Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Memberi Perhatian

Ghaida memijat pelipisnya kepalanya pusing rasanya berat sekali apalagi harus melihat deretan angka yang berjejer di layar laptopnya. Bayang -bayang perselingkuhan Galuh dan pegawainya kembali menari-nari di pelupuk matanya. Air matanya kembali menetes rasanya tidak sanggup jika dirinya harus bertahan dalam situasi yang rumit pura-pura kuat padahal faktanya dirinya rapuh. Ghaida butuh bahu untuk bersandar tapi faktanya sandaran tersebut justru melukainya.

Ghaida semakin kesakitan manakala Yunita meminta Galuh untuk menikah lagi dengan pegawainya itu jika memang wanita itu mampu memberikannya keturunan.

”Ingat Galuh, mama semakin tua dan jatah umur mama di dunia ini semakin berkurang apakah kamu mau disebut anak durhaka karena menentang keinginan mama,” teriaknya pagi ini.

”Ma, Galuh mencintai Ghaida dan takkan pernah bisa digantikan oleh wanita lain,” teriak Galuh tidak kalah kencang dengan suara Yunita.

”Tapi istrimu itu mandul sampai sekarang belum juga kasih mama cucu mama gak suka.”

Kepala Ghaida semakin pusing mendengar perdebatan keduanya, dia memilih pergi ke kantor namun begitu di pintu gerbang Galuh memanggilnya.

”Sayang kamu mau kemana? Kita perlu bicara!” bujuk Galuh.

”Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Mas, maaf aku harus berangkat kerja,” ucap Ghaida akhirnya dia mengatakannya pada Galuh.

”Kerja? Sejak kapan kamu kerja, Sayang, please kita bicarakan dengan kepala dingin. Oke!”

”Tidak perlu tahu aku kerja di mana tapi setidaknya aku tidak akan menjadi beban lagi buat kalian berdua. Aku pamit Mas, Assalamualaikum.”

Ghaida bergegas pergi meninggalkan Galuh yang masih berdiri di gerbang.

”Astaghfirullah,” lirih Ghaida berulang kali dirinya beristighfar, mengingat semua membuatnya semakin merasa tak berdaya bahkan pilihannya bekerja pun semata-mata hanya ingin membuatnya lupa akan luka yang sedang dirasakan olehnya. Ghaida sendiri melanggar sesuatu yang tidak seharusnya dilakukannya.

”Kamu melamun?” tegur Fatir yang melihat Ghaida terdiam sejak dirinya berdiri di depan pintu, bahkan panggilannya pun tak didengar olehnya.

”Eh? Ma-maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?” Ghaida gugup terlebih kedua matanya sembab.

”Ayo, temani saya ke bandara!” seru Fatir.

”Sekarang, Pak?” tanya Ghaida ada rasa takut dan bingung bukankah ini belum waktunya istirahat.

”Besok! Tentu saja sekarang, ayo!” balas Fatir singkat tanpa melihat ke samping. Dirinya memang terburu-buru terlebih Aisha, adiknya sudah bolak-balik menghubunginya sejak setengah jam yang lalu memberinya kabar jika dirinya telah sampai di bandara.

Begitu sampai Fatir segera turun dan langsung menuju pintu kedatangan dilihatnya adiknya Aisha tengah duduk sendirian sesekali bibirnya mengerucut karena yang ditunggu tak juga datang.

”Assalamu’alaikum,” sapa Fatir.

Aisha menoleh ke samping, ”Waalaikumussalam, Astaghfirullah, Abang!” teriak Aisha. ”Aisha sejak tadi nungguin loh hampir satu jam di sini.”

"Maaf,” ucap Fatir. ”Abang kan sibuk banyak kerjaan,” sambungnya.

”Selalu saja begitu, memangnya gak bisa ya pasrahin kerjaan ke orang seperti yang daddy lakukan?"

”Gak bisa, ayo buruan pulang!” ajak Fatir segera menarik koper milik Aisha.

”Eh tunggu bang, dia siapa?” Aisha baru menyadari ada orang lain yang datang bersama dengan abangnya.

"Assalamualaikum, saya sekretaris barunya pak Fatir, nama saya Ghaida,” ucap Ghaida memperkenalkan diri.

