Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 – Tinggal Lebih Lama

“Hai anak Papa,” sapa Papa saat baru datang dan aku masih setia duduk di barstool sendirian, karena Bi Ani sudah mengerjakan pekerjaan yang lainnya.

Aku memejamkan kedua mata sejenak, saat Papa mencium pelipisku sekilas. Kebiasaan yang dari dulu Papa lakukan kalau dia mau pergi, atau baru pulang.

Aku sendiri tersenyum lalu menyahut, “Hai Papa.”

“Kamu tadi jadi ngemil? Bi Ani bikinin apa?” tanya Papa, sembari menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, dan melangkah menuju dapur, yang aku tebak ingin mengambil air mineral di lemari pendingin.

“Jadi, tadi dibikinin dadar gulung sama Bi Ani,” jawabku.

“Ya udah kalau gitu, yuk makan sekarang. Papa udah laper nih,” ajak Papa, yang kusahuti dengan anggukan sebelum mengekor menuju ruang makan.

Entah karena faktor terbiasa saat dulu kami sering makan bersama atau apa, aku duduk di kursi yang letaknya di sebelah kiri Papa, seperti dulu.

Itu jelas aku lakukan tanpa sadar, karena jika makan berdua dengan mantanku atau dengan Agha, aku pasti akan duduk di hadapan mereka.

Namun dengan Papa, aku secara tak sadar duduk di samping kirinya, dan langsung terdiam saat Papa menoleh padaku.

“Papa pikir kamu bakalan duduk di depan Papa,” ucap Papa kaget.

“Eh? Iya, ya. Aku baru sadar juga,” sahutku bingung.

“Ya udah, di samping Papa aja nggak masalah,” ucap Papa. “Dulu juga kamu biasanya duduknya nggak di depan Papa, tapi di samping kiri begini.”

“Hm? Kok Papa bisa sih masih inget yang kayak gitu?” tanyaku heran.

“Anak Papa kan cuman kamu doang. Jadi ya gimana bisa lupa sih Ka,” jawab Papa, yang hanya kusahuti dengan anggukan saja.

“Ngomong-ngomong, Papa jadi anterin aku pulang kan setelah ini?” tanyaku pada Papa, di sela-sela makanku.

“Papa anterin kamu untuk ambil koper dan barang-barangmu, trus kita balik lagi ke sini. Bukan Papa anter kamu pulang begitu aja,” jawab Papa. “Kan kamu nginep di sini.”

“Ih, nggak jadi ah Pa, aku mau di rumah Agha aja,” ucapku, berusaha menolak.

“Nggak ada bantahan, Velica. Kita udah sepakat tadi malem, kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran?” tanya Papa. Nada bicaranya terdengar tak senang.

“Aku mau di rumah Agha aja Papa, nggak enak kalau kelamaan di sini,” rengekku menyahut.

“Papa nggak mau tau, pokoknya kamu tinggal di sini, sampai kamu dapet kerjaan. Di sini selamanya juga nggak masalah,” ucap Papa.

“Pa, I’m not your daughter anymore. Aku nggak enak sama orang kalau aku di sini terlalu lama. Semalem aku setuju untuk nginep, karna udah males berdebat,” ucapku.

“Selamanya kamu itu akan jadi anak Papa. Dan, pokoknya kamu di sini, Velica. Sekarang kamu abisin makanmu, trus kita ke rumah temenmu untuk ambil barang-barangmu untuk dibawa ke sini.

“Sekalian nanti di sana kamu ganti baju, jangan pakai baju ini lagi. Pakaian kamu bisa ngegoda iman Papa.”

Aku bersyukur karena tak sedang mengunyah atau menelan makanan. Sebab, aku yakin aku akan tersedak karena mendengar omongan Papa barusan.

Namun begitu, aku masih tetap bisa menyahut, “Nggak pakai baju ini aja, tadi pagi ada yang kegoda.”

“Kaos Papa di kamu juga ternyata bisa ngegoda Papa, dan itu menyiksa banget, kamu tau kan?”

“Jadi karna itu, semalem Papa nyium aku?”

“Iya. Dan Papa ngelanjutin karna kamu bales.”

“Mana ada seorang Ayah yang nyium anaknya tepat di bibir, kayak yang kita lakuin semalem, Pa.”

“Ada, kita. Dan Papa nggak masalah soal itu.”

“Aku yang masalah. Papa enak aja nyium aku, padahal katanya nganggep aku anak.”

“Kamu juga bales ciuman Papa. Jadi nggak masalah kan? Udah ah, lebih baik kamu cepet abisin makanmu, sebelum kamu yang Papa makan di sini.”

“Papa! Ngomongnya sembarangan banget!”

Aku memukul keras lengan kiri Papa, yang sebenarnya aku tahu bahwa itu percuma, karena Papa pasti tak akan merasakan apapun.

Lengan Papa yang sekeras itu, jelas saja tak akan merasakan sakit jika dipukul dengan tanganku yang kecil.

»Daddy’s Little Girl«

“Nih, ponsel buat kamu yang Papa janjiin. Kartu kamu udah dipindah ke ponsel ini juga. Tinggal kamu akses email aja, biar data dari ponsel lama, pindah ke yang baru,” ucap Papa saat kami berdua baru masuk ke dalam mobilnya.

Aku belum mengulurkan tangan untuk mengambil alat komunikasi itu, masih memandanginya dengan bingung.

Bukan bingung karena Papa yang tahu-tahu ngasi ponsel, tapi karena ponsel yang disodorin itu adalah ponsel keluaran baru.

Memang bukan yang terbaru, tapi aku tahu ini adalah yang tercanggih.

Astaga, mimpi apa aku sampai bisa punya ponsel kelewat canggih dan cerdas kayak gitu? Ini Papa beneran beliin buat aku atau gimana?

“Kok cuman diliatin aja, nggak diambil?” tanya Papa dengan tetap mengulurkan tangannya yang memegang ponsel tadi.

“Ng… ini beneran buat aku Pa?” tanyaku ragu.

“Iya, buat kamu. Papa beliin buat kamu, Velica,” jawab Papa.

“Papa bukannya minjemin duit buat beli ini dan harus aku kembaliin duitnya suatu hari nanti?” tanyaku lagi.

“Nggaklah, ngapain sih? Pokoknya Papa beliin ini untuk kamu. Anggep aja hadiah kelulusan kuliah dari Papa,” jawab Papa, yang membuatku menggigit bibir bawah. “Don’t bite your lip, or I’ll kiss you here.”

“I won’t let you kiss me, cause I’m the one who will kiss you,” sahutku lalu menangkupkan kedua pipi Papa dengan cepat dan mempertemukan bibir kami.

Jujur, sebenernya aku kecanduan bibir Papa. Walau kasar, tapi ciumannya begitu lembut dan semalem itu bikin aku pengen lagi sebenernya.

Tapi aku nggak mungkin minta kan? Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat. Anggep aja ucapan terima kasih.

“Velica?” panggil Papa pelan saat bibir kami sudah saling menjauh.

“Makasi ponselnya Pa,” ucapku tanpa menggubris panggilan itu dan mengambil alih ponsel yang masih dipegang Papa.

“Ng… sama-sama,” sahut Papa, yang aku rasa terdengar agak ragu.

“Ayo Pa, jalan. Aku kasi tunjuk jalannya nanti begitu mau keluar perumahan,” ucapku.

“Oke,” sahut Papa, lalu mulai menjalankan mobil.

Sepanjang jalan, aku hanya bersuara menunjukkan jalan pada Papa, yang dijawab juga dengan seadanya.

“Suka ponselnya atau nggak? Kok cuman dipangku doang sih?” tanya Papa, saat kami sedang berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah.

Aku mengikuti pandangan Papa yang menuju ponsel di pangkuanku, sebelum menyahut, “Aku lagi nggak butuh hubungi siapa-siapa, Pa. Jadi ngapain aku pegang ponsel sekarang?

“Aku juga mau ganti nomor dan email, jadi memang lebih baik dimatiin dulu ponselnya sampai aku ada kartu baru.”

“Hm? Kenapa ganti?” tanya Papa heran.

“Biar Mama dan Daniel nggak bisa cari aku,” jawabku.

“Papa bakalan ngelindungin kamu, kalau mereka macam-macam sama kamu. Jadi, kamu tenang aja, oke?”

Papa mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap puncak kepalaku dengan sayang, membuatku merasa nyaman, seperti dulu.

Aku sendiri hanya bisa tersenyum, lalu menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih, atas semua perhatian Papa.

»Daddy’s Little Girl«

“Papa nggak ikutan turun?” tanyaku saat Papa tak kunjung mematikan mesin mobilnya, begitu sampai di depan rumah Agha.

Rumah tanpa pintu gerbang tersebut membuat aku bisa melihat mobil Agha, yang mengartikan bahwa sahabatku itu masih ada di rumah.

“Nggak, Papa tunggu di sini aja,” jawab Papa. “Tapi kamu jangan lama-lama ya. Nanti Papa bosen dan kangen kamu.”

“Pa, jangan bikin aku muntah di sini ya.”

Papa terkekeh pelan mendengar ucapanku lalu berkata, “Jangan lupa kamu ganti baju. Pakai yang biasa aja, jangan yang terlalu terbuka gini. Bikin Papa grogi.”

“Idih, dasar duda kesepian.”

“Sekarang udah nggak kesepian, karna ada kamu. Makanya, kamu tinggal di rumah Papa, jangan di rumah temenmu ini.”

“Iya Papa bawel. Udah ah, aku mau ambil barang-barang dulu. Tunggu ya, mungkin agak lama karna mau ngomongin kerjaan juga sama Agha.”

“Jangan kelamaan.”

“Ya udah, tinggal aja kalau kelamaan.”

“Nggak mau!”

Aku merotasikan kedua bola mataku sebelum akhirnya memilih untuk benar-benar turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah yang kodenya tentu aku sudah tahu.

“Eh, udah dateng aja,” sambut Agha saat aku masuk ke dalam ruang tengah yang diubah lelaki itu menjadi ruang kerja sementaranya.

Agha terlihat sedang duduk di kursi kerja, menghadap ke arah laptop dengan earphone di telinga.

“Kamu mau meeting?” tanyaku.

“Iya, lima belas menit lagi aku ada meeting sama klien,” jawab Agha. “Mereka minta kamu untuk jadi model bikini mereka yang mau launching tiga bulan lagi.”

“Oh? Ya udah, okein aja kalau memang cocok juga sama kamu. Aku nggak keberatan kok.”

“Ya udah, nanti aku bilang sama mereka. Tadi pagi aku sempet ngubungin kamu, sekitar jam tujuhan gitu, tapi nggak aktif sampai sekarang kayaknya ponsel kamu.”

“Aku abis banting ponsel tadi subuh, karna berantem sama Mama.” Aku mengeluarkan ponselku yang tadi dibelikan Papa. “Ini baru dibeliin tadi sama Papa Kamran, tapi belum aku aktifin. Aku berencana ganti nomer sama email.”

“Kenapa lagi Tante Melody?” tanya Agha.

“Minta aku balikan sama Daniel, karna menurut dia, aku udah dibiayain sama Daniel selama di Jakarta. Padahal kamu tau sendiri gimana aku kerja keras untuk bisa makan,” jawabku.

“Eh dasar manusia sialan itu Daniel! Harusnya aku hajar aja tuh orang waktu itu sampai mampus!”

“Ck! Jangan kotorin tanganmu untuk orang kayak dia, Agha. Aku nggak mau kamu kena masalah karna aku, oke?”

Agha terlihat menghela napas pelan lalu melangkah mendekatiku dan membawa tubuhku ke dalam pelukan.

“Kamu yang kuat ya, aku akan selalu dukung kamu. Sekarang, kamu istirahat aja sana. Aku mau meeting dulu. Nanti kita ngobrol lagi.”

“Hm… sebenernya aku ke sini mau ambi barang-barang, karna Papa minta aku tinggal di rumah dia. Itu dia nungguin di mobil. Kamu nggak masalah kan?”

“Eh? Ya kenapa aku harus masalahin? Ya udah, sana ambil kopermu di kamar. Aku nggak bisa bantu, soalnya udah mepet waktuku. Nggak enak kalau telat.”

“Oke, aku ke atas dulu.”

Setelah melihat Agha menganggukkan kepala, aku melangkah ke kamar yang disiapkan Agha untukku untuk mengambil koper dan tas tenteng serta mengganti pakaian, lalu setelahnya kembali ke tempat tadi.

Saat aku tiba, kulihat sahabat kesayanganku itu sudah mulai meeting, sehingga aku hanya mengirim isyarat untuk aku pamit, yang diangguki olehnya beberapa kali.

Setelahnya, aku keluar rumah dan mendapati Papa yang sudah berada di luar mobil, dan hal itu membuatku mengernyitkan kening.

“Papa ngapain di luar?” tanyaku, saat Papa mengambil alih bawaanku.

“Bosen nungguin kamu di dalem mobil,” jawab Papa.

Aku hanya mengendikkan bahu lalu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi tadi sementara Papa menyusul setelah meletakkan barang-barangku di bagasi.

“Temenmu nggak ada di rumah? Kok kamu bawa barang-barang berat gitu sendirian?” tanya Papa begitu masuk.

“Agha lagi meeting, dan baru banget mulai. Nggak mungkin aku minta tolong dia Pa,” jawabku.

Sejenak, aku merasa kalau pandangan Papa seperti memindaiku dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Hal itu tentu membuatku menaikkan sebelah alis.

“Kenapa pakaian yang sekarang, nggak jauh beda sama yang tadi? Paha kamu tetep keliatan,” ucap Papa, memberi komentar.

“Astaga aku pikir apaan! Panas Pa, gerah. Masa aku harus pakai baju ketutup banget sih?” protesku.

“Oh, terserahlah.”

Papa merotasikan kedua bola matanya lalu memilih untuk mulai melajukan mobil sesuai dengan arahanku.

“Pa, kalau Papa memang kegoda, nggak masalah kok Pa,” bisikku asal tepat di telinga Papa, yang membuatnya memandangku kesal.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel