##### Bab 2
Pagi hari....
Arka menggeliat dari tidurnya. Getaran alarm dari ponselnya membuatnya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Arka mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadaran dirinya.
Hoammmm
Arka menguap beberapa kali. Badannya terasa sedikit pegal. Biasanya dia tidur di atas ranjang yang empuk dan besar. Tapi kali ini, di kamar kos yang sederhana Arka tidur hanya beralaskan kasur tipis dan kecil.
"Jangan telat. Bentar lagi gue jemput. Share lokasi ya"
Arka membaca pesan masuk dari Revan, temannya. Hari ini dia janjian dengan temannya untuk ke kantor ojek online. Ya, Arka ingin mendaftar jadi driver ojek online . Itu satu-satunya cara agar dia bisa mempunyai uang untuk bertahan hidup karena Baskoro, papanya sudah memblokir seluruh kartu kreditnya karena menolak perjodohan bisnis yang sama sekali Arka tidak sukai.
"Oke" balas Arka lalu mengeshare lokasi kos-kosannya saat ini pada Revan
Arka meletakkan ponselnya ke atas kasur, lalu dia mengambil handuk dan pakaian gantinya. Dia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi umum. Kosong. Tidak ada yang antri. Mungkin penghuni kos lantai 2 sudah pergi semua.
Arka pun masuk ke dalam salah satu kamar mandi. Ada 3 kamar mandi disana khusus lantai 2. Arka melihat ember besar kosong dan gayung di dalamnya. Arka tersenyum miris melihat kondisinya yang benar-benar sudah sangat jauh dari kata mewah. Kalau di mansion papanya, kamar mandinya mewah. Tersedia bathup dan shower.
"It's okay" batin Arka lalu memutar kran air
Sesudah air penuh, Arka pun mandi mengguyur tubuhnya. Cepat-cepat dia menyiapkan diri agar Revan tidak sampai menunggunya nanti. 20 menit berlalu akhirnya Arka menuruni tangga lantai 2. Dia menunggu Revan di bangku teras yang tersedia disana.
Tin Tin
Arka menoleh dan melihat Revan tiba di depan pagar kosnya dengan menaiki motor matic berwarna hitam. Segera Arka berlari kecil menghampiri Revan.
"Jadi lo kos disini?" tanya Revan sambil menatap kos-kosan 2 lantai itu
"Iya. Lumayan murah dan cukup bersih. Penghuni kosnya juga ramah-ramah" jawab Arka sambil duduk di atas motor Revan
"Gila sih lo. Bisa-bisanya kabur dari rumah mewah dan memilih kos di tempat sederhana begini" ucap Revan yang heran dengan keputusan temannya itu
Arka terkekeh lalu memukul pelan pundak Revan. "Aman. Udah, ayo ke kantor ojek online sekarang"
Revan pun mengangguk dan melajukan motornya menuju sebuah kantor ojek online di kota Jakarta untuk menemani Arka mendaftar sebagai driver.
"Padahal kalau lo mau aja, lo bisa jadi montir di bengkel gue" ucap Revan dengan suara sedikit keras karena posisinya saat ini sedang membawa motor
"Nggak deh. Bokap gue kan tau posisi bengkel lo. Bisa-bisa dia cariin gue ke bengkel lo. Males banget gue" sahut Arka yang tetap kekeh memilih menjadi driver ojek online
Revan tidak lagi menyahut. Lima belas menit berlalu. Mereka pun tiba di halaman kantor ojek online. Arka dan Revan berjalan masuk ke dalam kantor itu. Setelah mengurus semua syarat-syarat, akhirnya Arka terdaftar menjadi driver ojek online. Sementara ini dia akan memakai sepeda motor Revan untuk bekerja karena dia tidak memiliki sepeda motor.
"Akhirnya beres juga" ucap Arka sumringah
"Jadi kapan lo mulai kerja?" tanya Revan sambil menyalakan mesin motornya
"Besok deh. Sekarang lo harus anterin gue ke minimarket. Minimal gue punya persediaan stok makanan di kamar. Mi instan misalnya" ucap Arka
"Mi instan?" beo Revan
"Iya. Ternyata mi instan enak juga. Gue ketagihan dan bakal menyediakan stok mi instan di kamar kos gue" sahut Arka yang teringat dengan rasa mi instan buatan Sella tadi malam
"Kocak. Pewaris bisnis keluarga Baskoro tinggal di kosan sederhana, memilih jadi driver ojek online, dan sekarang penikmat mi instan" ledek Revan
"Berisik. Udah ayo ke minimarket" ajak Arka
Revan terkekeh. Sungguh ini di luar nalar. Lagian apa susahnya tinggal menyetujui perjodohan yang di atur keluarganya daripada harus hidup susah seperti saat ini.
2 jam Kemudian
Revan menghentikan motornya di depan kos Arka. Sementara tugasnya sudah selesai mengantar Arka kesana sini sejak tadi. Tinggal 1 tugas yang harus dibereskannya, yaitu nanti sore dia harus mengantarkan kembali motornya ke kos an Arka untuk di pakai Arka mengojek besok.
"Thanks bro. Gue masuk dulu" ucap Arka sambil turun dari motor Revan
"Yoii...Gue balik ke bengkel dulu ya" pamit Revan
"Hati-hati. Jangan lupa anter motornya nanti" teriak Arka ke arah Revan yang bersiap-siap pergi
"Siappp"
Revan pergi. Arka pun masuk ke dalam kos dan menaiki tangga menuju kamarnya sambil menenteng plastik berisi belanjaan.
"Arka tanpa papa juga bisa. Lihat saja nanti. Arka akan bisa bertahan hidup walaupun harus susah begini" batin Arka lalu menghela napas pelan
Ceklek
Arka tersentak saat mendengar suara pintu kamar Sella terbuka. Segera dia bangkit berdiri lalu membuka pintu kamarnya memastikan apakah Sella sudah pulang dari kampus atau belum.
"Sepertinya sudah pulang" batin Arka saat melihat pintu kamar Sella tidak tertutup rapat
Segera Arka mengambil 2 bungkus mi instan varian goreng dan 2 butir telur lalu dia keluar dari kamarnya menuju kamar Sella.
Tok tok tok
"Sella..." panggil Arka dari luar pintu kamar nomor 15
Sella yang baru saja masuk ke dalam kamarnya karena baru pulang dari kampus kembali keluar saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
"Ehh mas Arka. Ada apa mas?" tanya Sella sopan
Arka menatap gadis itu tanpa berkedip. Aura yang terpancar dari Sella benar-benar membuatnya terkagum.
"Mas..." sentak Sella saat melihat Arka malah terpelongo
"Eh iya iya. Maaf ya kalau mengganggu. Ini, saya mau mengembalikan mi instan kamu yang saya makan tadi malam" jawab Arka sambil menyodorkan mi instan yang dibawanya tadi ke arah Sella
"Lohh....harusnya nggak usah di kembalikan mas" tolak Sella
"Nggak apa-apa. Kebetulan tadi saya sudah belanja, jadi mohon di terima ya" ucap Arka
Sella tersenyum kecil lalu mengangguk "Ya udah deh, Sella terima. Makasih ya mas" sahut Sella
"Saya yang seharusnya bilang makasih, bukan kamu. Makasih Sella. Kalau begitu saya balik ke kamar saya dulu" pamit Arka yang entah kenapa malah jadi salah tingkah berhadapan dengan Sella
Sella masih menatap punggung Arka yang perlahan hilang dari pandangan. Dia berdiam diri sejenak sambil menatap mi instan yang di pegangnya saat ini.
"Padahal nggak di balikin juga nggak apa-apa" batin Sella lalu menutup pintu kamarnya
Sella melihat jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sella bergegas keluar dari kamarnya sambil membawa handuk dan perlengkapan mandi. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mandi membersihkan dirinya. Hingga hampir 1 jam, Sella baru keluar dari kamar mandi dengan wajah fresh dan segar.
"Tuan Baskoro akan membawaku dinner ke restoran mana kali ini! Rasanya hampir setiap weekend dia mengajakku dinner" batin Sella sambil memakai gaun beludru Hitam. Gaun itu adalah hadiah pemberian Baskoro 2 bulan lalu lengkap dengan heels, tas kecil dan perhiasannya.
Sella duduk di depan cermin dan mulai makeup. Dia harus tampil cantik sesuai keinginan Baskoro. Jangan sampai pria tua itu tidak puas pada pelayanannya. Bisa-bisa biaya kuliahnya dan biaya hidupnya di hentikan. Belum lagi utang-utang ayahnya di kampung di lunasin Baskoro. Itu karena ayah Sella penjudi dan pemabuk hingga utangnya menumpuk. Sejak ibunya meninggal, Sella memilih merantau ke kota Jakarta. Dia tidak mau hidup berdua dengan ayahnya di kampung. Niat hatinya dulu akan mencari pekerjaan di kota besar itu. Namun belum dia mendapat pekerjaan, ayahnya di kampung sudah di kejar-kejar rentenir. Sella yang tidak punya uang sama sekali dan tidak tega ayahnya di kejar-kejar rentenir akhirnya memilih menjadi simpanan Baskoro. Pria tua namun kaya raya di kota Jakarta. Bisnisnya meluas sampai ke luar negeri. Entah berapa banyak uang pria tua itu. Yang pasti semua kebutuhan Sella serta utang-utang ayahnya di tanggung Baskoro.
"Perfect. Tuan Baskoro tidak akan kecewa" gumam Sella sambil tersenyum puas
Sella menatap penampilannya yang elegan dari cermin panjang. Cantik dan menawan.
