Bab 05 : Masih Bertemu
Bab 05 : Masih Bertemu
Sebuah senyum tipis yang sopan terukir di wajahnya yang tampan.
"Tuan Revan?" bisik Alana, suaranya tertahan di kerongkongan. Seluruh naluri bertahannya seketika siaga takut-takut nanti Revan akan berbuat jahat terhadapnya. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
Revan terkekeh pelan, sebuah tawa ringan yang terdengar begitu santai dan menyenangkan, seolah-olah tidak ada beban atau niat tersembunyi di dalamnya. Ia menunjukkan cangkir kopi karton dengan logo kedai yang sama di tangan.
"Aku sedang ada pertemuan singkat dengan salah satu investor proyek di gedung sebelah lima belas menit lagi," kata Revan dengan nada santai. "Aku melihat kedai kecil ini dari luar dan memutuskan untuk mencoba Americano mereka, dan sungguh tidak aku sangka akan bertemu denganmu di sudut ini, Alana."
Alana menatap pria itu dengan pandangan yang sarat akan kecurigaan dan kewaspadaan yang tinggi. Bagaimana Alana tidak menari curiga jika Revan secara terang-terangan seperti melakukan teror terhadapnya. Kebetulan? Di kedai langganannya? Pada jam yang persis sama saat Alana selalu membeli kopi?
"Anda tahu saya sering ke kedai ini?" tanya Alana langsung, menatap lurus ke dalam mata Revan, menolak untuk menunjukkan ketakutannya.
Revan sedikit mengerutkan keningnya, merespons tuduhan itu dengan ekspresi terkejut dan bingung yang dieksekusi dengan sangat sempurna. Tidak ada sedikit pun keraguan di raut wajahnya. Babakan jika orang lain yang melihat akan mengira jika Revan tidak tau apapun tetapi bagi Alana semua itu hanya tipuan saja.
"Tahu dari mana?" tanya Revan balik dengan nada penuh rasa ingin tahu yang polos. "Ini mungkin kedua kalinya aku melangkahkan kaki ke tempat ini. Ada apa, Alana? Wajahmu tegang sekali. Apakah kehadiranku mengganggu kenyamananmu?"
Sikap Revan yang begitu tenang, dewasa, dan tampak sama sekali tidak merasa bersalah membuat tembok kecurigaan Alana mulai goyah. Pikiran Alana berputar cepat karena ini kedua kalinya Revan datang ke kedai ini,mungkin saja kan Revan tau jika ini adalah tempat langganan Alana.
Apakah Alana sudah gila? Apakah ketakutan Alana selama beberapa hari terakhir telah membuatku menjadi paranoid? Apakah suara di telepon kemarin benar-benar Revan, atau cuma orang gila yang memanfaatkannya?
"Maafkan saya," ujar Alana akhirnya, menundukkan pandangannya ke arah meja. Ia merasa malu atas reaksi defensifnya yang terlalu mencolok. "Saya hanya sedang sedikit tidak tenang beberapa hari ini."
Revan menatapnya dengan raut wajah yang perlahan berubah menjadi penuh simpati. "Bolehkah aku duduk sebentar?" tanyanya dengan nada memohon yang sangat sopan, tetap berdiri tegak tanpa mencoba mengambil alih ketenangan Alana sebelum mendapatkan izin. "Hanya lima menit, sampai kopi panas ini sedikit mereda. Aku tidak ingin mengganggu waktumu."
Alana terdiam cukup lama, mungkin hanya pikiran negatif nya saja yang salah mengira Revan adalah orang jahat, tetapi setelah beberapa hari yang Alana lewati justru Alana yakin Revan tidak sebaik itu. Tetapi melihat Revan sangat sopan dan sangat berbeda dari beberapa hari yang lalu mungkin Revan sudah menyadari kesalahan dirinya yang terlihat seperti orang jahat saat ingin berteman dengan orang lain.
Mungkin cara berpikir orang kaya sangat istimewa.
Alana ragu sejenak. Namun melihat suasana kedai yang hangat dan ramah, serta sikap Revan yang sangat menghormatinya di depan umum, rasanya sangat tidak sopan jika ia menolak. "Silakan, Tuan Revan."
Revan mengangguk penuh rasa terima kasih lalu menarik kursi kayu di seberangnya dengan gerakan pelan. Ia duduk, meletakkan cangkirnya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Pandangannya menatap lembut ke arah Alana.
"Kamu terlihat sangat lelah, Alana," kata Revan, suaranya melunak, membawa getaran hangat yang anehnya terasa menenangkan. Alana perasa perasaan yang hangat saat Revan berkata dengan suara yang lebih lembut, beda lagi jika mendengar suara Revan seperti tempo hari membuat jantung Alana berdetak cepat.
"Lingkaran hitam di bawah matamu itu apakah beban kerja restorasi lukisan di galeri terlalu menyita energimu?"
Alana menatap mata legam pria itu, mencoba mencari celah kebohongan atau kilatan kegilaan yang ia rasakan beberapa hari lalu. Namun yang ia temukan hanyalah perhatian tulus seorang pria mapan yang mengkhawatirkan kondisinya.
Atau Revan memiliki kepribadian ganda, penyakit yang membuat sikap seseorang bisa berubah kapanpun saat dirinya merasa terancam.
"Bukan masalah pekerjaan di galeri, Tuan," sahut Alana pelan, mengaduk-aduk kopinya secara tak sadar. "Hanya ada beberapa urusan pribadi yang cukup menguras pikiran saya."
