Bab 5 – Mama yang Selalu Egois
“Papa punya alasan untuk nggak nikah lagi Ka, dan Papa nggak bisa kasi tau sama kamu alesannya saat ini,” ucap Papa pada akhirnya, setelah sempat terdiam beberapa saat.
Aku sendiri masih terdiam memandang Papa, menunggu lelaki itu berubah pikiran, kali aja mau kasi tau alesannya.
Tapi ternyata sampai semenit, Papa masih nggak ngomong apa-apa lagi, malah ngeliatin aku balik dengan tatapan yang aku sendiri nggak ngerti apa artinya.
Dan, saat aku mau ngomong, suasana hening di antara kami berdua seketika langsung berisik karena ponselku yang berdering panjang, menandakan ada panggilan masuk.
Aku yang kaget, dengan cepat mengambil alat komunikasi yang aku letakkan di sebelah gelas yang sudah kosong, lalu mendecakkan lidah saat tertera nama Mama di layarnya.
“Ada yang nelpon? Atau alarm?” tanya Papa padaku.
“Ng… ada telepon,” jawabku ragu.
“Siapa nelpon jam segini?” tanya Papa heran sembari melongokkan kepalanya ke arah layar ponselku. “Melody? Nelpon jam segini banget?”
Aku mengendikkan bahu lalu menyahut, “Mama memang kalau nelpon nggak pernah liat jam sih selama ini.”
“Jawab aja, di-loudspeaker tapi ya. Papa pengen denger kira-kira Mama kamu mau ngomong apa di jam tidur begini. Papa janji, Papa nggak akan ngeluarin suara.”
“Papa pengen denger apa yang Mama omongin, atau pengen denger suara Mama karna kangen?”
“Ka, jawab aja.”
Menghela napas pelan, sebelum akhirnya menurut. Menjawab panggilan telepon dari Mama dengan mode loudspeaker yang diaktifkan.
“Ada apa Ma?” tanyaku begitu panggilan tersebut tersambung.
“Kenapa lama banget jawab teleponnya, hah?” bentak Mama, yang membuatku memejamkan mata sejenak.
“Mama sadar atau nggak nelepon aku jam berapa? Mama pikir aku ini dua puluh empat jam melek dan standby sama ponsel?” sahutku tak terima.
“Kamu tuh kalau ditanya, jawab yang bener! Dasar anak nggak tau diri!” Lagi, Mama membentakku.
“Aku jadi anak nggak tau diri karna nyontoh Mama, yang jadi orangtua yang juga nggak tau diri!” sentakku.
“Dasar anak kurang aja ya kamu!”
“Mama nelpon aku jam segini, cuman buat maki-maki aku doang? Kalau iya, aku tutup aja telponnya. Aku mau lanjut tidur.”
“Tunggu dulu anak sialan! Mama udah telponan sama Daniel lagi, dan kamu harus balikan sama dia! Katanya dia mau lamar kamu dalam waktu dekat ini!
“Dan, kamu segera balik ke Jakarta! Di mana kamu sekarang sampai nggak bilang sama Mama, kalau kamu pindah?
“Jangan bikin Mama malu, Velica! Daniel udah sebaik itu sama kamu selama ini, kasi kamu uang untuk hidup di Jakarta, tapi kamu malah kayak gini!”
“Ma! Aku di Jakarta kuliah sambil kerja! Aku punya uang karna aku kerja, bukan karna dikasi sama laki-laki brengsek itu!
“Kalau Mama nggak tau apa-apa, tutup aja mulut Mama! Dan kalau Mama memang suka sama Daniel, Mama aja yang nikah sama dia, jangan maksa aku untuk nikah sama lelaki sebrengsek Daniel!
“Jangan jual anak Mama juga, saat hobi Mama adalah jual diri ke laki-laki! Aku berhak untuk hidup lebih baik!”
Nada bicaraku yang makin lama makin tinggi, membuat napasku tak karuan. Setelah aku memutus panggilan itu sepihak, aku membanting ponselku ke lantai hingga alat komunikasi itu pecah.
Setelahnya, aku menelungkupkan wajahku di meja, mulai menangis. Melupakan keberadaan Papa Kamran, sampai aku merasakan usapan lembut di kepalaku.
“Sayang, anak Papa, sini, peluk Papa aja kalau kamu mau nangis,” ucap Papa lembut, sembari berusaha menarikku pelan ke dalam pelukan.
