
Ringkasan
Carla Melinda, memiliki nama tenar yaitu, Carramel. Siswi cantik yang paling populer di SMA Abdi Bangsa. Bahkan karena kepopulerannya itulah, yang membuat Carla selalu mendapatkan perhatian khusus dari kalangan lelaki. Namun, tidak bagi Gino. Caprio Putra Gino, yang akrab di panggil Gino, adalah siswa tampan yang terkenal cuek dan punya banyak prestasi di sekolah. Dan karena sifat cueknya itulah, yang membuat Carla pun akhirnya tertarik untuk mendapatkan hati Seorang Gino. Carla Melinda: "Banyak orang bilang, kecantikan gue itu setara dengan Dewi Yunani, dan bisa menaklukkan cowo kurang dari tiga menit. Tapi, kenapa hal ini nggak terjadi sama Lo ya? Atau ... Jangan-jangan Lo ini seorang G*y?" Caprio Putra Gino : "Karena itu hanya terjadi oleh sekumpulan s*kte. Dan Lo, adalah manusia teraneh yang pernah gue temuin dari jenis spesies manapun." What! Di tolak Gino?! Bukan Carramel namanya kalau menyerah begitu saja. Dia akan terus berusaha sampai Gino bertekuk lutut di hadapannya.
1. Papa?
"Bukankah dalam sebuah keluarga, ayah adalah sosok yang selalu melindungi keluarga, terlebih untuk anak-anaknya. Tetapi tidak bagiku, jangankan melindungiku, melihatnya saja aku tidak pernah.”
~~~•••~~~
Seorang gadis cantik dengan baju putih tengah berdiri disebuah ruangan yang sangat terang dan berwarna putih. Mata bulatnya berkeliling menyusuri ruangan tersebut. Terlihat dari kejauhan, ada sinar terang yang sangat menyilaukan dirinya, hingga ia menutupi wajahnya dari pancaran sinar tersebut dengan telapak tanganya.
“ Carla ...."
Suara tersebut terdengar jelas dari arah pancaran sinar yang menyilaukan itu. Dan gadis cantik itu pun perlahan mengalihkan telapak tangan dari wajahnya.
Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ke-asal suara tersebut. Sinarnya yang menyilaukan membuat gadis cantik itu tidak dapat melihat dengan jelas seseorang yang tengah berdiri dititik sinar tersebut.
“Carla, sini nak ini papah."
Gadis itu menghela nafasnya, perlahan langkahnya yang pelan, berubah menjadi cepat hingga ia berlari menuju kesatu titik sinar itu.
“Pah, papah...” teriak gadis itu.
Semakin ia mengejar sosok itu, semakin cepat pula sosok lelaki itu pergi. Jelas itu membuat Carla pun memanggilnya lagi.
“ Papah mau kemana pah, jangan tinggalin Carla Pah ...." teriak gadis cantik itu.
Gadis cantik itu semakin berlari mengejar serta mencari asal suara itu, namun lambat laun, suara itu menghilang dan pancaran sinar itu pun juga ikut menghilang. Hingga suasana di ruangan tersebut yang awalanya terang, kini berubah menjadi gelap dan membuat gadis cantik itu pun tak dapat melihat apa pun disana.
Ia pun langsung menghentikan larinya. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena lari, dan juga keringat yang mengalir dipelipis keningnya, ia berputar seraya memerhatikan ruangan tersebut.
“Pah, Papah .... ” teriak gadis itu memanggil-manggil.
Ia berjalan perlahan seraya mencoba meraba-raba. Ia terus berjalan mencoba mencari penerangan di ruangan tersebut. Namun semakin ia cepat melangkahkan kakinya, semakin gelap pula ruangan tersebut, hingga ia pun menghentikan langkahnya dan mulai merasakan ketakutan ditempat itu.
Ia pun langsung terduduk dengan menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disela-sela lututnya.
“Pah, papah kemana pah?" isak gadis itu.
“Pah ... Jangan tinggalin Carla pah." tangis gadis itu.
Gadis cantik itu menangis dengan suara terisak dan menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya.Rambutnya yang panjang mulai menutupi wajah imutnya, kini gadis dengan senyum manis itu benar-benar menangis dan menunggu kehadiran dari sosok yang ia panggil papah tadi.
