##### Bab 6
*Tringgg... tringgg...*
Bunyi nyaring alarm ponsel di atas lantai semen yang dingin memecah keheningan pagi. Arka menggeliat, tubuhnya terasa remuk seolah baru saja dihantam beban berat. Dengan gerakan malas, ia meraba-raba ponselnya untuk mematikan suara yang menusuk telinga itu.
Pandangannya yang masih kabur beralih ke jam dinding yang terpaku di tembok kamar. Jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh pagi. Arka memang sengaja menyetel alarm sepagi itu; hari ini adalah hari pertamanya mengadu nasib dengan menarik ojek. Ia harus mulai mencari penumpang jika tidak ingin pulang dengan tangan hampa.
"Malah masih ngantuk lagi," gerutu Arka dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia mencoba duduk di tepi kasur tipisnya, namun kepalanya terasa berat. Matanya masih merah dan terasa perih, efek dari tidurnya yang tidak cukup dan gangguan suara-suara dari kamar sebelah yang sempat menyiksa pikirannya hingga dini hari.
Sesaat, ia menoleh ke arah dinding perbatasan kamarnya dengan kamar Sella. Sunyi. Tidak ada lagi suara bisikan atau derit ranjang. Arka mendengus pelan, mencoba mengenyahkan sisa-sisa ingatan memuakkan semalam dari kepalanya. Ia harus fokus. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan memulai pekerjaan barunya adalah satu-satunya jalan saat ini.
Dengan langkah gontai dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Arka bangkit menuju kamar mandi, berusaha membasuh wajahnya agar rasa kantuk itu segera menguap.
"Pagi, Mas Arka," sapa Sella ramah saat mereka berpapasan.
Sella berdiri di anak tangga paling atas, sementara Arka baru saja sampai di persimpangan menuju kamar mandi. Arka tidak langsung menyahut. Untuk sesaat, ia hanya diam, menatap lekat gadis yang selama ini diam-diam dikaguminya itu. Ada rasa berkecamuk di dadanya, namun ia segera memaksakan sebuah senyum tipis.
"Pagi, Sella," jawabnya tenang, berusaha bersikap seolah tidak tahu apa-apa tentang kejadian panas tadi malam.
"Gimana tidurnya tadi malam, Mas? Nyenyak?" tanya Sella berbasa-basi sambil merapikan rambutnya yang tersampir di bahu.
Arka hanya mengangguk pelan. Matanya kemudian bergerak, menatap Sella dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, seolah sedang memastikan sesuatu.
"Kamu dari mana?" tanya Arka kemudian.
"Dari bawah, Mas, beli sarapan," jawab Sella ringan sembari mengangkat bungkusan plastik yang ditentengnya.
Arka hanya ber-oh ria. Namun, tatapannya tidak segera beralih. Ia justru menelisik wajah Sella lebih dalam, mencari-cari jejak kelelahan atau tanda apa pun dari sisa-sisa malam tadi yang sempat menghancurkan jam tidurnya.
"Mas Arka... kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Sella heran, merasa risi karena diperhatikan begitu intens.
Arka tersentak, seolah baru saja ditarik kembali dari lamunannya. "Ah, tidak... maaf. Saya mau ke kamar mandi dulu, ya," jawabnya cepat-cepat mencari alasan, lalu melangkah pergi meninggalkan Sella yang masih tampak bingung di tangga.
Arka mempercepat langkahnya, tidak ingin Sella melihat kegelisahan yang mulai terpancar dari wajahnya. Pagi itu, udara di kos-an sederhana itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Arka.
Sella terus melangkah pelan menyusuri koridor lantai dua menuju pintu kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada pertemuan singkat di dekat tangga tadi. Tatapan Arka terasa berbeda—lebih dalam dan seolah sedang menyelidiki sesuatu di wajahnya.
"Mas Arka aneh sekali. Gak biasanya dia ngelihatin aku kayak tadi," batin Sella heran.
Ia berhenti di depan pintu kamarnya, lalu meraba saku mencari kunci. Biasanya Arka hanya menyapa sekilas atau melempar senyum ramah yang sopan. Tapi kali ini, ada kilatan di mata pria itu yang sulit Sella artikan—seperti perpaduan antara rasa ingin tahu dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan.
Sella sempat terdiam sejenak, memegang gagang pintu yang masih dingin. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ada yang salah dengan penampilannya pagi ini atau apakah bungkusan sarapannya terlihat mencolok. Namun, ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
Mungkin Mas Arka kecapean atau mungkin lagi ada pikiran, gumamnya berusaha mencari pembenaran. Dengan sekali putaran kunci, Sella mendorong pintu kamarnya dan melangkah masuk, meninggalkan koridor yang kembali sunyi.
.
.
Arka melangkah keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Guyuran air dingin berhasil mengusir sisa-sisa kantuk dan bayangan kelam dari kejadian semalam. Wajahnya kini terlihat segar dan *fresh*, dengan sisa tetesan air yang masih membasahi rambutnya, jatuh satu per satu ke pundaknya.
Ia segera masuk ke dalam kamar dan bergerak cepat untuk bersiap-siap. Lemari kecilnya dibuka, menampilkan beberapa helai pakaian yang tertata rapi. Tanpa membuang waktu, Arka mengenakan kaus dan celana panjang yang nyaman untuk berkendara seharian.
Sentuhan terakhir adalah jaket kebanggaannya—jaket ojek khusus *driver* yang masih tampak kaku karena baru. Ia merapikan kerahnya di depan cermin kecil yang tergantung di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri dengan tekad baru.
"Semoga hari pertamaku berjalan dengan baik," gumamnya penuh semangat.
Arka menyambar kunci motor dan ponselnya yang sudah terisi penuh daya. Kegelisahan tentang Sella dan pria semalam seolah terkunci rapat di dalam kamar saat ia melangkah keluar. Fokusnya kini hanya satu: aspal jalanan dan setoran pertama. Dengan langkah mantap, ia menuruni anak tangga kos-an sederhana itu, siap menjemput rezeki di bawah terik matahari pagi.
Arka menepikan motornya di sebuah halte yang cukup rindang, bersiap menunggu keberuntungan pertamanya hari itu. Tak butuh waktu lama, ponsel yang terjepit di dasbor motornya berbunyi nyaring.
*Ting!*
Satu orderan masuk. Tanpa ragu, Arka segera menyambarnya. Belum sempat ia bernapas lega setelah menyelesaikan pengantaran pertama, bunyi itu kembali terdengar.
*Ting! Ting! Ting!*
Satu per satu pesanan masuk ke akunnya. Arka melakoninya dengan semangat yang meluap-luap. Mulai dari mengantar penumpang yang terburu-buru mengejar jam kantor, hingga membawa bungkusan makanan yang aromanya menggoda selera. Peluh mulai bercucuran dari balik helmnya, namun ia tak peduli.
Kini, sebuah pesanan baru membawanya menuju sebuah restoran *western* ternama yang tak jauh dari pusat kota. Arka memacu motornya di bawah terik matahari yang menyengat, membelah kemacetan dengan lincah. Punggungnya basah kuyup oleh keringat, pemandangan yang sangat kontras dengan kehidupannya yang dulu.
Dulu, ia tak perlu bersusah payah seperti ini. Sebuah kartu kredit tanpa batas selalu terselip di dompetnya, siap digesek kapan saja untuk kemewahan apa pun. Namun kini, semua fasilitas mewah itu telah ditarik paksa oleh Baskoro. Keputusan Arka untuk menolak perjodohan yang diatur ayahnya itu harus dibayar mahal dengan kemandirian yang keras di jalanan.
"Sedikit lagi," gumamnya menyemangati diri sendiri sambil menyeka keringat di pelipis.
Meskipun tangannya mulai terasa pegal dan kulitnya memerah terbakar matahari, ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya. Uang yang ia kumpulkan hari ini adalah hasil keringatnya sendiri, bukan sekadar angka di balik kartu plastik pemberian pria yang kini sangat ia benci itu. Begitu tiba di depan restoran *western* yang megah, Arka segera memarkirkan motornya, bersiap mengambil pesanan pelanggan dengan langkah tegap.
Arka melangkah dengan tenang ke meja kasir restoran *western* yang sejuk itu, kontras dengan hawa panas yang baru saja ia lalui di jalanan. Ia menyebutkan nomor pesanan pelanggannya dan menunggu proses administrasi. Di sampingnya, sepasang pria dan wanita paruh baya berdiri untuk memesan menu, namun Arka terlalu fokus pada ponselnya hingga tidak menyadari siapa mereka. Begitu pula sebaliknya.