Begitu aku berada di dalam pelukan Papa, aku menangis makin kencang. Tak peduli dengan Papa yang bisa saja pusing mendengar suara orang menangis.
“Sakit Pa, sakit,” ucapku di antara tangisan, mengungkapkan apa yang hatiku rasakan saat ini.
“Iya Sayang, Papa tau, pasti sakit digituin sama Mama,” sahut Papa. “Keluarin semua yang kamu rasain, keluarin semua tangisanmu, rasa sedihmu.
“Papa bakalan nemenin kamu di sini, sampai kamu tenang. Papa akan selalu ada buat kamu, Velica.”
»Daddy’s Little Girl«
“Udah lebih tenang?” tanya Papa saat tangisan hebatku tinggal sesenggukan sesekali.
Papa masih tetap memelukku. Sebelah tangannya juga masih tetap mengusap punggungku dengan lembut, naik-turun.
Aku tak mengeluarkan suara, dan menyahut hanya dengan anggukan kepala saja.
Saat Papa melonggarkan pelukan, tatapanku tertuju pada ponsel yang masih tergeletak di lantai.
Seolah mengerti, Papa melepas pelukan dan mengambil ponselku yang jelas sudah mati itu, lalu meletakkannya di atas meja.
“Udah hancur. Nanti Papa beliin yang baru,” ucap Papa. “Kekuatanmu dalam hal banting barang ternyata gede juga ya. Apa sebaiknya kamu Papa bukain usaha bakery, biar bisa banting adonan?”
Aku mendengus geli mendengar candaan Papa, dan membuat sesenggukanku berhenti seketika.
“Papa ih, orang lagi nangis, malah diajak bercanda,” ucapku merengut.
“Lho, kan biar kamu berhenti nangisnya,” sahut Papa. “Terbukti kan tangisanmu berhenti?”
Aku terkekeh lalu berucap, “Makasi ya, Papa dari dulu selalu bisa menghibur aku, kalau aku lagi sedih. Mungkin Papa cocok jadi pelawak.”
“Nggak ah, Papa nggak mau menghibur orang lain. Cukup kamu aja yang Papa hibur,” sahut Papa.
“Untung diomonginnya sama Papa sendiri. Aku bakalan baper kalau cowok lain yang ngomong kayak gitu,” cibirku.
Papa terkekeh, lalu menyodorkan segelas air mineral padaku, karena sadar bahwa suaraku serak akibat terlalu lama menangis.
“Pa, sebenernya, apa sih alesan Papa sama Mama dulu cerai?” tanyaku setelah Papa kembali duduk di barstool tadi.
“Kenapa kamu pengen tau?” tanya Papa balik.
“Penasaran,” jawabku singkat.
“Yah, sebenernya Papa nggak mau ngomon gini, karna kesannya nanti Papa jadi jelekin Mama kamu,” ucap Papa. “Tapi Papa rasa kalau kamu udah cukup dewasa dalam menyikapi masalah.
“Well, Papa sebenernya lebih ke capek ngadepin keegoisan Mama kamu waktu itu. Papa bahkan udah pengen pisah waktu kami baru nikah enam bulan, Velica.”
“Hah? Trus kok bisa keterusan sampai tiga tahun?” tanyaku heran.
“Papa berharap kalau Mama kamu bakalan berubah. Awalnya Papa ngira, Mama kayak gitu karna belum terbiasa sama Papa dan keluarga Papa.
“Papa selalu kasi yang Mama mau, apapun itu, seberapa besar nominalnya. Papa nggak pernah sekalipun bilang nggak.
“Waktu awal-awal ada acara kumpul keluarga dan Papa ngajak kamu, Papa ngira kalau Mama kurang bisa bersosialisasi, atau keluarga Papa yang belum bisa nerima Mama.
“Tapi makin lama Papa perhatiin, Mama menjadi satu-satunya orang yang memang nggak mau berbaur.
“Papa tau, Mama itu bukan orang yang introvert. Jadi nggak seharusnya Mama susah berbaur sama orang baru kan?
“Sampai akhirnya Papa sadar, bahwa ini semua adalah bentuk keegoisan Mama kamu, barulah Papa ambil keputusan.
“Itupun sebenernya nggak langsung, Velica. Papa nunggu kamu lulus SMA dan masuk kuliah dulu, karna Papa tahu kalau semua itu butuh biaya.
“Papa khawatir, kamu yang pinter ini nantinya malah jadi putus sekolah, karna sikap Mama yang kayak gitu.
“Makanya, Papa nunggu sampai kamu daftar kuliah, dan nyiapin tabungan buat kamu pakai setelah Papa sama Mama pisah.”
“Padahal… Papa bukan Papa kandungku ya, bukan orangtua kandungku. Tapi Papa ternyata mikirin aku sampai sebegitunya, ngutamain pendidikanku.”
“Itu semua karna dukungan dari keluarga Papa. Mereka tau kalau kamu hanya akan selalu jadi korban keegoisan Mama kamu. Jadi, mereka minta Papa bertahan, sembari pelan-pelan kumpulin tabungan untuk kamu.
“Makanya, Papa dulu sempet bilang kan sama kamu, kalau kamu nggak boleh kasi tau Mama kamu soal tabungan itu di hari terakhir kita dulu ketemu?
“Papa nggak mau uang buat pendirikan kamu, malah disalahgunain sama Mama, dan kamu jadi putus kuliah.
“Papa dan keluarga Papa sayang banget sama kamu, Velica. Bahkan sebenernya Papa sempet ngajuin untuk bawa kamu setelah Papa dan Mama cerai, tapi nggak dikabulin sama pengadilan karna kita nggak ada hubungan darah sama sekali.
“Mereka bilang, harus keluarga dari Mama kamu. Bahkan kalaupun Papa ini adalah ayah biologismu, tetep nggak bisa, karna di surat lahirmu cuman ada nama Mama.
“Sebenernya Papa sempet denger kabar kalau kamu pindah dari Bali. Tapi waktu Papa tanya Mama kamu, dibilang nggak usah ikut campur.
“Kamu juga gantin nomor, jadinya ya Papa nggak bisa nyari kamu lagi setelah itu, sembari berharap kalau kamu akan selalu baik-baik aja, di manapun kamu berada.”
Aku memandang Papa lalu tersenyum kecil. “Makasi ya Pa, karna Papa dan keluarga udah baik banget sama aku selama ini.”
“Makasi juga karna kamu akhirnya kembali lagi ke Bali, Velica. Jujur, waktu Papa sadar kamu ada di bar punya Papa tadi, rasanya Papa nggak bisa ngomong apapun untuk ungkapin kebahagiaan Papa.”
Kami saling bertukar senyum, sebelum akhirnya terkekeh pelan karna perutku yang mendadak berbunyi.
“Aduh, Papa ada sesuatu yang bisa aku pakai sarapan? Ini udah hampir setengah lima dan aku laper,” ucapku.
“Papa ada roti sama selai coklat. Kamu makan itu sama minum susu ya?” tawar Papa.
“Boleh Pa,” sahutku.
Papa turun dari barstool dan menuju dapur untuk mengambilkanku roti serta selai, lalu kembali lagi ke sana untuk menghangatkan susu.
“Papa mau sekalian roti?” tanyaku.
“Nggak, kamu aja,” tolak Papa, yang aku angguki.
Setelah aku menghabiskan dua lembar roti dan segelas susu, aku menunggu Papa mencuci piring dan gelas, karna dia nggak kasi aku untuk nyuci.
Begitu selesai, Papa menahanku di barstool waktu aku mau turun lalu menangkup kedua pipiku.
Sejenak, kami saling pandang dalam diam. Aku yang awalnya mengira kalau Papa akan mencium keningku, membelalakkan kedua mata begitu Papa malah mempertemukan bibir kami.
Aku sendiri sebenernya nggak ngerti harus gimana. Tapi waktu Papa memejamkan kedua matanya dengan bibir yang mulai melumat bibirku, aku malah mengikuti.
Bahkan, aku melingkarkan kedua tanganku ke leher Papa dan kedua kakiku ke pinggangnya, menarik Papa makin dekat.
“Papa…,” ucapku pelan saat Papa membawaku ke dalam gendongan tanpa melepaskan pagutan.
Papa melangkah menaiki tangga dengan perlahan dan membawaku ke dalam kamar yang aku tempati, menurunkanku tepat di tengah ranjang.
“Papa sayang banget sama kamu,” ucap Papa sebelum kembali mempertemukan bibir kami, dan membuatku menebak-nebak, apa yang kira-kira akan Papa lakukan selanjutnya.
***
