Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*

"Pa, mama kecewa kenapa sih sampai sekarang  mama masih belum hamil-hamil lagi. Kenapa Allah nggak pernah ngasih mama kebahagiaan."

Sinta mendesah kecewa, padahal dia hanya ingin memiliki seorang anak lagi, anak yang benar-benar lahir dari rahimnya sendiri.

"Sinta, jangan pernah menyalahkan Allah atas semua musibah yang menimpa kita. Ketika Allah memberi kita cobaan, itu artinya dia sangat menyayangi kita, karena dia ingin kita tetap ingat kepadanya. Coba kamu lihat, orang-orang diluaran sana, mereka diberi banyak kebahagiaan, tapi begitu jarang di antara mereka yang pandai bersyukur. Mereka justru sibuk pada kebahagiaan yang hanya bersifat sementara. Mereka lalai, bahkan mereka dengan mudah melupakan Allah karena sudah terlalu sibuk merayakan kebahagiaan mereka."

Sinta hanya menangis, dadanya semakin sesak, terasa ditoyor ratusan kali, membuat dia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan.

"Aku kecewa, saat kamu membuang putrimu sendiri, seorang anak yang lahir dari rahimmu, seorang bayi titipan Allah yang seharusnya kamu jaga. Tapi, karena kamu menganggap aku akan marah, kamu justru membuangnya. Sinta, Allah menitipkan anak kepada kita, tandanya Allah percaya kalau kita mampu merawatnya. Diberikan anak yang tidak sempurna, cacat fisik maupun mental, itu tetap ujian. Sekarang lihat, mungkin saja Allah tidak mau lagi mempercayaimu untuk menitipkan seorang bayi lagi, karena kesalahan yang kamu lakukan sudah kelewatan."

Sinta tidak menjawab apa-apa, yang dia lakukan hanya menangis. Sepuluh tahun setelah kejadian itu, ia menunggu kehadiran bayi lagi, tapi nyatanya rahimnya selalu kosong. Sinta tidak pernah mengerti bagaimana ini bisa terjadi, padahal semua dokter mengatakan bahwa dia dan suaminya sama-sama normal, tidak ada fakta medis yang meragukan untuk mereka punya anak kembali.

Sinta sadar, perbuatannya memang sudah kelewatan, bahkan usahanya untuk mencari anaknya yang dulu juga tidak pernah menemui titik terang.

Sekarang, Sinta hanya berharap kepada Allah, semoga tidak ada hal apa pun lagi yang bisa membuatnya berpisah dengan Melati.

"Kamu harus berjanji sama mama, Melati. Kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan mama."

"In syaa Allah, ma. Selama aku masih diberi kehidupan di dunia ini, aku tidak akan pernah ninggalin mama sama papa."

Sinta mengangguk, menerima janji putrinya. Lantas, wanita itu kembali membawa putrinya ke dalam pelukan. Hanya Allah yang tahu semua isi hanti, hanya Allah yang tahu seberapa besar luka yang ia tanggung selama ini, dan hanya Allah yang tahu, bagaimana rasa sayangnya kepada Melati saat ini.

"Jangan bicara begitu, Melati. Kamu membuat mama takut. Mama belum siap jika kamu harus pergi dari dunia ini."

"Mama, kita cuma manusia yang hanya bisa pasrah sama kemauan Allah. Jika saatnya dia menginginkan aku kembali, aku harus pergi menemuinya."

Sinta menggelengkan kepalanya, rasanya kalimat itu sungguh mengerikan. Sinta tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti Allah mengambil putrinya. Sinta tahu, bahwa umur memang sudah ditentukan oleh sang kuasa, tapi ia benar-benar tidak sanggup.

"Kamu jangan berpikir seperti itu, Sinta. Jangan menghawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Kamu tidak boleh berburuk sangka kepada Allah. Dia meberikan dan mengambil apa pun sesuai kehendaknya dengan tujuan yang baik."

Bibir Sinta bergetar menahan tangis, mungkin ini adalah salah satu hal yang wajar bagi seorang ibu yang baru kembali bertemu dengan anaknya. Ketakutan untuk kehilangan memang sangat cenderung membuat pikirannya melayang kemana-mana. Sinta sadar, tidak seharusnya dia begini, namun ia juga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri akan ketakutan yang masih bersifat rahasia itu.

"Ma, in syaa Allah. Kita akan tetap sama-sama." Melati memegang kedua tangan Sinta yang tersimpan di lututnya. Sejenak Sinta memandang Melati, kemudian mengangguk. Berusaha untuk tidak berpikiran yang tidak-tidak.

Mungkin ini semua juga salah satu efek dari keputusan, Dimas yang memilih untuk meninggalkannya. Menenangkan diri dan berusaha melupakan gadis yang tidak mungkin pernah bisa dia nikahi.

Sinta sangat menyayangi Dimas, meski bukan putra kandung, tetap aja. Sinta sudah memberikan asinya selama dua tahun kepada Dimas, membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Dadang dan Asih sama-sama ikut bahagia, mereka melihat bagaimana kebahagiaan majikannya saat kembali menemukan anaknya yang sudah lama hilang. Dadang merasa lega, rasa bersalah terasa begitu saja meluntur, bagaimanapun, dulu dia ikut andil saat membuang Melati.

Dadang tahu, semenjak anaknya meninggal dia semakin sadar, bahwa uang yang dia dapatkan sama sekali tidak berkah. Berharap anaknya hidup panjang umur, tapi nyatanya tidak. Uang pemberian Sinta yang dijadikan sebagai pengobatan anaknya justru menghantarkan anaknya untuk bertemu sang pencipta.

"Buk, bapak ikut senang. Nyonya Sinta sudah berkumpul kembali bersama anaknya. Lihat, anaknya begitu cantik."

"Iya, pak. Ibuk juga seneng banget. Kemarin ibuk sedih lihat den Dimas pergi ninggalin rumah ini, ibuk tau kalau nyonya sedih banget, tapi sekarang anak kandungnya malah kembali."

"Itulah buk, kita tidak pernah tahu, bagaimana rencana Allah. Semuanya benar-benar diluar batas pemikiran manusia. Dulu, bapak berpikir, kalau nyonya tidak akan mungkin pernah bisa bertemu dengan anaknya. Tapi lihatlah kenyataannya, sekarang Allah justru membuatkan jalan untuk mereka saling bertemu."

Asih mengangguk, "iya, pak."

Bi Asih berjalan mendekati mereka. Membawakan beberapa gelas minuman di atas nampan. Sinta tersenyum, bisa-bisanya dia lupa memberikan minuman kepada Melati dan Runi. Dia terlalu bahagia dengan kedatangan Melati.

"Mama sampai lupa kasih kamu minum, Mel. Maafin mama, ya."

"Nggak apa-apa, ma."

"Untung ada Bi Asih."

"Bibi kan asisten siap siaga, nyonya," kata bi Asih setengah becanda. Sinta malah tertawa mendengarnya. Sebenarnya Sinta ingin sekali Bi Asih berheti bekerja, mengingat usianya yang sudah lebih dari setengah abad. Tapi, perempuan itu malah menolak untuk berhenti, karena menganggap sudah terlalu nyaman bekerja bersama majikan seperti Sinta dan Arif.

???

Sekarang bi Asih dan Melati sedang berada di dapur. Ini memang hobi Melati sejak dulu, memasak sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Sejak kecil, ia terlalu sering menghabiskan waktunya di dapur bersama ibunya. Melati masih ingat saat dia sedang belajar memasak makanan kesukaan ayahnya. Semur jengkol; awalnya Melati begitu tidak suka dengan aromanya, bagi Melati bau yang berssal dati jengkol begitu merusak indra penciumannya.

Melati tidak pernah mengerti, apa daya tarik dari makanan itu, sehingga membuat ayahnya begitu tergila-gila dengan makanan yang bisa menyebabkan kamar mandi berbau tidak sedap.

Tapi, sekarang Melati begitu rindu membuat masakan itu untuk ayahnya, Melati rindu candaan ayahnya yang sengaja membuat napas di wajahnya.

"Ayah bau, Melati nggak mau dicium."

Melati menutup hidungnya dengan telapak tangan, sambil berjalan menjauh dari ayahnya. Sementara itu, Ibrahim malah dengan jail terus berjalan mendekati Melati, hingga akhirnya anak itu ada di dalam pelukannya. Ibrahim menghadiahi pipi putrinya dengan berkali-kali ciuman, lalu menggelitiki perutnya dengan gemas. Melati tertawa terbahak-bahak, berusaha menghidar tapi pelukan ayahnya semakin mengencang.

"Ayaaaaahhh, lepasin Melati. Ayah jelek, banyak kumis, mulut ayah bau," lagi-lagi Melati meledekinya. Ibrahim hanya tertawa kemudian beralih menggendong anak kesayanganya.

Kedua sudut bibir Melati tertarik kesamping. Mengingat beberapa fragmen di masa lalu.

Melati sangat berharap, semoga ayahnya mendapat tempat terbaik di sisi Allah, yang bisa Melati lakukan sekarang hanyalah mengirimkan doa untuk ayahnya.

???

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel