Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 02 : Jejak Langkah Pertama

Bab 02 : Jejak Langkah Pertama

Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menembus tirai tipis di ruang kerja pribadi Revan di lantai paling atas penthouse miliknya. Suasana ruangan itu senyap, hanya dihiasi detik jam dinding kuno dan denting pelan cangkir porselen tempat Revan menyesap kopi hitamnya.

Di atas meja kayu mahoni yang luas, terhampar sebuah map kulit berwarna coklat tua tanpa label. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas tebal hasil kerja keras tim penyelidik swasta terbaik yang disewa Ambar atas perintahnya kemarin malam.

Revan menatap lembaran-lembaran itu dengan jemari yang teratur mengetuk permukaan meja.

"Semua informasi tertera di sana, Tuan," ujar Ambar, berdiri tegak dalam posisi siap di depan meja. "Data pribadi, riwayat pendidikan, rekam medis, mutasi rekening bank, hingga daftar belanja bulanan Alana Vance. Tidak ada satu detail pun yang terlewat."

Revan menarik map itu mendekat. Matanya yang dingin berkilat saat membaca baris demi baris informasi yang tertera.

Nama Lengkap: Alana Vance

Usia:26 Tahun

Alamat:Apartemen Anggrek, Lantai 5, No. 504 (Sewa bulanan)

Rutinitas Pagi: Meninggalkan apartemen pukul 07.15 WIB, berjalan kaki dua blok ke Kedai Kopi 'Kenangan', memesan oat milk latte tanpa gula, lalu naik bus jalur 4B menuju Galeri Artoria.

Riwayat Masa Lalu: Yatim piatu sejak usia 18 tahun (Kecelakaan lalu lintas orang tua). Hidup mandiri dengan beasiswa pendidikan restorasi seni di Florence, Italia.

Revan menghentikan gerakan jemarinya pada sebuah foto cetak berukuran kecil yang terselip di halaman ketiga. Foto itu diambil secara diam-diam beberapa hari lalu dari kejauhan. Di dalam foto, Alana terlihat sedang tertawa kecil sambil memegang cangkir kopi di bawah naungan pohon kedai kopi langganannya.

Tatapan Revan merubah lembut sejenak, sebelum akhirnya mengeras kembali oleh dorongan posesif yang mendalam.

"Kedai Kopi Kenangan" bisik Revan, menyebut nama tempat itu seolah-olah sedang merapalkan mantra. "Pukul 07.20 pagi."

"Benar, Tuan," sahut Ambar. "Setiap hari kerja, tanpa pernah absen. Dan mengenai kerabat dekatnya, selain rekan-rekan di galeri, ia hanya rutin berkomunikasi dengan Reza Pratama, kurator muda yang semalam menyapa Anda."

Mendengar nama Reza, cengkeraman Revan pada pinggiran map kulit itu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Kertas di bawah tangannya sedikit terlipat.

"Reza Arran Morenzo," ujar Revan, suaranya turun satu oktaf, sarat dengan bahaya. "Seberapa jauh hubungan mereka?"

Ambar berdehem pelan, berhati-hati memilih kata. "Mereka berteman sejak masa kuliah di jurusan Seni Rupa. Berdasarkan pemantauan panggilan dan pesan, tidak ada tanda-tanda hubungan romantis yang mengikat. Namun, Reza kerap mendatangi apartemen Miss Vance pada akhir pekan untuk membawakannya makanan atau sekadar mengobrol."

Revan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kulit. Ia memejamkan mata membayangkan pria lain berada di dalam ruang pribadi Alana, menghirup udara yang sama, melihat senyum yang sama. Pikiran itu membakar sesuatu di dalam dadanya sebuah rasa cemburu yang tidak rasional, namun sangat dahsyat.

"Itu harus di hentikan," kata Revan tenang, namun nada bicaranya tidak menerima bantahan. "Pengaruh pria itu di kehidupan Alana harus perlahan-lahan di hilangkan."

"Apakah Anda ingin saya memberikan 'peringatan' kepada Tuan Reza, Tuan?" tanya Ambar langsung.

"Belum," jawab Revan sambil membuka matanya kembali. Sorot matanya kini fokus dan penuh perhitungan. "Alana adalah wanita yang cerdas dan bersikap waspada. Jika terjadi hal yang terlalu mencolok pada kawan dekatnya, ia akan curiga dan menarik diri. Kita akan melakukannya secara halus. Mulai dari karirnya di galeri."

Revan berdiri dari kursinya, merapikan kemeja putihnya yang menyapu tubuhnya dengan sempurna. Ia mengambil foto Alana dari atas meja dan memasukkannya ke dalam saku dalam jas hitamnya.

"Siapkan mobil," perintah Revan.

"Tuan? Jadwal Anda pagi ini adalah rapat direksi bersama para investor utama pada pukul delapan," Ambar mengingatkan dengan hati-hati.

Revan menoleh, menatap asistennya dengan pandangan yang membuat Ambar menundukkan kepala seketika. "Mundurkan rapat itu ke jam sepuluh. Pagi ini, aku punya urusan yang jauh lebih penting."

Pukul 07.15 WIB.

Udara pagi masih terasa dingin dan berselimut kabut tipis ketika Alana keluar dari pintu utama bangunan apartemen tuanya. Ia membenahi selendang rajut yang melingkari lehernya, menarik napas dalam-dalam untuk menyegarkan pikirannya yang masih terbayang-bayang oleh kejadian aneh semalam di galeri.

Tatapan Tuan Revan, cara pria itu berdiri terlalu dekat dengannya. kata-kata yang tersirat makna intimidasi itu, semuanya terus berputar di kepala Alana sepanjang malam hingga membuatnya sulit tidur.

"Hanya gertakan orang kaya yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau," gumam Alana pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. "Dia hanya donatur. Setelah pameran selesai, aku tidak akan bertemu dengannya lagi."

Alana melangkah menyusuri trotoar yang mulai ramai oleh pejalan kaki. Sesuai rutinitasnya, ia berjalan dua blok menuju kedai kopi kecil bernuansa kayu di sudut jalan, tempat favoritnya untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Saat melangkah masuk ke kedai kopi, lonceng di atas pintu berdentang nyaring. Aroma biji kopi sangrai dan vanila langsung menyapa indra penciumannya.

"Pagi, Alana! Oat milk latte seperti biasa?" sapa barista di balik meja kasir dengan ramah.

Alana tersenyum hangat senyum tulus pertama yang menghiasi wajahnya pagi ini. "Pagi, Mas. Iya, seperti biasa ya. Tanpa gula."

Ia berjalan menuju meja kayu di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan. Alana duduk di sana, mengeluarkan buku catatan kecil dan pena dari tasnya untuk mencatat daftar bahan kimia restorasi yang perlu ia beli sore nanti.

Namun, hanya beberapa menit kemudian, lonceng pintu kedai berdentang kembali.

Suasana kedai yang tadinya riuh rendah oleh obrolan santai pelanggan mendadak menghening secara tidak wajar. Alana yang sedang fokus menulis refleks mendongakkan kepala, merasa ada perubahan energi yang aneh di ruangan itu.

Dan saat itulah, nafasnya seolah terhenti di tenggorokan.

Di ambang pintu kedai kopi yang sederhana itu, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas mahal yang sangat tidak pas dengan atmosfer kedai rakyat ini. Pria itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dengan tenang, sebelum akhirnya matanya yang legam menemukan sosok Alana di sudut jendela.

Revan.

Senyum tipis yang mematikan terukir di bibir pria itu saat ia mulai melangkah mendekati meja Alana dengan gerakan tenang bagaikan pemangsa yang santai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel