Pustaka
Bahasa Indonesia

Desahan Di Kamar Kos

27.0K · Ongoing
BeePoo
19
Bab
279
View
9.0
Rating

Ringkasan

Sella menjalani hidup dalam sangkar emas yang pengap. Sebagai simpanan seorang pria berkuasa yang terpaut usia jauh darinya, sebuah kamar kos sederhana adalah satu-satunya "ruang aman" baginya untuk bernapas—sekaligus tempat rahasia untuk menemui sang tuan setiap kali gairah memanggil. Namun, segalanya berubah sejak kedatangan Arka, penghuni baru di kamar sebelah. Arka adalah pria muda misterius yang memilih hidup serabutan sebagai driver ojek online demi lari dari kemewahan keluarganya yang menyesakkan. Ketidaksengajaan di lorong sempit kos-kosan membawa keduanya pada kedekatan yang berbahaya. Bagi Sella, Arka adalah cinta tulus yang tak pernah ia miliki. Bagi Arka, Sella adalah alasan untuk berhenti melarikan diri. Tanpa mereka sadari, takdir sedang memainkan lelucon yang kejam. Saat Sella mulai berani memimpikan masa depan bersama Arka, sebuah kebenaran pahit meledak tepat di depan pintu kamar kos mereka: Pria tua yang selama ini menyentuh Sella dengan penuh otoritas adalah ayah kandung Arka. Di kamar kos yang sempit itu, jeritan hati dan desahan rahasia kini berubah menjadi pilihan yang mematikan. Akankah Arka tetap menggenggam tangan wanita yang telah "dinodai" oleh ayahnya sendiri? Atau Sella harus kembali terkunci dalam sangkar emas, kali ini dengan luka yang lebih dalam?

RomansaBillionaireDewasaPerselingkuhanCinta Pertama

##### Bab 1

Malam itu, hujan turun membasuh debu di aspal Jakarta yang gerah. Arka menyeret kopernya melewati gang-gang sempit, menjauh dari lampu kristal dan perdebatan dingin soal saham yang dibungkus dengan kata "perjodohan". Baginya, kenyamanan rumah megah itu tak lebih dari penjara emas yang mencekik napasnya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan dua lantai. Kos-kosan itu sederhana, namun cat putihnya masih cerah dan lantai terasnya mengkilap bersih—kontras dengan stigma kumuh yang biasa menempel pada hunian murah di sudut kota. Di sanalah, di bawah temaram lampu teras lantai satu, Arka pertama kali melihatnya.

Seorang gadis berdiri di sana, sedang merapikan beberapa pot tanaman kecil. Namanya Sella. Rambutnya dibiarkan terurai, membingkai wajah cantiknya yang tampak tenang namun menyimpan misteri di balik sorot matanya yang teduh. Saat pandangan mereka bertemu, jantung Arka berdegup dengan ritme yang tak biasa. Ada magnet yang kuat, sebuah ketertarikan instan yang membuat Arka lupa pada amarahnya terhadap keluarga.

"Cari kamar kosong, Mas?" suara Sella lembut, memecah keheningan malam.

Arka terpaku. Dalam sekejap, ia merasa telah menemukan oase di tengah pelariannya. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mempermainkannya dengan sangat kejam.

Di balik kesederhanaan kos itu, Sella adalah "permata" yang disembunyikan dalam kemewahan terlarang. Ia adalah simpanan dari seorang pria tua berkuasa yang membiayai segala kenyamanannya. Pria yang setiap akhir pekan mengirimkan mobil mewah untuk menjemputnya.

Pria yang dipanggil Arka dengan sebutan: Papa.

Tanpa disadari, pelarian Arka justru membawanya masuk ke dalam jaring yang lebih rumit, di mana cinta dan pengkhianatan hanya dibatasi oleh satu nama yang sama.

Arka masih berdiri mematung, seolah kakinya tertanam di semen teras yang bersih itu. Aroma sabun pel yang segar dan wangi melati dari arah Sella membuat penat di kepalanya sedikit berkurang.

"Iya, Mbak. Apa ada kamar yang kosong di sini?" tanya Arka akhirnya, suaranya sedikit serak karena kelelahan menyeret koper.

Sella meletakkan alat siram kecilnya, lalu jemari lenturnya menunjuk ke arah sebuah bangunan satu lantai dengan cat dinding hijau cerah yang terletak beberapa puluh meter dari sana. "Harusnya sih ada, Mas. Coba Mas ke rumah itu."

Arka menoleh mengikuti arah telunjuk Sella, melihat rumah hijau yang tampak asri dengan pagar rendah. Ia kemudian kembali menatap Sella, seolah enggan memutus kontak mata yang baru saja tercipta.

"Itu rumahnya yang punya kos-kosan ini, Mas. Tanya langsung saja ke sana," ucap Sella lagi dengan nada bicara yang sopan namun tetap menjaga jarak.

"Oh... oke. Terima kasih informasinya," jawab Arka. Ia sempat ragu sejenak, ingin menanyakan hal lain agar bisa mengobrol lebih lama, namun ia sadar posisinya sekarang adalah buronan rumah megahnya sendiri.

"Sama-sama," Sella tersenyum tipis—tipe senyuman yang sopan namun menyimpan sejuta rahasia.

Arka pun berbalik, melangkah menuju rumah hijau tersebut. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana: ia harus tinggal di sini. Baginya, kesederhanaan tempat ini adalah tempat persembunyian yang sempurna dari koneksi bisnis papanya yang menggurita.

Arka tidak menyadari, bahwa pilihan untuk tinggal di sana justru akan membawanya berhadapan langsung dengan rahasia paling kelam milik ayahnya. Sella, gadis yang baru saja menunjukkan jalan padanya, adalah sosok yang setiap malam dikirimi pesan romantis oleh pria yang paling Arka hindari saat ini.

Arka melangkah mantap menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Suasana kos-kosan itu terasa tenang, hanya terdengar suara gesekan roda kopernya di atas lantai keramik yang bersih dan mengkilap. Pemilik rumah hijau tadi sempat berpesan agar ia menjaga ketenangan, sebuah aturan yang justru disukai Arka karena ia memang sedang ingin menghilang dari keramaian dunianya yang lama.

Genggaman tangannya mengerat pada sebuah kunci dengan gantungan nomor 14.

Sesampainya di selasar lantai dua, pandangannya langsung tertuju pada deretan pintu kayu yang tertata rapi. Meski sederhana, ventilasi udara di sini sangat baik, membuat udara malam yang sejuk masuk dengan leluasa.

Tepat saat ia hendak mencari pintu nomor 14, ia melihat Sella. Gadis itu sedang berdiri di depan salah satu kamar, seolah baru saja hendak masuk ke dalam. Sella menoleh, sedikit terkejut melihat Arka sudah kembali dengan kunci di tangannya.

"Jadi ambil di sini, Mas?" tanya Sella, suaranya terdengar jernih di antara sunyinya malam.

Arka mengangguk, menunjukkan kunci di tangannya sambil tersenyum tipis. "Iya, Mbak. Kebetulan masih ada satu yang kosong di lantai dua."

"Oh, kamar nomor 14 ya?" Sella menunjuk pintu yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. "Berarti kita tetangga. Saya di nomor 15."

Jantung Arka berdesir. Sebuah kebetulan yang terlalu manis untuk seorang pelarian seperti dirinya. Ia tidak menyangka akan tinggal tepat di sebelah gadis yang sejak tadi mencuri perhatiannya.

"Wah, kebetulan kalau begitu. Mohon bantuannya ya, tetangga," canda Arka, mencoba mencairkan suasana.

Sella tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar tulus namun entah mengapa terasa getir bagi siapa pun yang jeli mendengarnya. "Iya, Mas. Kalau butuh apa-apa atau bingung soal aturan di sini, tanya saja."

Arka memasukkan kunci ke lubang pintu nomor 14, memutarnya, dan perlahan mendorong pintu itu terbuka. Kamarnya cukup luas, harum, dan sangat terawat. Ia merasa telah membuat keputusan yang tepat.

Namun, saat Arka menutup pintunya, di kamar sebelah, Sella baru saja meletakkan ponselnya di atas meja. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari kontak bernama "Sugar Papa":

"Jangan lupa besok kita dinner. Orang suruhan saya akan menjemput kamu. Jadi dandan yang cantik. Sekalian ada yang ingin saya bahas sama kamu"

Membaca pesan dari Baskoro sontak mengubah raut wajah Sella yang tadi tenang berubah menjadi gelisah. Entah hal apa yang ingin di bahas pria tua itu padanya besok.

.

.

Keheningan koridor lantai dua yang hanya diterangi lampu neon temaram itu pecah oleh suara perut Arka yang keroncongan. Ia menyandarkan punggungnya di pagar pembatas, menatap layar ponselnya dengan putus asa. Aplikasi ojek online-nya masih menampilkan animasi "Mencari Driver", namun di jam dua pagi seperti ini, daerah perumahan itu sepi senyap.

"Gimana mau tidur kalau lapar begini?" keluh Arka pelan, mengusap wajahnya yang tampak lelah.

Ceklek.

Suara pintu yang terbuka dari kamar nomor 15 membuat Arka menoleh seketika. Sella melangkah keluar, tampak berbeda dari pertemuan mereka sore tadi. Ia mengenakan dress satin tipis berwarna krem yang jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, sisa dari posisi tidurnya yang terganggu karena desakan ingin ke kamar mandi.

Langkah Sella terhenti. Matanya yang masih sedikit mengantuk mengerjap saat menangkap sosok Arka yang berdiri mematung di lorong yang sunyi.

"Loh, Mas Arka ngapain di luar?" tanya Sella, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun tetap terdengar merdu di telinga Arka.

Arka sedikit salah tingkah, refleks memasukkan ponselnya ke saku celana. "Eh... itu, Mbak Sella. Kebangun, perut lapar banget tapi pesan makanan online nggak ada yang ambil."

Sella mengamati wajah Arka yang tampak melas, lalu ia terkekeh kecil sambil merapikan helaian rambut yang menutupi matanya. "Jam segini memang susah, Mas. Driver biasanya sudah pada melipir ke arah pusat kota atau malah sudah tidur."

"Iya, saya baru ingat dari siang belum masuk nasi," sahut Arka jujur, mencoba menahan malu.

Sella terdiam sejenak, menimbang sesuatu. "Kalau Mas nggak keberatan, saya masih punya sisa stok mi instan atau roti di kamar. Daripada nahan lapar sampai pagi, malah nggak bisa tidur nanti."

Arka terpaku. Di bawah cahaya lampu koridor yang kuning pucat, Sella tampak begitu bersinar. Ia tidak menyadari bahwa di dalam kamar yang baru saja ditinggalkan Sella, terdapat sebuah botol parfum pria mahal yang tertinggal di atas nakas—parfum yang aromanya sangat Arka kenali sebagai aroma khas ruang kerja papanya.

"Nggak merepotkan, Mbak?" tanya Arka ragu, meski dalam hati ia sangat berharap bantuan itu.

Sella menggeleng sambil tersenyum tipis. "Sama-sama penghuni lantai dua, harus saling bantu, kan? Tunggu sebentar ya, saya ke kamar mandi dulu."

Sella berlalu melewati Arka, meninggalkan jejak aroma vanila yang manis dan menenangkan, membuat Arka semakin merasa bahwa pelariannya ke kos-kosan nomor 14 ini adalah takdir yang paling indah—sekaligus yang paling berbahaya.

Sella kembali dari kamar mandi dan mendapati Arka masih berdiri di posisi yang sama, tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah di tengah lorong. Ia tersenyum tipis, lalu masuk ke kamarnya sebentar dan keluar membawa sebungkus mi instan varian goreng serta sebutir telur.

"Ini, Mas. Lumayan buat ganjal perut sampai pagi," ucap Sella sambil menyodorkan bungkusan plastik itu ke tangan Arka.

Arka menerima bungkusan itu dengan ragu. Ia menunduk, menatap kemasan plastik berwarna cerah di tangannya seolah sedang meneliti artefak kuno yang sangat asing. Ia membolak-balik bungkus mi itu berkali-kali, dahinya berkerut dalam.

"Terus... ini diapain, Mbak?" tanya Arka polos, suaranya terdengar sangat bingung.

Sella sempat tertegun, mengira Arka sedang bercanda. Namun, melihat sorot mata Arka yang tulus dan kebingungan yang nyata, Sella tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Maksudnya gimana, Mas? Ya dimasak, dong."

Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah karena malu. "Maksud saya... cara masaknya gimana? Apa langsung disiram air panas? Atau... gimana ya?"

Selama hidupnya di mansion mewah sang papa, Arka tidak pernah menginjakkan kaki di dapur untuk memasak. Jika ia lapar, ia hanya perlu menekan bel atau duduk di meja makan, dan makanan bintang lima akan tersaji di depannya. Baginya, dapur adalah wilayah asing yang dikuasai para pelayan.

Sella menatap Arka dengan tatapan heran sekaligus geli. Ia baru menyadari bahwa tetangga barunya ini bukan sekadar pemuda biasa yang sedang mencari kos murah. Ada aura kemewahan yang tidak bisa disembunyikan dari cara Arka membawa diri, meski kini ia hanya memakai kaos oblong biasa.

"Mas Arka... nggak pernah masak mi instan sebelumnya?" tanya Sella, memastikan.

Arka menggeleng pelan dengan wajah pasrah. "Biasanya ada yang... ah, sudahlah. Intinya saya nggak tahu harus mulai dari mana."

Sella menghela napas, namun matanya tetap memancarkan keramahan. "Ya sudah, sini bawa ke dapur umum di ujung lorong itu. Biar saya ajarkan cara 'bertahan hidup' paling dasar di kos-kosan ini."

Arka mengekor di belakang Sella menuju dapur umum yang bersih dan terawat. Ia memperhatikan bagaimana Sella dengan cekatan mengambil panci kecil dan menyalakan kompor gas—sesuatu yang bagi Arka terlihat seperti sebuah prosedur rumit.

"Lihat ya, Mas. Airnya harus mendidih dulu," jelas Sella sambil mengisi panci dengan air.

Di bawah lampu dapur yang remang-remang, Arka memperhatikan gerak-gerik Sella. Gadis itu tampak begitu ahli dan mandiri. Ia tidak tahu bahwa keterampilan Sella ini terasah karena ia harus hidup sendiri di kota besar, sementara Arka, papanya hanya memberikan kemewahan materi tanpa pernah hadir memberikan perhatian yang nyata.

"Mbak Sella baik banget," gumam Arka tanpa sadar, matanya masih menatap profil samping wajah Sella yang terkena cahaya kompor.

Sella hanya tersenyum samar, matanya tetap tertuju pada air yang mulai berbuih. "Di tempat seperti ini, kalau nggak saling bantu, kita nggak bakal bertahan, Mas. Oh iya, ngomong-ngomong jangan panggil mbak sama saya. Saya masih kuliah, dari segi usia mungkin lebih tua mas Arka. Panggil Sella aja" ucap Sella

"Ooh kamu masih kuliah. Semester berapa?" tanya Arka ingin tahu

"Semester akhir, Mas. Sebentar lagi lulus" jawab Sella sambil tersenyum kecil

Arka mengangguk mengerti. Keduanya kembali diam. Tampak Sella menyiapkan mi yang dimasaknya ke piring lalu memberikan piring itu pada Arka.

"Sudah, Mas. Silakan di makan. Saya tinggal tidur duluan ya, soalnya besok pagi masih harus ke kampus. Takut telat" pamit Sella

"Iya Sella...! Makasih ya sebelumnya" jawab Arka

Sella beranjak dari dapur umum menuju kamarnya. Arka pun menikmati mi goreng buatan Sella.

"Ternyata mi instant enak juga" batin Arka