#####Bab 4
Bistecca Steak
Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti dengan sempurna di area parkir Bistecca. Sella menatap gedung restoran yang tampak megah dengan pencahayaan temaram yang elegan dari balik jendela.
Begitu pintu mobil dibukakan oleh sang sopir, Sella melangkah keluar dengan anggun. Gaunnya yang cantik dan penampilannya yang elegan seolah menyatu dengan atmosfer mewah kawasan SCBD malam itu. Ia berjalan perlahan menuju pintu masuk, meninggalkan jejak aroma parfum vanila yang lembut di udara yang sejuk.
Di dalam, seorang pelayan menyambutnya dengan ramah. "Selamat malam, Nona. Mari, Tuan Baskoro sudah menunggu Anda di meja reservasi."
Sella mengangguk kecil, mengikuti langkah pelayan itu menyusuri interior restoran yang berkelas. Pandangannya langsung tertuju pada satu meja di sudut yang lebih privat, di mana Baskoro sudah duduk menantinya. Begitu menyadari kehadiran Sella, Baskoro segera bangkit dari kursinya, menatap takjub pada sosok di hadapannya yang tampak begitu memukau malam ini.
"Selamat malam, Tuan Baskoro," sapa Sella lembut, tetap mempertahankan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
Suaranya yang tenang mengalun di antara denting alat makan dan musik jazz instrumental yang mengalun pelan di dalam Bistecca. Penampilannya yang sangat cantik di bawah pendar lampu temaram restoran membuat Baskoro sejenak tertegun, seolah terpaku pada pesona yang dipancarkan gadis di hadapannya itu.
Baskoro membalas senyuman itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan kepuasan. Ia segera menarikkan kursi untuk Sella dengan gerakan yang sangat sopan.
"Selamat malam, Sella. Silakan duduk," jawab Baskoro dengan nada suara yang berat namun ramah. "Kamu tampak luar biasa malam ini. Aroma vanila ini... benar-benar ciri khasmu, bukan?"
Sella hanya membalas dengan anggukan kecil yang anggun saat ia memposisikan dirinya di kursi empuk tersebut. Di atas meja, lilin kecil yang menyala menciptakan bayangan halus di wajahnya, menambah kesan elegan yang sedari tadi ia bawa sejak keluar dari kamar kosnya.
Malam yang dinantikan itu pun dimulai, tepat di hadapan laki-laki yang sudah menyiapkan segalanya untuk Sella.
Suasana di sudut privat Bistecca itu terasa semakin intens. Sella duduk di samping Baskoro, posisi yang sengaja dipilih agar jarak di antara mereka terkikis habis. Di bawah pendar lampu restoran yang temaram, netra Baskoro tidak putus menatap dan mengagumi gadis muda yang kini menjadi simpanannya itu.
Penampilan Sella malam ini benar-benar menyihir indranya. Sambil menunggu pesanan makanan mereka tiba, Baskoro menyesap minumannya pelan tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik Sella.
Tangan Baskoro kemudian bergerak turun, mendarat di atas paha Sella yang tertutup kain gaun elegannya. Ia mulai mengelus paha itu dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh kepemilikan. Sella tetap mempertahankan senyum manisnya, meski sentuhan itu memberikan sensasi desiran yang tertahan di tengah keramaian restoran mewah tersebut.
Baskoro mendekatkan wajahnya sedikit ke arah telinga Sella, membisikkan sesuatu dengan suara berat yang hanya bisa didengar oleh gadis itu, sementara jemarinya masih terus menari pelan di sana.
"Kamu cantik. Sangat cantik. Gaun itu pas buat kamu" puji Baskoro sambil menghirup aroma wangi tubuh Sella
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Aroma menggoda dari steak premium yang baru saja matang segera memenuhi udara, bersaing dengan keharuman vanila yang sedari tadi menguar dari tubuh Sella. Pelayan meletakkan piring-piring porselen itu dengan gerakan sangat hati-hati dan profesional, memastikan setiap detail penyajian tampak sempurna di hadapan mereka.
Baskoro akhirnya menarik tangannya dari paha Sella, memberikan ruang bagi gadis itu untuk mulai menikmati hidangannya. Meski tangannya sudah berpindah, tatapan matanya tetap tidak lepas dari Sella, seolah makanan mewah di depannya tidak lebih menarik dibandingkan sosok gadis muda yang duduk di sampingnya.
Sella meraih pisau dan garpu dengan gerakan yang tetap tenang dan elegan. Ia mulai memotong dagingnya perlahan, mencoba mengabaikan intensitas tatapan Baskoro yang seolah ingin menguliti setiap gerak-geriknya. Di tengah suasana restoran yang eksklusif ini, denting halus alat makan mereka menjadi satu-satunya pengisi keheningan yang terasa semakin pekat dan penuh rahasia.
Setelah suapan terakhir tandas, suasana di meja itu mendadak berubah menjadi lebih berat. Baskoro meletakkan garpu dan pisaunya dengan perlahan di atas piring porselen yang kini telah kosong. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur yang sangat dominan.
