5. Bangun Cinta atau Jatuh Cinta?
"Jatuh cinta atau bangun cinta, memiliki arti yang berbeda. Namun, aku menganggapnya tetap sama jika itu berhubungan dirimu."
~~~•••~~~
Melina melirik Carla dengan ekor matanya, “Terserah ya, yang penting gue udah sering mengingatkan,” balas Melina seraya menyantap makanannya.
Carla tersenyum lebar mendengar jawaban dari Melina. Ia pun melihat kelain arah, dan secara tidak sengaja pandangannya tertuju pada sosok laki-laki tampan yang tengah duduk dibangku yang tak jauh darinya, ia sedang membaca buku seraya menyeruput secangkir capucino dihadapanya.
Carla memfokuskan arah matanya ke buku yang dibaca oleh lelaki itu, dan ternyata ia memang laki-laki yang rajin, bahkan buku yang ia baca bukan novel atau komik, melainkan buku pelajaran.
“Siapa sih tuh cowok, unik banget. Dia baca buku pelajaran dijam istirahat gini. What? Emangnya otak dia gak capek belajar terus,” Senyum Carla dalam hatinya.
Perlahan lelaki itu menurunkan buku yang ia baca dan meletakkannya diatas meja, sontak Carla pun dengan jelas melihat wajah dari lelaki itu. Tak lain dan tak bukan yap, dia adalah Gino, sicowok penyuka capucino.
“What! Jadi dia Gino?!"
Ucapan Carla yang keras membuat keteman-temannya pun langsung menoleh kearahnya. Bahkan beberapa murid yang duduk tak jauh darinya pun menoleh kearah model cantik itu.
Carina dan Raina pun langsung menoleh kearah pandangan Carla. Sedangkan Melina hanya melirik kearah Carla.
“Carla lo kenapa sih, sampe segitunya?” tanya Carina.
“Em,... gak papa. balas Carla.
“Cowok yang gue perhantiin dari tadi itu ternyata Gino,” bisik Carla. Carina dan Raina pun melihat kearah lelaki itu dan memang benar dia adalah Gino.
“Ya, memangnya kenapa Carl, kalau dia Gino." Sahut Carina.
“Dia sering banget baca buku dijam istirahat kaya gini?" tanya Carla yang beberapa kali mencuri pandang kearah Gino.
“Elo, kalau mau tau tentang Gino, tanya tuh sama si Melina,” ucap Carina.
Carla mengerutkan dahinya, lalu ia menoleh kearah Melina yang baru saja selesai menghabiskan makanannya.
“Melina,” panggil Carla.
“Iya, gue dari dulu memang menganggumi Gino, lagian wajar kali dia dikagumi, dia itu udah bawa nama baik sekolah ini menjadi semakin terkenal,” terang Melina.
“Terkenal? Dia model juga kaya gue?” tanya Carla.
Carina dan Raina menepuk dahinya secara bersamaan. Melina pun menghela nafasnya dengan panjang. “Ya ampun Carla, lo itu benar-benar gak mempedulikan orang lain ya,” ujar Carina seraya tertawa kecil.
“Ya apa dong, gue gak tau dia itu terkenal karena apa,” balas Carla mengangkat kedua bahunya.
Melina merangkul Carla. “Nih, modelku tersayang gue kasih tau ya, dia itu pernah bawa nama baik sekolah ini hampir ketingkat internasional berkat kecerdasan yang dia milikin. Bahkan, dia itu selalu membawa kemenangan dari setiap lomba yang dia ikuti,” terang Melina yang melepaskan rangkulannya.
“Kok gue baru tau sih, kalau dia setenar itu. Kalian juga tau tentang Gino,” tanya Carla yang mengarah ke Carina dan Raina.
“ Ya, jelas kita tau lah Carl,” balas Carina.
Carla berpangku tangan seraya memainkan jari-jemarinya diatas meja. “Bagus dong kalau dia terkenal, itu artinya ... Gue jadi makin bisa deketin dia,” ujar Carla yang tersenyum lebar kearah teman-temannya.
“Lo suka sama Gino?” tanya Raina. Carla hanya membalas senyuman sumringah kearah teman-temannya.
“Wah, kalau gitu berarti lo saingan sama Melina dong,” canda Carina.
“Eh, gak Cuma gue ya, kalian kan juga pernah suka sama Gino, bahkan gue rasa seluruh murid cewek di sekolah ini pun naksir sama Gino,” sahut Melina.
“Iya sih, tapi sifat dinginnya itu loh. Yang kaya dikutub utara, gue jadi berasa ngomong sama beruang kutub gitu,” canda Raina yang tertawa dan ikuti oleh gelak tawa dari Carina.
“Gue gak peduli, seberapa dinginnya sih dia sama gue. Bodoh, kalau dia nyuekin cewek secantik gue,” tutur Carla yang melirik kearah teman-temannya.
“Ya ... emang gue akuin. Gino memang sosok yang nyaris sempurna sih, Jadi... Dia gak bakalan kita bully kalau memang benar dia bisa suka sama lo,” sahut Carina.
Carla pun mulai melirik Gino kembali, dan kali ini ia terkjeut lantaran ada sosok wanita yang tengah duduk disamping Gino dan sedang berbicara dengan Gino. Wajah Carla pun berubah kesal.
"Siapa tuh cewek?,” tanya Carla yang terus memerhatikan tiap gelagat wanita tersebut.
Sontak ketiga temannya pun langsung mengarahkan pandangan merek kearah Gino dan waitan yang berada disebelahnya.
“Ouh, itu Bunga, setau gue sih dia Cuma sahabatan sama Gino karena rumah mereka memang sebelahan dari dulu,” tutur Melina.
“Gak masalah.” ucap Carla yang mengangkat satu kerah bajunya. “Cantikan juga gue, pasti Gino lebih tertarik sama gue dong dari pada sama tuh cewek,” lanjut Carla.
“Ya pasti kalah jauh kali, lo itu lebih dari sempurna,” ucap Raina.
Kring ....
Bel masuk berbunyi. Para murid pun pergi dan menuju kekelas mereka masing-masing. Namun tidak untuk Carla, ia berjalan berbeda dari arah teman-temannya. Ia berjalan mengikuti Gino dari belakang.
Gino merasa bahwa dirinya seperti diikuti oleh seseorang, ia pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah jendela sekolah tersebut. Dan yap, ia melihat sosok gadis cantik yang tengah berdiri dibelakngnya yaitu Carla. Lantas ia pun langsung menoleh kearah gadis cantik tersebut.
Carla tersenyum lebar ketika Gino langsung menoleh kearahnya. “Hay." sapa Carla.
Gino memutar bola matanya. Berharap akan disapa juga oleh Gino. Namun harapanya Carla itu salah, Gino berjalan beberapa langkah kearah belakang Carla dan mengambil kertas yang terjatuh kemudian ia menyimpannya diselipan buku yang ia bawa. Kemudian lelaki bertubuh tinggi itu pun berjalan tanpa menoleh kearah Carla sedikit pun.
Carla terkejut, syok, mengangga dan kaget. Melihat apa yang baru saja ia alami, bahwa Gino tidak melirik dirinya sedikit pun. Hal itu membuat Carla menghentakkan kedua kakinya dengan keras dan kesal.
“Dia pikir gue patung lilin apa, jangankan disapa dilirik aja nggak..." gerutu Carla.
Tapi bukan Carla namanya kalau dia menyerah begitu saja, ia akan tetap berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk untuk mendapatkan hati seorang Gino. Carla pun berjalan menuju kearah kelasnya dengan kesal akibat perilaku Gino tadi.
Selama guru menerangkan pelajaran, Carla sama sekali tidak fokus untuk mendengarkan guru tersebut. Pikirannya terus saja terbayang-bayang akan sosok lelaki tampan yang baik hati tersebut, yaitu Gino.
*****
Kring ...
Beberapa telah berlalu. Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua pembelajaran pun telah usai.
“Baik, itulah pembelajaran hari ini, dan jangan lupa untuk mengerjakan tugasnya,” ucap guru tersebut.
Seluruh murid pun berkata serentak, “Baik Pak."
Kemudian guru serta murid-murid pun keluar dari ruang kelas. Begitu pun Carina, Raina dan Melina yang bersiap-siap keluar dari kelas tersebut.
“Abis ini kita kemana nih? Masa mau langsung pulang aja, gak main dulu?” tanya Carina yang sedang memasukkan buku-buku kedalm tasnya.
“Coba dong tanya sama model kita memangnya dia gak sibuk.” balas Raina
“Lo hari ini sibuk gak, Carl?" tanya Carina.
Carla yang sedari tadi sudah membereskan buku-bukunya, ia mengambil sebuah cermin kecil ditasnya dengan sebuah lipglos berwarna merah muda. Lalu ia pakaikan lipglos tersebut dibibir manisnya. Melina menoleh kearah Carla, ia menyenggol siku Carla.
“Apaan sih Mel, lo ganggu gue lagi touch up ja,” ujar Carla yang masih fokus pada cerminnya.
“Lo gak denger apa, ditanya sama mereka."
“Iya, iya gue denger,” balas Carla.
“Jadi, kita kemana?” tanya Carina seraya memakai tas slempangnya.
Carla memasukan cermin serta lipglosnya dalam tasnya. Lalu ia melihat jam tangan berwarna coklat yang melingkar di pergelangan tangannya, dan memakai tasnya secara buru-buru.
“Em, bentar guys gue buru-buru,” ujar Carla yang teergesa-gesa. Ia pun berlari meninggalkan teman-temannya.
“Jadi lo gak bareng sama kita,” teriak Raina.
Carla menghentikan larinya tepat didepan pintu kelas, ia menoleh kearah teman-temannya. “Em, kalian duluan aja,” teriak Carla yang langsung berlari keluar kelas.
Ketiga temannya pun bingung melihat tingkah Carla. “Carla kenapa ya?” tanya Raina.
“Ada sesi pemotretan kali, makanya dia buru-buru,” jawab Melina.
“Yaudah lah, mendingan kita cabut aja yuk,” ucap Carina.
Mereka pun keluar dari kelas tersebut. Carla yang sedari tadi berlari kecil disepanjang koridor sekolah. Banyak yang menggoda serta memanggil-manggil namanya.
“Caramel "
“Hay, Carla."
“Hay, cantik”
“Mau kemana nih Cantik."
“Nanti pulang bareng yuk."
Kata-kata serta sapaan seperti itu sudah biasa terdengar ditelinga gadis cantik tersebut. Hal tersebut sudah biasa ia alami, namun bagi Carla itu hanyalah ocehan-oehan mereka yang tak harus ia gubris.
Carla tetap memasang wajah jutek serta cueknya. Ia terus berlari seperti mencari seseorang. Hingga kakinya mulai lelah dan ia pun berhenti tepat didepan kelas unggulan, dengan nafas ngos-ngosan.
Beberapa orang siswa berjalan mendekati Carla. Sepertinya mereka adalah cowok-cowok usil dan jail yang selalu membuat onar. Mereka adalah Yuda, Yuka, dan Yusmin. Atau yang sering disapa akrab dengan TriY.
“Wah, ada model nih,” ucap Yuka yang melirik kearah teman-temannya.
“Gimana kalau kita kerjain aja tuh anak,” ucap Yuda.
“Lo masih balas dendam sama dia, lantaran cinta lo ditolak sama Carla,” ledek Yusmin seraya tertawa.
Yuda memasang wajah jutek. “Cewek angkuh kaya dia, memang harus dikasih pelajaran. Gue kurang apa coba. Ganteng iya, Tajir iya, Keren apa lagi, gak usah ditanya kali, gue itu paling keren disini.” Ujar Yuda dengan gaya sok cool nya.
“Yaudah gue punya ide nih, kita kerjain aja dia kaya gini.” Lalu Yuka membisikkan sesuatu kepada teman-temannya.
Seorang gadis berkacamata keluar dari kelas tersebut, dan ia pun sedikit terkejut dan senang bahwa ada Carla yang berdiri didepan kelas tersebut. Sedangkan Carla masih tetap beridri disana dengan mengatur nafasnya, ia pun mengambil kipas angin fortabel miliknya dari dalam tasnya.
Lelaki berkacamata itu pun berjalan dengan langkah yang cepat menuju kearah Carla yang tak lain adalah Dito. Saat Dito sudah berada didekat Carla, secara tiba-tiba ia pun terjatuh tepat didepan Carla.
Bugh!
