Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 – Anak Kesayangan Kamran

“Non Caca mau Bibi masakin apa sebelum Bibi pulang?” tanya Bi Ani, saat aku sedang bersantai di halaman belakang rumah Papa.

Karena tak tahu harus melakukan apa dan tak mungkin tidur sesore ini, jadilah saat sampai rumah tadi, aku memilih untuk menikmati suasana halaman belakang yang sejuk.

Minum jus buah sambil membaca buku yang sempat aku beli saat di Jakarta, namun belum aku baca sama sekali.

“Aku nggak makan malam Bi. Jadi, Bibi masak untuk Papa aja,” jawabku.

“Lho, kok nggak makan malam Non? Nggak ngemil juga gitu?” tanya Bi Ani lagi, yang membuatku terkekeh pelan.

“Nggak Bi, aku nggak tentu juga kalau soal ngemil. Jadi nanti aku bikin sendiri aja kalau memang mau,” jawabku.

“Ya udah kalau gitu, Bibi pulang ya? Tadi papanya Non Caca bilang, mau makan di luar sekalian berangkat kerja soalnya,” ucap Bi Ani.

“Iya Bi, hati-hati di jalan ya Bi,” ucapku, yang diangguki oleh Bi Ani.

Setelahnya, asisten rumah tangga Papa itu berlalu dari hadapanku, dan aku memilih untuk melanjutkan membaca buku.

Namun, belum sepuluh menit aku kembali membaca, Papa datang menyusul dan duduk tepat di sebelahku.

“Kata Bi Ani, kamu nggak mau makan? Kenapa?” tanya Papa, lalu melingkarkan sebelah lengannya ke bahuku.

“Aku nggak biasa makan malam Pa,” jawabku. “Kalau laper, biasanya aku minum susu aja.”

“Kamu diet?” tanya Papa.

“Iya, aku diet sejak di Jakarta,” jawabku.

“Kenapa diet segala sih Ka? Udah bagus gini badan kamu lho.”

“Tapi aku gampang banget gemuk pas di Jakarta, Pa. Makan malam tiga hari berturut-turut tanpa aku imbangi sama olahraga yang ekstra, berat badanku bisa nambah dua kilogram.

“Segampang itu aku gemuk, jadinya aku lebih baik nggak makan malam. Atau nanti aku makan buah aja.”

“Kamu bahkan sekarang udah minum jus buah.”

Aku mengikuti arah pandang Papa pada gelas jus yang sudah setengah kosong, lalu terkekeh pelan dan menyahut, “Ini kan minum Pa, bukan makan. Aku liat tadi ada alpukat di dapur. Nanti aku makan itu aja.”

Aku terpekik pelan saat Papa tahu-tahu menarikku hingga aku duduk di pangkuannya. “Kamu ringan begini,” ucap Papa.

“Ya Papa kan badannya segede ini. Jadi jelas aja aku kerasa ringan bagi Papa!” sahutku kesal.

“Makanya, nggak usah diet segala, oke?”

“Nggak mau! Aku tetep mau diet! Nggak semua cowok badannya segede Papa, tau!”

“Mau nyari cowok yang gimana sih memangnya, hm?”

“Yang klik di hati pokoknya, nggak ada kriteria tertentu.”

“Ya udah, sama Papa aja gimana?”

“Nggak usah ngadi-ngadi deh Pa. Udah ah, turunin aku kenapa Pa? Aku mau lanjut baca buku lagi nih.”

“Nggak mau. Kamu baca aja buku kamu, sambil sandaran sama Papa gini.”

Papa menarikku bersandar miring di dadanya yang bidang, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Membuatku tak bisa berbuat apapun selain menurut.

“Kamu ada acara atau nggak malam ini?” tanya Papa.

“Nggak, aku kan pengangguran,” jawabku asal.

“Ikut Papa ke kantor, mau? Biar Papa punya alesan untuk nggak pulang terlalu larut. Karna sebenernya Papa lagi capek.”

“Kalau capek, kenapa kerja? Istirahat aja dulu, biar Papa nggak sakit.”

“Duh, seneng banget rasanya kalau ada yang perhatian sama Papa begini. Udah lama Papa nggak diperhatiin kayak gini, beneran deh.”

“Aduh, ternyata Papa bener-bener duda kesepian ya. Heran banget, kayak yang haus perahatian aja lho.”

Masih dengan posisi yang bersandar, aku mendongakkan kepala dan bertemu pandang dengan Papa.

Sejenak, tak ada yang mengeluarkan suara atau pergerakan di antara kami berdua. Hingga aku merasa Papa mengambil buku yang tadi sedang aku baca secara perlahan, meletakkannya di bagian kursi yang kosong, lalu mendekatkan wajah kami.

Aku yang sadar hal apa yang akan Papa lakukan, memilih untuk memajukan wajah juga sembari menutup kedua mata, hingga akhirnya bibir kami bertemu dan saling melumat.

Merasa tak nyaman dengan posisiku sendiri, aku perlahan mengubah posisi dudukku hingga menghadap Papa, tanpa melepaskan bibir kami yang saling bertaut.

Dan sial, di posisi seperti ini, bukti gairah Papa di bawah sana malah menekan milikku. Papa bahkan sempat mendesah pelan saat aku membenarkan posisi dudukku, mencari yang paling nyaman.

“Velica…,” desah Papa, dengan sebelah tangan yang mulai merasa kakiku dari betis, hingga naik ke paha.

Perlakuan yang membuatku mendesah balik, karena tak tahan menerima hal itu.

“Kamu bisa bikin Papa gila kalau kayak gini terus,” ucap Papa saat ciuman kami akhirnya terlepas.

“Kan Papa yang mulai barusan,” sahutku tak terima disalahkan.

“Kan kamu juga bales,” ucap Papa lalu sedikit menekanku hingga aku benar-benar merasakan miliknya yang mengeras. “Nih, jadi bangun dia, gara-gara kamu.”

Aku sempat terkesiap dan hampir saja mendesah, karena milik Papa menekan milikku. “Papa ih! Udah ah, aku mau mandi!”

Dengan cepat, aku turun dari pangkuan Papa, mengambil buku dan gelas jus yang masih setengah, lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menuju kamarku.

Setelahnya, aku mengunci pintu dan duduk di lantai. Berusaha membenahi napasku yang tak beraturan, akibat perlakuan Papa tadi.

“Punya Papa kayaknya gede banget ya,” ucapku pelan, yang langsung membuatku menggelengkan kepala berkali-kali karena memikirkan sesuatu yang tak seharusnya aku pikirkan. “Ah, gila!”

»Daddy’s Little Girl«

“Velica? Jadi ikut Papa ke kantor kan? Yuk berangkat.”

Panggilan itu membuatku yang tengah bersantai di kamar, mengernyit bingung.

Memang, aku berjanji ikut Papa ke diskotik miliknya malam ini. Tapi, ini baru pukul tujuh saat Papa malah mengajak jam segini.

Hal itu membuatku memilih untuk turun dari ranjang tempatku bersantai, dan membuka pintu kamar.

“Lho? Kok kamu pakai piyama? Nggak jadi ikut sama Papa?” tanya Papa dengan nada bingung.

“Memangnya mau berangkat jam berapa Pa?” tanyaku tak kalah bingung. “Kan ini baru jam tujuh.”

“Maunya berangkat sekarang karna mau beli makan malem dulu. Jalan ke sana juga bisa satu jam, Sayang. Jadi ya kita berangkat sekarang,” jawab Papa.

“Oh? Ya udah kalau gitu, aku ganti baju dulu ya Pa,” ucapku.

“Bajunya jangan yang kayak semalem ya,” ucap Papa.

“Trus mau dugem, pakai baju apa? Nggak pakai baju?” tanyaku sembari merotasikan kedua bola mata dengan malas.

“Kamu nggak dugem. Kamu nemenin Papa. Nanti kamu di ruang kerja Papa, bukan ke lantai satu dan dua,” ucap Papa.

“Ya elah Pa, jauh-jauh ke diskotik, masa aku diem di ruang kerja Papa sih? Kan aku mau cari cowok gitu, jangan ngikut Papa ah,” rengekku.

“Mau nyari apaan sih memangnya? Pokoknya kamu sama Papa, nggak boleh cari cowok. Mau one night stand sama stranger memangnya kamu? Mendingan sama Papa. Stamina Papa masih sangat bagus.”

“Ogah sama orang yang udah tua. Udah ah, Papa tunggu di bawah sana. Aku mau ganti baju sama siap-siap dulu.”

“Papa tunggu di kamar kamu memangnya kenapa? Kamu ganti baju di kamar mandi. Papa mau mastiin kalau kamu nggak akan pakai pakaian yang kayak semalem, mempertontonkan dada sama paha kamu. Kayak ayam goreng aja.”

“Ck! Kenapa harus ayam goreng sih?”

“Trus apa? Ayam bakar?”

“Aku bukan ayam!”

“Ya memang bukan. Kamu kan anak kesayangan Papa. Udah sana cepetan ganti baju.”

Aku merotasikan kedua bola mataku, bahkan saat Papa dengan santainya mendorongku masuk agar dia bisa masuk juga ke dalam kamar.

Pada akhirnya, aku menuruti Papa untuk segera mengganti pakaian. Namun, aku mengambil baju yang tak terlalu jauh berbeda dengan yang semalam. Hanya saja, kali ini panjangnya sampai lutut.

“Velica, Papa udah bilang untuk nggak pakai baju yang kayak semalem lho!” protes Papa begitu aku keluar kamar mandi.

“Pa, beda lho ini. Yang sekarang kan lebih panjang dari yang semalem. Pahaku nggak keliatan kok,” sahutku menerangkan.

Papa terdengar menghela napas pelan namun tak menyahut apapun, sehingga aku memilih untuk memakai make-up tipis-tipis, seperti yang biasanya aku kenakan.

»Daddy’s Little Girl«

“Buka jam berapa sih Pa? Kok masih sepi?” tanyaku begitu masuk ke dalam diskotik, dengan tangan kananku yang digenggam Papa.

Katanya, takut aku ilang atau kabur, jadi aku nggak boleh ngelepas pegangannya. Heran, bilang aja padahal biar nggak keliatan jomblonya.

“Buka jam sembilan. Biasanya mulai ramai nanti jam sebelas,” jawab Papa tanpa menoleh.

Aku hanya menganggukkan kepala beberapa kali, sambil tetap mengikuti langkah Papa menuju ruang kerjanya, yang katanya di lantai tiga.

“Selamat malam Pak Kamran,” sapa seorang wanita yang aku nggak tau itu siapa, tapi duduk di kursi kerja di depan ruangan Papa.

“Malam,” sapa Papa singkat lalu membuka pintu ruangan dan menoleh padaku. “Kamu tunggu di sini dulu, Papa mau ambil minum buat kamu di ruangan sebelah.”

“Aku minum apaan memangnya?” tanyaku bingung, karena aku belum menyebutkan apa yang aku inginkan.

“Soda sama air mineral,” jawab Papa.

“Ih! Nggak alkohol?”

“Nggaklah! Kamu nggak boleh minum alkohol kalau sama Papa.”

“Lho, kan justru karna lagi sama Papa, jadinya aku boleh minum. Karna kalau aku sampai mabuk, nggak akan ada masalah karna aku ada yang jagain.”

“No way! Pokoknya kamu minum soda sama air mineral aja. Udah sama kamu duduk dulu.”

Aku mencebikkan bibir lalu memilih untuk menurut saja, karena tahu bahwa aku tak akan bisa menang jika berdebat dengan seorang Kamran Dharmendra.

“Nih, soda sama air mineralnya,” ucap Papa saat sudah kembali, tak lama kemudian.

“Aku cuman diem aja di sini nih Pa? Nggak ngapa-ngapain?” tanyaku.

“Iya, kamu diem dulu di sini. Papa mau ke lantai satu dulu, ke bar,” jawab Papa. “Jangan keluar ruangan ini. Keluar satu langkah aja, I’ll give you a punishment!”

“Ck! Papa pikir aku bocah kemarin sore?”

“Terserah. Pokoknya kamu diem di sini. Kalau mau nonton, bisa pakai tablet Papa, ada di laci meja kerja.”

Aku hanya berdeham lalu memilih untuk membuka kaleng soda, bersamaan dengan Papa yang menutup pintu.

Karena tak tahu harus berbuat apa, aku memilih untuk menonton saja, menggunakan tablet yang tadi Papa bilang, dan duduk di kursi kerjanya yang jauh lebih empuk daripada sofa.

Awalnya, suasana biasa-biasa saja. Namun sekitar lima belas menit kemudian, terdengar pintu diketuk dari luar, dan wanita yang tadi di depan ruang kerja Papa, masuk ke dalam.

“Pak Kamran masih di bawah?” tanyanya.

“Eh? Iya, tadi Papa pamitnya ke bawah,” jawabku.

“Papa? Maksud kamu Pak Kamran?” tanyanya lagi.

“Iya, Papa Kamran,” jawabku singkat.

“Kamu anaknya Pak Kamran?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Setau saya Pak Kamran belum punya anak. Jadi, kenapa bisa ada kamu? Anak angkat?”

“Tanya aja sama Papa, aku nggak mau jawab.”

“Anak angkat atau mau deketin Pak Kamran?”

“Apa sih? Kita saling kenal aja nggak, tapi situ ngomongnya nyebelin amat! Kalau mau cari Papa, sana ke bawah!”

“Velica? Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat baik aku maupun wanita di hadapanku menoleh ke arah pintu dan mendapati Papa berdiri di sana.

“Nggak Pa, nggak ada apa-apa,” jawabku malas.

“Pak Kamran, ini berkas yang tadi Bapak minta,” ucap wanita itu.

“Oh iya, makasi. Kamu boleh keluar,” ucap Papa, yang diangguki wanita itu. “Kenapa Velica? Kok kesel?” tanya Papa setelah kami tinggal berdua saja.

“Yang tadi siapa sih?” tanyaku balik.

“Sekretaris Papa, namanya Avana Dianika,” jawab Papa.

“Sinis bener sama aku. Kayaknya dia cinta sama Papa dan anggep aku ini saingan gitu. Padahal aku nggak berminat untuk jadi pasangan Papa.”

Terkekeh, Papa melangkah mendekatiku lalu memutar kursi yang aku duduki dan bertopang di sandaran tangan.

“Kamu beneran nggak mau sama Papa?”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel