##### Bab 3
Malam ini, pantulan di cermin seolah bukan lagi milik gadis yang biasanya berkutat dengan rutinitas. Sella berdiri mematung, memindai setiap detail penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gaun beludru hitam yang memeluk tubuhnya memberikan kesan elegan sekaligus misterius, sementara sapuan riasan tipis di wajahnya menonjolkan kecantikan yang tenang namun memikat.
Harum parfum vanila yang lembut mulai memenuhi kamar, menciptakan atmosfer yang sedikit mendebarkan. Sella memperbaiki letak anting-antingnya sekali lagi, memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang keluar dari tatanan simpel namun berkelas yang ia pilih.
Di atas meja rias, ponselnya menyala. Satu pesan singkat masuk dari Baskoro.
*“Lima menit lagi orang- orang saya akan sampai disana. Kamu sudah siap?”*
Sella menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Makan malam kali ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ada sesuatu dalam isi chat Baskoro kemarin yang menyiratkan bahwa malam ini sepertinya bukan makan malam biasa.
"Sella sudah siap, Tuan" balas Sella singkat
Sella mengambil tas kecilnya, melangkah perlahan keluar dari kamarnya. Dia menuruni tangga dengan hati-hati menyibakkan sedikit gaunnya ke atas agar tidak tersandung.
"Malam Sella" sapa Arka saat bertemu Sella di tangga bawah lantai dua
"Ehh mas Arka. Malam juga mas. Baru beli nasi mas?" tanya Sella saat melihat Arka menenteng plastik kecil berisi sebungkus nasi
"Iya ni. Tadi pesan dari ojek online. Ngomong-ngomong Sella mau kemana? Dandan rapi banget" tanya Arka kepo
"Dinner mas. Sella tinggal dulu ya" jawab Sella dan berpamitan
Langkah kaki Sella terdengar tegas, mengetuk lantai koridor yang sunyi dengan irama yang tenang namun dingin. Ia tidak menoleh lagi. Punggungnya yang tegak dibalut gaun elegan itu perlahan menjauh, menciptakan jarak yang kian lebar antara dirinya dan laki-laki yang masih berdiri mematung di sana.
Arka hanya bisa diam, seolah lidahnya kelu untuk memanggil nama itu sekali lagi. Namun, meski sosok Sella mulai mengecil di ujung lorong, keberadaannya tidak lantas hilang begitu saja. Udara di sekitar Arka seolah tertinggal; aroma parfum vanila yang manis dan lembut—aroma khas yang selalu melekat pada diri Sella—masih menggantung di sana, memenuhi rongga napasnya.
Aroma itu biasanya terasa hangat dan menenangkan, namun malam ini, wangi vanila itu terasa seperti sebuah salam perpisahan yang menyesakkan. Arka memejamkan mata, membiarkan aroma itu menyentuh ingatannya untuk terakhir kali sebelum akhirnya pudar tertiup angin malam, menyisakan kekosongan yang tidak mungkin lagi ia isi.
"Sepertinya Sella sudah memiliki kekasih" batin Arka lesu
Langkah kaki Arka terasa berat saat meniti satu per satu anak tangga menuju lantai atas. Tubuhnya lelah, namun pikirannya jauh lebih penat. Malam ini, keramaian kota terasa terlalu bising untuknya, sehingga ia memutuskan untuk melewatkan makan malam di luar dan lebih memilih menyendiri di kamar kosnya yang sempit.
Dengan sebungkus makanan di tangan, ia melangkah gontai menuju balkon kecil di depan kamarnya. Ia berharap semilir angin malam bisa sedikit mendinginkan kepalanya yang panas. Namun, baru saja ia hendak menarik kursi, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke area parkir di bawah.
Sebuah mobil sedan hitam mewah tampak terparkir tepat di depan gerbang kos. Kilat lampu jalan yang memantul di bodi mobil itu memberikan kesan dingin sekaligus dominan.
Tepat saat itu, pintu mobil terbuka. Arka terpaku ketika melihat sosok perempuan yang sangat ia kenali keluar dari lobi bawah dan melangkah anggun menuju kendaraan itu. Itu Sella. Penampilannya tampak jauh lebih bersinar dari biasanya, sangat kontras dengan suasana hatinya yang sedang meredup.
Arka hanya bisa berdiri membeku di balik pagar balkon, memerhatikan dengan dada yang berdenyut aneh saat Sella masuk ke dalam mobil tersebut. Mesin mobil menderu halus, lalu perlahan bergerak meninggalkan pelataran kos, membawa pergi Sella dan aroma vanila yang seolah masih tertinggal di indra penciuman Arka—meski kini jarak mereka telah membentang jauh.
Arka menatap hampa pada bungkusan makanan yang baru saja ia buka. Wangi gurih yang biasanya menggugah selera, kini justru terasa hambar di penciumannya. Ia mendesah berat, meletakkan sendok plastik itu begitu saja di atas meja balkon.