”Waalaikumussalam, sekretaris?” ulang Aisha lalu menatap ke arah Fatir. ”Beneran nih, bang? Gak salah milih kan?” Aisha mengamati Ghaida, bukankah sekretarisnya itu Ehsan, kenapa sekarang berganti wanita?

”Apaan sih, ayo kita balik dan buruan kasih kabar mommy jika sekarang udah dijemput sama Abang,” seru Fatir. ”Udah makan, kan?”

Aisha mengangguk, ”Mm ... Mbak Ghaida masih lajang?”

”Astaghfirullah Aisha, please.” Fatir melotot mendengar pertanyaan konyol dari adiknya.

”Gak apa kan mbak jika Aisha bertanya begitu lah kan gak bayar kan?” ucap Aisha tanpa merasa bersalah.

”Jangan kelewatan kamu Aisha, abang gak suka!”

Di balik cadar Ghaida tersenyum miris mengingat nasibnya sendiri, apalagi melihat rona bahagia gadis di depannya. Keduanya sangat akrab ada hubungan apa di antara mereka dan lagi atasannya terlihat berbeda sekali dengan saat dirinya berada di kantor.

”Ke kantor dulu ya, Abang ada sedikit kerjaan nanti pulangnya sekalian saja,” ucap Fatir.

”Tapi aku lelah Bang, Aisha mau istirahat!” rengek Aisha.

”Kan bisa istirahat di ruangannya bang Fatir, kamu tiduran aku selesaikan dulu kerjaannya.”

”Ish, bang Fatir emang benar-benar gak peka sekali. Aisha tuh kangen sama mommy masa iya kudu nungguin kerjaan selesai atuh jamuran dong di kantor, biarkan saja sampai rumah bakalan Aisha laporin sama beliau.”

”Terserah kamu aja.”

Mobil pun berhenti tepat di parkiran area kantor, Aisha masih tidak terima dengan keputusan Fatir yang tidak segera mengantarkannya ke rumah.

”Tahu begini, aku gak bakalan minta dijemput naik taxi saja juga bisa,” keluh Aisha.

”Adikku yang satu ini memang bawel!” ucap Fatir tanpa melirik sedikitpun tatapannya kembali dingin.

”Mbak Ghaida betah kerja dengannya?” tanya Aisha.

”Aishaaaa ... satu kali lagi bersuara maka tidak akan abang bantu apapun kesulitanmu!”

Aisha segera diam jika Fatir sudah mengultimatum maka dirinya hanya bisa pasrah.

Ghaida kembali ke ruangannya sedangkan Fatir sendiri segera menghubungi Ehsan memintanya mengantarkan Aisha lebih dulu daripada di kantor hanya mengganggu pekerjaannya.

”Kamu pulang diantar Ehsan saja ya, maaf Abang masih banyak kerjaan.”

”Tuh kan, tahu begini aku minta jemput daddy.”

”Awas saja bang akan Aisha laporkan nanti.”

”Oke, silakan memang faktanya Abang sedang banyak kerjaan, dah pulang sana!” usir Fatir mengibaskan tangannya. ”San, antarkan dia pulang dengan selamat dan ingat jangan banyak bicara sesuatu yang tidak kamu ketahui, ngerti!”

”Oke!”

Fatir kembali berkutat dengan pekerjaannya hingga jam enam, dilihatnya Ghaida tengah bersiap untuk pulang. Fatir pun melakukan hal yang sama dirinya memang sengaja menunggu wanita itu, entah dorongan darimana dia ingin mengetahui apa yang sedang dialaminya sehingga membuatnya lebih banyak melamun di hari pertama dia bekerja.

”Ghaida tunggu!” teriak Fatir mempercepat langkahnya.

”Apa masih ada pekerjaan pak Fatir?”

”Tidak bukan itu, saya akan mengantarkanmu pulang.”

”Eh? Tap-tapi pak?”

”Di luar hujan lebih aman jika saya antar pulang dan tolong jangan membantah!”

Ghaida kebingungan bagaimana jika nanti mertuanya kembali menegurnya.

”Ya Allah bagaimana ini?” lirih Ghaida.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel