Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*

Jika kamu sedang dirundung malang,

Jika kamu sedang merintih dalam lautan duka,

Jika kamu sedang dilanda prahara,

Jika kami ditinggal orang yang dicinta,

Jika kamu hampir tenggelam dalam kesedihan penantian yang tidak jelas,

Yakinlah bahwa Allah menyayangimu lebih dari kamu menyayangi dirimu sendiri.

Allah mengujimu bukan untuk menghinakan dirimu...

Tetapi mengujimu untuk mengangkat derajatmu, mendengar rintihanmu.

???

Melati dan Runi ikut bahagia saat Hilda kini telah resmi menjadi istri dari Ibrahim, sosok laki-laki yang begitu membuat Melati teringat ayahnya. Bukan hanya sekedar nama, tetapi ternyata sedikit tingkah lakunya juga hampir sama dengan almarhum ayahnya.

Proses ijab kobul pun berlangsung dengan sedarhana, Ibrahim mencium kening Hilda dengan saat dia bergerak menghampiri wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Hati Hilda terenyuh, air mata lolos begitu saja tanpa bisa Hilda tahan, beginikah rasanya menikah?

"Aku bahagia sekali, Hilda."

"Aku juga, Ibrahim. Terimakasih sudah mau menjadikanku seorang makmum, terus bimbing aku, ya."

Ibrahim mengangguk, tentu dia akan dengan senang hati melakukannya. Dia berjanji akan bersama-sama menuju keridhoan Allah bersama istrinya.

Hilda mencium tangan Ibrahim, merasakan dirinya begitu beruntung bisa dinikahi oleh laki-laki sebaik Ibrahim. Ternyata Allah begitu baik, sudah mau menghadirkan Ibrahim di dalam kehidupannya yang cukup jauh dari kata baik.

"Ibu, om Ibrahim ngingetin aku sama ayah."

Runi tersenyum, lantas membelai pipi anaknya.

Tentu laki-laki seprti Ibrahim selalu saja mengingatkannya pada mendiang suaminya, semakin membuat rindu yang ada di dalam hati kian membuncah, sekarang yang bisa Runi lakukan hanya mendoakan suaminya, karena hanya dengan cara begitulah dia bisa menenangkan hati, dengan jalan mengiklaskan, hatinya terasa semakin lapang.

Tanpa pesta pernikahan, hingga acara itu hanya berlangsung dengan waktu yang singkat.

"Sebentar lagi, kita hanya tinggal berdua ibu." Melati berbisik kepada Runi, wanita itu hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya.

"Tidak apa, nanti juga kalau kamu menikah, kamu akan meninggalkan ibu bukan?"

"Kenapa ibu bilang begitu? Kalaupun aku menikah, aku akan ajak ibu kemanapun."

"Sayang, jika nanti suamimu tidak setuju, kamu tidak bisa memaksa. Lagipula, kamu bisa menjenguk ibu kapapun, kan?"

Melati hanya diam, perkataan ibunya sangat mengerikan. Mana mungkin dia tega membiarkan ibunya sendirian, sejak kecil ibunya tidak pernah meninggalkannya, wanita itu selalu ada di sampingnya, membesarkannya dan menghabiskan seluruh waktu hanya untuknya, lantas pantaskah dia meninggalkan ibunya setelah menikah nanti? Melati rasa itu adalah hal terbejat yang pernah dia lakukan.

???

Semenjak menikah, Hilda lebih memilih untuk ikut suaminya, meninggalkan keponakan dan kakaknya. Sebenarnya, Hilda sudah meminta agar suaminya tinggal bersama keponakan dan kakaknya, tapi laki-laki itu menolak, karena takut menanggung dosa akibat tinggal satu atap bersama seseorang yang bukan mahramnya. Mau tidak mau, Hilda harus patuh kepada suaminya, karena sekarang dirinya sepenuhnya milik suaminya, ia telah menjadi seorang makmum yang akan terus mengikuti kemanapun Ibrahim mengajaknya pergi.

Saat Melati sedang duduk di atas sofa bersama ibunya, ia mendengar suara pintu diketuk. Sejenak Melati melirik sang ibu, ibunya hanya mengangkat bahu tidak tahu.

"Sebentar ibu, aku bukain pintu."

Melati beranjak, Runi hanya menganggukan kepala.

Saat Melati membuka pintu, keningnya berkerut saat melihat kedatangan seorang laki-laki.

"Assalamualaikum,"

"Waalaikumussalam,"

Melati masih berusaha mengingat, wajah laki-lami itu tidak asing, Ia merasa sudah pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi di mana?

"Kenapa nggak kamu ajak masuk, Melati?"

Melati memgangkat wajahnya ke depan, bisa melihat kedatangan tantenya dan juga suaminya.

"Tante?"

Melati masih benar-benar dibuat bingung, kedatangan banyak tamu secara tiba-tiba.

Karena merasa canggung, Melati akhirnya mempersilakan mereka masuk. Meski belum mengerti apa maksudnya.

"Assalamualaikum, mbak." Hilda langsung memeluk kakaknya, benar-benar merindukan sang kakak, satu minggu tidak bertemu rasanya benar-benar sudah  bertahun-tahun.

Sementara itu, Melati pergi ke dapur, menyiapkan minuman untuk tamu-tamu itu. Melati sendiri juga dibuat tak karauan, hatinya begitu bergetar saat bertatapan dengan laki-laki itu.

"Astagfirullah, Melati. Apa yang kamu lakukan, ini dosa." Melati menggelengkan kepalanya, berharap jangan sampai ada hasutan iblis yang membuatnya melanggar aturan sebagai seorang perempuan.

Saat kembali, Melati membawa beberapa gelas air teh manis di atas nakas. Ia berusaha agar tidak bertatap mata dengan laki-laki asing itu

"Melati..," Melati kembali mengangkat kepalanya saat laki-laki itu memanggil namanya. Dia tau dari mana?

"Aku Dimas, keponakan om Ibrahim. Sejak awal aku melihatmu, aku sudah jatuh hati. Aku mengerti kamu adalah perempuan baik."

Melati hanya bergeming, jujur dia hanya bingung atas apa yang dimaksud Dimas.

"Aku tahu, ini begitu mendadak. Tapi, bukankah sesuatu yang baik pantasnya disegerakan?"

Melati memandang ibunya sekilas, berharap ibunya mengerti dengan maksud Dimas berbicara seperti itu.

"Aku ingin melamarmu, Melati."

Pernyataan itu sontak membuat Melati kaget. Ini terlalu mendadak, padahal dia baru saja melihat proses pernikahan tantenya, sekarang ada laki-laki yang sudah melamarnya dan benar-benar ini nyata.

Bukan hanya Melati yang terkejut, Runi pun tatkala terkejut mendengar pengakuan Dimas yang melamar putrinya. Runi mendesah, jika seperti itu, sekarang Melati harus tahu siapa dirinya. Karena pernikahan itu tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya kedua orang tua kandung dari Melati. Runi takut, jika ayah kandung Melati masih hidup, dia harus menjadi wali nikah Melati. Jika tidak, berarti Runi secara terang-terangan menjerumuskan anaknya ke dalam lingkaran perzinahan.

"Kenapa kamu ingin melamar, aku?"

Dimas tersenyum, "karena aku ingin menjalankan sunnah bersamamu."

Ibrahim yang memang sudah mengetahui ini sejak tadi hanya ikut tersenyum sendiri, ini juga adalah saran dari Ibrahim, jika memang Dimas mengagumi Melati, dia harus berani untuk melamar. Apalagi Melati yang sama sekali belum terikat oleh laki-laki manapun.

"Aku sangat menghormati keberanianmu untuk melamarku."

Jujur, Melati terenyuh akan sikap Dimas yang seperti ini. Melati juga bisa melihat bahwa Dimas adalah pria yang baik. Ayah dan ibunya juga begitu baik. Apakah perasaan ini Allah hadirkan benar-benar baik? Pantas saja sejak tadi, ada hal yang menjanggal di hatinya.

"Melati, om sangat mengenal, Dimas. Jika kamu ragu, kamu tidak usah menjawab sekarang."

Melati semakin yakin, Ibrahim tidak mungkin salah mengenalkan keponakannya itu. Jika memang Allah memgizinkan, Melati siap menerima lamaran itu.

"Sebentar..."

Melati memandang ibunya yang ada di samping. Berharap ibunya bisa memberikan solusi. Apakah ibunya itu menyetujuinya untuk mengenali lelaki itu atau tidak sebab Melati sangat tahu. Bahwa ridha seorang ibu adalah ridhanya Allah. Jika seandainya ini adalah jalannya maka ia akan menerima dengan sangat iklas atas segala takdir Allah yang sudah digariskan untuknya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel