Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 – Rasa Cinta Kamran

Aku mengernyitkan kening saat merasa sinar terang yang mengenai mataku yang masih terpejam, saat aku berbalik.

Tadinya, aku masih ingin tidur lebih lama. Tapi saat mengingat aku sedang di rumah Papa, aku mengerang pelan karena tahu bahwa sudah saatnya aku bangun.

Walau sebelum tidur tadi Papa nggak mengharuskan aku yang bangun seperti biasa, tapi aku tahu, bahwa ini udah siang, dan nggak mungkin aku tidur lagi.

Dan benar, saat aku membuka mata, tirai yang tadinya tertutup rapat, kini sudah terbuka lebar, entah siapa yang membukanya.

Waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, saat pandanganku tertuju pada jam di dinding kamar.

“Siapa yang buka tirai kamar? Papa ya?” tanyaku pada diri sendiri.

Sejenak, aku duduk terdiam dengan bersandar di headboard ranjang, lalu teringat kejadian semalam saat aku mau tidur.

Ciuman Papa dan ungkapan rasa sayangnya padaku, bener-bener bikin aku bingung.

Aku tau, kalau Papa dari dulu sayang sama aku, sebagai seorang Ayah pada anaknya. Tapi masalahnya adalah, Ayah mana yang nyium anaknya sendiri, tepat di bibir?

Astaga, mati aja aku ini! Mana aku bales pula ya ciuman Papa!

Mengusap wajah kasar, aku akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang, membereskannya seperti sedia kala, lalu memilih untuk mandi.

Bi Ani pasti udah dateng, karna sebelum tidur pagi tadi Papa sempet bilang kalau asisten rumah tangganya itu biasa dateng jam delapan pagi dan akan bekerja sampai jam lima sore.

Udah kayak orang kantoran aja memang, tapi ya begitulah Papa dari dulu. Dan, aku takjub karna Bi Ani masih tetep setia kerja sama Papa, setelah bertahun-tahun.

Aku inget waktu Papa nikah sama Mama, Bi Ani udah kerja lebih dulu sama Papa. Dan selama pernikahan itu, tentu Bi Ani yang kerja di rumah, mulai dari bersihin rumah, masak, sampai urusan cuci dan setrika baju.

Semua Bi Ani yang kerjain, dan nggak pernah digantiin sama orang lain sedikitpun. Kalaupun Bi Ani sakit, Papa akan jadi orang yang ngegantiin.

“Ah, segernya!” seruku setelah keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang semalem aku pakai dugem.

Dress model kemben dengan panjang setengah paha itu memang terbuka sih, tapi ya mau gimana lagi, aku kan nggak mungkin pakai kaos yang dipinjemin Papa semalem. Nanti malah kayak orang yang belum mandi.

“Bi Ani…,” panggilku riang, saat menghampiri asisten rumah tangga Papa yang ternyata tengah memasak, di dapur.

“Eh? Non Caca udah bangun,” sahut Bi Ani sama riangnya. Kami saling berpelukan sejenak lalu Bi Ani bertanya lagi, “Non Caca ke mana aja selama ini? Makannya bener?”

“Hehe, aku di Jakarta Bi, baru sampai Bali semalem,” jawabku lalu melongokkan kepala ke arah kompor. “Bibi bikin apa?”

“Karna papanya Non Caca tadi pagi ngasi tau kalau ada Non Caca di sini, tadi begitu sampai, Bibi langsung ke pasar beli udang, untuk dibikin udang asam manis. Non masih doyan kan?”

“Wah, masih Bi! Bi Ani kok bisa sih, masih inget sama makanan kesukaanku?”

“Ya gimana bisa lupa, kan Non Caca minta bikininnya hampir tiap minggu dulu tuh. Jadi ya keinget dong.”

“Hehe, makasi ya Bi.”

“Sama-sama Non. Udah, Non Caca duduk dulu, ini udangnya bentar lagi selesai kok.”

Mengangguk, aku melangkah menuju barstool dan langsung tersenyum lebar saat Bi Ani menyodorkan segelas jus buah kemasan ke hadapanku.

“Papa ke mana Bi?” tanyaku setelah meminum jus tersebut hingga setengah gelas.

“Lagi keluar Non. Katanya ketemu orang untuk bahas janji apa gitu,” jawab Bi Ani, tanpa mengalihkan pandang dari masakannya.

“Pulangnya masih lama ya?” tanyaku lagi.

“Nggak kok Non, tadi sih bilangnya nggak akan lama,” jawabnya lagi. “Tapi katanya, kalau Non Caca udah laper, Non diminta makan duluan sama papanya Non.”

“Nggak ah, aku mau nungguin Papa aja.”

“Atau coba ditanya, papanya Non berencana pulang jam berapa, gitu. Kalau Bibi yang nanya, nggak enak Non.”

“Ponselku rusak Bi, jadinya nggak bisa ngubungin Papa. Lagian aku nggak tau nomernya Papa berapa. Kan kami baru ketemuan lagi semalem. Itu juga nggak sengaja.”

“Kalau pakai telepon rumah, gimana? Ada nomor ponsel papanya Non Caca di buku telepon kok.”

“Oh? Ya udah, aku coba dulu. Teleponnya di mana Bi?”

“Di ruang keluarga Non, masih kayak dulu kok.”

“Oke. Aku ke sana dulu ya Bi.”

Melihat Bi Ani yang mengangguk, aku turun dari barstool dan melangkah menuju ruang keluarga, untuk mencari pesawat telepon.

Seperti yang Bi Ani bilang, ada nomor ponsel Papa di buku telepon, dan aku memilih untuk langsung menghubunginya.

“Halo Bi, ada masalah?” tanya Papa begitu panggilan telepon tersambung. Udah aku duga, Papa pasti ngiranya Bi Ani yang nelepon.

“Pa, ini aku,” ucapku.

“Oh? Kenapa Ka? Kamu baru bangun?” tanya Papa.

“Udah dari jam setengah dua belas,” jawabku. “Papa di mana?”

“Lagi di toko ponsel, mau beliin kamu ponsel. Ini lagi diambilin yang Papa mau.”

“Eh? Jangan yang mahal-mahal ya Pa, duitku terbatas nih.”

“Apa sih? Papa yang beliin kok, jangan khawatir.”

“Ih! Aku nggak mau!”

“Papa nggak terima penolakan. Dan kamu tau kan kalau Papa nggak suka ditolak?”

“Papa….” Aku merengek sembari menghentak-hentakkan kaki, tak peduli kalau Papa tak bisa melihatnya.

“Nggak ada bantahan, Velica.”

“Ck! Papa ngeselin!”

“Cuman menurut kamu doang Papa kayak gitu. Ini ngomong-ngomong, kamu ngapain nelepon Papa?”

“Tadinya mau nanya, Papa pulang jam berapa? Makan siang di rumah kan?”

“Iya, Papa makan siang di rumah. Kamu kalau udah laper dan Bi Ani udah selesai masak, makan duluan aja, nggak apa-apa. Ini kan udah masuk jam makan siang.”

“Nggak mau, aku maunya nungguin Papa pulang. Nanti Papa setelah dari sana langsung pulang atau ada mau mampir-mampir lagi?”

“Langsung pulang kok. Ya udah kalau kamu mau nungguin Papa pulang. Minta Bi Ani bikin camilan aja kalau kamu udah laper, oke?”

“Iya Pa. Nanti hati-hati di jalan ya Pa. Nggak perlu ngebut-ngebut bawa mobilnya.”

“Iya anak Papa.”

Aku mengakhiri panggilan telepon tersebut dengan kening mengernyit. Tak mengerti dengan panggilan Papa barusan.

‘Anak Papa’.

Tuh kan, aku tuh masih dianggep anak sama Papa. Tapi kok semalem Papa malah nyium aku ya? Mana intens banget, segala pake lidah.

Dan aku juga ngebales!

Menghela napas pelan, aku akhirnya memilih untuk melangkah kembali ke barstool, dan ternyata Bi Ani sudah selesai memasak.

“Papa bentar lagi jalan pulang katanya Bi. Aku makannya nungguin Papa pulang aja,” ucapku.

“Oh, ya udah kalau gitu. Ini Bibi mau bikin dadar gulung untuk Non Caca ngemil. Lumayan buat ganjel sampai papanya Non pulang.”

“Eh? Jangan Bi. Nanti aku gendut kalau kebanyakan makan.”

