tidak sepi daddy-mu pergi dengan Aisha, apa kamu udah makan?”
Fatir menggeleng malas, ”Rasanya kok kayak gini ya, Ma?”
Hasna langsung menoleh ke arah Fatir. ”Ada apa? Kamu sakit?”
Fatir hanya cengengesan melihat Hasna panik. ”Gak lah, mom, Fatir sehat kok.”
”Lalu kamu barusan bicara apa?” Hasna memicingkan matanya.
”Lupain, Mom, Fatir lagi banyak pekerjaan belakangan ini.”
”Oh iya mommy lupa, kamu bicarakan pekerjaan mommy jadi ingin tanya sesuatu kamu. Apa benar kamu punya sekretaris baru?”
”Ish, pasti ini ulah si Aisha. Tahu gitu tadi gak aku jemput dia di bandara, ember!” kesal Fatir.
”Nak, apa benar yang dikatakan sama dia jika sekretarisnya lain daripada yang lain?”
Fatir semakin melebarkan matanya, ”Mommy bicara apa, sih!”
”Jujur saja toh mommy gak marah kok, justru jika kamu gak jujur mommy akan bilang sama daddy kalau kamu macam-macam apalagi sama perempuan.”
”Oke deh iya, Fatir ngaku memang kemarin baru aja terima pegawai baru karena pekerjaan sedang numpuk gak ada yang bantu iya akhirnya Fatir putusin buat ambil sekretaris wanita tapi ... ”
Fathir terdiam membuat Hasna semakin penasaran. ”Kok gak lanjut?”
”Dia beda loh Mom, tampilannya terlihat adem, tatapan matanya seakan menyiratkan banyak luka bulu matanya lentik selaras dengan matanya yang terlihat besar.”
Hasna mengangguk, ”Detail sekali, hidungnya mancung gak? Bibirnya bagaimana?”
”Mommy, sedang mengejekku?”
”Tidak.”
”Lalu kenapa tanya-tanya sedetail itu.”
”Loh mommy kan cuma nanya, masa gak boleh.”
”Ya gak boleh, Fatir saja gak tahu bagaimana rupanya karena wajahnya tertutup cadar tapi jika diamati sih wanita itu cantik, Mom.”
Seketika Fatir langsung terdiam kenapa dengan bodohnya dia mengatakan hal itu pada Hasna jika nanti dia melapor pada daddy bagaimana? Fathir menoleh ke arah Hasna lalu tersenyum kecil, ”Mommy jangan kasih tahu daddy soal ini ya, please! Tadi Fatir keceplosan, anggap saja Fatir gak mengatakan apapun ya.”
”Mommy akan merasa sangat bersalah jika tidak memberitahukan daddy, masalah ini lalu dia itu masih lajang atau berstatus istri orang? Jika ada masalah bagaimana?”
***
”Jadi benar kamu mulai selingkuh di belakangku?” Perkataan Galuh membuat hati Ghaida seakan diremas-remas dengan kuat. ”Jawab Ghaida!”
Ghaida tersentak manakala melihat Galuh sudah ada di depannya. ”Siapa yang selingkuh dan siapa yang menuduh? Kamu Mas, aku tidak melakukan apapun berbeda dengan Mas Galuh yang bermain api di belakangku.”
”Dasar wanita tak tahu diri berani menjawab sekarang ya!” Yunita datang menghampiri keduanya sengaja mematik api agar keduanya bertengkar.
Ghaida memalingkan wajahnya ke samping malas mengomentari perkataan Yunita, jika saja dia tidak mengingat perkataan ayahnya mungkin dia sudah memilih angkat kaki dari rumah ini. ”Aku malas berdebat Mas, aku lelah dan butuh istirahat.”
”Aku belum selesai bicara, Ghaida!” seru Galuh membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
”Apalagi yang harus ku dengar Mas, semua sudah jelas dan aku tidak mau lagi mendengar pembelaan apapun darimu.”
”Berhenti bekerja!”
Ghaida mengangkat kepalanya mendengar perkataan Galuh seenaknya saja dia memerintah sedangkan dengan susah payah dia mencari pekerjaan kesana kemari begitu didapatkannya malah disuruh berhenti. ”Aku tidak mau!”
”Esti hamil anakku dan aku akan menikah dengannya.”
Ghaida menatap tajam ke arah Galuh, ”Berapa bulan?”
”Dua belas minggu.”
Jadi mereka sudah lama berhubungan dan baru kemarin dia mengetahuinya, ”Astaghfirullah, kuatkan aku Ya Allah,” gumam Ghaida kedua tangannya mengepal kuat.
”Mas Galuh yakin itu anaknya Mas Galuh, jika bukan bagaimana?”
”Apa maksudmu, hah?” Yunita marah karena merasa diejek oleh Ghaida. ”Yang mandul itu kamu kenapa kamu justru mempertanyakan kesuburan anakku, hah?”
Ghaida kembali tersenyum miris, bahkan Yunita lebih membela anaknya daripada dirinya jelas-jelas Galuh telah selingkuh menyakiti hatinya, dimana nalurinya sebagai sesama wanita apakah mertuanya tidak peka.
”Aku ingin dia tinggal di sini dan kamu membantunya selagi aku bekerja,” ucap Galuh penuh permohonan.
”Aku tidak bisa, jika memang dia ingin tinggal di sini ceraikan aku lebih dulu baru dia bisa tinggal di sini!” Ghaida segera ke kamar dan mengunci pintunya tubuhnya melorot tubuhnya seakan tak bertulang lemas tak bertenaga. ”Ya Allah sesakit inikah rasanya, tolong kuatkan aku.”
