Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Hai, (Mantan) Papa!

“Apa yang kamu lakukan di sini, Velica Bianara?”

Pertanyaan itu membuat aku yang tadinya merasa kesal karena sempat diganggu oleh beberapa laki-laki entah yang lokal maupun bule, langsung menegakkan punggung.

Dengan kaku dan perlahan, aku menolehkan pandang ke arah kanan, posisi di mana lelaki yang memanggilku dengan nama lengkap, berada.

Aku mengenali suara ini. Suara yang sangat familiar dan kudengar di rumah setiap hari, sampai beberapa tahun lalu.

Sebenarnya, bisa saja aku nggak ngegubris panggilan itu.

Tapi nggak tau kenapa, aku malah tetap menoleh, dan benar-benar mendapati mantan papa tiriku berdiri menjulang tepat di belakangku.

‘What the hell is he doing in here?’ umpatku dalam hati.

Gila ya, aku lagi nggak pengen ketemu siapa-siapa lho ini. Lagi pening aku tuh, karna permintaan Mama yang nggak pernah masuk akal dan selalu mendesak.

Tapi… kenapa sekarang, di sini, di diskotik ini, aku malah ketemu sama salah satu mantan suami Mama yang terlama?

Hm… bukan yang pertama maksudku, tapi yang waktu pernikahannya dengan Mama itu memang paling lama, karna lebih dari dua tahun.

Karna, sebelum dan setelahnya, pernikahan Mama dengan laki-laki lainnya biasanya hanya bertahan paling lama satu tahun.

Bahkan, yang terakhir kemarin itu, cuman enam bulan, sebelum akhirnya Mama kembali menyandang status janda.

Kalau ditanya berapa total mantan suami Mama, aku sendiri nggak tau. Mungkin saingan sama jumlah pemain inti di olahraga basket.

Tapi yang jelas, kayaknya belum sebanyak tim inti di sepakbola. Kayaknya ya, aku juga nggak tau. Kan aku nggak inget gimana suami-suami Mama waktu itu masih kecil.

“I ask you once again Velica. Why are you here, alone?”

Pertanyaan itu akhirnya membuatku tersadar dari lamunan singkatku soal Mama, wanita yang sebenernya aku sayang tapi paling aku hindari sementara ini.

“Eh? Pa… Papa? Eh salah, Om! Eh… Pak. Hm… iya, Pak. Halo Pak… hm… Pak Kamran,” sahutku tak jelas.

“You can keep calling me ‘Papa’,” ucapnya sambil menekankan kata ‘papa’ lalu duduk di barstool sebelahku yang dari tadi memang kosong.

“Ng… okay. Hai, Papa!” sapaku, masih dengan gugupnya.

Aku juga nggak ngerti sih kenapa aku gugup. Mungkin karna suara beratnya tadi? Atau auranya yang begitu mengintimidasi?

Hah, nggak tau deh. Yang jelas aku sekarang ini lagi ngerasa kayak anak yang lagi ketangkep ngelakuin sesuatu yang salah sama orangtuanya.

Kayak… bolos sekolah, kabur dari rumah lewat jendela kamar karna nggak mau tidur siang, atau ketahuan makan permen yang seharusnya dimakan untuk besok.

“So? Ngapain kamu di sini, sendirian? Bukannya kamu di Jakarta?” tanya Papa.

“Ng… aku lagi… hm… liburan Pa. Iya, liburan,” jawabku gugup, lalu memutuskan untuk menatap meja bar di hadapanku saja, daripada mendapatkan tatapan intimidasi itu.

“Mama kamu masih di Surabaya? Atau udah pindah lagi?” tanya Papa lagi. Kali ini, nada bicaranya lebih santai, walau aku masih merasakan aura tegang di sekitarku.

“Masih Pa, Mama masih di Surabaya. Nggak tau bakalan pindah lagi atau nggak,” jawabku.

“Kamu kalau Papa ajak ngomong, hadap Papa dong Ka, jangan malah ngeliatin gelas. Nggak akan ada isinya kalau kamu nggak minta bartender untuk ngisi lagi.”

Tanpa bisa kucegah, aku merotasikan kedua bola mataku malas. Ya kali kan, ini gelas bisa ngisi sendiri? Disangkanya ini lagi di dunia Doraemon?

Namun begitu, aku ya tetep aja noleh ke tempat di mana mantan papa tiriku duduk.

“Apa sih Pa? Papa juga ngapain di sini?” tanyaku. “Kok kita bisa sih kebetulan ketemu karna masuk ke bar yang sama? Dan ngapain Papa nyamperin aku?”

“Ini bar punya Papa kalau kamu lupa,” jawabnya, yang membuatku mengernyitkan kening, lalu menoleh ke sekitar, untuk mencari nama diskotik ini.

Dan ternyata, iya, beneran punya laki-laki yang nama lengkapnya Kamran Dharmendra ini.

The Angel’s Wing.

Ah elah, kenapa sih aku masuknya ke sini ya? Padahal di jalan Legian ini kan banyak diskotik. Ngapain aku masuk ke sini?

“Oh, aku lupa,” ucapku pada akhirnya. “Tadi masuknya random aja, nggak merhatiin nama tempat.”

“Memangnya kalo kamu sadar ini punya Papa, kamu bakalan nggak jadi masuk ke sini?”

Aku hanya mengendikkan bahu, malas menjawab, lalu memilih untuk kembali menghadap ke meja.

“Mas, martini satu ya,” ucapku pada bartender yang baru saja meletakkan gelas yang entah isinya apa, di dekat Papa.

“Kamu pesen itu buat kamu? Bukannya tadi udah pesen tequila? Pesen bir aja ya? Nanti kamu mabuk,” sela Papa saat bartender tadi bahkan belum menyahutiku.

“Nggak ih, nggak mau. Aku mau martini. Aku nggak akan mabuk kok Pa, toleransi alkoholku lumayan tinggi,” sahutku tak terima.

“No way! Pesen yang ringan aja!”

“Nggak mau! Ya udah, aku mau ke diskotik lain aja!”

“Hei, tunggu!”

Sebelah lenganku ditahan saat hendak turun dari barstool. Membuatku memandangnya malas lalu bertanya, “Apa? Papa mau ngapain?”

“Ya udah, iya, pesen yang kamu mau, biar Papa yang bayar. Daripada kamu ke tempat lain trus mabuk di sana, nggak aman. Nanti dibawa sama laki-laki lain, malah bahaya,” sahutnya lalu meminta bartender membuatkan minuman yang kumau.

“Kayak yang sama Papa aku ini bakalan aman aja,” cibirku pelan, lalu duduk dengan benar.

“Apa? Kamu bilang apa barusan?”

“Kucing bertelor.”

Aku mendengar Papa mendecakkan lidahnya, namun sebisa mungkin tak kugubris.

“Kamu nginep di mana?”

Sempat menoleh sekilas, aku kembali membuang muka lalu menjawab, “Belum tau.”

“Hah? Maksudmu? Trus barang-barangmu di mana?” tanyanya lagi.

“Di tempat temenku.”

“Perempuan?”

“Laki-lakilah jelas. Papa harusnya inget kalau aku nggak pernah bisa temenan sama perempuan hanya karna kelakuan Mama.”

Tak terdengar ada sahutan lagi dari Papa, membuatku menoleh ke arahnya, dan ternyata dia lagi liatin aku.

Well, aku ngerasa agak gimana gitu sebenernya, karna tatapan Papa tuh kayak yang… iba atau apa ya?

Ngerasa bersalah?

Eh, ngapain juga Papa ngerasa bersalah ya?

“Papa mau ke ruangan dulu. Kamu jangan ke mana-mana,” ucapnya.

“Papa nggak berniat ngubungin Mama untuk kasi tau aku di sini kan?” tanyaku curiga.

“Hm? Kamu ke sini nggak bilang sama mamamu?” tanyanya balik dengan terkejutnya.

“Nggaklah, ngapain juga?”

“Nggak minta ijin beliau?”

“Pa, I’m twenty two. Jadi aku udah nggak perlu ijin lagi dari dia.”

“Ck! Yang kamu sebut ‘dia’ itu adalah Mama kamu, Velica.”

“Whatever.”

“Ya udah, tapi kamu jangan ke mana-mana sampai Papa balik lagi ke sini, oke? Kalau kamu ngilang, Papa laporin kelakuan kamu ke mamamu.”

“Iya…,” sahutku malas, lalu mendengar Papa bicara pada bartender, memintanya untuk menjagaku sebentar, karena siapa tahu akan ada lagi laki-laki yang menggangguku.

Aku sempat membeku sesaat, ketika Papa menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut sembari ia memintaku menunggu.

Aku terdiam bukan karena tepukan itu, tapi karena telapak tangannya yang sebesar itu.

Saat menoleh ke arahnya, Papa sudah berbalik dan melangkah menjauh, menghilang di antara kerumunan orang.

Bukannya aku nggak tahu telapak tangannya akan sebesar itu. Tapi karena aku mendadak kangen sama perlakuannya yang masih sama.

Dulu, sewaktu Papa masih jadi suami Mama, Papa kerap kali menepuk-nepuk puncak kepalaku saat aku merasa sedih.

Perlakuan yang mungkin bagi kebanyakan orang biasa saja, tapi sangat berharga untukku.

Karena, sebagai orang yang dari kecil udah nggak ada sosok Ayah, aku jelas merasa perhatian seperti itu sangat berharga.

Nggak ada sosok Ayah dalam artian… aku yang nggak tau siapa ayah kandungku. Karena katanya mamaku itu hamil di luar nikah, dan nggak inget sama siapa dia pernah berhubungan saat itu.

Gila ya?

Yah, memang gila. Terlebih, kegilaan itu berlanjut sampai sekarang, karna Mama masih aja suka gonta-ganti suami.

Aku bahkan nggak tau siapa suaminya yang sekarang. Dan nggak perduli juga, karna aku milih untuk kuliah dan kerja di Jakarta, daripada tetep di Surabaya sama Mama dulu.

Yah, setidaknya sampai kemarin.

Karena mulai hari ini, aku bahkan nggak tau di mana aku harus tinggal.

Aku pergi ninggalin ibu kota karna aku udah lulus kuliah. Kerjaan sampinganku juga udah selesai kontraknya, lebih cepet satu bulan dari kelulusanku.

Jadinya sekarang ini aku adalah pengangguran yang sombong banget karna malah pergi ke Bali untuk liburan.

Nggak bener-bener liburan sih, tapi aku mau cari kerja di sini, dengan rumah temenku yang aku jadiin tempat nginep sementara.

Temen yang emang tulus temenan sama aku, selama bertahun-tahun. Yang selalu jadi penyelamatku tiap aku berantem sama Mama.

Dan hampir diperkosa sama papa tiriku.

Bukan Papa Kamran, tapi suami Mama yang lain, yang saat ini tentu udah jadi mantan.

“Ka, kamu nginep di rumah temenmu berarti?”

Pertanyaan yang terdengar tepat di samping telingaku, sontak membuatku berjengit kaget. Aku langsung menoleh dan memandang kesal ke asal suara, dan tentunya langsung menemukan Papa di sana.

“Iya Pa, aku nginep di sana,” jawabku.

“Nginep di rumah Papa aja ya? Biar Papa tenang,” pintanya.

“Hah? Kenapa memangnya? Apa yang bikin Papa nggak tenang deh?” tanyaku heran.

“Kamu nginep di rumah temenmu, yang laki-laki. Gimana Papa bisa tenang? Gimana kalau dia macem-macem sama kamu?”

“Astaga, dia nggak mungkin kayak gitu Pa! Aku tau dia banget kayak gimana. Dan aku udah temenan sama dia lebih dari sepuluh tahun, dari aku kecil.

“Lagian emangnya Papa nggak akan macem-macemin aku? Yakin nih? Papa sama temenku tuh, sama-sama laki-laki dewasa.”

“Papa nggak tertarik sama anak Papa sendiri.”

Perkataannya yang terkesan cuek dan meremehkan, membuatku sedikit menyeringai dan memikirkan suatu rencana.

Mengendikkan bahu, akupun berucap, “Ya udah, aku nginep di tempat Papa aja selama aku di Bali. Lumayan jadi hemat biaya hotel. Tapi ngambil koper ke rumah temenku besok aja. Aku mendadak capek dan pengen istirahat.”

“Oke, ayo kita pulang.”

Menganggukkan kepala, aku mengikuti langkah Papa menuju ke pintu keluar diskotik.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel