
Ringkasan
Revan, seorang pengusaha sukses dengan masa lalu kelam, memiliki obsesi mendalam terhadap Alana, seorang seniman karya seni yang cerdas dan mandiri. Obsesi Revan berkembang menjadi bayangan yang mengontrol kehidupan Alana, hingga Alana menyadari bahwa cinta Revan berbeda tipis dengan kegilaan. Ketika konflik memuncak dan bahaya mengintai dari masa lalu Revan, perselisihan berubah menjadi perkelahian fisik yang mempertaruhkan nyawa dan perasaan. Revan menyadari jika ia sangat menginginkan Alana, dan Alana juga tau itu. Akan kah keduanya dapat bersatu? Atau, berpisah karena masa lalu yang kelam.
Bab 01 : Sorot Mata di Galeri
Bab 01 : Sorot Mata di Galeri
Denting halus gelas kristal yang bersentuhan dan gumaman percakapan dari para elit ibu kota memenuhi aula Galeri Artoria malam itu. Lampu-lampu memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menyoroti lukisan-lukisan klasik bernilai miliaran rupiah yang terpajang rapi di dinding marmer. Di tengah kemewahan tersebut, Revan berdiri di sudut yang paling remang, memegang segelas whisky tanpa sedikitpun niat untuk meminumnya.
Pandangannya sama sekali tidak tertuju pada lukisan Renaissance yang menjadi sorotan utama acara malam ini. Mata legamnya yang tajam terkunci rapat pada sosok seorang wanita yang berdiri di area khusus restorasi di ujung aula.
Wanita itu mengenakan gaun hijau zamrud polos dengan potongan sederhana sangat kontras dengan gaun-gaun gemerlap bertabur kristal yang dikenakan oleh para wanita kelas atas di ruangan itu. Rambut cokelat gelapnya disanggul asal, memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus. Ia sedang membungkuk sedikit, meneliti tekstur bingkai kayu tua pada sebuah lukisan abad ke 18 menggunakan kaca pembesar khusus.
Alana. Nama yang ada di name tag di dadanya bertuliskan nama itu Alana Vance.
Revan menyesap minumannya lambat-lambat. Tenggorokannya terasa hangat, namun jantungnya berdetak dengan ritme yang tak biasa. Ada sesuatu dalam cara Alana bergerak begitu tenang, teliti, dan seolah-olah seluruh dunia di sekitarnya runtuh pun ia tidak akan peduli selama kuas dan bahannya masih ada di tangan. Ketidakpedulian Alana terhadap kemewahan galeri itulah yang justru memicu desiran aneh di dada Revan.
Bukan sekadar ketertarikan fisik biasa. Ini adalah dorongan kepemilikan mendadak yang merayap cepat seperti racun. Revan biasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan perusahaan, pengaruh, hingga manusia. Dan saat melihat Alana, sebuah suara berbisik di dalam kepalanya “Wanita itu milikku”
Tanpa membuang waktu, Revan melangkah mendekat. Sepatu kulitnya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal galeri. Ia memangkas jarak di antara mereka, mengabaikan beberapa kolega bisnis yang mencoba menyapanya di sepanjang jalan.
"Lukisan itu membutuhkan pemulihan pada bagian sudut kanan bawah. Kanvasnya sudah terlalu rapuh untuk menahan berat cat minyaknya," Suara bass yang dalam dan berat itu memecah konsentrasi Alana secara mendadak.
Alana tersentak kaget. Ia melangkah mundur satu pijakan untuk memberi jarak, refleks memegang dada tempat jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Saat ia menoleh, pandangannya langsung membentur dada tegap seorang pria berjas gelap. Ia mendongak, menyusuri garis rahang tegas dan sepasang mata legam yang memancarkan kekuasaan mutlak.
Alana mengenali wajah itu dari papan apresiasi dan brosur pameran. Pria di hadapannya adalah penyokong tunggal yang membiayai pameran ini.
"Tuan... Revan?" ujar Alana ragu, suaranya pelan dan mengalun indah di telinga Revan.
"Kau mengenalku," bibir Revan terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. Pandangannya bergerak perlahan, menelusuri setiap inci wajah Alana dari kening, mata cokelat beningnya, turun ke hidung, dan berhenti di bibirnya yang sedikit terbuka. Gesturnya begitu dominan, berdiri hanya berjarak beberapa sentimeter hingga Alana bisa mencium aroma sandalwood yang mahal dari tubuh pria itu. "Bagus. Karena mulai malam ini, Alana, kau akan sering melihatku."
Alana merasa bulu kuduknya meremang. Atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa mencekam. Ia berusaha menekan rasa ragunya dan bersikap profesional.
"Ah, ya. Suatu kehormatan bagi Galeri Artoria memiliki donatur seperti Anda, Tuan Revan. Dan mengenai pengamatan Anda tadi, Anda benar. Bagian sudut kanan bawah memang mengalami degradasi struktur. Saya sedang menghitung tingkat kelembapannya sebelum melakukan konsolidasi," jelas Alana, mencoba mengalihkan fokus kembali ke pekerjaan.
"Aku tidak sedang membicarakan lukisan itu," potong Revan cepat. Suaranya datar, namun sarat akan intimikasi. Ia melangkah satu tapak lagi ke depan, memotong ruang gerak Alana hingga punggung wanita itu hampir menyentuh dinding pembatas area restorasi. "Aku sedang membicarakan mu."
Alana mengerutkan kening, rasa tidak nyaman berganti menjadi kewaspadaan penuh. "Maaf? Saya tidak mengerti."
"Aku sudah mengamatimu sejak satu jam lalu," Revan mengabaikan pertanyaan Alana. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jemarinya seolah hendak menyentuh helai rambut Alana yang lolos dari sanggul, namun ia menahannya di udara hanya beberapa milimeter dari kulit pipi Alana. "Cara jemarimu menyentuh kayu tua itu begitu lembut, sangat hati-hati. Seolah-olah kau takut membuatnya tergores sedikit saja."
Napas Alana tertahan. Jantungnya berdegup makin kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena naluri alamiahnya memberi sinyal bahaya. Tatapan Revan bukan tatapan pria yang sedang merayu itu adalah tatapan seorang predator yang telah mengunci mangsanya.
"Itu, sudah menjadi kewajiban saya sebagai restorer, Tuan," balas Alana dengan suara yang diusahakan setenang mungkin meski tangannya di balik gaun mulai gemetar. "Setiap karya seni yang rapuh berhak mendapatkan perlindungan terbaik."
"Tepat sekali," bisik Revan, suaranya bertambah serak. Ia menurunkan tangannya perlahan, tetapi matanya tetap mengikat mata Alana tanpa ampun. "Dan perlindungan terbaik hanya bisa diberikan oleh seseorang yang memiliki kontrol penuh. Di tempat yang benar-benar aman."
Kata-kata Revan menggantung di udara malam, dingin dan penuh teka-teki yang mengancam. Di dalam kepalanya, Revan merasakan sensasi kepemilikan yang makin liar. Ia ingin menarik wanita ini keluar dari galeri, membawanya ke tempat terasing di mana tidak ada seorang pun yang bisa melihat atau menyentuhnya selain dirinya.
"Alana!"
Suara panggilan dari sudut aula memecah ketegangan tebal di antara mereka. Reza, seorang kurator muda sekaligus rekan kerja Alana, berjalan tergesa-gesa mendekat dengan raut wajah khawatir.
Alana mengembuskan napas lega yang ditahannya sejak tadi. Kehadiran Reza terasa seperti tali penyelamat yang diulurkan ke tengah lautan api. "Ya, Reza? Ada apa?"
Revan perlahan menoleh. Sorot matanya yang hangat oleh obsesi seketika berubah menjadi tatapan membunuh saat melihat Reza. Ia sangat membenci gangguan ini.
Reza berhenti di samping Alana, merasa canggung dan tertekan oleh aura membakar yang dipancarkan Revan. "Maaf mengganggu, Tuan Revan. Alana, Direktur Galeri ingin bertemu denganmu sekarang di ruangannya. Ini terkait jadwal pengerjaan restorasi koleksi dinasti Ming yang harus dipresentasikan besok."
"Tentu, saya akan segera ke sana," sahut Alana cepat, tanpa berpikir dua kali. Ia lalu menatap Revan, berusaha memberikan anggukan formal untuk menjaga kesopanan. "Permisi, Tuan Revan. Terima kasih atas perhatian Anda pada karya di galeri ini."
Alana segera berbalik dan berjalan cepat mendampingi Reza. Ia tidak berani memalingkan wajahnya ke belakang, meski ia bisa merasakan punggungnya seolah ditusuk oleh tatapan tajam Revan.
Revan tetap berdiri kaku di tempatnya. Matanya terus mengawal setiap langkah kaki Alana yang makin menjauh, hingga gaun zamrud itu hilang di balik pintu kayu tebal ruang direksi.
"Tuan?"
Ambar, asisten pribadi Revan yang berdiri menjaga jarak sejak awal, mendekat dengan langkah senyap. "Jadwal pameran sudah selesai. Mobil sudah disiapkan di pintu depan jika Anda ingin menuju lokasi gala dinner bersama para investor."
Revan tidak menjawab. Jemari tangannya yang mengepal ketat perlahan merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel enkripsi khusus, mem bukanya, lalu mengetik satu nama di memo pribadi.
Alana Vance.
Setelah menyimpan ponselnya kembali, Revan berbalik menatap Ambar. Wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi, bagaikan patung es.
"Batalkan gala dinner malam ini," perintah Revan, suaranya sangat tenang namun membawa perintah mutlak.
Ambar terkejut, namun tetap menjaga profesionalitasnya. "Baik, Tuan. Ada hal lain?"
"Cari tahu segalanya tentang wanita itu," sambung Revan sambil menunjuk ke arah koridor yang dilewati Alana tadi. "Aku ingin seluruh riwayat hidupnya. Alamat apartemennya, nomor telepon, rutinitas harian, siapa saja keluarga dan temannya, hingga hal terkecil yang ia sukai dan takuti. Laporan lengkap harus ada di mejaku besok pagi tepat pukul lima."
Ambar mengangguk tegas. "Diterima, Tuan. Akan saya selesaikan malam ini juga."
Revan kembali melangkah menuju dinding restorasi. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan bingkai kayu tua di titik yang persis sama dengan tempat jemari Alana berada beberapa menit lalu. Ia memejamkan mata, merasakan sisa kehangatan yang seolah-olah tertinggal di sana.
"Kau bisa berlari malam ini, Alana," bisik Revan pada hampa udara di hadapannya, sebuah senyum gelap dan posesif akhirnya terukir di bibirnya. "Tetapi mulai esok hari, kau tidak akan pernah bisa bersembunyi lagi dariku.”
