Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 – Overthinking dan Insomnia

Me: Gha, masih bangun?

Me: Aku nggak pulang ya.

Me: Tadi aku ke diskotiknya Papa Kamran, trus malah disuruh nginep di rumahnya.

Me: Ini aku baru sampai di rumahnya.

Pesan itu aku kirim pada Agha saat aku baru masuk ke dalam rumah Papa, dan teringat kalau aku belum memberi tahu sahabatku itu.

Saat aku lihat dia langsung online, aku tahu kalau Agha Bayanaka itu pasti lagi nungguin aku pulang, walau dia bilang kalau dia bakalan tidur tadi.

Agha-nteng: Papa Kamran?

Agha-nteng: Yang mantan suami Tante Melody waktu kita SMA itu Ca?

Agha-nteng: Seriusan kamu ketemu dia?

Me: Iya, aku ketemu dia tadi di diskotik.

Me: Ternyata diskotik yang aku masukin, punya Papa Kamran, dan aku nggak ngeuh.

Agha-nteng: Cieh, jodoh nih ceritanya ya?

Agha-nteng: Awas nanti terjadi hal-hal yang diinginkan lho ya.

Me: Sembarangan kalo ngomong!

Agha-nteng: Lho, kamu kan tadi bilang kalau mau cari cowok buat diajakin ONS.

Agha-nteng: Kan daripada lepas perawan sama stranger, mendingan sama Om Kamran.

Agha-nteng: Udah ketahuan pasti berpengalaman lho Ca.

Me: Aku bercanda Agha, bercanda!

Me: Aku tendang ke Mars nanti kamu ya!

Agha-nteng: Tendang aja nggak apa-apa, asal kamu bahagia.

Me: Mulai deh nggak jelasnya.

Me: Udah, sana tidur.

Me: Katanya kamu ada janji nanti sama orang, pagi-pagi.

Agha-nteng: Aku barusan kebangun karna letakin ponsel pas di sebelah telinga, biar denger kalau kamu ngubungin, takut ada apa-apa.

Me: Aw, sweet!

Me: Ya udah, sana tidur lagi.

Me: Kan udah tau aku ada di mana sekarang.

Agha-nteng: Oke.

Aku memilih untuk mengunci ponsel sebelum menaikkan pandangan. Dan, betapa terkejutnya aku saat melihat ternyata Papa berdiri tepat di hadapanku.

“Astaga Papa! Ngapain sih? Bikin aku kaget aja!” protesku kesal.

“Ternyata kamu mau nyari partner ONS. Berarti harusnya Papa nggak ngajakin kamu pulang nih ya?” tanya Papa.

“Nggak Pa, cuman bercanda tadi aku tuh sama Agha. Lagian Papa nih, baca-baca chat aku sama orang aja!” sahutku.

“Atau mau sama Papa aja?”

“Nggak Pa, aku nggak mau! Aku nggak berminat lepas perawan sekarang! Udah ih, aku pakai kamar yang mana nih? Tunjukin kenapa?”

Papa terdengar terkekeh lalu mengacak puncak kepalaku dengan pelan, sebelum merangkul dan mengarahkanku ke tangga.

“Kamu pakai kamar di sebelah kamar Papa. Di sana kamar yang paling rapi, karna keponakan Papa kalau pas ke Bali, suka nginep di sini.”

“Keponakan Papa yang mana? Jovana itu?”

“Iya, yang itu. Kamu masih inget?”

“Masih. Kan beda umurku sama dia nggak terlalu jauh, jadi aku lumayan inget.”

Papa terlihat menganggukkan kepala dan tak menyahut lagi.

“Nah, ini kamar kamu sementara kamu di sini ya,” ucap Papa setelah menyalakan lampu kamar. “Kamar Papa ada di sebelah, dan ini keperluan kamu tadi. Papa ambilin kamu baju dulu. Kamar mandinya ada di pojok.”

“Oke Pa, makasi ya,” ucapku yang diangguki oleh Papa.

Setelah melihat Papa berlalu, aku memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, karena sudah sangat ingin membersihkan wajah.

Aku memang nggak pakai make-up tebel. Tapi tetep aja rasanya nggak betah kalau terlalu lama. Karna mukaku jadi gampang jerawatan.

“Ka? Kamu di kamar mandi?” Panggilan itu terdengar saat aku baru saja membersihkan wajah dengan micellar water.

“Iya Pa, masuk aja. Aku masih bersihin muka,” sahutku, lalu mulai membasuh wajah dengan menggunakan air karena akan memakai facial wash.

“Ini udah ukuran paling kecil punya Papa,” ucap Papa sembari meletakkan pakaian di samping wastafel.

“Bentar, mau bilas dulu,” sahutku, lalu dengan cepat membasuh wajah dan mengeringkannya dengan handuk. Aku memeriksa pakaian yang dibawakan Papa, lalu mendecakkan lidah karena ukurannya sangat besar, walau katanya udah yang paling kecil.

“Kenapa? Masih kegedean ya sama kamu?” tanya Papa dengan polosnya.

“Iyalah Pa, ini tiga aku kayaknya muat!” sahutku. “Tau gitu tadi aku beli piyama aja di minimarket.”

“Ya udah sih, kan cuman buat malam ini aja. Pake ini aja, oke?”

Aku memanyunkan bibir memandang kaos dan celana pendek di tanganku, sebelum akhirnya mengangguk mengiakan.

Mau nggak mau kan aku harus pakai ini? Daripada aku pakai baju kelewat terbuka yang aku pakai dugem ini.

“Ya udah, sana lanjutin bersih-bersihnya. Papa mau ke kamar. Kalau mau ambil minum, di dapur ya.”

“Oke Pa, makasi ya.”

Papa terlihat mengangguk lalu sebelum berlalu dari kamar mandi.

»Daddy’s Little Girl«

Udah tiga puluh menit aku baring di tempat tidur. Udah nyoba segala posisi dan merem, tapi tetep aja aku nggak bisa tidur.

Aku sama sekali nggak ngantuk lebih tepatnya.

Padahal biasanya, kalau aku sempet minum alkohol, aku pasti gampang tidur. Tapi ini mataku masih seger banget, kayak sayur yang baru dipanen.

Aku yakin kalau aku susah tidur bukan karna ditempat baru. Karna aku sebenernya adalah orang yang pelor, alias begitu kepala nempel bantal, aku langsung molor.

Aku nggak ngerti sih, tapi mungkin nggak ya aku kayak gini karna kepikiran sama obrolanku dan Papa tadi? Atau aku malah kepikiran Daniel? Atau aku kepikiran sama kejadian tadi waktu di taksi, sama Mama?

Menghela napas kasar, aku akhirnya milih untuk bangkit dan melangkah keluar kamar dengan ponsel di tangan.

Mungkin, ada baiknya aku minum air agak banyak atau bikin sesuatu yang bisa bikin aku ngantuk.

Walau Papa bilang nggak punya apapun untuk dicemil, tapi bukan berarti nggak punya bahan masakan, kan?

Aku ngebuka pintu kamar pelan, lalu turun ke lantai satu rumah dan nyari dapur, yang tadi sempet ditunjukin sama Papa.

Sebisa mungkin aku nggak nimbulin suara, karna nggak mau kedengeran sampai atas, sampai kamar Papa.

Aku nggak enak ngeganggu, karna kali aja Papa udah tidur.

Akhirnya, saat sampai dapur, aku mutusin untuk ngambil air mineral dan apel di kulkas. Lumayan untuk dikunyah malam ini.

Setelahnya aku duduk di barstool, menghela napas lagi, trus mandangin layar ponsel yang gelap.

Jujur aku nggak tau aku kenapa. Rasanya pengen nangis, tapi aku nggak bisa nangis lagi. Lagian, aku nggak tau alasanku untuk ngeluarin air mata itu apa saat ini.

Kalau soal karena Daniel selingkuh, aku bahkan waktu itu udah nangis seharian. Sedangkan kalau bertengkar sama Mama, well, kami kelewat sering berantem, jadi yang kayak gitu itu udah biasa.

Karena kami bahkan pernah berantem lebih besar dari yang di telepon tadi, beberapa minggu sebelum aku sidang skripsi tempo hari.

“Velica?”

Aku sedikit tersentak kaget saat mendengar panggilan dari suara yang aku kenal, dari arah tangga. Saat menoleh, aku mendapati Papa sedang melangkah turun dan menuju ke arahku.

“Iya Pa,” sahutku.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Papa lalu mengusap puncak kepalaku dengan sayang.

“Aku nggak bisa tidur Pa, jadinya ngambil minum sama apel,” jawabku. “Papa sendiri kok ke sini? Aku ngebangunin ya?”

“Papa memang belum tidur, trus tadi ngedenger pintu kamar kamu kebuka. Karna nggak denger ketutup lagi, jadi Papa kira kamu nyasar di rumah ini.”

“Ih, ya kali aku nyasar.”

Papa terkekeh pelan lalu ikut duduk di barstool sebelahku. “Jadi kayak daster ya kaos Papa di kamu.”

Aku menunduk untuk melihat penampilanku yang memang seperti sedang mengenakan daster berukuran pendek. Hanya kaos yang aku kenakan tanpa celana pendek.

“Ya kan udah aku bilang, kalau baju ini kegedean di aku. Tapi Papa malah tetep ngasi aku yang ini.”

“Astaga, beneran itu yang paling kecil, Velica. Nggak ada yang lebih kecil lagi.”

“Ya harusnya tadi Papa biarin aku beli piyama. Enak pakai piyama, ada celana panjangnya. Nggak dingin jadinya kakiku.”

“Ya kamu kan tinggal pakai selimut aja kalau kedinginan.”

“Ribet.”

Lagi, Papa terkekeh dan mengusap puncak kepalaku dengan sayang. “Trus, mau cerita ke Papa, apa yang bikin anak Papa ini nggak bisa tidur? Pasti lagi ada yang kamu pikirin kan?”

Menghela napas pelan, aku menghabiskan sisa air mineral dalam gelas, yang tak sampai setengah.

“Lagi capek aja Pa. Kayaknya cobaan dalam hidupku akhir-akhir ini nggak kelar-kelar,” ucapku tanpa memandang Papa.

“Cobaan apa?” tanya Papa.

“Ya… cobaan deh pokoknya,” jawabku.

“Nggak mau cerita nih? Dan cobaan itu yang bikin kamu liburan ke Bali?”

Kini aku balas memandang Papa, sebelum menyahut, “Sebenernya aku bukan liburan ke sini, tapi memang mau pindah.”

“Lho? Kamu udah kelar kuliah? Nggak kerja?”

“Aku udah lulus Pa. Baru wisuda beberapa waktu lalu, bareng sama Agha, temenku itu. Kami memang sempet ada omongan kalau kayaknya enak pindah ke Bali.

“Tapi awalnya itu bener-bener rencana yang sekedar aja, kayak angin lalu. Trus waktu aku mergokin pacarku selingkuh sama cewek lain yang dia bilang sahabatnya sendiri, aku akhirnya buletin tekad untuk bener-bener pindah aja ke sini.”

“Kamu diselingkuhin? Wah, berani-beraninya dia sama anak Papa! Trus kenapa nggak ke Surabaya aja, ke tempat Mama?”

“Aduh, males. Mama waktu tau aku putus, malah belain mantanku yang brengsek itu, bukannya ngebelain anak sendiri.

“Mama tuh ngebet aku cepet nikah. Makanya pas tau putus, Mama malah nyalahin aku.”

“Kamu kan baru dua puluh dua tahun. Kenapa Mama minta kamu cepet nikah?”

“Katanya biar nggak jadi bebannya Mama lagi. Padahal aku udah nggak pernah minta uang lagi sama Mama, terutama sejak aku kuliah di Jakarta.

“Aku tuh kuliah sambil kerja Pa, selama ini. Jadi aku bener-bener nggak terima waktu Mama bilang aku ini bebannya.

“Dia mau anggep aku beban kayak gimana? Padahal ngasi aku uang aja nggak pernah. Aku kuliah, biaya selanjutnya itu dari beasiswa.

“Biaya hidup juga dari beasiswa. Tapi karna kurang, aku jadinya nambah dengan cara cari kerja part time.

“Tinggal selama di Jakarta juga nebeng di apartemen Agha, karna orangtuanya punya apartemen yang kamarnya empat.

“Kalau libur semesteran atau lagi suntuk, aku biasanya ke rumah neneknya Agha di Bandung, buat cari angin satu atau dua hari, sebelum balik lagi ke Jakarta.”

“Tapi… Mama kamu pernah bilang dulu sama Papa, kalau beliau sayang banget sama kamu. Dan kamu tau itu kan?

“Itulah alasan dia untuk selalu cepet punya suami. Beliau nggak mau kamu hidup susah. Dan, mungkin dengan minta kamu cepet nikah, Mama kamu pengen kamu nggak perlu kerja lagi.”

“Papa belain Mama deh. Masih cinta ya sama Mama? Makanya juga, Papa belum nikah lagi setelah bertahun-tahun cerai sama Mama?”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel