Bab 1
بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
Katakanlah: ‘Hai Hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
(Az Zumar : 10).
???
Sinta sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang terlahir dari rahimnya akan terlahir seperti ini, ketidak sempurnaan anggota tubuh benar-benat membuatnya begitu tidak terima. Ia sangat marah pada Allah, kenapa dia yang hidup dari keluarga terpandang harus dikarunia anak seperti ini, selama kehamilan Sinta tidak pernah absen untuk mengecek kehamilannya, dan semuanya baik-baik saja. Lantas kenapa sekarang anaknya harus memiliki sebelah telinga yang tidak utuh?
Sinta tidak tahu bagaimana nanti reaksi suaminya, Sinta tidak siap jika harus melihat kemarahan suaminya kala bertemu dengan bayi cacat ini.
"Aku nggak akan biarin kamu ada di hidupku. Aku nggak mau, gara-gara kamu suamiku malu, aku rasa seharusnya kamu tidak pantas tinggal bersamaku, karena nanti aku masih bisa memiliki anak lagi."
Sinta memandang bayi itu penuh kebencian. Sekarang dia tidak akan tinggal diam, menyingkirkan bayi itu adalah hal yang terpenting, setelah itu dia akan mencari bayi pengganti yang memiliki fisik yanh lebih sempurna. Sinta merasa beruntung suaminya masih belum bisa pulang dari luar kota, jadi satu hal yang sangat mudah baginya untuk menyembunyikan ini semua.
"Bu, saya takut kalau nanti tuan Arif tahu."
"Dia nggak akan tahu kalau kamu nggak kasih tahu, ingat Dadang, kamu hanya seorang sopir, jadi tugasmu hanya mengikutiku. Kalau tidak, aku akan memecatmu." Sinta memberikan bayinya kepada Dadang, meminta laki-laki itu untuk segera melenyapkannya.
Dadang tidak punya pilihan lain, sebenarnya Dadang tidak tega jika harus mengikuti kemauan majikanya itu, membuang seorang bayi tanpa dosa itu pasti akan membuat hidupnya dihatui rasa bersalah, tapi ini semua terpaksa dia lakukan, Dadang harap Allah mengerti tentang kesulitannya, jika Dadang kehilangan pekerjaannya, dia akan kehilangan anaknya, jika saja anaknya tidak sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar, Dadang tidak akan pernah mau melakukannya.
"Maafkan bapak ya, Nak. Bapak terpaksa tinggalin kamu di sini."
Bayi yang tidak tahu apa-apa itu hanya bisa memandang wajah Dadang dengan polos, bayi yang tidak mengerti apa-apa akan kehadirannya yang tidak diharapkan, membuat hati Dadang semakin terasa nyeri.
Dengan perasaan bersalah Dadang akhirnya benar-benar memutuskan untuk pergi, kembali ke dalam mobil dan mengikuti semua perintah majikannya itu.
"Sekarang, kita harus mencari bayi di panti asuhan. Aku yakin di sana pasti ada seorang bayi yang begitu sempurna."
"Seharusnya nyonya nggak lakuin ini, kasihan dia harus sendirian."
"Nanti juga pasti akan ada yang memungutnya. Yang jelas, aku mau kamu tetap jaga rahasia ini."
Mau tidak mau Dadang hanya memenuhi permintaan majikannya, meski dengan hati yang sama sekali begitu kontra dengan keputusan majikannya. Padahal dulu, saat majikannya mengandung, ia tampak sangat bahagia, tidak sabar menunggu kelahiran sang anak.
Sepanjang perjalanan Dadang hanya bisa mengikuti instruksi dari Sinta, sampai akhirnya mereka benar-benar sudah sampai di panti asuhan, Sinta sama sekali tidak menunjukan wajah sedih atapun bersalah, dia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
???
"
Ibu, mereka jahat, Melati malu, kenapa Melati nggak punya telinga sebagus telinga mereka, kenapa sebelah telinga Melati jelek." Melati memangis dipangkuan ibunya, sering kali dia menangis dengan masalah yang terus berulang, membuat Runi sama sekali tidak tega. Runi tahu, ini memang berat bagi Malati, mereka selalu saja merendahkan anaknya itu.
"Yasudah, sekarang Melati mau nggak ibu pakaikan jilbab ini?"
"Buat apa, bu? Apa buat nutupin telinga Melati yang jelek?"
Rumi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Bukan sayang, nggak seperti itu. Sekarang umur Melati sudah berapa?"
Melati menghitung jatinya dengan terampil, lalu menunjukan kelima jarinya dengan bahagia.
"Lima tahun, ibu."
"Nah, sebentar lagi Melatikan mau masuk sekolah, Melati tahu nggak, kenapa ibu pake jilbab?"
"Biar rambut ibu nggak keliatan."
Runi tersenyum mendegat jawaban anaknya itu, Runi duduk di atas sofa sambil memangku Melati.
"Iya, sayang benar. Tapi ada yang lebih penting dari itu."
"Apa, Bu?"
"Sebentar lagi, Melati pasti bakal masuk sekolah, Melati bakal ketemu sama anak laki-laki. Jadi, mereka itu nggak boleh lihat rambut Melati, karena rambut itu adalah aurat kita sebagai perempuan."
"Kalau Melati nggak mau pake jilbab, ibu marah ya?"
"Bukan hanya ibu yang marah, tapi Allah juga, sayang. Allah marah karena kita sebagai manusia telah mengingkari perintahnya."
"Melati nggak pernah ketemu sama Allah, terus gimana Allah mau marah sama Melati?"
Runi kembali tersenyum menatap anaknya, ia mengusap kepala Melati dengan lembut.
"Gini ya sayang, misalnya Melati pergi sama ayah, terus diam-diam Melati beli es krim yang banyak, pas ibu nelpon Melati, menurut Melati, ibu marah nggak?"
"Iya," jawab Melati polos.
"Kenapa Melati bisa tahu ibu marah? Kan Melati nggak liat ibu."
"Ya Melati tahu, karena Melati udah nggak patuh sama ibu."
"Nah jawabannya sama, sayang. Allah juga pasti bakal marah kalau kita nggak patuh sama dia. Sebenarnya bukan Allah yang butuh kita, tapi kita yang butuh Allah, kita bisa hidup, makan, tidur dan bangun juga karena Allah."
"Emangnya, Allah itu ada di mana sih, Bu?"
"Sayang, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersama Melati, di mana pun Melati berada."
"Allah itu kayak ibu dong, deket sama Melati dan selalu ada di samping Melati."
Runi tersenyum kembali, rasa ingin tahu anaknya begitu tinggi, kadang pertanyaan putrinya itu nyaris membuatnya kebingungan harus menjawab bagaimana.
"Allah nggak sama seperti apapun, sayang. Nggak sama seperti ibu, ayah atapun Melati. Allah juga nggak sama seperti gunung, pohon, bunga, sungai, laut, bintang, bulan, matahari atau apapun yang udah pernah Melati lihat."
"Oh, gitu ya, Bu. Iya deh, Melati mau pake jilbab, biar sama kayak ibu."
"Sebentar, ibu ambilkan kerudung buat Melati."
Melati hanya mengangguk polos, lalu Runi meletakan Melati di atas sofa, dia berjalan mendekati lemari dan mengambil kain berwarna hitam.
"Ibu, kok warnanya jelek?"
"Dipakai aja ya sayang, nanti kalau kamu bawel terus mau ibu gelitik hmm?"
Melati diam saja sambil menatap Ibunya yang subuk memakaiakan kerudung kepadanya. Kadang, Melati tertawa sendiri saat merasa geli ketika ibunya menyentuh pipinya dengan gemas.
"Ayah kapan pulang, ibu. Melati kan kangen ayah."
"Sebentar lagi ayah juga pasti pulang, sayang."
"Tapi di luar lagi hujan, Ibu. Gimana kalau ayah kehujanan, terus ayah sakit."
Melati begitu mengawatirkan sang ayah, matanya tertuju menghadap ke luar jendela, melihat hujan yang turun secara tidak beraturan, angin lencang membuar airnya mengarah ke sana kemari, apalagi pohon-pohon di luaran sana, yang bergoyang-goyang kencang seakan angin ingin membuatnya enyah dari tempat itu.
"Dari pada Melati menghawatirkan yang tidak-tidak, lebih baik kita doain ayah, supaya Allah selalu melindungi, ayah."
Melati mengangguk, ia benar-benar sangat menghawatirkan sang ayah, Melati begitu takut jika ayahnya tidak akan pernah pulang lagi.
"Ibu, gimana kalau nanti Melati nggak ketemu ayah lagi?"
"Kenapa Melati bilang begitu?"
"Soalnya tadi malam Melati mimpi buruk, Melati lihat ayah pergi ninggalin kita, Bu. Ayah nggak jadi pulang ke sini."
"Sayang, kalau Melati mimpi buruk, Melati harus ingat sama Allah, karena mimpi buruk itu datangnya dari setan, jadi Melati nggak usah ngerasa sedih, ayah pasti tidak akan meninggalkan kita, apalagi ayah kan sayang sama Melati."
"Tapi Melati takut, ibu. Melati nggak mau kalau ayah beneran pergi."
"Yaudah, gini aja. Gimana kalau kita telpon ayah? Melati mau nggak?"
Melati menganggukan kepalanya gemas, dia benar-benar sudah merindukan ayahnya itu. Karena selama ini Melati paling dekat dengan ayahnya, dia tidak pernah ditinggalkan selama ini.