“Ck! Non Caca badannya udah bagus begini lho. Jangan diet-diet ah. Nggak bagus kalau kurus.”

“Tapi aku sejak pindah ke Jakarta, memang gampang gemuk Bi. Ini aku rajin olahraga, makanya badanku bisa segini.”

“Ya udah, nanti sore Non Caca olahraga aja. Yang penting sekarang Bibi bikinin camilan untuk Non.”

“Ih, Bibi sama Papa tuh sama deh, tukang maksa dan nggak bisa dibantah.”

Bi Ani terkekeh pelan, sementara aku memanyunkan bibir. “Karna Bibi sama papanya Non Caca mau yang terbaik untuk Non.”

“Hm… Bi, ada yang mau aku tanya deh soal Papa,” ucapku ragu.

“Apa tuh Non? Kok kayaknya serius banget?” tanya Bi Ani.

“Soal… hm… Papa yang nggak nikah lagi setelah cerai sama Mama,” jawabku. “Bibi tau nggak alesannya? Atau mungkin, Papa pernah keliatan jalan sama perempuan setelah cerai?”

“Wah, kalau soal itu, Bibi bukannya nggak mau kasih tau ya Non. Tapi Bibi memang nggak terlalu tau,” ucap Bi Ani. “Yang Bibi tau, papanya Non Caca nggak pernah bawa perempuan ke rumah ini.

“Perempuan dalam artian, selain sodara ataupun sekretarisnya. Itupun nggak yang sering banget mereka kek sini kok.

“Sekretaris papanya Non ke sini kalau papanya Non lagi nggak bisa ke kantor, tapi harus ada yang dibicarain.

“Kayaknya, dari sekretaris itu kerja sama papanya Non dua tahun lalu, baru tiga atau empat kali ke sini.

“Kalau sodara, biasanya rutin ke sini gantian sebulan sekali. Yang sering ke sini itu sahabat papanya Non, Pak Adnan. Non masih inget kan?”

“Oh? Iya Bi, masih. Tapi mereka nggak pernah ngomongin soal pasangannya Papa, gitu? Ya… aku sih nggak ada bilang kalau Bibi nguping ya.

“Tapi kan kalau Papa sama Om Adnan ngobrol, udah kayak pakai toa aja, keras banget. Pasti kedengeran jadinya.”

Terkekeh pelan, Bi Ani menyodorkan tiga buah dadar gulung di sebuah piring, ke hadapanku lalu mengisi gelasku yang sudah kosong, dengan jus buah lagi.

“Nggak ada kok Non, mereka nggak pernah kedengeran ngomongin pasangan papanya Non Caca. Kenapa sih memangnya Non?”

“Aku penasaran aja sama Papa. Masa sih iya, Papa nggak nikah lagi setelah cerai dari Mama? Apa Papa masih cinta sama Mama ya?”

“Wah, kalau soal cinta, Bibi sih nggak tau ya Non. Soalnya kan itu masalah hati, dan Bibi nggak bisa bacanya. Kenapa? Non mau cariin calon istri buat papanya Non?”

“Nggak ada kepikiran sih sebelumnya. Tapi mungkin bakalan nyariin setelah Bibi kasi aku ide.”

“Susah kayaknya Non, cariin yang pas buat papanya Non. Kan Non Caca sendiri tau, gimana papanya Non.”

“Ya… iya sih. Tapi aku kan nggak tega kalau liat Papa sendirian terus.”

“Kan sekarang ada Non Caca. Jadi papanya Non nggak akan sendirian lagi.”

“Bi, aku kan bukan anak kandung Papa. Malah seharusnya aku nggak manggil Papa dengan sebutan ‘papa’ lagi sekarang ini, karna Papa dan Mama kan udah cerai.

“Aku sebenernya nggak enak kalau tinggal di sini. Tapi semalem waktu kami berdua nggak sengaja ketemu, aku males ngedebat Papa waktu Papa minta aku nginep.”

“Ya udah, jangan jadi anak. Jadi istrinya aja gimana?”

“Duh Bi Ani, suka sembarangan kalau ngomong ih. Mana ada anak jadi istri?”

“Ada, Non Caca orangnya. Bibi dukung deh.”

“Bi, liburan yuk, mau nggak? Kayaknya Bibi kebanyakan kerja deh, soalnya omongannya jadi ngelantur.”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel