Pustaka
Bahasa Indonesia

Daddy's Little Girl

46.0K · Tamat
iTsMeyOo
33
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Blurb: Bertemu kembali denganmu meripakan hal yang sama sekali tak pernah kukira, terlebih dengan status kita yang berbeda. Dekat denganmu pun, menjadi sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran. Sehingga, saat kamu mengajakku untuk memulai hubungan yang serius, aku jelas tak bisa menahan diri untuk tak merasa terkejut. Namun, saat aku berlari menjauhimu, mengapa dunia seolah tak mendukung?

RomansaMetropolitanBillionairePerselingkuhanMemanjakanDewasaSweetBaper

Bab 1 – Karena Aku Hanya Ingin Merasa Tenang

"Rencana kita nggak akan berubah kan?" tanya Agha padaku, saat kami sudah menata koper-koper kami di dekat pintu apartemen.

Aku dan Agha malam ini akan melakukan penerbangan ke Bali, dengan menggunakan pesawat dengan jadwal terakhir.

Kami berdua ke Bali bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk pindah dari ibukota. Bukan penat, tapi karena kuliah kami sudah selesai di sini.

Walaupun aku bukan berasal dari Bali, dan bahkan aku nggak punya rumah di sana, tapi aku memutuskan untuk ikut Agha pergi ke tempat di mana dirinya berasal, dan tempat yang pernah menjadi kenangan antara aku dan mantan ayah tiri terbaikku.

Sebenarnya, aku nggak kepikiran sama sekali tadinya untuk ke Bali. Tapi, waktu tahun bahwa Daniel berkhianat sama cewek yang dia bilang adalah sahabatnya, aku tahu, bahwa aku emang sebaiknya pindah aja dari Jakarta.

Jauh dari orang tua, yang notabene adalah Mama, bikin aku jadi berpikir kalau memang sebaiknya aku udah waktunya untuk ngurus diri sendiri, kayak yang biasa aku lakuin.

Toh juga, kalau misal aku ke Surabaya dan tinggal bareng Mama, yang ada nanti aku bakalan dianggep beban terus saja dia.

Aku nggak mau, karena aku nggak merasa kayak gitu. Toh, sejak masuk kuliah, aku udah biayain hidup aku sendiri, dari A sampai Z.

“Nggak kok, nggak akan batal. Rencana kita tetep seperti semula,” jawabku sembari tersenyum pada Agha yang tengah berdiri menatapku. “Terlalu nyakitin untuk tetep di sini.”

“Ck! Aku kan udah bilang, kalau nggak ada gunanya kamu nangisin Daniel. Dia cuman cowok brengsek yang dengan bodohnya selingkuhin kamu,” ucap Agha, berusaha menasehatiku.

“Aku nggak nangisin dia Gha. Tapi ya rasanya tetep aja nyesek di hati. Kamu tau gimana cintaku selama ini ke dia.

“Waktu dia ketahuan berkhianat, apa lagi sama cewek yang dia bilang sahabatnya itu, aku bener-bener kayak dipukul balok kayu.

“Aku jadi berpikir, ke mana aja aku selama ini, sampai dia ternyata main di belakangku serapi itu?”

Aku ngedenger Agha menghela napas pelan, trus ngerangkulin sebelah tangannya ke bahuku. “Well, bagus kan kalau ketahuan sekarang? Jadinya kalian nggak jadi nikah.”

“Iya, aku tau. Dan aku bersyukur karna cepet ketahuan, walaupun sebenernya waktu setahun bukan termasuk kategori waktu yang sebentar untuk aku jadi bodoh.”

Daniel Hale, atau lebih akrab disapa Daniel, adalah pacarku dari aku masuk kuliah semester satu.

Kami memang beda angkatan, dengan dia yang sebenernya jadi seniorku. Tapi ada beberapa mata kuliah yang harus dia ulang di semesterku. Jadinya, kami sering ketemu di sana.

Awalnya hubungan kami termasuk kategori yang lancar-lancar aja. Hubungan kami juga lurus-lurus aja, nggak yang aneh-aneh kayak pasangan kebanyakan.

Daniel pada dasarnya baik dan hangat. Dia juga lumayan perhatian, terutama sama hal-hal kecil kayak ngajakin bawain aku camilan di sela jam kuliah, atau nganterin pulang.

Tapi semua itu mulai berkurang setahun terakhir ini.

Aku tahu, kalau dia lagi ngebut ngurusin skripsinya. Aku juga nggak mau terlalu gangguin dia, karna aku tahu gimana sibuknya.

Dan, hubungan kami merenggang waktu dia minta untuk kami berhubungan badan, dengan alasan dia cemburu sama kedekatanku dengan Agha.

Alesan yang menurutku nggak masuk akal, karna sebelum-sebelumnya dia nggak permasalahin hal itu.

Agha juga sama bingungnya kayak aku. Tapi aku mikirnya waktu itu, mungkin karna Daniel lagi banyak tekanan dari dosen pembimbing, makanya cemburu nggak jelas.

Akhirnya aku milih untuk nggak terlalu nanggepin permintaan Daniel. Toh, setelah aku nolak ajaknnya yang ketiga kali, dia memang nggak pernah minta lagi.

Akhirnya aku anggep semua itu bener-bener cuman bentuk pengalih tekanannya dia aja, dan hubungan kami berjalan kayak biasanya.

Tadinya aku berpikir kayak gitu, sampai aku nggak sengaja mergokin Daniel sama cewek yang dia bilang sahabatnya, lagi bugil di kamar mandi.

Bener-bener nggak pakai apa-apa.

Ya… aku tau, di kamar mandi itu mereka pasti mandi, salah satunya. Tapi mereka udah segede gitu, nggak ada istilah mereka mandi bareng kan?

Mereka bukan anak umur satu atau dua tahun, yang cowok mandi bareng sama cewek, masih dianggep biasa aja.

Mereka udah sama-sama dewasa, bahkan udah bisa bikin anak.

Dan, masih dengan kebodohanku, aku tadinya nggak mau berpikiran yang nggak-nggak, walaupun kelakuan mereka berdua bikin pikiranku ke mana-mana.

Tapi saat aku akhirnya aku ngedenger suara desahan dan ngeliat dengan mata kepalaku sendiri kalau milik Daniel masuk ke dalam punya perempuan itu, aku tahu, kalau aku nggak seharusnya jadi bodoh lebih lama lagi.

Setelah ngedenger teriakan Daniel yang manggil namaku, minta aku untuk duduk karna dia mau jelasin kesalahpahaman, aku milih pergi.

Dia mau jelasin apa soal salah paham? Mau bilang kalau dia khilaf? Hah, aku memang bodoh mungkin, tapi nggak yang kebangetan juga.

Akhirnya aku pergi dari sana, milih untuk ke mall Grand Indonesia, dan beli cake yang banyak di Chateraise.

Agha yang waktu itu aku minta untuk nyusulin aku, jelas aja bingung sama tingkahku yang sama sekali nggak pernah dia liat sebelumnya.

Akhirnya, setelah aku ceritain, Agha minta aku untuk blok semua akses Daniel ke aku, dan aku pindah kos saat itu juga.

Tadinya, waktu awal di Jakarta sampai sebelum Daniel bilang kalau dia cemburu dengan kedekatanku sama Agha, aku sebenernya tingga di apartemen punya keluarga Agha, dengan Agha yang juga ada di sana.

Aku pindah dan ngekos sendiri karna mau menghargai perasaan Daniel.

Tapi ternyata balesan yang aku terima malah kayak gitu, jadi ya udah, aku milih untuk balik lagi ke apartemen, seperti sebelumnya, saat itu juga.

“Mikirin apa sih?”

Pertanyaan itu bikin aku noleh ke sumber suara, dan ngeliat Agha yang mandang aku dengan bingung.

“Hm? Nggak mikirin apa-apa,” jawabku asal.

“Halah, palingan mikirin Daniel lagi kan? Dia nggak tau kan kalau kita, terutama kamu, mau pindah ke Bali?” tanya Agha lagi.

“Nggak kok, nggak tau. Nggak ada yang tau, bahkan Mama,” jawabku, lalu aku mendecakkan lidah saat ponselku berbunyi panjang dengan nama Mama di layarnya. “Panjang umur banget.”

“Jawab dulu. Bilang aja kita lagi di jalan,” ucap Agha, yang aku angguki.

“Halo,” sapaku malas.

“Lagi di mana kamu?” tanya Mama tanpa sapaan, ataupun membalas sapaanku.

“Di jalan,” jawabku singkat.

“Kamu udah lulus? Kemarin jadi wisuda?” tanya Mama lagi.

“Udah, jadi,” jawabku, masih dengan singkat dan seperlunya.

“Kenapa nggak bilang ke Mama? Kamu nggak malu ya wisuda nggak didampingi orangtua?”

“Kenapa aku harus malu? Lagian, kalau aku bilangpun, belum tentu Mama dateng. Kan aku nggak bisa kasi uang untuk tiket pesawat dan juga hotel selama Mama di sini.

“Aku nggak mau uangku habis untuk hal nggak berguna, karna aku susah nyarinya.”

“Kurang ajar banget ya omongan kamu! Sadar atau nggak kamu itu lagi ngomong sama siapa, hah?”

Nada bicara Mama yang meninggi, membuatku langsung menjauhkan ponsel dari telinga, karna lumayan menyakiti telinga, sebenernya.

“Jadi Mama ngubungin aku ini intinya mau ngomong apa? Protes soal aku yang nggak kasi kabar kalau aku udah wisuda? Pastinya bukan kan?” tanyaku malas.

“Tumben kamu pinter,” sahut Mama, yang kubalas dengan dengusan. “Mama mau kamu cepet nikah sama Daniel. Kasian dia kalau kamu kelamaan mikir!”

“Aku udah putus sama dia.”

“Hah? Kenapa? Dia sebaik itu, tapi kalian putus? Kamu nggak sadar kalau dia itu kaya? Mama yakin kalau kamu bahkan nggak perlu kerja, setelah nikah sama dia!”

“Dia selingkuh.”

“Ck! Nggak usah pedulikan! Dia pasti cuman khilaf! Cepet balikan sama dia, Mama nggak mau tau! Pokoknya kamu harus nikah sama Daniel!”

“Mama aja yang nikah sama dia sana!”

“Jangan gila kamu ya!”

“Lho, kenapa? Kan hobi Mama itu nikah trus cerai, trus nyari yang baru lagi.”

“Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu sama Mama kamu sendiri!”

“Ma, aku capek sama Mama. Kalau nggak ada hal penting lagi, aku putus teleponnya. Kebetulan aku sibuk.”

Tanpa mendengar sahutan Mama, aku memutus panggilan telepon itu secara sepihak, dan mematikan juga ponselku.

Merasa lelah, aku bersandar di sandaran kursi mobil yang aku dan Agha tumpangi untuk ke bandara. Menutup kedua mataku sejenak, untuk menenangkan diri.

Agha sendiri hanya bisa kurasakan sedang mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Perlakuan yang selalu ia berikan tiap aku seperti sekarang ini.

»Daddy’s Little Girl«

“Selamat datang lagi di Bali,” ucap Agha saat kami keluar terminal kedatangan dalam negeri di bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Suasana bandara udah nggak rame banget, mengingat bahwa penerbangan yang barusan adalah yang terakhir malam ini.

“Sepi ya,” celetukku pelan, namun ternyata masih tetap bisa didengar oleh Agha.

“Kalau mau rame, ke Legian sana, dugem,” sahutnya.

“Oh? Iya juga ya. Aku mau dugem deh malam ini,” ucapku.

“Hah? Malam ini banget?” tanya Agha heran.

“Iya, malam ini aja. Kepalaku mumet. Jadinya mau nyari angin,” jawabku.

“Awas masuk angin, segala nyari angin,” ledek Agha. “Tapi aku nggak bisa ikutan ya. Soalnya besok harus bangun pagi-pagi banget.”

“Iya, santai aja. Aku toh udah biasa dugem sendirian di Jakarta.”

“Ya di Jakarta. Kan ini di Bali.”

“Lho, kan lebih aman di sini Gha.”

“Iya, tapi kan bakalan lebih rame.”

“Sama aja. Kerasa rame banget karna diskotiknya berderet aja sepanjang jalan Legian.”

“Duh, terserah kamu deh. Yang jelas aku nggak bisa ikutan kamu, jadi tolong kamu jaga diri kamu sendiri, oke? Tapi kalau ada apa-apa, cepet hubungin aku.”

“Iya Agha, bawel banget.”

“Trus ini kamu mau langsung ke Legian atau ke rumah dulu?”

“Ya jelas aja ke rumah dulu. Kan aku harus taruh koper sama ganti baju.”

“Ganti baju di sini aja.”

“Ogah. Aku mau mandi juga. Kali aja bisa sekalian one night stand.”

“Gaya banget ya mbaknya mau cari one night stand. Mau lepas perawan sama stranger nih?”

***