"Totalnya seratus sembilan puluh lima ribu rupiah, Mas," ucap sang kasir ramah.
Arka mengangguk, mengeluarkan dompetnya yang kini tak lagi tebal, lalu menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan. Setelah menerima kembalian, Arka berniat mencari bangku kosong untuk duduk sejenak menunggu pesanannya matang. Namun, baru saja ia memutar tubuh, sebuah suara yang sangat ia kenali menghentikan langkahnya.
"Loh... Arka sayang?"
Jantung Arka seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menoleh perlahan dan seketika dunianya terasa sempit. Di hadapannya berdiri Liani dan Baskoro. Ya, kedua orang tuanya sendiri berada di sana, tampil rapi dan berkelas seperti biasanya.
Mata Baskoro menelisik penampilan Arka dari ujung kepala hingga ujung kaki—menatap jaket ojek yang melekat di tubuh putranya yang kini tampak berkeringat dan sedikit kusam karena debu jalanan.
"Wah, wah... jadi *driver* ojek kamu sekarang?" ucap Baskoro dengan nada bicara yang kental akan ejekan, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang menghibur.
Wajah Arka memanas. Rasa malu bercampur amarah bergejolak di dadanya.
"Bukan urusan Papa," sahut Arka ketus, matanya menatap tajam ke arah pria yang telah menarik seluruh fasilitas hidupnya itu.
"Arka, kenapa bicara begitu sama Papa? Pulanglah, Nak. Jangan menyiksa diri seperti ini," bujuk Liani dengan wajah cemas, mencoba meraih lengan putranya.
Namun Arka menghindar. Ia berdiri tegak dengan sisa harga diri yang ia miliki, tak peduli meski kini ia hanya seorang pengemudi ojek di mata mereka. Bagi Arka, lelah karena bekerja jauh lebih terhormat daripada tunduk pada keinginan pria yang menurutnya sangat munafik itu.
Arka berdiri kaku, menahan gejolak amarah yang memuncak di dadanya. Tatapan meremehkan dari Baskoro terasa lebih panas dibanding terik matahari yang membakar kulitnya sejak pagi tadi.
"Lihat dirimu, Arka. Berkeringat, kotor, dan mengemis recehan di jalanan. Apa ini yang kamu sebut kemandirian?" ejek Baskoro sambil merapikan jas mahalnya yang licin tanpa cela.
"Aku tidak mengemis. Aku bekerja," sahut Arka tajam. Suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dan itu jauh lebih terhormat daripada terus diatur oleh Papa."
Liani tampak sedih melihat ketegangan antara suami dan putra tunggalnya itu. "Sudahlah, Nak. Jangan keras kepala. Ikut Papa dan Mama pulang, ya? Kasihan kamu harus panas-panasan begini."
"Arka tidak apa-apa, Ma," potong Arka cepat, mencoba melembutkan nadanya hanya untuk sang ibu.
Baskoro tertawa hambar, sebuah tawa yang membuat Arka merasa sangat asing dengan ayahnya sendiri.
"Biarkan saja, Ma. Dia ingin merasa jadi pahlawan untuk hidupnya sendiri. Kita lihat berapa lama dia tahan tidur di kasur tipis dan makan mi instan setiap hari."
Arka memalingkan wajah, tidak sudi menatap mata pria yang telah merenggut kenyamanannya hanya karena sebuah perjodohan konyol. Di kepalanya, bayangan suara pria di kamar Sella semalam sempat melintas—suara yang juga terdengar penuh kuasa dan dominan—namun Arka segera menepisnya. Dia terlalu lelah untuk menghubungkan benang merah itu sekarang. Fokusnya saat ini hanyalah pergi dari hadapan kedua orang tuanya secepat mungkin.
"Pesanan nomor 04!" teriak pelayan restoran dari balik konter.
Arka segera melangkah maju, menyambar kantong plastik pesanan pelanggannya tanpa menoleh lagi pada Baskoro dan Liani.
"Urusan kita sudah selesai. Permisi," ucap Arka dingin sambil melangkah lebar keluar dari restoran, meninggalkan aroma parfum mahal orang tuanya yang kini terasa menyesakkan paru-parunya.