"Kenapa aku jadi nggak selera makan gini ya?" batin Arka seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Rasa sesak itu kembali menghimpit dadanya. Padahal tadi ia sudah dengan tegas menolak ajakan Revan untuk nongkrong dan makan besar di luar. Alibi Arka saat itu adalah lelah, namun jauh di lubuk hatinya, ia hanya ingin menghabiskan malam ini di kos, berharap bisa berpapasan atau mungkin duduk berdua dengan Sella di sela waktu santai mereka.
Namun, harapan itu pupus seketika saat ia melihat mobil hitam tadi meluncur pergi. Kecewa menyergapnya tanpa permisi. Ternyata, Sella sudah punya rencana sendiri—sebuah makan malam formal yang entah dilakukan dengan siapa.
Arka menyandarkan punggungnya pada tembok yang dingin, menatap langit malam yang tampak kosong. Di tengah sunyinya balkon, ia menyadari satu hal: ia bukan hanya kehilangan nafsu makan, tapi juga kehilangan arah untuk memahami posisinya di hidup gadis itu.
"Jemput gue," ucap Arka dingin ke arah sambungan telepon. Ya, dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Revan, temannya.
Di seberang sana, terdengar suara dengusan napas yang tidak senang. "Plin-plan amat lo, Ka. Tadi katanya kagak mau ikut makan di luar, sekarang malah minta jemput. Gaje!" sahut Revan ketus, merasa kesal melihat sikap temannya yang tiba-tiba berubah pikiran dalam waktu singkat.
Arka tidak berniat memberikan penjelasan panjang lebar. Pikirannya masih kacau setelah melihat Sella pergi dengan mobil hitam tadi.
"Cepet, ah... gue tunggu," balas Arka singkat sebelum akhirnya mematikan ponselnya.
Ia tidak peduli jika harus dianggap tidak jelas oleh Revan. Baginya, berdiam diri di balkon kamar hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Ia butuh pergi, butuh kebisingan, dan butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa kecewanya malam ini.
Lima belas menit kemudian, deru mesin mobil Revan terdengar berhenti tepat di depan gerbang.
"Woii, buruan!" teriak Revan dari balik kemudi, memecah kesunyian malam di sekitar area kos.
Arka yang memang sudah menunggu di teras kos sejak tadi segera berdiri. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menghampiri Revan dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ayo," ajak Arka singkat, bahkan sebelum ia sempat memasang sabuk pengaman dengan sempurna.
Revan mulai menjalankan mobilnya perlahan, membelah jalanan kota yang mulai lengang. "Warung bakso di Menteng. Gapapa, kan?" tanya Revan sambil fokus menyetir.
"Di mana aja bebas. Yang penting gue nggak di kos. Sumpek," jawab Arka ketus. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak mundur dengan tatapan kosong.
Revan mengernyitkan dahi, merasa ada yang aneh dengan sikap sahabatnya itu. "Dih, baru sehari tinggal di kos udah sumpek aja. Bukannya tadi siang lo bilang kalau kosan itu nyaman?" ucap Revan heran.
Arka terdiam sejenak, membayangkan kembali suasana balkon dan mobil hitam yang menjemput Sella tadi. "Nyaman sih, tapi emang pikiran gue aja yang lagi sumpek," sahut Arka pelan.
Mendengar itu, Revan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh tipis mencoba mencairkan suasana. "Besok dan seterusnya lo nggak bakal sumpek lagi, sumpah. Lo mulai sibuk, kan, narik ojek? Jadi nggak bakal diam di kamar kos seharian," sahut Revan meyakinkan.
Arka hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban. Benar, besok ia harus mulai bekerja. Mungkin dengan menyibukkan diri di jalanan, bayangan Sella dan aroma vanila itu bisa sedikit memudar dari kepalanya.
"Oh iya, surat-surat motor udah gue bawa. Tuh di dashboard. Simpen," ucap Revan tiba-tiba, teringat dengan motor yang akan dipakai Arka untuk menarik ojek besok.
Arka meraih dompet surat yang diletakkan Revan di sana. Ia tahu Revan memang bisa diandalkan. Tadi sore, sahabatnya itu sudah mengantarkan motor tersebut ke kosan setelah membawanya ke bengkel untuk memastikan semuanya aman tanpa kendala. Revan ingin memastikan motor itu dalam kondisi prima saat Arka mulai bekerja nanti. Hanya saja, karena terburu-buru, surat-surat kendaraannya lupa terbawa tadi sore.
"Sip, thanks ya," balas Arka singkat sambil memasukkan surat-surat itu ke dalam tas kecilnya.
"Santai. Pokoknya besok lo tinggal gas. Motor udah enak, surat lengkap. Enggak bakal ada drama mogok atau ditilang," sahut Revan sambil terus melajukan mobilnya menuju Menteng.
Arka hanya mengangguk pelan. Setidaknya, besok dia punya alasan kuat untuk keluar dari lingkungan kos lebih pagi dan menenggelamkan diri dalam kesibukan jalanan, berharap rasa sesak di dadanya bisa ikut menguap bersama asap knalpot.