Kring ....
Suara alarm berbunyi dengan kerasnya. Carla pun terkejut, dan perlahan membuka kedua matanya. Ia pun menoleh kearah jam wekernya, dan perlahan tanganya pun meraih jam weker tersebut dan langsung mematikannya.
“Whoam ...."
Carla menutup mulutnya yang menguap lebar. Perlahan ia pun bangun dan duduk dikasurnya, ia memegang pipinya. Tahu, bahwa dirinya menangis, sontak Carla pun langsung mengusap air matanya yang masih berada dipipinya.
Ia beranjak dari kasurnya dan berdiri tepat didepan cerminnya. Ia memerhatikan dirinya di cermin itu. Ia mengecapkan bibirnya lalu menghela nafasnya dengan cepat. Gadis cantik itu berbalik dan membelakangi cerminnya, ia melipat kedua tanganya lalu mencoba membayangkan atas mimpi yang ia alami barusan.
Hal tersebut membuat gadis dengan mata bulat itu mengusap seluruh wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
“Huft,... Mimpi itu lagi,” gumam gadis itu pada hatinya.
Lalu ia pun berjalan, mengambil handuk dan segera menuju kedalam kamar mandi yang berada didalam kamarnya.
Tak butuh waktu lama, gadis dengan senyum manis itu telah bersiap untuk ke sekolah. Ia telah rapih dengan seragam sekolah yang dikenakannya, dan memakai riasan tipis diwajahnya. Rambutnya yang panjang bergelombang di bagian bawahnya terurai dengan indah, membuat gadis cantik itu semakin manis bila tersenyum. Ia memerhatikan dirinya didepan cermin.
“Sumpah, gue cantik banget.” Ujar Carla memuji dirinya sendiri.
Tok...Tok...Tok...
“Non, ayo sarapan dulu, ibu sudah nunggu dibawah non,” ujar suara wanita paruh baya yang mengetuk pintu kamar Carla.
Carla menoleh kearah pintu kamarnya, “ Iya, sebentar mbok." Balas Carla.
Ia melihat dirinya lagi dicermin lalu tersenyum seraya mendekatkan wajah cantiknya didepan cermin tersebut. Gadis dengan bulu mata lentik itu tersenyum seraya memerhatikan dirinya. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju kearah pintu kamarnya dan keluar dari kamarnya menuju keruang makan.
Di ruang makan, terlihat sudah ada Mamahnya yang tengah duduk disana seraya mengutak-atik ponselnya.
Carla berjalan mendekati mamahnya, lalu ia tersenyum dan mencium pipi mamahnya. “Pagi mah,” ucap Carla dengan senyuman.
“Pagi sayang, sarapan dulu yuk,” balas mamahnya.
Carla pun duduk dikursi yang berada didepan mamahnya. Ia menaruh tas sekolahnya lalu melihat kearah mamahnya. Mamahnya meletakkan ponselnya, lalu membalikkan piring dan mengambil roti dan juga selai coklat.
Carla masih memerhatikan mamahnya, mulutnya berkomat-kamit seperti ingin membicarakan sesuatu namun, ia ragu untuk mengatakannya. Gadis dengan mata coklat itu menghela nafasnya dengan perlahan.
“Mah ...." panggil Carla.
“Kenapa sayang?" balas mamahnya seraya menyantap sarapannya.
“Carla mimpi itu lagi, Mah."
“Mimpi apa sayang?” tanya mamahnya yang masih melanjutkan sarapannya.
Carla menghela nafasnya. “Papah, mah” jawab singkat Carla,
Kletak !
Mendengar ucapan anaknya, wanita dengan riasan tipis yang memiliki rambut sebahu itu langsung meletakan garpu dan juga pisau dengan suara yang agak keras, hingga membuat Carla pun sedkit terkejut.
Carla tidak berani melihat kearah mamahnya, ia hanya tertunduk seraya mengatur nafasnya. Bibirnya mulai bergetar, ia tahu pasti hal ini akan terulang lagi. Sama seperti sebelum-sebelumnya, mamahnya selalu marah seperti ini jika ia membahas akan sosok tersebut.
Mamahnya mengambil segelas air putih dihadapannya lalu meminumnya dan meletakkan gelas tersebut dengan agak keras.
Brak!
Lagi-lagi Carla pun terkejut dengan tindakan mamahnya tersebut hingga ia mulai mengatur nafasnya lagi. Mamahnya mengatur nafasnya beberapa kali, ia pun mengibaskan rambutnya sedikit kebelakang.
“Carla kamu lihat mamah,” ucap mamahnya dengan tegas.
Perlahan gadis berambut panjang itu pun mulai mengangkat wajahnya dan melihat kearah mamahnya.
“Carla kamu bisa gak sih, gak usah bahas itu.” tegas sang mamahnya
“Carla Cuma mau bilang sama mamah, kalau Carla--"
“Stop Carla!” bentak mamahnya.
Carla pun menghentikan ucapannya. “Carla kamu denger mamah baik-baik ya. Jangan pernah kamu bicarakan tentang itu lagi, Mamah pusing dengernya. Kamu tau, ucapan kamu itu menganggu selera makan Mamah." decak mamahnya.
Carla membuang nafas pendekanya. “Mah, Carla juga nggak tau Mah, kenapa tiba-tiba Carla selalu mimpi itu terus, dan Carla juga gak tau kenapa Carla selalu terbayang-bayang oleh sosok papah, padahal Carla sendiri gak tau sosok papah sebenarnya."
“Stop Carla, Stop!” potong mamahnya yang kini telah berdiri.
Carla pun menghentikan ucapanya, dan kali ini ia benar-benar lelah dengan sikap Mamahnya yang selalu saja marah ketika ia membahas soal sosok papahnya. Carla pun beranjak dari kursinya dan menatap mamahnya.
“Mah, Carla perlu tau sosok papah Carla siapa,” lirih Carla.
“Jangan pernah kamu bahas soal laki-laki itu lagi,” decak Mamahnya seraya menatap sang anak.
“Tapi, Mah --"
“Duduk Carla!” perintah mamahnya.
“Mah ...."
Prang !
Mamahnya melempar sebuah gelas yang ada dihadapanya. Sontak Carla pun terdiam, ia mulai muak dengan perlakuan mamahnya yang selalu saja seperti itu.
Hening, tak ada pembicaraan diantara mereka. Wanita paruh baya yang akrab disapa siMbok, melihat pertengkaran antara anak dan ibu itu. Ia berdiri tak jauh dari ruang makan itu.
Pertengakaran tersebut selalu saja terjadi ketika membahas soal siapa sosok ayah dari gadis cantik tersebut.
Drrrtttt ... Drrrtttt....
Suara Ponsel Mamah berdering, sontak wanita berambut sebahu itu pun langsung mengambil ponselnya dan melihat kelayar ponselnya. Ia sesegera mungkin mengubah raut wajahnya yang garang menjadi lembut, dan mengangkat telpon yang masuk itu dan sedikit menjauh dari anaknya.
"Hallo, Jeng?"
"...."
"Ouh, pasti dong. Iya jadi, nanti kita atur ya waktunya kapan. "
"...."
"Gampang, Kalau soal itu mah, bisa diatur. Beres semuanya. Jeng ini kaya sama siapa aja."
"...."
"Iya, ini aku bentar lagi kesana kok, Jeng. Iya, tunggu aja."
Carla menghela nafas panjangnya, ia mengusap seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
SiMbok datang seraya membawa sapu dan juga tempat sampah, ia berlutut dan membereskan pecahan gelas tersebut. Carla melihat kearah siMbok dan ia pun segera berjalan menuju siMbok.
“Carla bantu ya Mbok,” ucap Carla yang berlutut disamping siMbok.
“Ndak usah non, biar Mbok aja, udah... non sarapan aja non, udah siang nanti non telat berangkat sekolahnya,” jawab siMbok seraya tersenyum tipis.
Carla melihat kearah jam tanganya yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 07.10.
Carla menghela nafasnya. “Em, kalau gitu Carla minta maaf atas perlakuan mamah ya Mbok, ” ucap Carla.
siMbok menganggukan kepalanya dan tersenyum kearah gadis cantik itu. Carla pun berdiri dan melihat kearah mamahnya yang masih menerima telpon.
'Mah, Carla juga perlu tahu Mah. Siapa sebenarnya sosok Papah kandung Carla yang sebenarnya. Carla capek kayak gini terus,' batinnya.
