Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Angkuh

"Angkuh adalah salah satu sifat manusia. Karena gue seorang manusi, jadi gue juga bisa angguh."

~~~•••~~~

"Carla!"

Carla pun terkejut dan langsung menoleh kearah Melina, “Lo kenapa sih Mel, buat gue jantungan aja,” balas Carla.

“Lo kenapa coba, dari tadi malah bengong aja disini. Udah yuk ah masuk, tuh Carina sama Raina udah jalan duluan,” ucap Melina seraya menunjuk Carina dan Raina yang telah berjalan terlebih dahulu.

Carla masih memerhatikan Gino yang mulai berjalan menjauh dari bangku tersebut. “Carl,” panggila Melina lagi.

“Apa sih Mel...”

“Ayok kita  ke kelas, nanti keburu disemprot lagi kita sama Bu Susi,” ajak Melina.

Mereka pun berjalan dan pergi dari lapangan tersebut. Dan ketika menuju kearah kelas, Carla tidak bisa berhenti memikirkan serta terbayang-bayang terus akan sosok Gino. Ia pun jadi senyum-senyum sendiri memikirkan itu semua.

*****

Kring ....

Jam pelajaran pun telah usai, dan bel istirahat pun berbunyi. Para siswa/i pun keluar dari kelas mereka masing-masing.

Seorang laki-laki dengan berpakaian rapih dan berkacamata berjalan mendekati Carla dan teman-temannya yang masih duduk di kursi mereka masing-masing.

“Carla kamu tadi dihukum ya sama Bu Susi, pasti capek ya lari-lari kaya tadi. Nih aku bawain minum buat kamu,” ucap lelaki itu seraya memberikan sebotol minum untuk Carla.

Carla hanya terdiam, ia memerhatikan lelaki tersebut yang berdiri dihadapannya.

“Ambil Carl, rezeki gak boleh ditolak loh, ” ledek Raina.

“Iya, ambil aja Carl,” ucap Carina juga yang meledek Carla.

Carla mendengus, lalu ia berdiri didepan lelaki itu. “Buat gue?” tanya Carla dengan cuek.

Lelaki itu hanya mengangguk dan tidak berani menatap Carla. Carla pun mengambil botol minum tersebut dengan kasar.

“Thanks ya,” ucap Carla dengan datar.

Raut wajah lelaki itu pun berubah menjadi senang, melihat bahwa Carla menerima minuman yang ia berikan.

Carla melihat secara keseluruhan botol minum itu, lalu ia meletakkan botol minum itu dengan keras dimejanya.

Brak.

Hentakan tersebut sangat keras hingga beberapa murid yang masih berada dikelas pun terkejut dengan hal tersebut, dan langsung menoleh kearah Carla.

“Carl, lo kenapa sih?” tanya Melina yang duduk didekatnya.

Carla hanya melirik kearah Melina lalu memfokuskan lagi pandangannya kearah depan.

“Ada yang mau minuman dari gue, ini gratis loh. Jarang-jarang kan seorang carramel ngasih minuman gratis,” ucap Carla seraya memain-mainkan minuman tersebut.

Sontak para murid yang berada didalam kelas itu pun, berteriak. “Mau... Mau... Carl."

Karena mereka pikir minuman tersebut adalah benar dari Carla. Mereka berteriak dan berlari menuju kearah Carla.

“Stop! Kalian disitu aja."

Mereka pun menghentikan langkah mereka seraya menatap Carla dengan sejuta pesona kecantikannya. Melina memasang wajah bingung, apa yang akan dilakukan oleh Carla.

Sedangkan Carina dan Raina tersenyum dengan mengoyang-goyangkan kaki mereka seraya melihat pertunjukan tersebut.

Mereka menikmati tontonan tersebut, hal itu hampir setiap hari terjadi, apa lagi ketika ada seseorang yang nekad menyatakan perasaannya kepada Carla, hal tersebut akan menjadi bahan bullyan mereka selama berhari-hari.

Tidak ada yang berani melawan serta menentang mereka, lantaran Carina adalah salah satu donatur terbesar disekolah tersebut, dan Raina adalah sodara dari sang ketua yayasan sekolah elit tersebut, ditambah lagu Carla adalah seorang model papan atas.

Melina melihat bahwa saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian para murid. Ia pun berdiri tepat disamping Carla.

“Carla lo mau ngapain lagi sih," bisik Melina.

“Ssttt, udah deh lo diem aja,” balas Carla. Melina pun terdiam lalu duduk kembali.

“Siapa pun yang dapetin minuman ini, akan ada sesuatu yang spesial dari gue."

Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Gadis cantik tersebut, membuat mereka pun semakin bersemangat akan mendapatkan minuman tersebut. Carla pun bersiap-siap akan melemparkanb minuman tersebut kearah mereka.

“Carla, itu kan minuman aku buat kamu,” ucap lelaki berkacamata itu.

Carla pun menoleh kearah lelaki itu dengan senyumann tipis lalu melemparkan minuman tersebut kearah mereka.

Mereka yang telah bersiap akan mengambil minuman tersebut pun bergerumul seperti ayam yang tengah diberi makan.

Carla berjalan mendekati lelaki berkacamat itu. “ Gue, gak peduli,” tutur Carla seraya menatap jutek lelaki itu.

"Guys, kita cabut.” lanjut Carla yang berjalan keluar dari kelas dan dikuti oleh Carina dan juga Raina.

Melina pun berdiri dan ia berjalan mendekati lelaki berkacama itu yang murung seraya menundukan kepalanya.

“ Maafin Carla ya Dito, kan lo tau sendiri dia memang gitu orangnya,” ujar Melina yang menepuk pelan pundak lelaki tersebut, lalu ia pun berjalan mengikuti teman-temanya.

Lelaki itu pun menampakkna wajah murungnya dan menghela nafasnya dengan panjang. Yap lelaki berkaca mata bulat serta berpakaian rapih dan khas dengan rambutnya yang klimis itu bernama Dito.

Laki-laki yang sedari dulu selalu mengagumi sosok Caramel, ia tidak pernah berhenti mengejar-ngejar Carla, walau pun sudah berkali-kali dirinya diacuhkan serta disakiti oleh Carla, namun ia tetap saja selalu mengejar Carla.

Sebenarnya tidak hanya Dito yang pernah disakiti serta diacuhkan oleh Carla, hampir satu sekolah yang menganggumi dirinya selalu diacuhkan serta diphpin oleh Carla.

Menurut Carla, model cantik serta wanita berkelas seperti dirinya tidak pantas dengan mereka yang memiliki wajah pas-pasan dan tidak memilki apa pun.

Bahkan ada yang sampai rela melakukan apa pun demi Carla, padahal lelaki itu tampan dan juga kaya raya. Namun, jika hati Carla berkata tidak, iya tidak. Seberapa besar yang dilakukan oleh lelaki itu untuk Carla tetap akan ditolak oleh sang model tersebut.

Mereka sampai menuju ke kantin. Setelah kejadian tadi di kelas, banyak yang membicarakan tentang dirinya, terutama para wanita.

"Kalian tahu nggak sih, Si Carla bikin ulang lagi."

"Iya, gue denger, dia tadi sengaja ngelempar minuman yang di kasih dari Dito."

"Bener Banget. Tadi gue lihat sendiri, dan mereka semua berbondong-bondong buat daeptin minuman itu, karena katanya itu punya Carla ternyata bukan."

"Sumpah ya,  bener-bener tuh anak. Tega banget."

"Tapi itu belum seberapa sih, dulu ada yang lebih parah kan di permalukan sama dia didepan umum."

"Iya bener banget. Sementang-mentang cantik dan berkelas, dia bisa ngelakuin orang gitu aja."

"Udahlah, lebih baik kita diem. Nanti kita kena imbasnya lagi."

Mereka bergosip akan tingkah Carla, hal itu sudah biasa ia dengar, bahkan ia senang ketika dirinya menjadi bahan pembicaraan disekolahnya, karena hal itu membuat dirinya semakin dikenal. Mereka memesan makanan dikantin tersebut.

“So, brita itu cepet banget ya nyebarnya. Padahal belum juga 15 menit, ” ucap Carla.

“Lo kan model hist terpopuler, ya pasti apa pun yang lo lakuan cepat nyebarnya,” balas Raina.

Carla tersenyum tipis, menanggapi ucapan Raina. Melina tidak nyaman dengan apa yang dibicarakan oleh para murid disekitarnya, Melina pun mulai berbica kepada teman-temannya.

“Tapi apa yang lo lakuin tadi itu gak baik,” ucap Melina.

“Mel, ini bukan pertama kalinya Carla kaya gitu, lo kaya baru kenal Carla aja, ” sahut Carina.

“Iya, justru itu..., karena lo udah sering buat onar, lo jangan ngelakuin kaya gitu lagi...” tutur Melina.

“Ya itu kan udah menjadi kebiasaan Carla, so wajarlah ... she’s good looking,” sahut Carina.

“Iya tapi kan Car--"putus Melina.

“Ssttt, Berisik tau! ” sela Raina. “Carlanya aja biasa aja kenapa kalian yang ribut sih,” lanjut Raina.

Melihat perdebatan diantara teman-temannya Carla hanya diam saja, dia tidak mempedulikan itu semua, bahkan ia bersikap acuh kepada keadaan sekitar yang memerhatikan mereka. Carla tetap teguh pada sikap cuek dan juteknya.

Melina menghela nafasnya dengan kasar. “Gue sebagai teman kan Cuma mengingatkan doang kalau apa yang Carla lakuin itu gak baik, memangnya lo gak takut Carl, image lo jadi buruk, gara-gara hal ini,“

Carla mendengus, ia tertawa geli. “Gue gak peduli, yang penting gue cantik, gue model, gue terkenal dan gue populer. Semua orang tau itu." Ucapnya dengan sombongnya.

Melina menggelengkan kepalanya, ia sudah pusing dengan kata-kata itu yang sering dilontarkan oleh Carla. Jika diberitahu, Carla selalu saja mengucapkan hal tersebut.

Benar memang, ia cantik dan juga terkenal, ia juga model dan juga populer. Bahkan banyak yang mendambakan dirinya, namun sikap Carla yang seperti itu yang terkadang membuat Melina sulit untuk mencari titik celah untuk memperingati Carla.

Melina menghelah nafasnya. 'Yah, semoga aja Carla nggak kelabasan deh. Gue takut dia kena karma. Bukannya gue do'ain tapi ... Yah udahlah.' batinnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel