Bab 3 – Bermalam
“Gede amat mobilnya,” celetukku memberi komentar saat Papa mempersilakanku untuk masuk ke dalam mobilnya, yang terparkir di tempat parkir di basement diskotik.
Mobil Jeep Wrangler Rubicon two seats berwarna hitam itu menjadi satu-satunya kendaraan roda empat yang berukuran besar, yang terparkir manis di sana.
Sebab, mobil lainnya adalah tipe-tipe city car yang menurutku, memang lebih cocok dipakai di jalanan yang tak terlalu lebar.
“Biar sesuai sama badannya Papa yang gede gini,” sahut Papa setelah masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi.
“Badan Papa sama badan tukang pukul kayaknya memang sebelas dua belas sih ya,” ucapku iseng.
“Sembarangan aja. Mana ada tukang pukul yang seganteng Papa. Kan dulu kamu pernah bilang, kalau Papa ini mirip sama Thor.”
“Iya, itu dulu, waktu rambut Papa masih gondrong. Sekarang kan udah nggak gondrong. Jadi udah nggak kayak Thor.”
“Ya udah, kalau gitu mirip Chris Hemsworth.”
“Ih, sama aja itu sama Thor.”
“Lho, tapi kan si Chris Hemsworth sekarang nggak gondrong. Jadinya ya tetep mirip dong.”
“Ck! Udah ah, cepet jalanin mobilnya. Makin lama di sini, omongan Papa makin ngelantur.”
Aku ngedenger Papa ketawa pelan lalu milih untuk mulai melajukan mobil. Well, baguslah. Dari pada debat kusir mulu di basement. Nggak berfaedah banget.
“Pa, ada minimarket yang besar nggak di jalan pulang?” tanyaku saat belum terlalu jauh mobil melaju, karena jalan Legian yang cukup macet.
“Ada nanti nggak terlalu jauh dari rumah,” jawab Papa.
“Masih buka jam segini?” tanyaku, melirik penunjuk waktu di dashboard mobil, yang menunjukkan pukul setengah dua pagi.
“Masih kok. Dua puluh empat jam bukanya,” jawab Papa lagi.
“Oh, ya udah kalau gitu mampir ke sana ya Pa? Nggak lama kok,” pintaku.
“Mau beli apa memangnya?” tanya Papa, menoleh ke arahku setelah menghentikan mobilnya untuk yang kesekian kali, karena mobil di depan kami berhenti akibat macet.
“Mau beli keperluan perempuan. Aku tadi pergi kan cuman bawa pouch ini doang, isinya dompet sama ponsel,” jawabku.
“Ya… memangnya kamu butuh apa?” tanya Papa bingung.
“Aku butuh pembersih wajah, pelembab malam, pokoknya kebutuhan wanita lainnya deh. Papa nggak akan ngerti kalau aku jelasin juga,” jawabku lagi.
Aku melihat Papa merotasikan bola matanya sebelum mulai melajukan kembali mobil, karena macet sudah lumayan terurai.
Heran, udah tua aja kelakuannya kayak anak kecil.
»Daddy’s Little Girl«
“Nah, udah sampai,” ucap Papa lalu mematikan mesin mobil setelah memarkirkan kendaraan roda empatnya dengan rapi di tempat parkir sebuah minimarket yang menurutku berukuran lumayan besar.
“Hm? Kok mobilnya dimatiin?” tanyaku bingung. Dia mau kehabisan napas di sini apa?
“Kan mau turun. Masa mobilnya nggak dimatiin? Nanti kalau dibawa kabur orang, gimana?” tanya Papa balik.
“Ya… kan aku doang yang turun, Papa di sini,” jawabku. “Kalau ada yang mau Papa beli, titip aku aja.”
“Nggak mau. Memangnya kamu pikir, Papa ini supir kamu, pake segala nungguin di mobil?”
Aku mencebikkan bibir saat Papa malah membuka pintu dan turun lebih dulu. Membuatku akhirnya segera menyusul turun.
“Papa tunggu di mobil aja kenapa sih? Nggak malu ya ikutan sama aku?” protesku saat sudah melangkah di sebelah Papa.
“Kenapa harus malu sih? Nggak inget dulu Papa bahkan sering beliin kamu pembalut?” sahut Papa, membuatku mengingat bagaimana perhatiannya Papa dulu padaku.
“Ya… inget sih, tapi kan itu dulu waktu aku masih sekolah. Sekarang aku bahkan udah kerja, Pa. Udah gede aku tuh,” rengekku.
“Udah gede tapi masih ngerengek aja.” Papa mengacak rambutku pelan, lalu merangkul bahuku dan mengarahkanku masuk ke dalam minimarket yang nggak mini sama sekali itu.
Seolah terbiasa berbelanja, Papa mengambil satu buah keranjang dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap merangkulku.
“Lepasin ih Pa, aku nggak bebas gerak nih,” pintaku sembari menggerakkan bahu.
“Ck! Memangnya mau ke mana kamu segala pengen bebas? Nggak! Nanti kamu kabur!” protes Papa.
“Astaga, aku nggak akan kabur. Mau ngambil barang aja,” sahutku gemas.
“Ya udah tinggal ambil. Papa kan ngerangkul kamu, bukan megang tangan kamu,” ucap Papa santai.
Aku mencebikkan bibir, lalu memilih untuk mengalah saja. Karena, kalau ngotot sama orang kepala batu kayak Papa, udah pasti ribut nanti jadinya.
Papa sendiri dengan telaten ngikutin ke manapun aku jalan. Dia anteng aja pas aku ngambil beberapa keperluanku, sampai akhirnya nahan tanganku waktu aku mau ambil baju tidur.
“Ngapain beli baju segala?” tanya Papa bingung.
“Ya aku kan nggak mungkin tidur pakai baju ini Pa,” jawabku, dengan pandangan ke arah pakaian yang aku pakai saat ini.
“Pakai kaosnya Papa aja nanti. Banyak lho Ka,” ucap Papa.
“Baju Papa kan pada gede-gede banget. Masa aku pakai itu?”
“Nanti Papa pilihin yang paling kecil. Udah, nggak usah beli baju tidur.”
Menurut, aku memilih untuk mengurungkan niatku mengambil baju tidur dan lanjut melangkah ke rak lainnya, hingga akhirnya selesai tak lama kemudian.
“Udahan? Ini aja?” tanya Papa. “Kok ukurannya kecil semua? Dulu perasaan kamu beli yang gede-gede deh botolnya.”
“Ya kan aku udah punya sebenernya, tapi nggak aku bawa,” jawabku. “Besok kan ngambil koper ke rumah Agha, jadinya ya aku bakalan pakai yang punyaku itu.”
“Oh, ya udah kalau gitu. Yakin ini aja? Nggak mau beli camilan? Di rumah Papa nggak ada camilan, soalnya kan cuman Papa doang.”
“Hm… nggak deh Pa. Aku gampang gemuk kalau banyak ngemil,” tolakku.
“Body kamu bagus gini, nggak usah diet segala kenapa sih Ka?”
“Ya ini aku dapein kan dari diet sama olahraga Pa.”
“Ambil camilan yang rendah kalori kalau gitu. Papa nggak mau tau, pokoknya kamu harus ngemil. Sana ambil sendiri, Papa mau antri di kasir.”
Papa sedikit mendorong tubuhku ke rak camilan, sementara dia sendiri melangkah menuju kasir yang tak mengantri.
Akhirnya, aku mengambil dua bungkus camilan yang menurut kemasannya termasuk berkalori rendah, lalu menyusul Papa.
“Simpen aja duitmu, biar Papa yang bayar. Papa nggak terima penolakan,” ucap Papa saat aku sudah akan mengeluarkan dompet kartu dari pouch yang aku bawa.
Aku sudah akan menyuarakan protesku saat aku melihat tatapan tajamnya ke arahku, yang membuatku langsung mengurungkan niat.
Lagi, aku akhirnya hanya bisa menuruti kemauan Papa, agar kami nggak ribut di sini.
Well, dari dulu Papa memang sebaik ini. Dia juga sebenernya nggak suka dibantah, apalagi soal belanja.
Ya kalau dulu sih aku terima-terima aja, karena statusnya adalah suaminya Mama. Tapi sekarang kan udah bukan ya. Aku jadi ngerasa nggak enak.
Setelahnya, kami kembali ke dalam mobil, dan menurut Papa, rumahnya nggak terlalu jauh dari minimarket ini.
“Papa tadi bilang kalau Papa tinggal sendiri kan ya? Memangnya Papa nggak nikah lagi setelah cerai sama Mama?” tanyaku iseng, saat teringat bahwa tadi Papa bilang kalau Papa tinggal sendirian.
“Nggak,” jawab Papa singkat, yang membuatku langsung mengernyitkan kening. Sebab, raut wajah Papa langsung murung. “Mama kamu apa kabarnya?”
“Eh? Baik… kayaknya,” sahutku ragu.
“Hm? Kok kamu kayak yang nggak yakin gitu? Ada selisih paham sama Mama?” tanya Papa lagi.
“Yah, namanya juga anak dan orangtua kan? Orangtua yang anggep kalau anaknya ini beban, padahal nggak pernah keluar uang untuk biaya aku sekolah selama ini,” jawabku.
“Jangan ngomong gitu, Velica. Mama kamu itu sayang banget sama kamu,” ucap Papa.
“Iya, aku tau. Karna aku juga sayang kok sama Mama,” sahutku. “Tapi kenyataannya, Mama bilang kalau aku ini bebannya doang.
“Dulu, aku bersyukur karna Papa nyimpenin aku untuk kuliah sampai satu semester sebelum akhirnya kalian cerai.
“Soalnya setelah itu aku ada masalah di rumah trus mutusin untuk pindah, kuliah ke Jakarta. Mama sendiri akhirnya balik lagi ke Surabaya.”
“Suaminya yang setelah Papa yang ngajakin pindah ke Surabaya lagi?”
“Nggak. Mereka certai setelah tiga bulan pernikahan.”
“Hm? Kenapa?”
Aku nggak langsung jawab, milih untuk noleh dulu ke arah Papa yang masih fokus ke arah jalanan sepi di depan, karena kami udah masuk ke dalam perumahan.
Kayaknya bentar lagi memang mau sampai sih.
“Ka? Kenapa?” tanya Papa lagi, membuatku menggigit bibir bawah.
“Karna nggak cocok, mungkin?” sahutku, yang sebenarnya bingung harus menyahut apa.
Bukan aku tak tahu alasan Mama bercerai dengan lelaki setelah Papa. Tapi aku khawatir kalau aku kasi tau yang sebenernya, Papa nanti malah ngerem mendadak karena kaget.
Karna, Papa aja keliatan sesayang ini sama aku sekarang. Gimana kalau aku kasi tau yang sebenernya ke Papa?
“Kok ‘mungkin’ sih? Memangnya kamu nggak tau alesannya apa?”
“Hm… ya aku tau sih, kurang lebih. Tapi aku bingung gimana mau kasi tau Papa.”
“Apa sih? Kenapa memangnya? Ada hubungan sama Papa?”
“Eh? Nggak kok, nggak ada. Sama sekali nggak ada.”
“Trus apa?”
“Ya… kenapa Papa pengen tau banget?”
“Jawaban kamu agak aneh soalnya. Bikin Papa penasaran.”
“Nanti deh, tunggu kita sampai rumah Papa dulu, baru aku mau jawab. Takutnya Papa kaget.”
“Ini kita udah nyampe.”
Aku menoleh ke arah depan dan ternyata mobil Papa udah parkir di depan gerbang sebuah rumah yang… sebenernya nggak besar sih, tapi ya nggak kecil juga.
Rumah dua lantai dan keliatannya sepi. Mungkin efek karena Papa memang tinggal di sendirian di sini, kayak yang dia bilang.
“Memangnya kita nggak masuk ke rumah? Papa parkir di sini?”
Aku mendengar Papa mendecakkan lidahnya sebelum memintaku menunggu karena ia akan membuka pintu gerbang.
Tapi, aku adalah aku, yang nggak susah banget rasanya untuk nurut sama Papa. Jadi, aku mutusin untuk ikut turun, dengan maksud nanti aku yang tutup gerbangnya.
“Kenapa malah turun?” protes Papa.
“Aku yang tutup gerbangnya nanti,” sahutku, yang membuat Papa menghela napas pelan lalu masuk ke dalam mobil.
Saat mobil sudah masuk sempurna, aku menutup dan mengunci pintu gerbang lalu melangkah mendekati Papa yang sudah berdiri di samping mobil dengan belanjaan di tangan.
“Nih, kita udah sampai. Jawab deh yang tadi, jangan bikin Papa penasaran Ka.”
Sejenak, aku mendongakkan kepala, memandang Papa yang berdiri sangat menjulang di hadapanku.
Penerangan yang kurang, membuat tatapan Papa jadi agak serem, karna dia nunduk.
“Aku… pernah hampir diperkosa sama mantan suami Mama setelah Papa. Mereka cerai karna itu, dan aku pindah ke Jakarta karna Mama ngatain aku ngegodain mantan suaminya itu, makanya aku sampai hampir diperkosa.”
Aku menundukkan kepala setelah memberikan penjelasan pada Papa. Dan setelahnya yang kudengar adalah suara kantong belanjaan yang terjatuh dan Papa yang meluk aku.
“Harusnya Papa memang nggak cerai sama Mama kamu waktu itu. Maafin Papa.”
***
