Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*

Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak tidak pernah berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (pemusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.

HR. Muslim no. 2565

???

Melati terbangun dari tidurnya, lagi dan lagi kejadian masa kecil itu selalu masuk ke dalam mimpinya, padahal ini sudah tujuh belas tahun berlalu, Melati semakin merindukan ayahnya yang sudah berada di surga. Seorang laki-laki baik yang pernah Melati temui di dalam hidupnya.

Tidak lama setelah itu Melati bisa mendengar suara adzan dari handphonenya, menandakan waktu subuh telah tiba, Melati mendesis pelan, bisa-bisanya dia terlambat bangun, padahal dia ingin makan sahur untuk menjalankan puasa sunnah.

Melati mendesah resah, sekarang waktu yang paling ditunggu-tunggu sudah tiba, setelah empat tahun dia berada di Pakistan untuk melanjutkan studinya di sana, sungguh dia begitu merindukan masakan sang ibu.

"Ibu, aku akan segera pulang."

Melati beranjak dari atas tempat tidur, berjalan ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu dan melakukan salat. Sebelum melakukan shalat subuh, Melati terlebih dahulu melakukan shalat sunnah fajar.

Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki keutamaan, sampai-sampai Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan seorang hamba. Amalan tersebut adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh atau disebut juga shalat sunnah fajar. Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha , beliau berkata: "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Ketika safar (perjalanan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksankan shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau melakukan safar. (Zaadul Ma’ad I/315)

Keutamaan shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” (HR. Muslim725).

Melati duduk sambil berdzikir, matanya terpejam merasakan dirinya begitu dekat dengan Allah, Melati begitu merindukan mendiang ayahnya, berharap semoga Allah cepat mempertemukan mereka. Sebentar lagi Melati berjanji akan datang ke tempat perustirahatan ayahnya.

"Ayah, Melati sangat menyayangi ayah."

???

Melati baru saja menginjakan kakinya di bandara Soekarno-Hatta, di sana dia langsung mendapati ibu dan tantenya yang sudah menunggu kedatangannya sejak satu jam yang lalu. Melati langsung berjalan mendekati mereka berdua, memberi salam kepada sang ibu lantas memeluknya dengan hangat, sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan pelukan ini.

"Aku kangen banget sama, ibu."

"Ibu juga, sayang."

"Oh jadi yang kamu kangenin cuma ibu doang? Tantemu ini nggak dikangenin?"

"Ahhh, tante. Tentu dong Melati juga kangen sama tante." Melati juga memeluk tantenya.

"Tante sekarang pake jilbab?"

Tanya Melati heran. Sementara itu Hilda hanya mengangguk malu, dia baru mengenakan pakaian sepertini sejak dua bulan yang lalu, entah bagaimana laki-laki yang dia kenal bisa membuatnya seperti ini. Padahal dulu, baik Runi maupun Melati selalu gagal mengajaknya untuk menutupi rambutnya, ia hanya memberikan alasan belum siap berhijab, dia meganggap orang yang memakai hijab hanyalah orang-orang yang sudah kuat agamanya. Tapi, cara pandangnya bisa berubah semenjak bertemu dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadikannya seorang istri hanya satu kalimat tapi berhasil membuat hatinya tersentil.

"Iya, bagaimana menurutmu?"

"Tante semakin cantik." Melati mengacungkan kedua jempolnya.

"Kamu tahu nggak, Melati? Sebentar lagi tante kamu ini bakal menikah, dan laki-laki itu yang berhasil nyuruh tante kamu pakai hijab."

"Wah, beneran, bu?" tanya Melati penuh selidik, dia begitu penasaran dengan sosok laki-laki yang dimaksud ibunya, sementara itu Hilda hanya bisa tersenyum malu.

"Kenapa ibu baru cerita sekarang sama, Melati."

"Ya kan nggak seru kalau ngomongnya lewat telpon." Runi terkekeh pelan,

"Kalian bisanya ngeledikin aku, ibu sama anak benar-benar kompak. Sudalah, ayo kita pulang."

Hilda berusaha menghidar, dia masih begitu malu membahas tentang calon suaminya. Apalagi sejak dulu dia begitu larut dalam permainan dunia, dia begitu terpesona pada keindahan semata, terlalu percaya akan mulut-mulut manis yang hanya memberinya kebahagiaan sesaat, hingga akhirnya terluka kerena pilihan yang salah. Begitu lama menutup hati hingga akhirnya  sekarang berhasil dipertemukan dengan laki-laki yang baik.

Sepanjang perjalanan, Melati tidak ada habis-habisnya menggoda tantenya itu, sampai-sampai Hilda kehilangan cara untuk menjawab pertanyaan Melati. Sejak kecil anak itu selalu banyak bertanya, kebiasaan yang tidak pernah berubah.

"Tante udahlah, ceritain sedikit aja. Atau kasih tau aku namanya deh."

"Namanya itu Ibrahim, Mel."

"Ihs, Kak Runi, diam dong. Nggak usah dikasih tau si Melati, yang ada aku makin habis diledekin sama dia."

Hilda memorotkan bibirnya kesal, jika saja nanti dia punya anak, Hilda yakin, kakaknya itu dan Melati akan kalah.

"Wah, sama kayak nama ayah dong. Pasti orangnya juga sebaik ayah." tebak Melati, dan benar saja, Runi semakin dibuat tergoda.

"Nggak apa-apa, yang penting aku bahagia, karena tanteku ini bisa dapetin suami yang baik. Aku yakin, dia bisa jadi imam yang baik buat tante."

"Aamiin...," Hilda juga berharap demikian, baginya sosok Ibrahim begitu jauh berbeda dari laki-laki manapun yang dia kenal. Ibrahim bahkan langsung menyatakan perasaannya begitu saja. Padahal, saat itu Hilda sama sekali tidak mengenal Ibrahim. Hilda juga tahu, orang yang baik akan bertemu dengan yang baik, lantas Hilda tidak menyangka, ditengah-tengah dirinya masih jauh dari jalan-Nya, Allah justru mengirimkan seseorang yang baik untuknya. Sungguh itu adalah sebuah anuggrah yang teramat besar bisa hadir dalam hidupnya. Seandainya kebaikan itu tidak datang Hilda benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Allah begitu maha baik, Allah begitu sangat meyayanginya. Allah mengasihinya tanpa alasan. Taoi kenayaannya ia justru meyayangi Allah dengan banyak Alasan. Yang mungkin salah satu alasan itu adalah ingin mendapatkan kebahagiaan. Ternyata benar, jika kita mengejal Allah, Allah akan memberikan segalanya. Tapi saat kita mengejar segalanya kita malah dengan keliru selalu meninggalkan Allah. Lantas pantaskah kita marah jika diberikan ujian? Sungguh pertanyaan yang tak pantas.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel