Bab 2
بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
Melati masih ingat, gimana saat ayahnya diam-diam mengizinkannya untuk membeli es krim, Melati sangat senang karena makanan dingin itu berhasil menyentuh lidahnya, apalagi rasa manis yang begitu Melati sukai, ayahnya tidak seperti ibunya yang begitu cerewet, padahal ia hanya ingin mencicipi sekali saja.
Saat Runi menghubungi suaminya, sama sekali tidak ada jawaban, membuat Runi sedikit cemas, di tambah dengan rengekan Melati tadi, yang sepertinya merasakan sesuatu telah terjadi pada ayahnya. Tapi, Runi tidak mau menduga-duga terlebih dahalu, karena prasangka buruk itu adalah satu hal yang tidak baik.
"Ibu, ayo. Kenapa lama banget," Melati merengek, perasaan anak kecil itu semakin tidak tenang, wajahnya tampak gelisah.
"Sebentar ya sayang, mungkin ayah nggak denger handphonenya bunyi, mending sekarang melati tidur, ibu temani."
Runi mengangkat tubuh anak perempuannya itu ke atas tempat tidur, membaringkan gadis itu di sana sambil mengusap kepalanya, memperlakukannya dengan begitu baik sehingga membuatnya merasa cukup nyaman.
Saat Melati benar-benar sudah tertidur, tiba-tiba saja Runi mendapatkan kabar yang tidak mengenakan, kabar yang benar-benar membuatnya sangat terkejut, ternyata kecemasan anaknya itu memang ada sebabnya, kegelihasan anak kecil itu memang sebuah pertanda yang amat buruk.
Runi baru saja mendapat kabar dari pihak kepolisian bahawa suaminya mengalami kecelakaan tunggal yang berhasil merenggut nyawanya.
Runi menatap Melati yang sedang tertidur, tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskan kepada anaknya nanti.
Runi ingin menangis, tetapi suaminya itu selalu berpesan bahwa setiap cobaan yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Terimakasih sudah menyayangiku dan Melati begitu tulus."
"Runi, kamu tidak boleh mencintaiku dengan berlebihan, karena aku hanyalah manusia yang tidak abadi, ingat sayang, Allah sangat cemburu jika hambanya mencintai sesuatu hal melebihi cintanmu kepada-Nya."
"Kenapa kamu bicara begitu, Mas?"
"Karena aku tidak selamanya bisa menemanimu, Sayang. Aku tidak mau kamu begitu terluka saat aku tidak lagi bersamamu."
"Mas, jangan bicara begitu."
Runi semakin tidak nyaman dengan pembicaraan suaminya, rasanya sanggat janggal ketika membahas hal yang mengerikan bagi Runi.
"Kamu harus siap, Runi. Kamu ataupun aku kelak akan diumumkan namanya di masjid, menyampaikan kabar duka, dan aku ingin menemuinya dalam keadaan yang baik."
"Aku tidak siap."
"Tidak siap bagaimana? Memangnya kamu bisa menghentikan malaikat saat ingin mencabut nyawamu?"
"Bukan itu, Mas. Aku tidak siap mendengar namamu disebut. Aku mohon, jangan bicarakan ini lagi."
Runi memegang kedua tangan Ilham, lantas memeluk suaminya dengan erat, dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan sosok lelaki yang selalu membimbingnya itu.
Runi menangis kala mengingat beberapa fragmen singkat itu, ternyata semua ucapan suaminya benar-benar memiliki makna. Setiap manusia baik, selalu Allah panggil di waktu yang tidak pernah terduga, Runi bingung bagaimana harus menjalankan hidupnya kedepan, ia masih sangat membutuhkan Ilham untuk terus membimbingnya.
"In syaa Allah, aku ikhlas, Mas..."
Meski berat, Runi harus menerimanya, siap tidak siap Runi harus mengikhlaskan Ilham.
???
"Ibu, kenapa ayah diam aja?"
Melati yang tidak tahu hanya bisa melihat jasad ayahnya dengan bingung, semua orang menangis termasuk ibunya sendiri.
"Ayah nggak biasanya diamin Melati, Ibu. Apa Melati nakal ya?"
Pada akhirnya pertanyaan polos itu keluar dari mulutnya, membuat hati Runi semakin tak kuasa menahan tangis, dia hanya manusia biasa tidak bisa begitu kuat untuk menahan kesedihan. Apalagi pertanyaan yang terus bertubi keluar dari mulut Melati, membuat Runi semakin tidak tega saat memandang wajah putri kecilnya.
"Ibu, ayo bilang, apa Melati nakal? Kalau iya Melati janji nggak bakal nakal lagi, Melati janji bakal bangun lebih pagi buat bisa shalat bareng sama ayah, Melati janji bakal nurut sama ayah, tapi bilang sama ayah jangan diamin Melati, bu."
Melati sudah menggelugut di atas pangkuan ibunya. Sementara itu Runi sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ikut sama tante ya sayang."
Hilda mengambil Melati dari pangkuan Runi, dia mengerti kakaknya itu masih terlalu terkejut dengan kabar duka ini.
"Melati nggak mau..."
Teriakan Melati semakin nyaring terdengar, tapi tubuh mungil itu sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan saat tubuhnya diangkat, yang bisa Melati lakukan hanya hanya menangis.
"Tante kenapa bawa Melati ke sini, Melati mau ketemu ayah, tante."
"Melati sama tante dulu, ya sayang..." Hilda berusaha untuk menenangkan Melati, karena kondisi di luar tibak baik untuknya jika terus-terusan berada di sana.
"Melati mau dengerin tante, nggak?"
"Apa?" tanya Melati sambil terisak.
"Melati nggak nakal kok, ayah juga nggak marah sama Melati."
"Kalau ayah nggak marah, kenapa ayah nggak mau ngomong sama Melati."
"Itu karena ayah, lagi ketemu sama Allah di surga, sayang."
"Kenapa ayah nggak ajak Melati, Melati kan mau ketemu juga sama Allah."
"Melati mau ketemu Allah sama Ayah?"
Melati menganggukan kepalanya polos, lalu menghapus sisa air matanya yang masih tinggal di pipi.
"Surga itu adalah tempat orang-orang yang baik, orang-orang yang taat sama Allah, jadi kalau Melati mau ketemu sama Allah di surga, Melati harus jadi anak yang baik, Melati harus rajin salat dan patuh sama perintah Allah."
Hilda mengusap pipi Melati pelan, lalu tersenyum menatap anak kecil itu.
"Oh gitu, ya tante. Yaudah, nanti kalau Melati salat, Melati minta sama Allah supaya ayah jemput Melati."
"Sekarang, Melati nggak boleh nangis lagi, ya."
"Iya tante, Melati mau berdoa aja sama Allah, supaya Melati, Ibu sama Ayah bisa ke surga sama-sama."
Hilda hanya bisa tersenyum tipis, anak kecil seperti melati selalu menganggap apa yang dia harapkan bisa langsung terujud, seperti ingin membeli mainan, semuanya bisa didapatkan kapanpun dia mau.
Jujur, Hilda begitu sedih melihat Melati, setahu Hilda, Melati begitu dekat dengan ayahnya baginya Ayah adalah laki-laki paling hebat, laki-laki yang selalu bisa menggendongnya paling tinggi, laki-laki yang bisa memanjakannya saat sakit, ketika Melati tidak mau makan, Ayahnya selalu menawarkan masakan yang menurut Melati enak, meski tidak seenak masakan Ibunya.
Hilda juga tahu, Melati paling manja ketika bersama ayahnya itu, meski Melati bukan anak kandung Ilham dan Runi, tapi mereka begitu menyayangi Melati.
"Melati lagi makan? Pake apa?"
"Pake sayur bayam sama telur puyuh dong, tante."
"Wah, enak banget tuh. Tante boleh minta nggak?"
"Nggak boleh, ini khusus ayah masakin buat Melati."
Melati merentangkan tangannya, bersikap menguasai hidangan yang ada.
"Ih masakan ayah nggak enak, enakan masakan ibu loh." kata Hilda mengompori, Melati tidak terima dengan apa yang dikatakan tantenya itu, dia memandang ayahnya ke samping, memasang wajah manja agar sang ayah mau memarahi tantenya itu.
"Mau ngadu kamu?"
Seenaknya Hilda menarik rambut Melati yang dikucir dua, Melati merengek mulai mengeluarkan jurus yang membuat Hilda ketakukan.
"Yah, jangan nangis dong. Maafin ya, iya masakan ayahnya Melati enak kok." pada akhirnya, Hilda harus mengalah, percuma saja dia berdebat dengan anak kecil yang mengesalkan baginya.
Sementra itu, Ilham dan Runi hanya bisa tersenyum gemas, Melati paling suka makan sayur buatan ayahnya.
???
