Bab 04 : Pertemuan Tidak Disengaja
Bab 04 : Pertemuan Tidak Disengaja
Genggaman tangan Alana pada ponselnya terasa begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Suara bariton yang dingin di seberang telepon tadi seolah-olah membekukan seluruh aliran darahnya. Di luar jendela, mobil sedan hitam itu perlahan-lahan bergerak, menyusuri jalanan kota yang basah sebelum akhirnya meluncur dan menghilang di antara lalu lintas yang ramai.
"Alana? Siapa yang telepon? Kamu baik-baik saja?" suara Reza memecah keheningan di dalam studio restorasi. Langkah kakinya mendekat, raut wajahnya dipenuhi rasa khawatir saat melihat wajah Alana yang pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh darahnya.
Entah ada apa dengan Alana.
Alana refleks menekan tombol merah, mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia menyandarkan punggungnya ke tepi meja kerja yang dingin, berusaha keras mengatur nafasnya yang memburu.
"Bukan, bukan siapa-siapa, Za," bisik Alana, suaranya sedikit bergetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. "Hanya salah sambung."
"Salah sambung?" Reza menunjuk ke arah kotak satin di meja yang berisi jam saku antik dan buket bunga tanpa nama di sudut ruangan. "Al, kamu tidak bisa terus-menerus mengabaikan ini. Tatapanmu tadi, kamu ketakutan. Orang ini tahu aktivitasmu, tahu di mana kamu bekerja, bahkan mengirim barang-barang mahal tanpa identitas. Ini sudah termasuk aksi stalking atau lebih parahnya lagi ini adalah teror! Kita harus melaporkan ini ke polisi sekarang juga."
"Jangan!" cegah Alana cepat, suaranya naik satu oktaf. Ia memegang lengan kemeja Reza dengan tatapan memohon.
"Tapi kenapa, Alana?" Reza meringis bingung. "Kenapa kamu menahanku?"
Alana mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik saku celemek kerjanya. Karena aku tahu siapa yang ada di balik semua ini, Ingin sekali Alana berteriak seperti itu. Namun menyuarakan nama Revan tanpa bukti fisik yang sah hanya akan membuat situasi makin keruh. Revan bukan sekadar pria biasa dia adalah pengusaha kelas atas dengan pengaruh hukum dan media yang luar biasa. Membawa polisi tanpa bukti yang lengkap hanya akan menyulut amarah pria itu atau lebih buruk lagi, membahayakan keselamatan Reza dan keberlangsungan galeri ini.
"Maksudku jangan terburu-buru, Reza," Alana mencoba merangkai alasan dengan tenang. "Kalau kita melapor tanpa bukti yang jelas, polisi tidak bisa melakukan apa-apa. Ini bisa saja hanya ulah kolektor jahil atau orang yang ingin mengacaukan pameran. Tolong biarkan aku yang menangani ini. Jangan ceritakan hal ini pada siapa pun di galeri, termasuk Direktur."
Reza menghela napas panjang. Matanya menatap Alana dengan rasa kasihan dan frustrasi yang campur aduk. "Baiklah. Kalau itu maumu. Tapi ingat, Alana, kalau hal ini terjadi lagi, aku sendiri yang akan menyerahkan barang-barang ini ke pihak berwajib. Aku tidak mau melihatmu terancam seperti ini."
Keesokan paginya, pukul 07.15 WIB.
Sinar matahari pagi membias tipis di balik awan mendung ibu kota. Kepala Alana terasa amat berat pening yang membakar di pelipisnya adalah akibat dari semalaman tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan mata legam Revan dan bisikan ancamannya di telepon terus terngiang-ngiang, membuat kamarnya yang sempit terasa makin mencekik.
Alana membutuhkan kafein untuk bertahan menjalani hari, tetapi melangkah keluar dari pintu apartemennya terasa seperti berjalan masuk ke medan tempur. Setiap sudut gang dan mobil yang terparkir terlihat mencurigakan di matanya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Alana akhirnya tiba di Kedai Kopi 'Kenangan'. Lonceng kuningan di atas pintu berdentang lembut ketika ia mendorong pintu kayu tersebut. Aroma biji kopi robusta dan sentuhan manis kayu manis langsung menyambutnya. Untuk sejenak, aroma familiar itu memberikan sedikit rasa hangat pada saraf-sarafnya yang tegang.
"Pagi, Alana! Muka kamu pucat sekali, kurang tidur ya?" sapa barista di balik meja kasir dengan senyum ramah.
Alana berusaha memberikan senyum terbaiknya, meski terasa kaku. "Pagi, Mas. Iya, agak sulit tidur semalam. Oat milk latte seperti biasa ya, tanpa gula."
Setelah membayar, Alana memilih untuk tidak duduk di meja dekat jendela besar seperti biasanya. Ia melangkah ke area paling dalam kedai, memilih sebuah meja kayu kecil di sudut remang yang terlindung dari pandangan orang-orang di luar jalan raya. Ia butuh rasa aman, sekecil apa pun itu.
Ia memeluk cangkir karton hangatnya dengan kedua belah tangan, menikmati uap kopi yang menerpa wajahnya, berusaha mengusir ketakutan yang terus mengintai di benaknya.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang hangat, tenang, dan sangat berkelas terdengar dari samping mejanya.
"Permisi apakah kursi di seberang ini kosong?"
Alana tersentak kaget. Tubuhnya seketika menyengat tegang, refleks memegang erat cangkir kopinya. Saat ia mendongak dengan napas tertahan, matanya membentur sosok pria tegap yang berdiri di samping mejanya.
Revan.
Entah musibah apa yang Alana akan dapatkan karena akhir-akhir ini selalu Revan yang ada di sekitarnya.
Namun, penampilan pria itu pagi ini sama sekali berbeda dari sosok intimidatif yang ia lihat di galeri. Revan tidak mengenakan setelan jas hitam resminya yang kaku. Pria itu tampak jauh lebih normal dan lebih cocok berpenampilan seperti ini saat berada di sini namun tetap memancarkan keanggunan alami dengan mengenakan sweater rajut abu-abu gelap dengan kerah kemeja putih yang mengintip rapi, serta celana kain berpotongan sempurna. Rambut hitamnya sedikit diacak santai, dan matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kehangatan yang lembut dan tampak sangat tidak berbahaya.
