Bab 03 : Bunga Tanpa Nama
Bab 3: Bunga Tanpa Nama
Pagi hari di studio restorasi seharusnya menjadi saat paling damai bagi Alana. Aroma cat minyak, larutan pembersih kayu, dan kanvas tua selalu berhasil menjernihkan pikirannya dari ingatan tentang pertemuan-pertemuan janggal dengan Revan dalam beberapa hari terakhir. Namun, kedamaian itu mendadak terusik begitu ia membuka pintu kaca studionya pada pukul delapan pagi.
Di atas meja kerjanya yang bersih, terletak sebuah karangan bunga berukuran besar. Bunga-bunga itu bukan jenis bunga biasa yang dijual di toko pinggir jalan itu adalah Ranunculus merah tua yang diimpor langsung, dirangkai dengan sangat elegan dalam kotak beludru hitam, tanpa ada satupun kartu ucapan atau nama pengirim di permukaannya.
Alana terpaku di depan mejanya. Bulu kuduknya meremang seketika.
"Wah, Alana! Kau punya pengagum rahasia?" seru Siska, rekan sesama restorer , yang masuk sambil membawa cangkir kopi. Matanya berbinar-binar kagum melihat rangkaian bunga mewah tersebut. "Ini mahal sekali, Al! Lihat bunganya, masih segar dan embunnya pun belum hilang."
Alana tidak langsung menjawab. Ia mendekati meja itu dengan langkah ragu-ragu. Jemarinya terulur menyentuh kelopak bunga yang merah pekat, warna yang mengingatkannya pada sesuatu yang kelam dan tajam. Di antara himpitan bunga-bunga itu, ia menemukan secarik kertas kecil berwarna hitam legam dengan tulisan tangan tercetak rapi menggunakan mesin ketik kuno.
Merah cocok untukmu. Jangan biarkan siapa pun menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.
Kalimat itu singkat, tetapi efeknya bagaikan tusukan es di tengkuk Alana. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya seketika tercekat.
"Ada kartu ucapannya?" tanya Siska penasaran, mencoba mengintip dari balik bahu Alana. "Siapa yang mengirimnya? Romantis sekali, rasanya seperti adegan di novel-novel thriller romantis."
"Tidak ada nama," jawab Alana dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha ia sembunyikan sebaik mungkin. Ia buru-buru melipat kertas kecil itu dan memasukkannya ke dalam telapak tangannya.
"Ah, mungkin dari pria tampan donatur galeri itu? Siapa namanya, Revan?" ledek Siska sambil tertawa kecil, menganggapnya sebagai gurauan biasa. "Mengingat bagaimana cara dia menatap mu waktu pameran lalu, bukan tidak mungkin kalau dia kan”
"Jangan sembarangan, Sisk," potong Alana cepat, nadanya sedikit lebih tinggi dari yang ia maksudkan. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam kepanikannya. "Tuan Revan adalah seorang pengusaha besar, dia tidak mungkin membuang waktu untuk urusan seperti ini."
Siska mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ya, siapa tahu? Orang kaya punya cara sendiri untuk mengejutkan wanita."
Hari itu, Alana tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Setiap kali pintu studio berderit atau bel berbunyi, kepalanya langsung menoleh dengan waspada. Yang membuatnya semakin merasa ngeri bukan hanya keberadaan bunga tersebut, melainkan fakta bahwa ia menyukai Ranunculus merah kesukaannya yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun di galeri ini, kecuali pada catatan kecil di profil profesional lamanya yang tersimpan secara digital.
Seseorang sedang mengawasinya. Seseorang yang tahu persis apa yang ia sukai, dan di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya.
Keesokan paginya, karangan bunga itu datang lagi. Kali ini diletakkan tepat di depan pintu masuk apartemennya, sebelum ia bahkan sempat melangkah keluar. Warnanya berbeda mawar hitam dengan pita perak namun pesannya tetap sama, ancaman terselubung yang dibungkus dalam keindahan.
Puncak ketakutan Alana terjadi pada hari ketiga. Ketika ia sedang membereskan meja studionya menjelang sore, Reza datang menghampirinya dengan ekspresi penasaran.
"Al, kurir tadi menitipkan ini untukmu di bagian resepsionis galeri," kata Reza sambil meletakkan sebuah kotak kecil berlapis kain satin di atas meja.
Alana menatap kotak itu dengan ngeri. "Reza, siapa yang memberikan ini padamu?"
"Kurir swasta. Katanya dari 'seseorang yang memastikan kau tidak lupa untuk beristirahat'," ujar Reza bingung melihat reaksi pucat di wajah Alana. "Ada apa, Al? Kamu terlihat ketakutan. Bukankah ini dari pengagum rahasiamu?"
Alana membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku antik berbahan emas putih dengan ukiran inisial namanya, dan di balik tutup jam itu tertera tulisan tangan asli.
Waktumu di dunia luar tidak akan lama lagi, Alana.
"Ini bukan pengagum rahasia, Reza," bisik Alana lirih, matanya menatap tajam ke arah jendela kaca studio yang menghadap langsung ke jalan raya. Di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam bermerek mewah terparkir tanpa pengemudi di dalamnya, seolah sedang menatap ke arah mereka. "Ini adalah teror."
Reza mengernyit, mulai merasa ada bahaya nyata. "Siapa yang melakukan ini? Mau ku urus?"
Sebelum Reza sempat berbuat lebih jauh, ponsel di dalam saku Alana berdering nyaring, memecah kesunyian ruangan. Layar ponsel itu menyala, menampilkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal dengan format enkripsi aneh.
Dengan tangan dingin, Alana mengangkat panggilan itu dan mendekatkannya ke telinga. Jantungnya berdegup kencang, ada perasaan khawatir saat mendengar suara yang berasal dari ponselnya.
"Bunga itu indah, bukan?" suara bariton yang tenang, berat, dan sangat ia kenali langsung mengalir melalui speaker. Suara Revan. "Tetapi bunga-bunga itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kecantikanmu saat kau merasa ketakutan, Alana."
Alana membeku. Matanya melebar, dan tanpa sadar ia berbalik menghadap jendela jalan raya di seberang sana. Di balik kaca gelap mobil sedan hitam itu, bayangan seseorang yang memegang ponsel tampak melambaikan tangan perlahan ke arahnya.
Revan, pria itu ada di sana. Orang yang selama ini menjadi satu-satunya yang selalu ada dipikiran Alana karena semua tindakan yang Revan lakukan terasa mengganggu Alana. Tetapi, untuk mengatakan langsung kepada pria itu rasanya ada ketakutan di dalam diri Alana.