Pandangannya yang tajam kembali tertuju pada Sella yang duduk tepat di sampingnya. Sella baru saja hendak menyesap minumannya untuk terakhir kali saat ia merasakan aura Baskoro menjadi jauh lebih serius daripada sebelumnya.
"Sella," panggil Baskoro dengan suara rendah yang menggetarkan udara di antara mereka.
Sella menoleh, menatap netra laki-laki itu dengan senyum manis yang masih ia pertahankan, meski ada rasa penasaran yang mulai merayap di dadanya.
"Menikah denganku. Aku ingin menjadikanmu istri keduaku," ucap Baskoro dengan lugas tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nadanya.
Kalimat itu menggantung di udara, membungkam musik jazz yang mengalun samar di latar belakang restoran Bistecca. Senyum di bibir Sella sempat membeku sejenak. Ia tahu hubungan mereka selama ini memang bukan sekadar pertemuan biasa, namun mendengar kata "istri kedua" keluar langsung dari mulut Baskoro setelah makan malam yang tenang ini, membuat jantungnya berdegup dengan irama yang jauh lebih cepat.
Sella tertegun. Gelas kristal yang baru saja ia sentuh terasa dingin di jemarinya, namun tidak sedingin kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Baskoro. Senyum manis yang sejak tadi ia paksakan kini perlahan luntur, menyisakan gurat kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik ketenangan palsu.
Menjadi istri kedua? Itu adalah hal terakhir yang pernah terlintas dalam benaknya.
Selama ini, Sella sudah cukup menelan pahitnya kenyataan sebagai wanita simpanan. Sebuah peran yang ia ambil bukan karena cinta yang menggebu, apalagi ambisi untuk merusak rumah tangga orang lain. Ia melakukannya karena terpaksa, karena keadaan yang menjepitnya hingga tak punya pilihan selain menerima uluran tangan Baskoro yang beracun namun menyelamatkan finansialnya.
"Menikah?" suara Sella nyaris berbisik, tenggelam dalam riuh rendah suara pengunjung restoran Bistecca yang lain.
Ia menunduk, menghindari tatapan tajam Baskoro yang seolah sedang mengklaim hak milik atas dirinya. Menjadi simpanan saja sudah membuatnya merasa kehilangan harga diri setiap kali melihat bayangannya sendiri di cermin, apalagi jika harus meresmikan ikatan itu sebagai istri kedua—sebuah status yang akan mengikatnya selamanya dalam bayang-bayang istri sah laki-laki itu.
Baskoro kembali mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Sella yang gemetar di atas meja. "Saya serius. Saya akan memberikan segalanya, Sella. Kehidupan yang jauh lebih baik dari sekadar di kosan itu. Kamu hanya perlu setuju."
Sella tetap bungkam. Di kepalanya, tiba-tiba bayangan Arka muncul. Entah kenapa dia malah kepikiran dengan penghuni kos sebelah kamar nya itu.
"Hei...kenapa diam?" sentak Baskoro membuat Sella sampai menelan ludahnya
"Akan saya pikirkan nanti, Tuan," jawab Sella dengan nada yang tetap lembut, seolah memberikan harapan yang menggantung. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat manis di mata Baskoro, meskipun di balik itu, jantungnya berdegup karena kecemasan yang tertahan.
Sebenarnya, itu hanyalah caranya untuk menolak secara halus. Sella tahu betul posisi dan kekuasaan laki-laki di sampingnya ini; menolak secara mentah-mentah di tempat umum seperti ini bukanlah pilihan yang bijak. Ia tidak pernah sudi terikat selamanya dengan pria tua yang hanya menjadikannya pemuas ego itu.
Niat Sella sudah bulat. Selama ini, ia hanya bertahan dalam sangkar emas ini karena keterpaksaan keadaan. Begitu ijazah kuliah sudah di tangan dan pendidikan formalnya tuntas, Sella berencana untuk pergi sejauh mungkin dari jangkauan Baskoro. Ia ingin menghilang, mengganti identitas jika perlu, dan memulai hidup baru yang benar-benar bersih tanpa bayang-bayang status sebagai wanita simpanan.
Baskoro mengangguk perlahan, tampak puas dengan jawaban diplomatis Sella. Ia kembali mengusap punggung tangan Sella dengan penuh keyakinan. "Jangan terlalu lama berpikir, Sella. Kesabaran saya ada batasnya, tapi kemurahan hati saya jauh lebih besar jika kamu menurut."
Sella hanya mengangguk kecil, mencoba menelan rasa pahit yang mendadak muncul di pangkal tenggorokannya. Di restoran mewah ini, di tengah hidangan steak premium dan alunan musik kelas atas, Sella merasa lebih terasing daripada saat ia sendirian di kamar kosnya yang sempit. Ia merindukan kebebasan. Dia benci dengan situasi ini. Terjebak dalam negoisasi masa depan yang tidak pernah ia inginkan.
