Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*

"Jika kamu ingin melamar, Melati. Kamu harus siap menunggu Melati untuk bertemu dengan orang tua kandungnya. Jika ayahnya masih hidup, maka dia yang harus menjadi wali nikah untuk Melati."

"Apa?" pernyataan Runi sangat mengejutkan. Orang tua kandung? Apa maksudnya?

"Ibu, apa maksud ibu?"

Runi menitikan air mata, rasanya tidak tega mengatakan hal ini kepada Melati. Bagaimana jika Melati tahu jika dia sengaja dibuang orang tua kandungnya? Sungguh, Runi tidak punya pilihan lain.

Dimas dan kedua orang tuanya sudah tahu masalah ini sejak awal dari Hilda. Mereka sudah menerima hal apapun tentang latar belakang Melati yang mungkin belum ada kejelasan. Baik Sinta maupun Arif susah menerima. Karena Dimas pun juga yang juga menjadi anak angkatnya tidak punya asal usul yang jelas.

"Saat itu, ibu dan ayah menemukanmu di depan masjid. Kami tidak tahu, siapa orang tua kamu, karena saat itu tidak ada siapapun yang melaporkan kehilangan anak. Sampai akhirnya ayah dan ibu sepakat untuk mengangkatmu sebagai anak."

Melati tak kuasa menahan air mata, seperti inikah kenyataannya. Dia hanyalah seorang anak yang mungkin tidak pernah diharapkan.

"Maksud ibu aku dibuag?"

Runi menggeleng tidak tahu, hatinya begitu pedih saat melihat air mata Melati berjatuhan.

"Aku ngerti, mereka pasti malu karena punya anak cacat seperti, aku."

"Astagfirullah, Melati... Jangan bicara begitu, nak. Bisa saja orang tuamu punya alasan, Mel."

Melati menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis pilu mengetahui kenyataan pahit seperti ini. Sekarang, dia bingung, harus mencari keberadaan orang tuanya yang tidak tau ada dimana.

Sinta menangis, dia ingat bagaimana dulu dia membuang bayinya sendiri, dulu dia terlalu jauh dari agama, dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Baginya pencitraan adalah hal yang paling penting. Hingga suatu ketika Allah memberinya cobaan, semenjak melahirkan anak itu, dia tidak pernah dikarunia anak lagi. Hingga akhirnya Sinta sadar, bahwa ini mungkin salah satu bentuk teguran Allah karena dia tidak mampu menjaga anak yang sudah dititipkan Allah kepadanya.

Awalnya, Arif begitu kecewa, mendengar pernyataan Sinta yang begitu keterlaluan. Mengakui perbuatannya tentang bayi yang sudah dia buang. Pantas saja dulu Arif merasa heran, karena Sinta megatakan anaknya berjenis kelamin perempuan, tapi setelah dia pulang, justru mendapati bayi laki-laki.

Sekarang, Sinta tidak tahu harus bagaimana lagi  cerita Melati benar-benar mengingakannya tentang anak yang dulu dia tinggalkan. Meminta Dadang untuk meninggalkan bayi itu tepat di depan masjid.

Tapi, ada satu hal yang membuat Sinta menyimpan beberapa pertanyaan. Melati mengatakan dirinya cacat? Apakah Melati anaknya? Apakah Allah sudah menjawab semua doa-doanya selama belasan tahun? Jika memang Melati bayi itu. Melati dan Dimas tidak boleh Menikah. Karena dulu Sinta sudah menyusui Dimas ketika dia masih bayi.

"Memangnya, kamu menemukan Melati di masjid mana?"

"Masjid, Al-Ikhlas." Runi menjawab singkat.

Sinta menutup mulutnya tak percaya. Dia memandang Melati dengan tatapan intens, kemudia beranjak memeluk tubuh Melati. Sekian lama dia mencari keberadaan anaknya, hingga rasa putus asa dan rasa bersalah terus menghampiri, terkadang nyaris membuatnya hampir gila. Penyesalan itu terus-terusan mengekang sepanjang hidupnya.

Sungguh, perlakuan Sinta seperti ini benar-benar membuat Melati terkejut, tidak mengerti dengan perlakuan samar seperti ini.

"Maafkan mama, Melati."

"Mama?" kening Melati berkerut bingung.

Kalimat singkat itu berhasil membuat semua orang yang ada di sana tidak mampu berbicara apa-apa. Mereka seolah dipaksa diam dengan kenyataan yang benar-benar ada.

"Ini, mama, Melati. Mama yang sudah meninggalkan kamu di sana, mama yang tidak bisa menerima kekurangan kamu, dan mama sudah mendapatkan balasannya, sayang."

Sinta sudah menggelugut, memeluk Melati begitu erat, dia benar-benar sangat merindukan anaknya itu. Setelah dua puluh dua tahun lamanya berpisah, sekarang takdir begitu baik mempertemukan ibu dan anak itu. Sungguh, Sinta benar-benar tidak mau kehilangan anaknya lagi, hatinya begitu terasa pedih.

"Nggak, ini semua nggak mungkin."

Melati menggeleng tak percaya, dia tertawa ironi. Dulu, dia dibuang begitu saja, sekarang perempuan itu datang dengan gampang sambil meminta maaf? Tidak! Melati belum sehebat itu, bisa memaafka siapa saja yang menyakitinya

Melati pergi begitu saja. Sementara itu Dimas masih terlalu kaget, dia tidak bisa berbuat banyak. Haruskah dia melupakan perasaannya kepala gadis itu?

???

"Kenapa ibu baru ceritain ini sekarang sama, aku?"

"Maafkan ibu, Melati. Ibu tidak mau kamu bersedih, ibu pikir jika ibu bicarakan hal ini, ibu takut kamu kecewa jika tidak bisa menemukan orang tuamu. Tapi, ibu salah. Allah justru mempertemukan kalian begitu mudah."

"Aku tidak bisa memaafkannya, ibu."

"Melati, tidak baik menyimpan kebencian. Selama ini bukankah ibu mengajarkan kamu untuk bisa mengikhlaskan apapun yang sudah terjadi? Melati, bagaimanapun, dia ibu yang melahirkanmu."

Melati memegang dadanya yang terasa pengap, merasa sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Hari ini Allah mendatangkan dua keadaan kepadanya, antara anugrah atau mungkin musibah. Padahal, tadi dia sudah jatuh hati kepada Dimas, sosok laki-laki yang memang Melati sukai. Lantas, haruskah dia melepaskan sekarang? Lalu menerima kenyataan yang sangat menyakitkan? Melati merasa dirinya benar-benar tidak mampu untuk memaafkan perempuan yang sudah menelantarkannya itu.

"Ibu nggak mengerti, gimana rasanya jadi aku. Mereka nggak nerima kehadiranku, lalu sekarang dia dengan gampang minta maaf? Mengakui aku sebagai anak mereka?" Melati menggeleng tak habis fikir. Rasanya, dadanya tidak kuat lagi menampung emosi.

"Aku nggak pernah minta untuk dilahirkan sama dia, apa ibu berpikir? Saat itu aku hanya seorang bayi yang tidak tau apa-apa, aku membutuhkan dia, tapi dia bisa dengan gampang ngebuang aku seolah-olah aku ini sampah?"

Suara Melati meninggi, emosi membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

"Ibu, aku udah cukup punya ibu, ibu yang bisa nerima aku apa adanya, ibu yang nggak pernah ninggalin aku, dan ibu yang mau ngasih aku kasih sayang yang tulus."

"Iya, sayang. Ibu mengerti, ibu paham apa maksud kamu. Tapi kamu juga nggak bisa merubah takdir, Melati. Dia tetap ibu yang melahirkan kamu, kamu harus mau menerimanya."

Runi masih bisa mendengar isakan Melati, perempuan itu hanya bisa mebawa anak gadisnya ke dalam pelukan, berharap perlakuan itu bisa membuatnya sedikit tenang.

"Aku butuh waktu," kata Melati pada akhirnya. Sungguh kenyataan menyakitkan seperti ini serasa sulit diterima. Kenapa ia ya harus dibuang kalau memang kehadirannya tak diharapkan untuk apa ayah dan ibunya menikah dan mengharapkan keturunan? Demi Tuhan, ia sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan kondisi yang orang tuanya sendiri tidak menginginkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel