##### Bab 5
*Drrt... Drrt...*
Getaran ponsel di saku jas mahal Baskoro memecah keheningan ruangan private itu. Baskoro melirik layar ponsel sejenak, lalu kembali menatap Sella yang duduk diam di hadapannya. Wanita itu tampak seperti rusa kecil yang terjebak di sarang serigala—pucat dan tak bersuara.
"Sebentar," ucap Baskoro singkat. Suaranya rendah, namun penuh otoritas. Ia menggeser layar ponsel dan menempelkannya ke telinga tanpa melepaskan pandangan dari Sella.
"Ada apa?" tanya Baskoro dingin.
"Tuan, Nyonya Liani baru saja keluar dari rumah dijemput seorang pria muda. Mereka berdua terlihat sangat romantis," lapor suara di ujung telepon dengan nada ragu.
Baskoro tidak berkedip. Tidak ada kilat amarah, tidak ada rahang yang mengeras karena cemburu. Baginya, kabar itu tak lebih menarik dari laporan cuaca harian yang membosankan.
"Biarkan saja. Dia mau memelihara berondong juga saya tidak peduli," ucap Baskoro tajam sebelum memutus panggilan secara sepihak.
Inilah hidupnya. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas kertas perjanjian dan ambisi keluarga. Bagi Baskoro dan Liani, cinta adalah kosa kata asing. Mereka disatukan oleh satu syarat mutlak dari para orang tua mereka: bertahan sebagai suami istri demi warisan, dan hanya kematian yang boleh memisahkan.
Jadilah mereka terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Berbagi atap namun tidak berbagi hati. Berbagi nama belakang namun saling mencari kehangatan di pelukan orang lain. Bagi Baskoro, selama takhta kekuasaannya aman, Liani boleh melakukan apa saja—sama seperti dirinya yang kini tengah menatap Sella dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
Pukul dua belas malam.
Sunyi senyap menyelimuti koridor deretan kamar kos sederhana itu. Lampu selasar yang temaram menjadi satu-satunya saksi bisu langkah kaki Arka yang baru saja turun dari mobil Revan. Ia melangkah sedikit terburu, memecah keheningan malam yang sudah larut.
Lampu-lampu dari kamar penghuni lain sudah padam. Sepertinya semua orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Namun, tepat saat Arka tiba di depan pintu kamarnya, gerakannya terhenti. Secara refleks, matanya melirik ke arah pintu kamar di sebelahnya.
Kamar Sella.
Kondisinya masih sama seperti saat ia berangkat tadi; gelap gulita tanpa ada cahaya lampu yang merembes dari celah pintu.
"Apa dia belum pulang? Sudah tengah malam begini," gumam Arka pelan. Tatapannya tertuju pada pintu yang membisu itu, seolah berharap ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.
Dengan bahu yang merosot lesu, Arka memutar kunci dan mendorong pintu kamarnya. Ia melangkah masuk, namun langkahnya tertahan di balik daun pintu yang baru saja ia tutup. Ada perasaan tidak tenang yang tiba-tiba menghimpit dadanya, sebuah kegelisahan yang seharusnya tidak perlu ia rasakan.
"Aisss... kenapa aku jadi memikirkan Sella terus?" gerutunya kesal pada diri sendiri.
Ia mengacak rambutnya dengan gusar, mencoba mengusir bayangan gadis itu yang keras kepala menetap di pikirannya malam ini.
Berusaha mencari ketenangan, Arka pun mematikan lampu kamar hingga ruangan itu kembali gelap. Ia melangkah menuju balkon kecil di kamarnya, lalu duduk diam merenung. Sebuah korek api menyala, menyulut sebatang rokok yang kini terselip di antara jemarinya. Asap mengepul tipis, menyatu dengan udara malam yang dingin. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tatapannya kosong menembus kegelapan.
Tersadar dari lamunannya, Arka melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia mendengus pelan.
"Hampir jam satu. Mungkin dia menginap di rumah temannya," batin Arka mencoba menenangkan diri. "Sebaiknya aku tidur. Besok hari pertamaku narik ojek."
Arka mematikan puntung rokoknya, lalu melangkah kembali ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang menjadi tempat istirahatnya setiap malam, perlahan memejamkan mata, berusaha mengusir segala kegelisahan yang tersisa.
*Tap tap tap.*
Suara ketukan langkah sepatu pria yang berat beradu dengan bunyi *heels* yang runcing terdengar jelas di lorong lantai dua, memecah keheningan malam. Arka yang baru saja memejamkan mata kembali terjaga. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
"Sepertinya Sella baru pulang," gumamnya lirih.
*Ceklek.*
Suara pintu kamar sebelah terbuka, disusul bunyi daun pintu yang tertutup kembali. Arka masih bergeming, berbaring diam di atas kasurnya yang tipis. Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Dari balik dinding kayu yang membatasi kamarnya dengan kamar Sella, terdengar suara *gedebuk* pelan—seperti seseorang yang baru saja menyandarkan punggungnya dengan kasar ke tembok.
Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara Sella. Bukan sapaan, melainkan bisik-bisik yang terdengar tidak jelas namun intens.
"Suara apa itu?" batin Arka penasaran.
Rasa kantuknya seketika hilang, berganti dengan rasa ingin tahu yang mendesak. Ia beranjak dari kasur, melangkah tanpa suara di atas lantai, lalu menempelkan telinganya ke dinding. Arka menahan napas, berusaha mempertajam pendengarannya untuk menangkap setiap getaran suara yang berasal dari balik tembok kamar Sella.
Arka membeku. Matanya membelalak lebar di dalam kegelapan kamarnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa syok yang menghantam kesadarannya.
"Ahh tuan, pelan-pelan. Nanti ada yang mendengar," suara Sella terdengar samar, bergetar di balik dinding tipis itu.
Dada Arka terasa panas. Ia tidak salah dengar. Itu suara Sella, tapi nada bicaranya... begitu berbeda. Sebelum Arka sempat mencerna apa yang terjadi, suara berat seorang pria menyahut dengan nada penuh percaya diri yang membuat rahang Arka mengeras.
"Jam segini semua penghuni kos-an ini pasti sudah tidur, Sella. Kamu lihat sendiri kan tadi lampu setiap kamar sudah mati. Sini, duduk di pangkuan saya."
Baskoro. Pria itu benar-benar nekat.
Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ternyata dugaannya salah; Sella tidak menginap di rumah teman, melainkan pulang membawa pria yang dengan lancang masuk ke kamar kos sesederhana ini.
Arka masih tetap pada posisinya, menempelkan telinga ke dinding dengan napas yang tertahan. Ada gejolak amarah yang tidak bisa ia jelaskan. Di satu sisi, ia merasa tidak berhak ikut campur, namun di sisi lain, bayangan Sella bersama pria itu di balik tembok ini membuatnya merasa sangat gusar.
Suara gesekan pakaian dan derit ranjang yang terdengar sangat dekat di telinganya membuat Arka memejamkan mata rapat-rapat. Malam yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat sebelum menarik ojek besok pagi, kini berubah menjadi malam yang paling menyesakkan baginya.
"Ahh tuan...Jangan di gigit" desah Sella pelan
Arka menjauhkan telinganya dari dinding dengan gerakan sentak, seolah tembok itu baru saja menyetrumnya. Napasnya memburu. Kalimat barusan terdengar begitu jelas, begitu intim, hingga membuat sekujur tubuhnya menegang.
"Sial," umpatnya tanpa suara.
Ia mematung di tengah kamarnya yang gelap gulita. Suasana kos yang tadinya ia anggap tenang, kini terasa mencekam dengan cara yang berbeda. Di balik dinding tipis itu, Sella—gadis yang baru saja ia cemaskan keselamatannya—sedang bersama pria yang Arka sendiri belum tahu siapa itu.
Arka mencoba kembali ke kasur, menutup telinganya dengan bantal seerat mungkin. Namun, imajinasinya justru liar bekerja. Suara-suara kecil, derit ranjang yang samar, hingga bisikan-bisikan manja Sella terus menembus pertahanannya.
Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, campuran antara amarah dan kecewa yang ia sendiri tidak mengerti alasannya. Bukankah dia hanya tetangga kamar? Bukankah itu urusan pribadi Sella?
Arka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 01.15 pagi. Harusnya dia tidur agar besok punya tenaga untuk narik ojek, tapi sekarang, matanya terasa segar benderang. Setiap suara dari kamar sebelah seolah menjadi duri yang menusuk ketenangannya malam ini. Arka mendengus kasar, menatap kosong ke arah langit-langit, menyadari bahwa tidurnya malam ini sudah benar-benar hancur.
"Shitt..Bagaimana aku bisa tidur kalau begini?" umpat Arka lalu kembali beranjak menuju dinding perbatasan kamarnya dengan kamar Sella. Rasa ingin tahunya masih menggebu-gebu.
"Uhh tuan... seharusnya kita jangan melakukan di sini. Sella takut didengar tetangga kamar sebelah," suara Sella terdengar bergetar, ada nada kecemasan yang kental di sana.
Arka mematung. Punggungnya yang menempel di dinding terasa dingin, namun telinganya panas mendengar percakapan yang begitu gamblang itu. Nama "tetangga sebelah" yang disebut Sella barusan tak lain adalah dirinya sendiri.
"Sudahlah sayang, tidak akan ada yang mendengar. Saya sudah tidak tahan," sahut suara berat Baskoro, disusul suara gesekan kain yang semakin jelas.
Arka mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Ada rasa muak yang membuncah di dadanya. Jadi ini alasan Sella pulang larut malam? Membawa pria itu masuk ke kamar kos yang dindingnya bahkan tak cukup tebal untuk menyembunyikan desahan napas mereka?
Arka akhirnya menjauhkan diri dari dinding, langkahnya gontai kembali menuju kasur tipisnya. Ia menyambar bantal, menekannya kuat-kuat ke kedua telinga, berusaha menulikan pendengarannya dari aktivitas di kamar sebelah yang semakin menjadi-jadi.
Namun, tetap saja, suara-suara itu seolah menembus kapas bantal dan masuk ke pori-pori kulitnya. Pikirannya kacau. Bayangan tentang besok pagi—saat ia harus bangun subuh untuk menarik ojek—kini terasa sangat jauh. Yang ada di benaknya hanyalah kemarahan yang tertahan dan rasa kecewa yang anehnya terasa begitu menyesakkan.
"Sialan..." maki Arka tertahan dalam kegelapan kamarnya yang pengap.
Malam yang seharusnya sunyi itu kini berubah menjadi siksaan panjang bagi Arka, sementara di balik dinding sana, waktu seolah berhenti bagi Sella dan Baskoro.
