Bab 7
بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syûra/42:30]
???
Setelah semalamam berpikir, akhirnya Melati memutuskan untuk melupakan semuanya. Ia merasa tida berhak menghakimi dan memojokan seorang perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia. Melati menyadari sifat mamanya dulu, jika perempuan itu sudah benar-benar sangat menyesal, ia sama sekali tidak punya hak untuk membenci mamanya itu.
Allah saja maha pemaaf, kenapa dia yang hanya seorang hamba tidak mampu? Melati merasa sangat sombong jika terus-terusan lari dari masalah.
Sekarang, Melati dan Runi sudah sampai di depan pintu rumah Sinta. Setelah memberanikan diri untuk meminta alamat rumah ini kepada Ibrahim, sekarang Melati harus benar-benar siap berhadapan dengan kedua orang tuanya. Melati berjanji akan berusaha memaafkan semua kesalahan mereka, mengubur dalam-dalam luka yang sepat dirasakan beberapa waktu yang lalu.
Melati merasa sangat beruntung memiliki ibu seperti Runi, meski dia bukan ibu kandungnya, tapi perempuan itu sudah mengajarkannya banyak hal. Apalagi setelah kehilangan ayahnya dulu, hanya Runi yang selalu memberi nasihat baik kepadanya, hingga dia bisa seperti sekarang, menjadi salah satu perempuan yang selalu ingin dekat dengan Allah, sang pencipta pemberinya kehidupan.
Melati mengetuk pintu beberapa kali, mengucapkan salam sebagai tanda saat bertamu. Jika boleh jujur, sungguh saat ini jantungnya berdetak tidak karuan. Mungkin karena alasan dari beberapa masalah yang sudah berlalu, bertemu dengan Dimas, laki-laki yang ternyata memiliki ikatan mahrom denganya. Sekarang, Melati sadar, dia tidak boleh lagi menyimpan perasaan lebih kepada laki-laki itu. Ternyata, memang tidak baik mengagumi seseorang secara berlebihan dan Melati merasakannya sendiri, tidak akan pernah mampu bersatu dalam ikatan yang suci.
"Melati?" seru Sinta saat pertama kali mebuka pintu, lagi-lagi air matanya tumpah meruah, membasahi kembali pipinya yang belum kering. Sejak kemarin Sinta hanya menghabiskan waktunya untuk menangis, menyesali perbuatan gilanya di masa dulu, sangat takut jika anaknya begitu membencinya hingga memutuskan tidak ingin lagi menemuinya.
Karena terlalu rindu, Sinta lantas memeluk tubuh Melati dengan erat, memberikannya pelukan hangat dan sama-sama menangis berdua. Pelukan yang menyimbolkan kerinduan yang tidak bisa ditahan lagi. Melati mengusap punggung Sinta, berharap sentuhan itu bisa sedikit memberinya ketenangan.
Runi ikut menangis melihat pemandangan itu, menangis haru sekaligus bahagia saat Melati bisa kembali kepada kedua orang tuanya.
"Mama pikir, kamu nggak mau ketemu sama mama lagi, sayang."
Melati hanya bergeming, dia masih belum tahu harus memulai dari mana.
"Kita masuk ya sayang. Mama akan hubungin papa kamu, dia pasti akan segera pulang."
Melati dan Runi masuk ke dalam rumah mewah bernuansa putih. Runi masih belum menyangka kalau orang tua Melati akan sekaya ini. Pantas saja dulu dia sempat khilaf, melakukan kesalahan karena tidak ingin dipandang buruk di mata orang-orang banyak. Tapi, bagi Runi ini tetap tidak bisa dibenarkan. Sinta tetap tidak pantas membuang bayinya sendiri untuk terhindar dari cemoohan banyak orang.
Melati dan Runi tidak banyak bersikap. Mereka hanya mengikuti semua permintaan Sinta, layaknya seorang tamu yang sedang datang untuk bersilaturahmi.
Sentara itu Sinta benar-benar bahagia, tidak ada tandingannya lagi, setelah berhasil menghubungi suaminya, Sinta hanya menghasikan waktunya bersama Melati, tidak henti-hentinya air mata yang tumpah dari mata Sinta, ini benar-benar sebuah kesempatan yang benar-benar baik yang pernah Sinta dapatkan.
Sinta tahu, proses pertemuan ini memang melukai anak-anaknya. Sampai pada akhirnya Dimas memilih untuk pergi ke luar negri, melanjutkan pendidikan dan melupakan perasaannya yang sudah terlanjur jatuh kepada Melati. Dimas hanya bisa berharap, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih pantas untuknya.
"Sekarang, kamu tinggal sama mama kan, Melati?"
"Tinggal di sini?"
Sinta mengangguk sambil tersenyum, berharap Melati tidak menolaknya. Melati memandang wajah Runi yang memancarkan raut datar. Tapi, Melati tahu betul ibunya, diam-diam ibunya pasti terluka menahan sedih.
"Aku nggak bisa." Melati memutuskan untuk menolak.
"Kenapa, Melati? Kamu masih belum bisa maafin mama?" kedua mata Sinta sudah kembali berair. Ternyata tidak dekat dengan anak yang kita lahirkan, begitu menyakitkan.
"Bukan begitu, ma. Aku nggak mungkin tinggalin ibu gitu aja, aku nggak akan pernah bisa lakuin itu."
"Melati, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Bu Runi bisa tinggal di sini. Melati, selama dua puluh dua tahun mama sudah kehilangan banyak waktu bersama kamu. Apa kamu nggak pingin ngabisin waktu kamu sama, mama?"
Melati benar-benar bingung harus bagaimana. Sekarang dia hanya menyerahkan keputusan kepada ibunya. Karena bagaimanapun, Melati akan tetap menghormatinya.
"Mbak, saya mohon. Tolong tinggal di sini sama Melati. Demi Allah, mbak. Saya cuma pingin dekat sama Melati."
Runi bisa paham bagaimana perasaan Sinta. Dia juga tidak sanggup untuk melepaskan Melati begitu saja.
"Iya, In syaa Allah. Saya dan Melati akan tinggal di sini."
"Terimakasih, mbak. Saya benar-benar sangat berterimakasih."
"Tidak usah berterimakasih padaku, Sinta. Lagipula, aku tidak berhak untuk membuat kalian saling berjauhan."
Sinta mengangguk, kembali menangis haru. Dia merasa senang anaknya bisa dirawat oleh orang sebaik Runi. Sinta tidak tahu bagaimana jika bukan Runi yang menemukan Melati, mungkin Melati tidak akan tumbuh menjadi gadis baik seperti sekarang ini dan mungkin hal paling buruk bisa saja Sinta khawatirkan, takut jika tidak pernah bisa bertemu dengan Melati.
???
Arif benar-benar tidak meyangka. Sekarang putrinya benar-benar mau kembali kepadanya. Rasanya semua lelah ditubuhnya benar-benar sirna. Setelah melakukan lima kali operasi kepada beberapa pasiennya. Biasanya saat sampai di rumah, Arif tidak pernah sesemangat ini. Tapi, ini berbeda, kehadiran Melati seolah mengembalikan kekuatan tubuhnya. Arif memeluk Melati dengan hangat, seorang anak yang tidak pernah dia sentuh sejak lahir. Ini semua memang kesalahan istrinya, tapi Arif juga tidak ada hak untuk menghakimi Sinta berlarut-larut.
Melati hanya bisa memejamkan matanya, sudah lama sekali rasanya tidak dipeluk seorang ayah seperti ini. Ia hanya mendapatkan perlakuan ini ketika masih kecil dulu, sekarang Allah begitu baik, kembali memberikannya seorang ayah yang mungkin bisa melindunginya.
"Maafkan papa, Melati. Dulu, papa tidak tahu, kalau kamu yang sebenarnya anak papa. Bukan, Dimas."
"Nggak apa-apa, pa. Aku ikhlas, yang terpenting sekerang, aku udah ada di sini."
Sinta semakin dibuat sedih, sekarang Sinta mengerti, setiap musibah yang pernah dia alami itu semua juga berasal dari perbuatan di masa lalu, Sinta sudah menerima semua ganjaran itu. Ternyata dosa yang harus ia tanggung bisa seberat ini. Ya Tuhan, sunggu berdosa sekali dirinya selama ini. Sinta hanya bisa menangis pilu.
