Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*

***

Laki-laki seperti Ibrahim yang sangat jarang dia temui. Laki-laki yang mendadak datang ke rumahnya dan menyatakan ingin melamar, Hilda sendiri masih begitu bingung, entah bagaimana caranya dia bisa luluh oleh laki-laki itu, mungkin ini memang kehendak Allah yang memiliki hatinya.

Hilda tidak pernah menyesal, kenapa Allah masih belum menakdirkannya menikah hingga usia yang sudah tidak muda lagi, ini salah satu rencana Allah untuk mempertemukannya dengan Ibrahim, karena bagi Hilda rencana Allah jauh lebih baik dari rencana apapun yang sudah dia bayangkan selama ini.

Selama tiga puluh menit perjalnan, akhirnya Melati sampai di pemakaman umum tempat ayahnya dikuburkan. Suasan tadi seketika mendadak berubah, Melati yang tadinya selalu tertawa sekarang berubah menjadi bisu, mempersiapkan diri agar tidak memangis di depan makam ayahnya nanti. Setelah tujuh belas tahun berlalu, rasanya masih tetap sama, begitu berat jika harus menerima takdir ini, tapi Melati tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya sudah Allah tulis sesuai kehendaknya. Bahkan Melati sendiri tidak tahu bagaimana nanti dia akan meninggal, lalu dimasukan ke dalam tanah seperti ini.

Melati juga sangat kasihan dengan ibunya, perempuan itu memilih untuk melanjutkan stausnya sebagai janda, setia kepada almarhum suaminya jauh lebih penting bagi Runi. Padahal, sudah banyak laki-laki yang datang untuk melamarnya, tapi ibunya itu selalu saja menolak, dengan alasan kalau dia hanya ingin menjaga cintanya untuk sang suami. Bukan Runi menolak jodoh yang sudah Allah datangkan, tapi hatinya tidak pernah bisa menerima lelaki manapun, Runi juga tahu, Allah pasti paling mengerti bagaimana isi hatinya.

"Ayah, maafkan Melati. Melati baru sempat datang sekarang lagi." Melati duduk di depan makam ayahnya yang rata, sebuah pemakaman tanpa batu nisan, ini sudah memang permintaan ayah ketika masih hidup. Dia hanya ingin kuburannya rata dengan tanah, tanpa adanya batu nisa yang dituliskan namanya. Karena tidak boleh membuat bangunan di atas kuburan, baik berupa batu nisan atapun yang lainnya.

Baik Runi mapun Melati sama-sama larut dalam kesedihan masing-masing, luka yang masih begitu kentara terasa.

"Seandainya ayah kamu masih ada di sini, dia pasti akan sangat bangga sama kamu, Mel."

"Aku harap juga gitu, Bu. Aku nggak pernah berpikir kalau ayah bakal pergi secepat itu, yang aku tahu, Ayah sama Ibu bakal terus ada di samping aku."

Seandainya Melati mengerti saat itu, bahwa hari itu adalah hari terakhirnya bertemu dengan ayahnya dan hari itu juga adalah hari terakhir dia melihat wajah ayahnya, mungkin Melati tidak akan pernah mau bermain sesukanya, mungkin dia akan ada di hadapan ayahnya sambil mencium ayahnya untuk terakhir kalinya. Sayangnya saat itu dia hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tidak tahu bahwa kematian adalah pemisah hidupnya dengan ayah tercinta, ternyata setelah besar dia merasakan bahwa kiamat kecil itu amat memedihkan.

Kenangan yang singkat itu sedikitpun tidak hilang dari memorinya, Melati ingat saat pertama kali ayahnya membelikannya buku gambar, awalnya Ia pikir ayahnya akan mengajarkannya untuk melukis hewan-hewan yang lucu, kecinci, kupu-kupu, kucing, kerbau, kambing dan masih banyak lagi. Tapi, prediksinya salah, ayahnya justru mengajarkannya untuk tetap menulis, dengan alasan jika Melati bosan menulis di buku tulis, dia bebas menulis di kertas tanpa bergaris itu. Melati kaget dan sangt kesal, ia menolak mentah-mentah, menganggap menulis huruf-huruf itu sudah membuatnya bosan . Namun, Ayahnya begitu pandai pandai merayu, berkat diiming-imingi es krim, akhirnya Melati menurut.

"Ayah, Melati bosan. Melati masih kecil, seharusnya Melati itu gambar kupu-kupu atau bikin gambar ayah sama ibu."

"Sayang, justru karena kamu masih kecil makanya ayah ajarkan, biar nanti setelah kamu masuk sekolah tulisannya makin bagus."

"Ayah aja yanh bikin, Melati maunya liatin aja."

Melati melipat kedua tangannya di atas dada, kesal karena tidak diizinkan untuk melukis gambar yang dia suka.

"Yah, padahal tadi kalau Melati mau, ayah kasih es krim. Tapi yaudah deh, es krimnya buat ayah aja."

Seketika mata Melati langsung berbinar, melihat ayahnya begitu antusias.

"Beneran, yah?"

"Iya dong."

"Yaudah Melati mau."

"Tapi jangan bilang-bilang ibu ya, nanti kita dimarahin." Ibrahim berbisik kepada putrinya, lantas mereka berdua sama-sama terkikik pelan.

"Siap ayah." Melati mengacungkan kedua jempolnya, sementara itu Ibrahim mengacak-acak rambut Melati dengan gemas.

Ternyata semuanya ada sebabnya, kenapa sejak dulu ayahnya tidak pernah mengizinkannya untuk melukis makhluk yang bernyawa, karena itu semua amat diharamkan.

“orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu , beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu , beliau berkata: aku mendengar Rasulullah

Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha , ia berkata:

"Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pulang dari safar. Ketika itu aku menutup jendela rumah dengan gorden yang bergambar (makhluk bernyawa). Ketika melihatnya, wajah Rasulullah berubah. Beliau bersabda: “wahai Aisyah orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah yang menandingin ciptaan Allah “. Lalu aku memotong-motongnya dan menjadikannya satu atau dua bantal” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan hadits Ibnu ‘Abbas

radhiallahu’anhuma, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“barangsiapa yang di dunia pernah menggambar gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga hadits lainnya dari Nabi

Shallallahu’alaihi Wasallam :

“semua tukang gambar (makhluk bernyawa) di neraka, setiap gambar yang ia buat akan diberikan jiwa dan akan mengadzabnya di neraka Jahannam ” (HR. Bukhari dan Muslim).

???

Melati masuk ke dalam kamar tantenya; Hilda. Dia bisa melihat tantenya itu sedang gelisah, mungkin karena besok adalah hari pernikahannya. Ini tentu hal yang wajar, bukan hanya bagi Hilda, perempuan manapun pasti akan merasakan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, senang, sedih, takut semuanya berpadu menjadi satu.

"Tante, kenapa?"

Hilda mendesah, wajahnya semakin memancarkan ketidak tenangan.

"Aku tahu, pasti sekarang tante lagi gelisah kan?"

"Tante juga nggak tau, Mel. Rasanya aneh, tante nggak tenang."

"Mending tante salat, minta ketenangan hati sama Allah."

Hilda mengangguk, menerima saran yang diberikan Melati. Hilda juga berharap setelah selesai salat nanti, semoga Allah memberinya ketenangan hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel